Atasi Alergi Protein Susu Sapi Dengan Pemberian Nutrisi Anak

  • Whatsapp
Atasi Alergi Protein Susu Sapi dengan dengan Pemberian Nutrisi Anak
Atasi Alergi Protein Susu Sapi dengan Pemberian Nutrisi Anak

 

Sarihusada menggelar acara diskusi Nutritalk di JW Marriott Jalan Putri Hijau Medan (14/3). Acara yang melibatkan media dan Blogger Medan tersebut mengambil tema ‘Dasar-dasar dan Pedoman Praktis Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak dengan Alergi Protein Susu Sapi’.

Read More

Pada kesempatan tersebut membahas mengenai pentingnya menyadari faktor risiko alergi pada anak, gejala-gejala alergi, memahami cara penanganan alergi dan menyadari peran penting nutrisi yang tepat di awal kehidupan, bagi optimalisasi tumbuh kembang anak dengan alergi protein susu sapi.

Modern ini banyak ditemukan anak-anak yang ber-risiko alergi protein susu sapi yang pada dasarnya memerlukan penanganan sejak dini untuk optimalisasi pencegahan dalam waktu jangka panjang. Berbagai upaya penanganan dapat dilakukan dengan mengukur faktor risiko yang dimiliki anak, memberikan nutrisi awal dalam kehidupan dengan cara yang tepat dan mengenali gejaka-gejala pada alergi tersebut.

Sementara untuk anak-anak yang sudah dinyatakan positif terkena alergi dibutuhkan penanganan berupa pemberian nutrisi yang tepat dan menekan senisitisasi (tingkat alergi) yang aman dan memenuhi semua zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.

Dr. Zakiudin Munasir, SpA (K)- Konsultan Alergi Imunologi Anak dari RSCM Jakarta pada kesempatan tersebut mengatakan bahwa, anak-anak dengan kedua orang tua yang memiliki riwayat alergi memiliki alergi sebesar 40%-60%. Risiko tersebut lebih besar pula pada anak-anak dengan kedua orang tua yang memiliki riwayat alergi dan manifestasi sama yaitu 60%-80%. Bagi anak-anak tersebut, diperlukan pengawasan yang lebih intens untuk memastikan tumbuh kembang anak yang optimal.

Riwayat alergi yang dimiliki oleh orang tua dianjurkan untuk mengukur risiko alergi yang dimiliki anak, sementara salah satu dari orangtua yang memiliki riwayat seperti itu, berisiko dapat mengalami alergi sebesar 20%-30%. Begitupun jika saudara yang memiliki riwayat alergi, anak akan mengalami alergi sebesar 25%-30%, dan orang tua yang tidak memiliki riwayat alergi pun berisiko mengalami alergi sebesar 5%-15%.

“Sebesar apapun risiko alergi yang dimiliki anak, penanganan sedini mungkin perlu ditempuh, sehingga anak terhindar dari dampak jangka panjang alergi,” tambah DR. Dr. Zakiudin Munasir, SpA (K).

Sementara itu, apabila risiko alergi pada anak sudah disadari, maka orangtua perlu mengenali gejala-gejala klinis alergi. Hal tersebut dianggap penting karena alergi protein susu sapi memiliki gejala yang spesifik dan sulit dideteksi. Pengenalan gejala alergi tersebut dimaksudkan agar dapat segera memberikan nutrisi yang tepat sehingga tumbuh kembang anak tidak terhambat.

Penyampain materi selanjutnya disambung pula oleh Dr. Bernie Endyarnie, SpA (K), MPH. Dalam kesempatannya beliau memaparkan “Nutrisi merupakan salah satu faktor penting yang berperan dalam tumbuh kembang anak, selain genetic dan lingkungan. Nutrisi yang tepat, lengkap, serta menjadi dasar bagi tumbuh kembang yang optimal seorang anak adalah Air Susu Ibu (ASI), Makanan Pendamping ASI (MPASI) dan makanan seimbang.”

Tetapi, anak-anak dengan tingkat risiko alergi susu sapi akan memberikan reaksi yang tidak normal terhadap MPASI dan makanan seimbang yang mengandung protein susu sapi, dikarenakan interaksi antara satu atau lebih protein susu dengan satu atau lebih mekanisme kekebalan tubuh.

Dr. Bernie Endyarnie, SpA (K), MPH. mengungkapkan kembali bahwa alergi protein susu sapi merupakan salah satu bentuk alergi makanan. Anak yang alergi terhadap makanan lebih berisiiko mengalami gangguan pertumbuhan yang berhubungan dengan asupan makanan.

Dr. Bernie Endyarnie, SpA (K), MPH mencontohkan bahwa sering kali mereka dijauhkan dari asupan makanan bergizi tertentu seperti telur dan sapi. Apabila intervensi nutrisi dilakukan dengan tepat serta dipantau dengan baik, anak dengan alergi dapat tetap tumbuh dan kembang secara optimal.

Dilakukannya intervensi nutrisi tersebut bertujuan untuk mencegah paparan alergi dan memastikan optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan anak  agar tidak terganggu, begitu pun untuk mengidentifikasi dan menangani masalah gangguan gizi.

Pada awal kehidupan intervensi nutrisi bagi anak dengan faktor risiko tidak toleran terhadap protein susu sapi adalah pemberian MPASI berupa nutrisi-nutrisi yang lebih mudah dicerna oleh tubuh.

Dr. Zakiudin Munasir, SpA (K) memaparkan pula bahwa protein terhidrolisis parsial ialah sebuah hasil dari teknologi yang lebih mudah dicerna dan ditoleransi oleh tubuh anak. Keberadaan teknologi tersebut panjang rantai protein dapat dipotong menjadi lebih pendek, begitu pun massa molekulnya akan lebih mudah diterima dan dicerna.

Teknolgi tersebut memungkinkan anak-anak yang memiliki risiko tidak toleran terhadap susu sapi tetap dapat memperoleh nutrisi dengan asupan protein yang dibutuhkan demi tercapainya pertumbuhan yang optimal.

“Pemberian nutrisi dengan protein terhidrolisis parsial pun direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) karena merupakan salah satu langkah praktis dalam upaya intervensi nutrisi bagi anak, dengan faktor risiko tidak toleran karena proteinnya yang lebih mudah diterima dan dicerna.

Langkah-langkah lainnya dapat berupa pencegahan pada anak yang sudah terkena dampak lainnya dari alergi, dengan tujuan agar reaksi alergi tidak berulang bertambah berat begitu pun tidak terbawa hingga ia dewasa,” ungkap DR. Dr. Zakiudin Munasir, SpA (K).

Menurut DR. Dr. Zakiudin Munasir, SpA (K), salah satu alternatif pemberian nutrisi yang efektif bagi anak-anak yang sudah terpapar alergi adalah formula dengan isolat protein kedelai. Menurutnya sejumlah penelitian pun telah membuktikan bahwa pola pertumbuhan, kesehatan tulang, fungsi reproduksi, fungsi metabolisme, imunitas, endokrin dan sistem saraf dari anak-anak pengkonsumsi formula dengan isolat protein kedelai tidak berbedea secara signifikan dengan anak-anak yang mengkonsumsi susu sapi.

“Tidak saja menjadi opsi yang terjangkau, formula denga isolat protein kedelai dapat dijadikan pilihan yang aman bagi anak dengan alergi protein susu sapi, karena dapat ditoleransi dengan baik. Selain itu, di Indonesia formula kedelai merupakan asupan yang disukai karena rasanya yang enak,” papar DR. Dr. Zakiudin Munasir, SpA (K).

Pada kesempatan diskusi tersebut, Nutritalk juga memperkenalkan Kartu Deteksi Dini UKK Alergi Imunologi yang diterbitkan oleh  IDAI. Arif Mujahiddin, Head of Corporate Affairs Sarihusada menerangkan bahwa tersebut memuat nilai risiko pada ayah, ibu dan saudara kandung yang berfungsi untuk menghitung risiko alergi pada anak, sehingga penanganan alergi dapat dilakukan sedini mungkin dan sekomprehensif mungkin.

Arif menjelaskan bahwa kartu tersebut difungsikan untuk membantu dan  memperkenalkan tool sebagai bagian dari komiten Sarihusada untuk memberikan edukasi dalam meningkatan  pengetahuan masyarakat mengenai alergi dan langkah praktis lainnya yang dapat dilakukan.***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *