Warga Sekitar Marelan Butuh Udara Segar

  • Whatsapp
Tempat Pembuangan Akhir Sampah
Tempat Pembuangan Sampah Akhir – CreditFoto : Wings

Paluh  Nibung Kelurahan Paya Pasir Medan Marelan sudah dikenal sebagai daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah dari seluruh daerah di Medan, Sumatera Utara. Sampah yang menggunung di daerah ini ternyata telah merambat ke selokan pemukiman warga. Mengapa tidak, sampah di daerah tersebut telah memiliki tinggi tiga puluhan meter dan berdiameter sekitar tujuh hingga sepuluh  hektar.

Medan yang telah mendapatkan Adipura pada 2014 lalu tak menjadi acuan kembali untuk warga Medan agar lebih mengurangi sampah yang anorganik. Karena sampah anorganik sangat susah untuk melebur. Sedangkan sampah organik adalah sampah yang mudah membusuk dan dapat didaur ulang kembali. Penggunaan sampah organik sangat bermanfaat bagi mereka yang kreatif.

Read More

Sampah organik yang berada di TPA ini ternyata sedikit, karena tumpukan sampah disini adalah sampah anorganik yang menjadi pihak mayoritas. Tak hanya sampah anorganik maupun organik, sampah yang ada di kawasan tersebut adalah sampah limbah dari bekas makanan. Tak jarang daerah ini sangat bau jika tengah melewatinya.

Pasalnya sampah tersebut telah mencemari selokan yang berada di pemukiman warga dan mengakibatkan warna hitam pekat di selokan. Kondisi ini juga didukung oleh hujan yang terus mengguyur Medan sejak Januari lalu. Sehingga tak jarang bau semakin tercium karena air hujan telah menyatu dengan sampah.

Tak hanya selokan, sampah juga merambah ke kolam-kolam yang warga gunakan untuk mencari udang, kepiting dan ikan. Kolam itu menjadi kotor dan berbau akibat dari pencemaran limbah yang berasal dari tempat pembuangan akhir sampah di kawasan tersebut. Akibatnya, udang, kepiting dan ikan yang biasa mereka jual dengan banyak porsi, sejak kejadian ini porsi untuk menjual bahan tangkapan semakin kurang peminat.

Kesegaran dari bahan tangkapan sangat penting. Karena dari setiap bahan tangkapan harus memiliki vitamin, jika telah dicemari oleh sampah maka tidak ada yang di dapat dari bahan tangkapan, sudah dipastikan juga bahwa minat dari pembeli akan berkurang.

Warga semakin resah karena tak ada pihak pemerintah yang prihatin dengan hal ini. Janji penanganan lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar TPA hanya slogan semata. Nyatanya hanya job dan proyek saja yang dipikirkan pejabat di Tanah Deli ini.

Sejak dibuka tahun 1993, lahan TPA ini seluas 14 hektar over kapasitas dalam menampung sampah Kota Medan hingga dampaknya kini merosot atau longsor mengarah ke Danau Siombak. Tak jarang warga selalu menghentikan aktivitas pembuangan sampah beberapa waktu lalu, berharap menadapat respon oleh pemerintah, namun hasilnya nihil.

Ingin sekali rasanya pemerintah peduli dengan melakukan cara seperti pemindahan atau pembersihan lokasi dengan cara penyemprotan. Pemko Medan harus mencari solusi atas keresahan yang dialami masyarakat. Apalagi, dampak dari tumpukan sampah mulai mengancam kesehatan warga.

Harapan demi harapan selalu terlontarkan oleh warga saat ada yang bertanya atau sekadar melihat-lihat lokasi tersebut. Begitupun Sriwati yang berada disekitar daerah tersebut. “Kiranya pihak pemerintah Kota Medan khususnya dikepemimpinan walikota yang baru terpilih ini, dapatlah lebih memerhatikan lagi pengelolaan limbah yang dibuat secara khusus, untuk mengantisipasi agar tidak terjadinya pencemaran sampai ke pemukiman warga akibat dari pembuangan sampah tersebut.”***(CM-E02/Amal Hayati)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *