Apresiasi Karya Dengan Tidak Membeli Bajakan

  • Whatsapp
Membeli yang Bajakan Pertanda Tidak Apresiasi Karya
Membeli yang Bajakan Pertanda Tidak Apresiasi Karya

 

Kamu pecinta musik? Jangan ngaku pecinta musik kalau masih dengar musik bajakan. Musik saat ini memang menjadi kebutuhan setiap orang, bisa dikatakan hidup kita akan sepi jika tidak ada iringan nada dan irama di dalammnya. Terlepas dari sejarahnya pertama kali, ternyata musik sekarang sudah menjadi bahasa universial setiap orang dalam mengeksperikan dirinya, maupun perasaannya kepada orang lain baik itu senang, susah, bahagia, sedih, suka maupun tidak suka.

Read More

Perlu diketahui bahwasanya sebuah lagu tidak akan muncul secara tiba-tiba. Dalam menciptakan sebuah lagu yang dapat mewakili perasaan seseorang, tidak jarang penciptanya harus bekerja keras untuk merangkai setiap nada, serta mencari inspirasi agar dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat. Banyak musisi yang memikirkan isi dari lagu ciptaanya selama bertahun-tahun sebelum dirilis untuk diperdengarkan.

Prosesnya yang begitu panjang, dari hanya berupa visual hingga menjadi sebuah bentuk fisik seperti kaset, CD dan vinyl kiranya perlu untuk diapresiasi. Salah satu caranya adalah membeli hasil karya asli mereka. Karena bagi para seniman yang berkecimpung di dunia tarik suara, hal tersebut adalah sebuah penghargaan yang tidak ternilai harganya. Jadi, apakah kamu sudah melakukah hal yang sewajarnya pada musisi favoritmu?

Tidak bisa dipungkiri masalah yang menyangkut kepada musisi biasanya adalah persoalan pembajakan atas kerja keras mereka. Lihat saja banyak pedagang yang menjajakan karya-karya dari para musisi, melakukan penduplikatan dengan kualitas dan kemasan buruk.

Selain kerugian moril, seorang seniman yang hasil ciptaanya dilipatgandakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab merasa bahwa karyanya dianggap murahan, tidak sebanding dengan kerja kerasnya.

Ditambah lagi di era digital seperti sekarang ini, tidak jauh berbeda dengan sebelumnya penyalahgunaan internet membuat siapapun bisa dengan mudah mendownload apapun, tidak terkecuali musik. Parahnya hampir seluruhnya bisa didapat secara gratis. Hal ini sepertinya sudah menjadi kebiasaan sebagian besar masayarakat dalam menikmati alunan nada-nada selama beberapa tahun terkahir. Tidak hanya di Indonesia saja, ternyata negara lain pun juga merasakan yang sama.

Tentu saja para seniman serta pemerintah tidak tinggal diam untuk bekerja sama dalam hal menghentikan pembajakan ini, namun tetap saja para pelanggar hukum tersebut tidak mudah untuk diidentifikasi, apalagi jumlah mereka terbilang sangat banyak.

Membeli produk hasil bajakan sama saja membayar untuk sesuatu yang jelas-jelas hasil curian, dan jika dibiarkan terus-menerus akan membuat kerusakan moral terhadap khalayak luas. Maka, jadilah contoh sebagai seorang penikmat music yang berkualitas dengan hanya membeli karya original. Walaupun harganya sedikit lebih mahal, namun semua itu akan menjadi asetmu di masa mendatang. Karena mengingat musik bersifat abadi, bisa didengar kapan dan dimana saja.

Ternyata masih ada anak Medan penikmat music yang tetap menjaga sudut pandang positif mereka terhadap musisi. Seperti pada acara yang baru diadakan beberapa waktu lalu pada salah satu tempat di Kota Medan, mereka yang berpartisipasi turut menjual koleksi-koleksinya mulai dari kaset, vinyl, CD dari zaman dahulu hingga sekarang serta beberapa pernak-pernik asli musisi-musisi lokal mauapun luar seperti kaos, pin dan sebagainya.

Bukan mencari rupiah, tujuan acara ini sebenarnya untuk mendorong masyarakat agar lebih menghargai, tidak hanya menikmati sebuah karya khususnya musik. Banyaknya pengunjung yang datang dari berbagai kalangan, usia muda hingga tua menandakan kegiatan ini cukup mendapat respon positif. Diharapakan acara ini tetap ada dan sedikit demi sedikit menyadarakan masyarakat terhadap pentingnya penghargaan terhadap karya seni.***(CM-03/Rio Khairuman)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *