AIESEC USU Ajak Pemuda Bergerak Lakukan Perubahan Lewat Youth Speak Forum

  • Whatsapp
Suasana Panel Discussion
Suasana Panel Discussion

 

Setelah sukses menggelar beberapa acara seperti Hometown Project, AIESEC USU (Universitas Sumatera Utara) kembali mempersembahkan Medan Youth Speak Forum di Ballroom Hotel Danau Toba International Medan (23/4). Youth Speak Forum merupakan sebuah acara gerakan inisiatif yang diinisiasi oleh organisasi pengembangan leadership anak muda International terbesar di dunia yaitu AIESEC.

Read More

Acara yang diikuti hampir 200 orang tersebut terbilang sukses hingga akhir acara, berkat kerjasama tim, dukungan berbagai pihak maupun speaker yang dihadirkan memang telah handal di bidangnya.

“Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk menggerakkan suara anak muda dalam berpartisipasi meningkatkan program pengembangan anak muda (Youth Development Program) oleh United Nations terutama bagi yang berada di Medan,” ungkap Johana Henny selaku Media and Community Engagement pada acara tersebut.

Acara yang dimulai pukul 08.30 tersebut mendatangkan Alissa Wahid (SDGs INFID Ambassador) pada awal acara. Membahas mengenai SDGs (Sustainable Development Goals) Alissa mengungkapkan terdapat beberapa manfaat mengapa hal tersebut dianggap perlu, yakni dikarenakan SDGs menjadi panduan teknis tentang prioritas pembangunan dalam kurun waktu tertentu sebagai tanggapan bersama tentang masalah-masalah di semua negara dan antar negara, SDGs memberi arah dan ukuran bagi keberhasilan dan ketidakberhasilan dari berbagai aktor pembangunan seperti pemerintah dan negara-negara anggota PBB dan lembaga pembangunan internasional seperti Bank Dunia & Dana Moneter, SDGs sebagai kesepakatan politik antar negara anggota PBB serta mencerminkan kesepakatan antarnegara tentang apa yang menjadi tanggung jawab bersama maupun antarnegara berkembang lainnya.

Alissa terus membahas tentang Indonesia 30 tahun mendatang dimana terdapat 17 tujuan pembangunan keberlanjutan yang harus terealisasikan antara lain menghapuskan kemiskinan di muka bumi, tanpa kelaparan, kesehatan yang baik dan kesejahteraan, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, air bersih dan sanitasi, energi bersih dan terjangkau, pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang layak, industri inovasi dan infrastruktur, mengurangi kesenjangan, keberlanjutan kota dan komunitas , konsumsi dan produksi tanggung jawab, aksi terhadap iklim, kehidupan di bawah laut, institusi peradilan yang kuat dan kedamaian, dan kemitraan untuk mencapai tujuan.

Speaker yang kedua AIESEC datangkan kali ini adalah Andri Rizki Putra selaku Founder YPAB (Yayasan Pendiri Anak Bangsa). Beliau adalah salah satu alumnus dari Universitas Indonesia yang lulus cumlaude dengan menjalani kuliah selama 6 semester, dalam sambutannya Andri mengungkapkan bahwa sebagai pemuda ia melakukan perubahan, salah satunya adalah mencoba mendirikan sebuah yayasan teruntuk anak-anak yang ingin belajar secara informal namun tetap menjunjung tinggi nilai kejujuran. Krisis kepercayaan yang dimiliki Andri terhadap institusi formal adalah salah satu alasan yang membuatnya mendirikan sebuah yayasan tersebut “Bagi saya pendidikan ada untuk membentuk pribadi yang baik tetapi institusi yang ada sekarang justru memberikan celah untuk sisiwanya berbuat curang dan mempraktikannya secara langsung,” ungkap Andri.

AIESEC mengajak seluruh peserta yang berhadir pada kesempatan tersebut untuk bergerak dan bersuara melakukan sebuah perubahan. Melalui speaker yang handal, AIESEC USU mengajak peserta untuk sesegera mungkin turut andil dalam tindak perubahan Indonesia yang lebih baik.

Serangkain acara disambung dengan penuturan Yansen Kamto (CEO & Founder KIBAR), dalam penyampaiannya beliau mengungkapkan “Indonesia itu jelek, kalau tidak jelek maka enggak akan mungkin banyak pemuda yang ingin melakukan perubahan, orang yang mampu membuat perubahan adalah orang-orang yang berpikir sedikit berbeda.”

Menurut Yansen, untuk membuat sebuah perubahan diperlukan seorang leader yang mampu menggunakan otak, otot dan hati. Ketika tiga bagian tersebut terpenuhi makan akan mudah namun jika terdapat resiko dan kegagalan maka itu hanyalah bagian dari sebuah proses.

Untuk membuat sebuah perubahan tentu tak semudah membalikan telapak tangan, diperlukan pemuda-pemuda tangguh untuk perubahan yang lebih besar. Sebagai wujud nyata, AIESEC USU menghadirkan Panel Discussion pada sesi kedua dengan mendatangkan beberapa speaker yakni : Vito Sinaga (CEO & Founder Punya Medan), Andri Rizki Putra (Founder YPAB), Togu Simorangkir (Founder Alusi Tao Toba), Nuruddin Al Fitrah (Sales Director  of KUDO), Jaya Arjuna (Environtmentalist) dan Bastian Situmorang (CO-Founder NED Studio).

Panel Discussion dipandu oleh Nanda Shafira, berawal dari ungkapan Jaya Arjuna yang mengatakan bahwa masalah terbesar lingkungan khususnya di Medan saat ini adalah sampah yang berserakan di mana-mana serta kepedulian makhluknya yang sangat minum membuat warga Medan harus bersiap-siap menggunakan sampan pada masa yang akan datang karena dikhawatirkan Medan akan tergenang oleh kebanjiran yang diakibatkan oleh sampah. Sementara itu berbicara mengenai kejujuran Andri Rizki mengatakan bahwa ia mengambil contoh dari Selandia Baru yang menerapkan negara paling bersih dari tindakan korupsi menurut penelitian mengapa Selandia Baru mampu menciptakan aparat, birokrat maupun pendidikan yang jauh dari korupsi dikarenakan itu berasal dari sistem pendidikannya yang menjunjung tinggi kejujuran, segala kecurangan, copy paste maupun mendeteksi kebohongan mampu mereka lakukan. Hal tersebut dianggap penting, terutama apabila diterapkan dalam sistem pendidikan di Indonesia.

Lain halnya dengan pemuda yang berprofesi sebagai entrepreneurship, ialah Vito Sinaga. Berdasarkan pemaparannya melalui usaha yang dijalankan ia mampu memenuhi kebutuhannya termasuk kebutuhan sekunder layaknya mobil dan rumah. Saat melalui bisnis, banyak yang harus ditempuhnya hingga akhirnya ia pun menggeluti dunia buzzer sebagai solusi memperkenalkan produknya. Begitulah cara pemuda seperti Vito melakukan perubahan.

Closing statement di penghujung acara masing-masing speaker mengungkapkan :

  1. Togu Simorangkir – Teriakkan mimpimu
  2. Vito Sinaga – Jangan banyak gengsi, jangan lebih banyak gaya daripada uang jajan
  3. Bastian Situmorang – Jadilah dirimu sendiri
  4. Nuruddin Al Fitrah – Sekaranglah saatnya berubah, jadilah apapun selagi positif
  5. Jaya Arjuna – Jangankan goncang dunia, bejalan pun udah begoncang dunia
  6. Andri Rizki Putra – Setiap orang memiliki talenta masing-masing, jangan bandingkan apa yang kita miliki dan orang lain tidak miliki, banyak-banyak bersyukur karena dengan banyak bersyukur kita akan belajar ikhlas untuk melakukan apa yang kita inginkan. Selalu lah percaya setiap hal positif akan dibalas dengan hal positif karenanya tetapilah percaya diri dan merasa benar jika memang benar.

“Indonesia tidak tersusun dari batas peta karenanya pemuda hari ini harus turun tangan berkarya nyata menjawab semesta Indonesia, menjaga negara dari gelapnya mata kepuasan, berpihak pada setiap masalah nyata, warga negara tidak sekedar memburu kapital, Indoensia lebih butuh solidaritas dan loyalitas sosial, ayo kaum muda kita memimpin masa depan jangan biarkan jiwa mereka hangus oleh ego dan dendam, buat apa wilayah seluas Sabang sampai Merauke jika pemudanya kehilangan idealisme, pemuda masa silam menggelorakan kehendak sesat, hari ini rayakan Indonesia tanpa ragu,” tutup Nanda Shafira. .***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *