Kegiatan Sosial, Hantar Robinson Pada Mimpi Besarnya

  • Whatsapp
Robinson Sinurat
Robinson Sinurat : At the University of Nebraska Omaha, USA

 

Keterbatasan biaya bukanlah sebuah penghalang besar, yang paling penting adalah kemauan yang kuat. Ialah Robinson Sinurat, pria asal Medan ini mengaku awalnya keterbatasan biaya adalah penghambat besar saat ia baru saja dinyatakan lulus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri di Universitas Sriwijaya, Palembang. Ketika itu tahun 2009, kiriman yang hanya Rp. 250.000 perbulannya tentu tak cukup membiayai pria ber-impian besar ini.

Read More

Ia dinyatakan lulus pada jurusan Fisika dengan konsentrasi Geofisika, mulanya tak sedikitpun kesukaannya pada ilmu eksak satu ini hanya saja berkat saran orang-orang terdekat akhirnya jurusan ini dipilihkan dengan alasan agar bisa mengajar sambil belajar. Waktu terus berjalan, harapan untuk mengajar kemudian terwujud. Robin mengajar di sebuah bimbingan belajar dengan gaji seadanya, hal itu tentu tak cukup hingga akhirnya berbekal nilai yang bagus Robin mendapat beasiswa yang kebetulan juga menyanggupi untuk membiayai Robin hingga ia diwisuda.

“Kadang-kadang sehari cuma makan satu kali, tengah malam suka kelaparan, tapi itu dulu,” ceritanya.

Nyatanya jurusan di kuliah tidak selalu serupa dengan minat yang dimiliki. Begitu pun Robin yang akhirnya terjun ke dunia sosial lebih tepatnya kegiatan sosial. Cerita itu bemula tatkala Robin terpilih menjadi pemuda Sumatera Utara untuk mengikuti kegiatan Indonesia Change Maker di Bandung.

Lagi-lagi keterbatasan biaya membuat Robin harus berjuang lebih keras saat mau berangkat ke Bandung waktu itu, sebab dana yang ia miliki tak cukup untuk menghantarkannya dengan pesawat hingga akhirnya ia melalui jalur yang berbeda yaitu bermula naik kereta api, kapal hingga bus. Dari situlah perjuangannya dimulai.

Sesampainya di Bandung, kebanggan tentu saja menyelimutinya tatkala itu, sebab secara langsung dalam kesempatan tersebut ia bisa berdiskusi tatap muka dengan orang-orang yang selama ini hanya bisa ia kagumi lewat televisi, seperti Joko Widodo, Ridwan Kamil, Tri Mumpuni dan banyak lagi lainnya.

Robinson Sinurat beserta teman-teman Interfaith Youth Forum
Robinson Sinurat beserta teman-teman Interfaith Youth Forum

 

Lewat program acara tersebut, Robin sebagai perwakilan Sumatera Utara kemudian diharapkan dapat membuat perubahan dengan langkah-langkah yang kongkrit tentang apa yang bisa dilakukan di masyarakat. Dari hal itu Robin sangat termotivasi untuk melakukan perubahan-perubahan besar. Sayangnya, hal tersebut tidak mampu ia realisasikan di tempat asalnya karena keadaan studi yang belum selesai di Palembang.

Namun, tak diam begitu saja, sebagai pengganti Robin justru melakukan aksi nyata tersebut di Palembang yaitu mulai tahun 2012 itu juga, ia merancang seminar tingkat kampus dengan mengundang pembicara dari luar untuk mengatasi global warming kemudian tak lama setelahnya kabar baik datang, ia pun menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di luar negeri tepatnya di Kuala Lumpur.

Menurut cerita Robin saat diwawancarai tim Cerita Medan beberapa waktu lalu, banyak cerita dan pengalaman baru menjadi sebuah kisah yang tertuang dalam hidupnya. Tak lama setelahnya, ia terpilih pula sebagai anak Indonesia yang berhak mengikuti Forum Indonesia Muda 13 di Jakarta. Masih di tahun yang sama di bulan Oktober, keberuntungan terus berpihak padanya sebab ia pun dinyatakan terpilih menjadi pemenang Wakil Duta Bahasa Sumatera Selatan.

 

Robinson Sinurat
Robbinson Asia Pacific Youth Training on Civic Participation 2014

 

Tak henti-hentinya berproses dalam sebuah program, ia kembali dipanggil lagi pada awal November sebagai perwakilan kampus untuk mengikuti Global Peace Volunteer Camp di Bandung. Kemudian pada Desember 2012 pun demikian, ia terpilih lagi mengikuti Indonesia Youth Speak Out yaitu sebuah acara yang membahas tentang sesuatu hal yang sedang dihadapi pemuda Indonesia dimana hasil dari diskusi tersebut berhasil ia bawa ke acara Global Youth Forum 2012 dengan lingkup Internasional di Bali.

Menakjubkan. Sebuah kata yang tepat menggambarkan kesungguhannya dalam menebar pengalaman terbaik dalam hidupnya. Berulang mengikuti program-program dengan projek sosial yang berfokus pada perdamaian, keberagaman, sukarelawan dan hal lain berbau sosial akhirnya Robin juga mempersembahkan sebuah program yang berfokus pada forum pemuda, dinamai dengan Interfaith Youth Forum 2013, dengan mengundang pembicara dari masing-masing agama Robin ingin mengajak para pemuda untuk mempromosikan iman dan budaya agar Indonesia terhindari dari persoalan dan konflik yang mengatasnamakan agama “Karena pada dasarnya setiap agama mengajarkan kebaikan,” tambahnya.

Pelan-pelan ia sadar betapa pentingnya peran pemuda untuk merubah bangsa menjadi lebih baik, namun disayangkan pemuda Indonesia masih memikirkan diri sendiri dan belum memiliki sifat sukarelawan. Akhirnya pada tahun 2013 Robin mulai bergegas, membentuk kegiatan-kegiatan sosial untuk mengajak pemuda menjadi sukarelawan dengan ketiga orang temannya.

Ia mulai merangkul orang-orang terdekat membentuk acara Global Peace Volunteer Asia Pasifik Camp, sebuah program yang melibatkan pemuda dengan lingkup internasional, sementara beberapa pemuda yang terpilih berasal dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Amerika Serikat. Tujuannya tentu mengedukasi para pemuda tersebut untuk menjadi volunteer dalam kegiatan sosial.

Tak heran jika pria kelahiran tahun 1990 ini kemudian terpilih menjadi mahasiswa berprestasi peringkat 1 tingkat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan peringkat 5 tingkat Universitas Sriwijaya (UNSRI).

Ide-ide lain kemudian bermunculan, keinginan untuk berbakti pada bangsa tentu menjadikan pria ini terus menebar kebaikan. Lewat Campaign The Power of Rupiah kemudian Robin mengajak pemuda untuk menyisihkan uangnya lalu disumbangkan ke panti asuhan dan panti jompo. Saling bercengkrama serta menghibur para penguni panti terwujud atas bantuan pemuda-pemuda yang memiliki keinginan serupa.

Menjelang akhir studinya, ia masih saja aktif membuat kegiatan sosial dan kepemudaan seperti Sahur On The Road, sebuah acara yang sengaja ia buat untuk membantu para pekerja seperti tukang becak, tukang sayuran sampai penyapu jalanan.

Baginya, sebuah mimpi dapat terwujud dengan upaya yang sungguh-sungguh. Ia pun terus memperbaiki diri, memperbaiki sikap serta belajar bahasa inggris lebih banyak agar layak melangkahkan kaki di Amerika, negara impiannya.

Robinson At Georgetown University, Washington DC
Robinson At Georgetown University, Washington DC

 

Sebagai pemuda Indonesia, ia kembali dikirim ke Kuala Lumpur pada Juli 2013 untuk program Asian Youth Exchange, berdiskusi mengenai apa yang telah ia lakukan di Indonesia, hingga sepulang dari sana ia melakukan aksi nyata mengajak para pemuda bergabung untuk peduli Sungai Musi agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan ke sungai Musi. Syukurnya sampai sekarang kegiatan terus masih berkelanjutan meski tak digerakkan olehnya.

Berita baik, meski disibukkan dengan kegiatan sosial dan program yang beruntun menghabiskan waktunya ia justru tak melalaikan kewajibannya sebagai mahasiswa. Berdasarkan keinginan untuk segera lulus, akhirnya ia diwisuda pada Oktober 2013. Yang paling mengagumkan adalah ia adalah pria pertama yang lulus pada bulan tersebut di jurusannya, “Karena aku tak menyukainya makanya aku ingin segera menyelesaikannya,” begitu ungkapnya, karena baginya Fisika bukan keinginan yang sebenarnya.

Berselang beberapa waktu, Robin langsung mendapatkan pekerjaan di sebuah Non Government Organisation (NGO) di Jakarta. Menurutnya, kedua orang tuanya adalah sosok malaikat yang telah menghantarkannya pada posisi tersebut. Sambil terus berupaya mewujudkan kaki di negara impian, Robin kembali aktif mengikuti program Asia-Pacific Youth Training on Civic Participation dan Global Media Forum 2014 di Bali.

Kabar baik, ia kembali dinyatakan lulus mengikuti pelatihan tentang perdamaian di Filipina yaitu YSEALI United for Peace 2015, dan itu artinya mimpinya semakin dekat. Setelahnya, banyak program lain yang kemudian aktif ia ikuti demi pencapaian impian serta keinginannya merubah bangsa lebih baik.

Akhirnya mimpi paling baik itu terwujud, tepat pada September 2015 atas izin Tuhan ia berangkat ke Amerika Serikat untuk mengikuti program Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Academic Fellow on Civic Engagement 2015 dan belajar singkat di beberapa States selama disana yaitu di University of Nebraska Omaha, Portland State University, Iowa, South Dakota dan berakhir di Washington DC-USA.

Penantian selama empat tahun lamanya terwujud atas kebaikan dan keikhlasan yang ia lakukan tanpa dibayar selama ini. Bahkan selama disana ia dapat mengunjungi beberapa tempat yang selama ini hanya ia kagumi lewat cerita.

Bertemu orang-orang besar seperti Barack Obama, Hillary Clinton pun terwujud lewat jalan-jalan yang terus ditempuhnya. Masih berbekal keyakinan atas kuasa Tuhan, sepulang dari Amerika kabar baik masih menghampirinya, ia dinyatakan lulus dalam program Menyapa Negeriku dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Indonesia dari 47,523 orang pendaftar.

 

Robinson Sinurat Menyapa Negeriku
Robinson Sinurat Menyapa Negeriku

 

Mendapat amanah melakukan aksi nyata tersebut di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Robin akhirnya berkeinginan untuk mengumpulkan buku-buku dari orang yang ingin mendonasikan bukunya untuk anak-anak dan masyarakat di Ende. Hal itu untuk mewujudkan perpustakaan desa sehingga anak-anak dan masyarakat disana bisa meraih mimpi-mimpinya. Tepatnya untuk Indonesia lebih baik.

“Aku sadar bahwa aku tidak bisa menginjakkan kaki di Amerika tanpa Indonesia. Aku bukanlah apa-apa tanpa Indonesia. Oleh sebab itu, aku harus melakukan aksi nyata untuk bangsaku,” begitu tulisan Robin di blog pribadi miliknya.

Perjalanan masih panjang, Robin masih ingin menebarkan aksi-aksi terbaiknya di masa yang akan datang. Berencana untuk melanjutkan studi ke Eropa dalam waktu dekat seraya menunggu kelulusannya agar bisa membangun bangsa yang lebih baik.

Selepas menyambung ilmu di Eropa kelak ia juga berencana untuk kembali ke Sumatera Utara tepatnya Kota Medan untuk membangun daerah nya lebih baik, hidup anak Medan. Segala yang terbaik menjadi milik orang-orang yang berusaha, berupaya dan berdoa. .***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *