Anak Jalanan Butuh Wadah Berekspresi

  • Whatsapp
Anak Jalanan Butuh Wadah
Anak Jalanan Butuh Wadah

 

“Cita – citaku menjadi orang kaya, dulu di sayang sekarang ku ditendang,” begitulah nyanyian para pengamen cilik di perempatan jalan lampu merah. Kemudian saat lampu sudah hijau mereka berlarian dan menyingkir sambil menghitung kepingan uang receh yang mereka dapatkan. Fenomena anak jalanan sebenarnya sudah berkembang sejak lama, tetapi belum ada tindakan kongkrit dari Pemerintah untuk mengatasi masalah ini. Seiring terus meningkatnya jumlah anak jalanan di berbagai dunia, membuat hal ini menjadi perhatian dunia yang serius.

Read More

 

Anak jalanan adalah mereka yang menghabiskan waktunya di jalanan baik mengamen, memulung, menyemir sepatu, meminta-minta atau kegiatan lainnya. Anak-anak yang harusnya berkembang dengan normal melewati setiap tahapan perkembangan yang ada malah sudah mulai bekerja seperti layaknya orang tua. Banyak diantara anak jalanan tersebut yang harus putus sekolah dan harus bekerja di jalanan yang keras.

 

Menurut Harry Hikmat pada awal 2012 ada 203.000 anak jalanan di Indonesia, berikut kutipan yang beliau katakan “Pemerintah menyadari bahwa pembangunan yang menjamin keadilan untuk semua (justice for all) harus menjadi mainstreaming dalam strategi pembangunan nasional maupun daerah, termasuk dalam pemenuhan hak-hak anak yang terpaksa bekerja di jalanan,”. Berdasarkan data BPS tahun 2009, tercatat sebanyak 7,4 juta anak berasal dari Rumah Tangga Sangat Miskin, termasuk diantaranya 1,2 juta anak balita terlantar,  3,2 juta anak terlantar,  230.000 anak jalanan,  5.952 anak yang berhadapan dengan hukum dan ribuan anak-anak yang sampai saat ini hak-hak dasarnya masih belum terpenuhi. Sungguh angka yang fantastis bukan?

 

Dan tentunya angka ini akan terus bertambah setiap tahunnya. Peningkatan anak jalanan ini tentu akan menghambat laju pertumbuhan dan pembangunan negara karena anak – anak yang tidak terdidik akan menghasilkan sumber daya manusia yang tidak optimal.  Di dalam UUD 1945 pasal 34 ayat 2 mengatakan “Fakir miskin dan anak terlantar di pelihara oleh Negara”  lalu siapakah anak terlantar yang dimaksud dalam UUD tersebut? Karena kalau kita lihat masih banyak anak terlantar yang tidak terurus kemudian menjadi anak jalanan.

 

Menurut de Maura (2002), anak jalanan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu anak jalanan yang bekerja dijalankan dan anak jalanan yang hidup di jalan. Lalu sebenarnya apa yang membuat mereka memilih menjadi anak jalanan ? berbagai alasan di kemukakan oleh mereka seperti krisis ekonomi dan kian mahalnya kebutuhan pokok tentu menjadi penyebab utama orang tua mengesahkan anaknya untuk menjadi anak jalanan.

 

Semua penyebab seorang anak menjadi anak jalanan terbagi menjadi 4 garis besar yaitu :

  1. Kesulitan ekonomi keluarga yang menempatkan seorang anak harus membantu keluarganya mencari uang dengan menjadi anak jalanan, baik secara keinginan si anak itu sendiri ataupun dipaksa oleh orang tuanya.
  2. Ketidakharmonisan keluarga atau rumah tangga, baik hubungan antara bapak dan ibu, maupun orang tua dengan anak yang akan membuat si anak itu menjadi frustrasi kemudian mencari hal yang baru dan kebebasan di jalanan.
  3. Keadaan lingkungan yang kurang mendukung untuk anak-anak untuk menikmati kehidupan masa kanak-kanaknya termasuk suasana yang ada di rumah, kadang-kadang dianggap mereka sangat monoton dan membelenggu hidupnya.
  4. Rayuan kenikmatan dari kebebasan yang menurut mereka bisa bebas mengatur hidup mereka sendiri tanpa harus adanya peraturan ini itu. Dan tentunya pengaruh teman juga sangat mempengaruhi mereka.

Dari sekian banyak alasan mengapa anak jalanan memilih hidup di jalanan, alasan-alasan diataslah yang paling mendominasi para anak jalanan untuk tetap tinggal dan bergaul di jalanan. Semoga anak jalanan kedepannya bisa mendapatkan perlakuan yang layak dan bisa mendapatkan wadah yang layak untuk mengekspresikan diri.***(CM-M04/Fathia Putri)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *