Ahmad Faury, Disabilitas Yang Memotivasi

  • Whatsapp
Ahmad Faury Seorang Disabilitas Yang Memotivasi
Ahmad Faury Seorang Disabilitas Yang Memotivasi

Keterbatasan tidak membuat pria berumur 31 tahun ini menyerah, rasa syukur pria disabilitas ini justru berbuah manis. Siapa sangka walau sempat ditolak bersekolah di bangku pendidikan dasar Negeri 2 Pematang Guntung tidak membuat seorang Ahmad Faury mampu mengeyam pendidikan tinggi hingga ke jenjang S3.

Ahmad Faury memulai pendidikan formal dengan jatuh bangun orangtua untuk menyekolahkannya. Pria yang lahir pada 10 oktober 1980 di Desa Pemantang Guntung Dusun I  Kec. Teluk Mengkudu Kab. Deli Serdang ini nyatanya sudah mengalami cacat fisik sejak lahir. Layaknya siswa normal Ahmad Faury dapat menulis. Pensil dan pena dia jepitkan diantara siku dan sepotong pergelangan tangannya yang kecil.

Read More

Ahmad Faury  juga lulusan dari sebuah pesantren yang bernama Darul Mukhlisin Sei Rampah, Serdang Bedagai pada 2002. Tak berhenti sampai disana, Ahmad Faury melanjutkan studi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara (Sumut) Medan.

Meski kondisi fisiknya tidak sempurna dan terlahir sebagai anak nelayan yang sederhana, Ahmad Faury tetap belajar dengan semangat. Dia beruntung karena mendapat sejumlah beasiswa dan banyak dibantu orang yang bersimpati kepadanya. Perjuangan Ahmad Faury terbayar dengan kelulusannya pada 2006. Dia meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,51.

Ahmad Faury adalah anak terakhir dari 7 bersaudara. Namun, 5 saudaranya meninggal diumur yang sangat muda. Saudara kandung satunya lagi adalah kakaknya bernama Aisyah, namun penyakit yang dideritanya mengakibatkan kakaknya lumpuh saat Ahmad Faury duduk di bangku SD dan menghembuskan nafas terakhirnya di umur 14 tahun.

Ayahnya meninggal dunia sejak dia berada di bangku perkuliahan. Sementara Ibunya bernama  Ismaini berpulang ditahun kedua ia menimba ilmu di Universitas Gajah Mada (UGM). Walaupun begitu Ahmad Faury tetap bersyukur kepada Allah SWT karena masih diberikan kesempatan untuk menjadi imam saat menyalatkan jenazah kedua orangtuanya.

Setelah sempat mengambil cuti pasca meninggalnya sang ibu, Ahmad Faury meneruskan kuliahnya di UGM dan lulus pada 2010. Beliau berhak menyandang gelar Lex Legum Master (LL.M). Dari UGM, Ahmad Faury kembali ke IAIN Sumut sebagai dosen. Dia mengajar Hukum Pidana sejak September 2010. Pemuda ini juga kerap diundang sebagai motivator.

Walaupun Ahmad Faury tetap tidak berhenti menimba ilmu. Di tengah kesibukannya sebagai dosen, dia kini mengikuti program doktor di UIN Sumut. Di masa pendidikannya, Ahmad Faury bukannya tidak pernah tertekan dan kecewa. Dia bahkan sempat menuding Allah tak adil. Bila teringat kejadian itu, Ahmad Faury mengaku merasa sangat bersalah. “Kalau teringat, saya langsung mohon ampun. Bayangkan, saya sempat menuding Allah tak adil,” ujarnya.

Ahmad Faury Sedang Berfoto Dengan Tim ACT
Ahmad Faury Sedang Berfoto Dengan Tim ACT

Kekecewaan Ahmad Faury muncul saat belajar di Pesantren Darul Mukhlisin, Sei Rampah, Serdang Bedagai. Dia merasa tertekan dengan keadaan fisiknya saat melihat teman-temannya bermain sepak bola dan aktif pada kegiatan pramuka.

Sewaktu duduk di Pesantren, Ahmad Faury sempat berbica sendiri dan berkata Tuhan itu tidak adil. Namun setelah berkata seperti itu dan dia tertidur. Ketika bangun ia terasa seperti terlahir kembali. Saat itulah semangatnya dalam menjalani hidup sangat tinggi. Rasa percaya dirinya juga yang membuat seorang Ahmad Faury menjadi salah satu motivator insprirasi khususnya dengan anak yang menyandang disabilitas.

Pada saat itulah dia mulai  berpihak pada orang-orang menyandang kasus yang sama yaitu disabilitas. Dia bahkan terlihat sangat lincah dan bersemangat saat menunjukkan cara menaiki sepeda motor roda tiga miliknya. Kekurangan fisiknya tidak membuatnya mundur dan menyerah mengahadapi setiap lika-liku kehidupannya.

Ahmad Faury telah membuktikan ketidaksempurnaan fisik bukanlah penghalang mengarungi kehidupan. Baginya, semua itu hanya cobaan. Dia bahkan menilai cobaan itu sebagai bentuk perhatian Allah SWT. Kalau kita diberi cobaan berarti Dia memperhatikan kita. “Cobaan itu diberikan karena kita mampu,” ucapnya.

Buku Biografi Ahmad Faury
Buku Biografi Ahmad Faury

 

Kini Ahmad Faury menceritakan kisahnya didalam sebuah buku Biografi yang berjudul Anak Simpai Keramat. Buku tersebut ditulisnya langsung dan diedit oleh Sahabatnya bernama Iwan Nasution, S.H.i, M.H.i dan terbit pada pertengahan maret 2016 lalu. Walaupun kini dia hidup sendiri, namun kesuksesannya saat ini tidak terlepas dari jasa-jasa orangtuanya yang selalu diingatnya.

Saat ini Ahmad Faury juga membuka MEJA Inspirasi di UIN Medan yang awalnya dibentuk dengan konsep sebuah lembaga, komunitas ataupun individu. Dalam hal ini juga adalah salah satu caranya untuk menaikkan tingkat anak disabilitas.***(CM-01/Dela Aria Dahaka)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *