Komunitas Di Medan Kenang Masa Kecil Dengan Bermain Pecah Piring

  • Whatsapp

Main Pecah Piring di Lapangan Merdeka

Belakangan ini anak-anak disibukkan dengan gadget dan jenis permainan canggih lainnya. Khususnya anak-anak yang lahir di atas tahun 2000-an, mulai dari permainan time zone di mall, playstation, games di handphone, ipad dan tab yang dapat dibeli secara gratis di pembelian aplikasi setiap smartphone, selalu dijadikan pegangan bagi anak-anak tersebut. Sehingga anak-anak melupakan permainan tradisonal. Seperti halnya permainan pecah piring.

Read More

Bagi konkawan yang lahir di tahun 90-an pasti sudah akrab dengan jenis permainan ini. Pecah piring merupakan permainan tradisonal yang mulanya berasal dari Suku Batak Pakpak dari Kabupaten Pakpak Barat dan Kabupaten Dairi Sumatera Utara. Permainan ini menggunakan bahan utama bola terbuat dari gumpalan kertas diisi batu dan piring kaca. Seiring perkembangan zaman, pecah piring kini menggunakan bola kasti sebagai pengganti gumpalan kertas. Sedangkan pecahan batu, asbes atau keramik sebagai pengganti piring kaca.

Pada zamannya, pecah piring populer dikalangan orang batak terutama anak-anak tetapi tak menutup kemungkinan juga dimainkan oleh orang dewasa. Permainan ini dimainkan oleh warga yang tinggal di perkampungan, bahkan dijadikan sebagai perlombaan acara besar seperti hari kemerdekaan 17 Agustus.

Diyakini, permainan ini dapat meningkatkan kreativitas, melincahkan gerak tubuh, menjaga daya tahan, meningkatkan kerja sama tim, memacu daya pikir dan membangun semangat dalam menjunjung tinggi persaudaraan sesama pemain.

Nyatanya, pecah piring kini hampir dilupakan oleh masyarakat. Berbeda dengan sekelompok orang yang terdiri dari mahasiswa, pekerja sampai dengan ibu rumah tangga ini setiap rabu malam, mereka membagi kelompok menjadi dua bagian yang jumlahnya seimbang untuk bermain pecah piring, di Lapangan Merdeka Jalan Balai Kota, Medan.

Kegiatan ini diusung oleh Backpaker Medan yang setiap rabu malam Kopi Darat (kopdar) di Lapangan Merdeka, karena bosan akhirnya mereka membuat beberapa permainan seperti Patok Lele dan Pecah Piring.

Sempat vakum dan kemudian lewat Wilson Budianto permainan ini dipromosikan melalui facebook. Akhirnya mendapat sambutan baik dari beberapa orang dan aktif kembali pada awal 2015.

Kegiatan ini dihidupkan kembali berdasarkan kerinduan mereka akan permainan tradisional yang membawa kenangan masa kecil. Kini tak hanya anggota backpaker yang bergabung di dalamnya namun ada juga kawan-kawan dari KKSP (Kelompok Kerja Sosial Perkotaan), Pemuda Peduli Panti, Apheresis Medan dan komunitas lainnya.

Dengan rutin memainkan pecah piring, Wilson mengaku bahwa ia kembali mengenang tentang masa kecilnya. Baginya permainan ini juga mengajarkan bagaimana bekerjasama dalam tim dan mengatur emosi kita.

Meski terdiri dari puluhan laki-laki dan perempuan, dalam permainan mereka bisa melupakannya, karena masing-masing kelompok yang terdiri dari dua bagian saling memburu musuh dengan melempar bola.

Sebelum bermain, setiap kelompok memilih ketua dan nama kelompoknya yang dimisalkan dengan kelompok Njahat (penyerang) dan Burju (yang diserang). Setelah itu batu disusun rapi ke atas dan diletakkan dalam sebuah persegi yang sengaja digaris di atas tanah maupun lapangan dengan kapur dan sejenisnya.

Kelompok burju kemudian melempar batu-batu yang tersusun dengan bola sehingga berantakan sambil melarikan diri menghindari serangan dari njahat. Burju bertugas untuk menyusun kembali batu-batu yang berantakan seperti sedia kala dan njahat bertugas menjaga batu-batu agar tidak dapat disusun oleh burju, begitu pula njahat sambil bersiap-siap melempar bola ke arah burju untuk memenangkan permainan.

Apabila seluruh anggota burju terkena lemparan bola sebelum batu-batu tersusun keseluruhan, maka njahat menjadi pemenangnya. Sebaliknya juga bila semua batu tersusun oleh kelompok burju maka burju yang menjadi pemenangnya.

Dalam memainkan pecah piring, anggota dari berbagai komunitas ini menunjukkan ekspresi bermainnya dengan berteriak-teriak agar membuat permainan menjadi lebih menyenangkan. Masing-masing anggota menjadi pelindung bagi kelompoknya sendiri, tak heran jika permainan pecah piring menguras ekstra tenaga. Tetapi kepuasan akan tercipta setelah menyelesaikan permainan ini.

Nasriati Muthalib, salah satu anggota dalam permainan pecah piring mengungkapkan bahwa dengan bergabung dalam perkumpulan ini, ia mendapatkan banyak manfaat. Seperti halnya pecah piring dimainkan untuk melestarikan permainan tradisonal agar orang tidak fokus pada gadget semata, begitu juga pecah piring yang menjadi bagian dari olahraga menurutnya. Pecah piring dapat menyatukan berbagai komunitas agar bisa bekerjasama dalam permainan dan menjadi solusi terapi stress. “Ibarat sekali dayung 2-3 pulau terlampaui,” tambahnya.

Video Permainan Pecah Piring di Medan

Bagi konkawan Cerita Medan yang mau mengenang masa kecil dengan bermain pecah piring, yuk langsung aja ke Lapangan Merdeka setiap Rabu malam selepas Maghrib ya.***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *