Roy Romero : Jadikan Seni dan Budaya Peluang Bisnis Menjanjikan

  • Whatsapp

Roy Romero

Musik metal adalah sebuah aliran musik rock yang telah berkembang semenjak tahun 1970-an. Berdasarkan perkembangannya, metal kian diminati oleh berbagai kalangan terutama laki-laki. Dentuman bunyinya sendiri ditandai dengan gema suara gitar yang nyaring. Ketukan yang cepat dan gerakan yang kerap disesuaikan dengan intonasi yang terkesan mendistorsi. Terdapat sekumpulan orang dari belahan dunia yang akhirnya membuat grup band dengan aliran musik metal, yang kebanyakan juga sudah mengeluarkan albumnya sendiri.

Read More

Beberapa tahun kemudian setelah perkembangan aliran musik metal, seorang pria berdarah batak bernama Roy Romero Munthe yang ingin menunjukkan kesukaannya pada metal akhirnya membuat sebuah situs web dan diberi nama Brontak Zine. Dibuat pada tahun 1998 dalam format fanzine. Adapun tujuannya tak lain adalah untuk memberikan informasi mengenai band-band metal dan lagu yang diputarkannya.

Pada tahun 2000, lewat perkembangan teknologi Roy lalu mengeluarkan versi online yang pada masa itu masih menggunakan pelayanan gratis dari Tripod dan Geocities. Berselang tiga tahun Brontak Zine berubah domain menjadi Berontakzine.com.

Menggunakan format fanzine, Roy mengelola sendiri Berontakzine. Berbagai band dan penyanyi dari Indonesia bahkan Victory Record (Amerika), Spinefarm Records (Finlandia), Undercover Records (Jerman), The End Record dan negara besar lainnya mengirimkan rilis CD (Compact Disk) mereka untuk direview tertulis langsung oleh Roy menggunakan bahasa Indonesia dan dipublish di Berontakzine untuk dinikmati pembacanya. Hal ini terus berlangsung karena dengan Roy menuliskan review musik luar akan memberikan kesempatan kepada band tersebut untuk tampil di Indonesia.

“Barusan saya dapat tawaran untuk mereview musik metal dari Republik Ceko,” ungkapnya bangga.

Review musik yang Roy tuliskan mendapatkan sambutan hangat dari penikmat musik. Tak heran jika pada kesempatannya Roy menerima banyak tawaran untuk mengulas musik dari luar. Dan keuntungannya, Roy bahkan bisa lebih dulu mengenal banyak grup band sebelum band itu terkenal. “Saya sudah duluan komunikasi sama mereka, sering diajak jumpa juga kalau mereka lagi disini,” tambahnya.

Ratusan album yang terdiri dari ribuan lagu dari negara-negara besar sudah Roy review dengan caranya. Tulisan tersebut kemudian ditulis kembali oleh beberapa media karena pada dasarnya Roy memang menuliskannya secara objektif dan penuh kejujuran. Dalam pergerakannya, berdasarkan tulisan-tulisan terbaik di Berontakzine.com akhirnya web ini mendapatkan peringkat web independent terbaik di asia.

“Tulisan saya di Berontakzine bebas dicopy, bahkan media-media besar saya perbolehkan mengambilnya,” jelasnya.

Lewat Berontakzine tersebut, Roy banyak dikenal oleh pihak luar. Beberapa penikmat musik metal di Jakarta misalnya, kerap mengajaknya berdiskusi tatkala Roy tengah berada disana dalam suatu urusan. Tak tanggung-tanggung diskusi sederhana tersebut juga menghadirkan band metal lainnya, hanya demi mendengarkan pengamatan dan ulasan dari Roy.

“Kalau saya main ke Jakarta, pasti selalu aja ada yang rebutan mau jemput saya padahal saya juga gak kenal mereka,” kenangnya.

Tak hanya musik, Roy juga bermain dengan seni lewat usaha dan budaya. Pada tahun 2006, ia membuka gerai usaha Kaos Batak Do Au dan dipasarkan secara online sebelum akhirnya dijajakan di Pajak USU(Universitas Sumatera Utara) lalu pindah ke Pajak USU Dr. Mansyur karena tempat sebelumnya mengalami kebakaran.

Untuk mendapatkan bahan yang lebih baik dari kaos lainnya, Roy mengimport langsung bahan cotton combed 30S untuk Kaos Batak Do Au dari Bandung. Kemudian disablon sendiri dengan penggambaran budaya didalam desainnya. “Berjualan sambil bercerita,” ungkap Theresia Simatupang, Istri sekaligus partner dalam bisnisnya saat ini.

Di dalam Kaos Batak Do Au terdapat desainnya dengan berbagai makna yang diartikan sebagai cerita dari batak toba. Seperti dalam salah satu kaos yang terdapat tulisan ‘Tuak’ dan dibagian atas bawahnya tertulis “au doi lae”. Desain lainnya seperti aksara batak kuno yang jika dibaca berarti Horas, juga ada tipografi yang didesain menyerupai bentuk kepala Sisingamangaraja.

Lewat desain tersebut, Roy ingin menyampaikan pesan budaya karena keinginannya untuk mengabadikan budaya di zaman modern ini yang kebanyakan orang sudah melupakannya. Untuk penggambaran budaya sendiri Roy bercerita bahwa Ia berdiskusi langsung ke beberapa budayawan di Taman Budaya Sumatera Utara agar tak salah pemahaman dalam pesan budaya yang disampaikan lewat desain kaos ciptaannya.

Kisaran harga yang ditawarkan untuk Kaos Batak Do Au dibandrol mulai dari Rp.60.000 – Rp.110.000. Seperti penuturan Theresia, untuk harga sendiri tak pernah ia bedakan, harga tetap sama meski pembelinya orang luar sekalipun. Pemakai kaos ini tak hanya dari kalangan suku batak itu sendiri tetapi juga sudah diterima di Negara lain seperti Belanda, Amerika Serikat, Spanyol dan lainnya.

Begitulah Roy dalam kesehariannya memadukan seni dan budaya. Menyuarakan pendapat lewat review musik kemudian memainkan perannya dengan berdagang sambil bercerita tentang budaya, khususnya Batak Toba.***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *