Bahaya Menjadi Plagiator

  • Whatsapp

Bahaya Menjadi Plagiator

Siapa yang tidak tahu karya tulis ilmiah, apalagi jika mengulas mengenai skripsi yang mengahantui mahasiswa. Tidak jarang mahasiswa tingkat akhir menganggap skripsi sebagai beban terberat. Dimulai dari pengajuan judul yang susah payah dirancang bisa saja gagal karena dosen pembimbing tak menyetujuinya. Proposal yang sudah jadi dapat berulang kali direvisi, hingga akhirnya mahasiswa mengalami strees berkelanjutan.

Hal ini tak hanya dialami oleh mahasiswa tingkat akhir pada strata 1, namun juga dialami oleh mahasiswa tingkat akhir strata 2 bahkan strata 3 sekalipun.

Kesulitan untuk menulis atau kesulitan mencari referensi adalah hal biasa. Bukankah mahasiswa yang telah memasuki bangku perkuliahan telah mampu menyelesaikan karya ilmiah seperti makalah. Lalu apa hal yang lebih membebabkan mahasiswa?

Kebiasaan copy-paste sepertinya telah merajalela dikalangan mahasiswa. Persoalan ada pada diri mahasiswa sendiri. Internet yang sangat memanjakan membuat mahasiswa malas mencari referensi lain, makalah hanya tinggal diunduh saja. Sebenarnya tak masalah bila mengambil sumber dari internet sebagai bahan tambahan, jika bisa mengkombinasikan dengan sumber referensi lain. Kuncinya menumbuhkan budaya menulis dalam diri, jangan malah membiasakan diri menjadi plagiator.

Pengertian plagiat menurut Permendiknas 17 Tahun 2010 Pasal 1 dan Ayat 1 adalah perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai.

Macam-macam bentuk plagiat dalam penulisan karya ilmiah meliputi tetapi tidak terbatas pada Permendiknas 17 Tahun 2010 Pasal 2 ayat 1

Mengacu dan atau mengutip istilah, kata-kata dan atau kalimat, data dan atau informasi dari suatu sumber tanpa menyebutkan sumber dalam catatan kutipan dan atau tanpa menyatakan sumber secara memadai.

Mengacu dan atau mengutip secara acak istilah, kata-kata dan atau kalimat, data dan atau informasi dari suatu sumber tanpa menyebutkan sumber dalam catatan kutipan dan atau tanpa menyatakan sumber secara memadai.

Menggunakan sumber gagasan, pendapat, pandangan, atau teori tanpa menyatakan sumber secara memadai.

Merumuskan dengan kata-kata dan atau kalimat sendiri dari sumber kata-kata dan atau kalimat, gagasan, pendapat, pandangan, atau teori tanpa menyatakan sumber secara memadai.

Menyerahkan suatu karya ilmiah yang dihasilkan dan atau telah dipublikasikan oleh pihak lain sebagai karya ilmiahnya tanpa menyatakan sumber secara memadai.

Penanggulangan plagiat oleh mahasiswa dalam penulisan karya ilmiah diatur selanjutnya di Permendiknas 17/2010 Pasal 10, yang berbunyi:

Dalam hal diduga telah terjadi plagiat oleh mahasiswa, ketua jurusan/departemen/bagian membuat persandingan antara karya ilmiah mahasiswa dengan karya dan/atau karya ilmiah yang diduga merupakan sumber yang tidak dinyatakan oleh mahasiswa.

Ketua jurusan/departemen/bagian meminta seorang dosen sejawat sebidang untuk memberikan kesaksian secara tertulis tentang kebenaran plagiat yang diduga telah dilakukan mahasiswa.

Mahasiswa yang diduga melakukan plagiat diberi kesempatan melakukan pembelaan di hadapan ketua jurusan/departemen bagian.

Apabila berdasarkan persandingan dan kesaksian telah terbukti terjadi plagiat, maka ketua jurusan/departemen/bagian menjatuhkan sanksi kepada mahasiswa sebagai plagiator.

Apabila salah satu dari persandingan atau kesaksian, ternyata tidak dapat membuktikan terjadinya plagiat, maka sanksi tidak dapat dijatuhkan kepada mahasiswa yang diduga melakukan plagiat.

Apabila mahasiswa terbukti melakukan plagiat sedangkan ia telah lulus suatu program studi, maka sanksi yang diterima adalah pembatalan ijazah yang telah jelas pada Permendiknas 17/2010 Pasal 12 ayat 1 huruf g. Akan tetapi, bila tidak terbukti melakukan plagiat sebagaimana dituduhkan, maka pemimpin perguruan tinggi melakukan pemulihan nama baik yang bersangkutan pada Pasal 14 Permendiknas 17/2010 yang berbunyi lulusan yang terbukti menjiplak karya ilmiah orang lain juga diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun dan atau pidana denda paling Rp. 200.000.000.

Bahkan mengenai penjiplakan karya ilmiah ini, Menteri Pendidikan sudah menerbitkan Permendiknas No. 17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi.

Jadi, perbuatan plagiat dalam penulisan karya ilmiah merupakan suatu tindak pidana. Orang yang terbukti melakukan plagiat dalam penulisan karya ilmiah untuk mendapatkan gelar akademik, profesi, atau vokasi terancam sanksi pencabutan gelar, pembatalan ijazah, bahkan hingga ancaman pidana penjara.***(CM-E02/Amal Hayati)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *