Ini Pengaruh Film Bagi Budaya Masyarakat

  • Whatsapp
Hari Film Indonesia
Hari Film Indonesia

 

Film merupakan media komunikasi yang bersifat audio visual, menyampaikan pesan kepada kelompok tertentu atau individu lainnya yang menonton. Sejarah perfilman Indonesia sudah berlangsung cukup lama, saat bangsa Belanda menduduki dan menjajah Indonesia. Era perfilman di Indonesia berawal dari berdirinya bioskop pertama di Indonesia pada tanggal 5 Desember 1900 di daerah tanah abang Batavia dengan nama Gambar Idoep yang menayangkan berbagai film bisu.

Read More

Setiap tanggal 30 Maret diperingati sebagai hari film nasional, alasannya dikarenakan tanggal 30 Maret 1950 adalah hari pertama pengambilan gambar film Darah & Doa atau Long March Of Siliwangi yang disutradarai oleh Usmar Ismail. Film ini dinilai sebagai film lokal pertama yang bercirikan Indonesia, selain itu film ini juga disutradarai dan diproduksi oleh Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini).

Jika dahulu film hanya bisa dinikmati oleh kalangan orang berduit saja, karena hanya diputar di bioskop. Berbeda dengan sekarang yang dapat dinikmati oleh siapa saja dan melalui media apa saja. Tidak harus datang ke bioskop, kita dapat menonton film melalui VCD/DVD atau mengunggahnya dari internet. Namun, sebenarnya ini adalah cara yang tak patut ditiru karena tidak menghargai hasil kreasi seniman.

Film mampu membentuk identitasnya sendiri, selain itu film juga dibuat dengan persiapan yang matang dan juga memberikan kualitas cerita, visual dan audio yang baik.

Dalam pembuatan film, cerita memerlukan proses pemikiran dan teknis yang harus dipersiapkan dengan sangat baik, proses pemikiran yaitu berupa pencarian ide, gagasan atau juga cerita yang akan digarap. Sedangkan proses teknis yaitu berupa keterampilan artistik yang akan mengubah gagasan dan juga alur cerita menjadi audio visual yang baik dan siap ditonton.

Melalui film kita dapat mempelajari banyak mengenai cerminan budaya dan juga kebiasaan suatu bangsa yang tidak diketahui sebelumnya. Film juga sebagai media sosialisasi dan publikasi budaya yang ampuh. Untuk itu, film dipahami sebagai cerminan budaya suatu kelompok yang menetap disuatu tempat tertentu.

Cerminan harus lebih dilihat sebagai upaya untuk menyajikan ulang realitas yang sudah ada, dalam upaya untuk menyajikan ulang realitas tersebut tentunya tidak akan pernah menyajikan dirinya sebagai mana aslinya secara keseluruhan.

Hal tersebut terjadi karena dibalik proses pembuatan film terdapat banyak kepentingan yang mempengaruhi hasil akhir film tersebut. Cerminan atau representasi itu sangat sulit untuk netral atau natural.

Tidak realitas film yang tampil di pasaran hanyalah sebuah manipulasi yang bertujuan untuk mengatur pola pikir kebanyakan orang yang menonton film tersebut, sebagai contoh pada film aksi Hollywood, banyak kita lihat teroris atau penjahat berasal dari Timur Tengah atau dari Rusia, padahal dalam dunia nyata tidak selamanya terjadi seperti itu.

Film yang baik bukanlah hanya bagus dalam segi visual, grafis serta hal-hal teknis lainnya, tapi juga keberanian sutradara untuk menampilkan realita apa adanya dari sebuah cerminan budaya yang diangkat menjadi sebuah film.***(CM-M02/Mhd. Arif Iqbal)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *