Sepenggal Cerita Ghandi Fernando Tentang Film Midnight Show

  • Whatsapp

“Film adalah jendela wisata paling kuat di dunia,” ungkap Ghandi Fernando, Produser Film Midnight Show pada jumpa pers di Kiss FM Jl. Cut Nyak Dien No.16 Medan, Senin (11/01).  Pada jumpa pers tersebut, Gandhi  menceritakan proses penggarapan film ke 4 dari Renee Pictures yaitu Midnight Show. Film ini menceritakan tentang tragedi pembunuhan di dalam bioskop tua yang sedang menayangkan film kontroversial pada tayangan tengah malam (Midnight Show) menjadi cerita yang menarik untuk di tonton masyarakat Indonesia. Selain menjadi tokoh Juna dalam film Midnight Show, Ghandi juga merangkap peran sebagai produser dalam film ini. 


Ghandi Fernando, Film Midnight ShowCreditFoto : Zakiyah Rizki Sihombing

Ghandi Fernando berperan sebagai Juna di film tersebut. Juna adalah Pekerja bioskop tepatnya sebagai Projectionist yang memendam rasa kepada lawan mainnya Acha Septriasa, yang kebetulan berperan sebagai Naya.

Film yang tayang 14 Januari 2016 ini mengambil lokasi syuting di daerah Bogor dan Depok tepatnya di bioskop yang sudah tidak beropersi lagi yaitu Bioskop Galaxy dan Bioskop Cimanggis menyimpan cerita sendiri.  Contohnya, Ganindra Bimo yang berperan sebagai Tama pada saat melakukan beberapa adegan tiba-tiba jatuh seperti ditarik dengan tarikan yang sangat kuat. Menurut Citra Prima yang sekaligus seorang Psikolog, mengatakan bahwa Ganindra Bimo ditarik oleh segerombolan anak Playgroup.

“Sebenarnya saya dari dulu mengagumi sosok Acha Septriasa yang menjadi karakter Naya di film Midnight Show. Saya mulai jatuh cinta kepada actingnya semenjak film pertama yaitu HEART . Jadi, saya mempunyai keberanian yang cukup besar ketika saya menawarkan peran ini kepada Acha,” jawabnya saat ditanya seputar proses pembuatan film Midnight Show.

Midnight Show adalah film Horror Thriller pertama Acha Septriasa. Awalnya Acha menolak untuk bermain di film ini, namun, sang produser Ghandi Fernando memberikan skrip cerita Midnight Show kepada Acha. Mulanya Acha sedikit ragu karena Manager Acha yang mana mamanya sendiri menantang keras Acha untuk bermain di film horor. Setelah membaca skrip yang diberikan Gandhi Fernando, Acha mulai tertarik dengan ide ceritanya. Menurut Acha film ini memiliki cerita yang berbeda dari film horor Indonesia sebelumnya. 

Uniknya lagi, Film yang mengambil latar cerita tahun 1998 ini merupakan pengalaman pribadi Ghandi Fernando lagu diangkat menjadi sebuah cerita jenius yang ditulis oleh Muhammad Hasan. Tahun 2007 Gandhi Fernando pernah menonton film horror pada tayangan tengah malam dan lampu gedung bioskop seketika mati. Dari pengalaman pribadi itulah Ghandi Fernando memperluas ide ceritanya pada satu film yang berdurasi 97 menit tersebut. 

Bagi Ghandi Fernando ini adalah pengalaman pertamanya dalam menggarap film horror yang menurutnya benar-benar ‘Horror’. Tidak seperti film horror yang pernah dibuatya 4 tahun yang lalu yaitu Tuyul: Part 2, pembuatan film ini sangat membuat bulu kuduk merinding. Awalnya Gandi Fernando tidak pernah percaya tentang hal mistis dari dunia gaib karena saat pembuatan film Tuyul  semua keadaan bisa dibilang sangat bisa dikendalikan. Film Horror Thriller pertama Acha ini, membuat Acha beberapa kali menjerit histeris karena merasakan lebih dari sekali interaksi dari makhluk gaib yang iseng mengganggu jalannya proses shooting.

Tidak hanya melakukan jumpa pers di Medan, Gandhi Fernando bersama Team Midnight Show juga melakukan roadshow kebeberapa kota di Indonesia salah satunya di daerah Bawbaw di Sulawesi Tenggara. Medan juga menjadi salah satu dari tiga kota  yaitu Jakarta, Bandung dan Medan yang dipilih Gandhi Fernando untuk Premiere film Midnight Show. 

Pers yang dihadiri oleh beberapa rekan media seperti Tribun Medan, Medan Bisnis, Tauko Tembung, Persma Pijar, Star FM, I-Radio, Kover Magazine menjadi salah satu tempat dimana tolak ukur perfilman khususnya di Kota Medan. Medan mempunyai potensi yang sangat luar biasa dalam penjualan Ticketing film khususnya film dalam negeri. Ghandi juga bercerita kepada teman-teman Media dalam Pers yang dilaksanakan di Radio Kiss FM Medan, bahwa apreasiasi anak medan terhadap perfilman wajib diacungkan jempol. 

Tidak hanya melakukan jumpa pers, Gandhi Fernando juga melaksanakan ajang nonton bareng sekaligus Premiere film ke-empatnya di Hermes XXI Polonia Medan di hari yang sama. Ajang nonton bareng tidak hanya menjadi tempat silahturahmi komunitas media di Medan, tetapi juga menjadi pembuktian kepada penonton tentang apa yang sudah diceritakannya kepada teman-teman media pada jumpa pers siang harinya. Terbukti ketika film sudah selesai, Gandhi Fernando diberikan tepuk tangan yang luar biasa dari penonton di studio 1 Hermes XXI .***(CM-01/Dela Dahaka)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *