Kemas Laporan Jurnalistik Agar Tidak Picu Konflik

  • Whatsapp

Berbicara mengenai tantangan jurnalisme keberagaman di Sumatera Utara (Sumut), Usman Kansong yang diundang oleh Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (Sejuk) di Hotel International Sibayak, Jalan Merdeka Berastagi-Sumatera Utara (11/02) menyampaikan beberapa hal mengenai Sumut yang dikatakan sebagai mini-nya Indonesia karena ragam budaya, ras, suku dan agama didalamnya.

Read More

Suku Batak disebut menjadi mayoritas di Sumut. Pandangan bahwa masyarakat memandang bahwa setiap yang Suku Batak adalah Kristen ternyata menjadi dampak besar dan menjadikan Sumut terkotak-kotak serta saling mencurigai satu sama lain. Pengotak-kotakkan primordial merambah ke dunia pers dan menjadi tersekat-sekat dalam ideologi tertentu. Akibatnya pemberitaan pers sering merefleksikan pertarungan dan kecurigaan antara umat beragama.

Dalam paparannya, usman mengatakan sebagai penulis berita yang berkecimpung dalam dunia pers, terkadang jurnalis enggan memberitakan peristiwa anti keberagaman karena khawatir konflik yang terjadi akan semakin meluas. Padahal sebenarnya dapat menarik perhatian pemangku kepentingan, hanya saja tergantung bagaimana jurnalis mengemas laporan agar tidak memicu konflik lebih luas lagi.

Memahami jurnalisme keberagaman, Usman menjelaskan bahwa hal tersebut berpihak pada keragaman dan perbedaan. Dapat terjalankan melalui solusi dengan mengikuti pelatihan, berdiskusi dan membaca buku jurnalisme keberagaman. Langkah tersebut akan mampu membuat jurnalis mampu melaporkan peristiwa terkait persoalan keagamaan, etnik, gender yang berpihak pada perspetif korban serta mengedepankan Hak Asasi Manusia (HAM).***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *