Istilah Medan yang Mulai Punah

  • Whatsapp
Kepunahan Bahasa
Kepunahan Bahasa

 

Medan dikenal dengan masyarakatnya yang multikultural. Terdapat beragam budaya, suku, agama dan bahasa yang berbeda-beda. Dari keberagaman tersebut tercipta pula bahasa campuran yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) namun jarang digunakan masyarakat luas dan lebih sering digunakan orang Medan sehingga dianggap sebagai bahasa Medan. Namun, tahukah kamu jika terdapat beberapa kata dalam bahasa Medan yang kini hampir punah bahkan dilupakan. Tak heran jika remaja sekarang ini sudah tak mengenal arti bahasa tersebut. Kata itu antara lain :

Read More

1. Sulang

Menurut KBBI sulang berarti saling memberikan minuman. Diartikan pula sebagai ajakan minum kepada orang lain. Zaman dahulu kata ‘sulang’ bagi orang Medan diartikan memberikan makanan ataupun minuman kepada orang lain biasanya berupa ajakan. Contohnya adalah seorang ibu yang mengatakan “Sini mamak sulang makannya,” hal itu berarti sang ibu menawarkan kepada anak untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya atau kini lebih dikenal dengan ‘menyuap,’ tetapi bukan menyuap dalam artian politik dan semacamnya. Kini keadaan serupa lebih sering disebut dengan suap, sebagaimana seorang ibu menyuapi anaknya dengan makanan.

2. Sikat
Jenis kata ini bagi orang Medan dulunya diartikan sebagai sisir yang berfungsi merapikan dan mengatur rambut agar terlihat rapi. Kini, bahasa ini jarang disebut karena kebanyakan orang menganggap bahwa kata ‘sikat’ lebih diartikan sebagai sikat gigi. Orang Medan menganggap kata ‘sikat’ sebagai kata untuk menghajar maupun menyantap sesuatu.

3. Serit

Kata ‘serit’ dulunya sering digunakan orang Medan sebagai kata untuk menyebutkan sisir rambut yang halus dan biasa digunakan untuk mencari kutu rambut. Seiring perkembangan zaman kata ‘serit’ kini ditukar menjadi kata sisir rapat/sikat rapat. Orang Medan kini tak begitu mengenal lagi arti kata ‘serit.’

4. Garang

Jika kebanyakan orang mengungkapkan kata ganas, bengis dan sejenisnya dengan kata galak. Orang Medan justru kerap menyebutnya dengan kata garang. Tetapi itu dulu, kini kata garang sendiri jarang digunakan kebanyakan orang terutama di Medan. Sudah punah? Bisa dikatakan seperti itu.

5. Sudako

Kini istilah Sudako lebih dikenal bagi masyarakat Medan dengan Angkot. Padahal beberapa tahun lalu setiap angkutan umum disebut dengan Sudako baik itu Sudako pintu samping maupun Sudako pintu belakang. Tapi kini, hanya Sudako pintu belakang yang diakui sebagai Sudako, sementara pintu samping disebut dengan angkot. Di Medan sendiri, selain namanya, keberadaannya juga hanya beberapa, orang Medan akan sering menemukan jenis angkutan ini di daerah Sambu dan sekitarnya.

6. Toyoko

Bukan hanya istilah maupun bahasanya saja, nyatanya keberadaan Toyoko di Medan sudah tidak ada lagi. Toyoko adalah jenis Angkutan Umum yang menyerupai Bajaj. Merupakan produk Jepang yang hadir di Medan pada 1990-an, Toyoko pada zamannya memang diminati banyak orang karena menaiki kendaraan ini ternyata mengasyikkan apalagi sambil ngebut. Tetapi suaranya yang bising dan asapnya yang mengepul meningkatkan polusi udara sehingga keberadaan Toyoko digantikan oleh becak dayung, becak motor dan sejenisnya. Walaupun nama dan keberadaannya sudah punah, tetapi Toyoko memiliki banyak kenangan terutama bagi penumpang yang telah merasakan sensasi menaikinya.

Ketika istilah bahasa sudah punah, alangkah baiknya warga Medan melestarikan kembali. Karena yang terpenting bukannya keberadaannya, namun kenangan yang tercipta perlu dikenang.***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *