Nadhira Umaiya : Multitasking itu Penting

  • Whatsapp

Nadhira Umaiya
Nadhira Umaiya

Sejak tahun 2011 lalu, Nadhira Umaiya Hadi tak lagi bergantung pada kedua orangtua untuk membiayai kuliahnya di salah satu Universitas Negeri. Karena ia sudah mulai bekerja tatkala menduduki bangku semester dua. Mengantarkan surat kabar dari satu tempat ke tempat yang lain membuatnya harus lebih baik membagi antara waktu kuliah dan kerja, menyesuaikan segala aktivitas agar segala hal dapat terlaksana dengan baik.

Dua tahun mengemban status menjadi pekerja media, Nadhira akhirnya memutuskan untuk resign  karena suatu hal yang menuntutnya untuk mengeluarkan kreativitas ekstra. Berkat peluang dan relasi yang ia miliki. Nadhira memberanikan diri untuk memulai sebuah usaha bekerjasama dengan salah satu café  ternama di Medan Sunggal. Nadhira mendapatkan kesempatan untuk membuka food court yang mengandalkan kopi sebagai menu utamanya. 

Sebelumnya, ia telah benar-benar belajar meracik dan menciptakan kopi dari salah seorang ‘guru’ yang membuatnya berhasil berbisnis kopi tanpa olahan pabrik. Tak tanggung-tanggung, ia memutuskan belajar ‘kopi’ langsung ke Kota Kembang untuk mengasah kemampuannya. Berulang Bandung – Medan – Jakarta ia jalani demi sebuah ilmu dan pengalaman membuat perempuan kelahiran 08 Desember ini serius dengan kopi. Nadhira melihat pelajaran berharga saat ia berada di Bandung, banyak yang begitu tekun berwirausaha dan hal itu tidak ia dapati di Medan. 

Sebelumnya Nadhira sendiri tidak begitu menyukai kopi, tapi berkat bisnis tersebut ia akhirnya memilih untuk mencoba kopi lebih banyak dari biasanya. Setiap kopi yang diraciknya ia ‘icip’ lalu kemudian berani ia pasarkan.

“Awalnya aku sakit perut satu bulan gara-gara kopi, tapi lama-lama jadi terbiasa minum kopi,” ujarnya.  

Bekerja sendiri, menjadi mandiri. Begitulah pengalaman yang Nadhira dapatkan setelah membuka gerai food court-nya selama kurang lebih dua tahun. Hingga akhirnya kerjasama berakhir dikarenakan cafe tersebut pindah ke tempat yang lebih jauh.

Beberapa waktu kemudian, setelah ia benar-benar mengerti tentang kopi dan jenis-jenisnya, kemudian Nadhira memutuskan untuk membuka cafe sendiri yang ia beri nama “Bandung Toast dan Cofffe” dengan merekrut dua orang pekerja. Cafe yang Terletak di Jalan Sei Bertu No. 38 Medan ini buka dari jam 16.00 – 22.00 WIB. Tak hanya kopi, menu makanan lainnya juga menjadi pilihan ditempat ini.

“Meski namanya Kopi, tapi di dalamnya tetap menyediakan burger dengan variasi warna, dan makanan lainnya,” tambahnya.

Berwirausaha bagi seorang perempuan muda layaknya Nadhira adalah hal lazim di Medan. Namun lambat laun, Nadhira menyadari akan dirinya yang idealis dan terkesan egois. Hal itu berkaca dari bagaimana ia menyikapi karyawan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Pun demikian dengan teman Nadhira yang menyampaikan hal serupa. 

“kok jadi egois sih, kamu perlu kerja dengan orang lain.”

Berangkat dari keresahan tersebut akhirnya Nadhira memberanikan diri melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan untuk menghilangkan kebiasaan buruknya. Berulang ia ditolak, berulang pula ia mencoba. Kecewa tak berkesudahan ia rasakan. Belakangan, ia targetkan untuk mencoba sekali lagi. “Ini terakhir, kalau gak lulus juga ya sudah,” tekadnya dengan sedikit keyakinan. 

Kekecewaannya tuntas tatkala pengumuman itu menuliskan namanya. Ia dinyatakan lulus menjadi salah satu karyawan perusahaan toko online yang sedang melejit saat ini. 

“Awalnya gak yakin, soalnya interview-nya bahasa inggris. Sementara aku gak ‘waw-waw’ banget,” katanya tak menyangka. Bekerja di sebuah perusahaan menjadi harapan bagi Nadhira untuk merubah kebiasaan buruknya, seraya tak lupa meneruskan bisnis serta mengolahnya menjadi lebih menjanjikan. 

“Tetap berusaha aja, karena kita nggak tau kapan rezeki itu datang. Masalah hasil itu belakangan,” ujarnya optimis.

Nadhira kemudian menjalankan hari-harinya dengan bekerja di perusahaan toko online sambil berbisnis. Berbekal keyakinan akan rezeki yang selalu datang diwaktu yang tepat, Nadhira kemudian menerima tawaran menjadi event planner oleh salah seorang yang dikenalnya dari Bandung untuk membereskan sebuah event birthday party.  Ia pun menyanggupi berdasarkan kenekatan dan keyakinan yang dimilikinya. Alhasil   berjalan sukses, Nadhira pun mendapat sambutan baik  ketika itu hingga ia direkrut menjadi salah satu anggota event planner bernama DAS bersama ketiga orang temannya. 

Belakangan, event planner-nya juga dimintai bekerjasama oleh perusahaan besar seperti Bank Rakyat Indonesia, Pertamina dan Hotel Santika. Hal itu membuatnya semakin aktif dan mengatur waktu lebih baik lagi dengan berbagai kegiatan yang ia jalani. “Aku bahkan jadi gak bisa ‘me time’ apalagi mikirin gandengan,” candanya.

Multitasking. Begitulah kata yang tepat menggambarkan sosok Nadhira. Ia bisa melakukan apa saja, dimana saja, kapan saja tanpa memikirkan penting nggak  penting. Langkahnya selalu potensial, seperti segenggam emas tatkala dilempar kemanapun  tetaplah menjadi emas. 

“Sekarang ini kalau nggak bisa apa-apa ya susah, makanya harus bisa semuanya. Menurut aku banyak orang bisa multitasking kok, tinggal bagaimana kita pandai-pandai aja membagi waktu,” ungkap Nadhira.

Nadhira mengungkapkan tips untuk mengatur waktu  yaitu jangan buat yang tidak penting menjadi tidak penting, tapi buatlah yang tidak penting menjadi seolah-olah penting. “Aku juga selalu pakai agenda untuk mengkonsep kegiatanku,” tambahnya. 

Kebutuhan yang semakin meningkat adalah satu dari beberapa alasan yang akhirnya memberlakukan Nadhira untuk harus multitasking, baginya multitasking tak hanya sekedar bisa tetapi juga mampu.
“Multitasking itu penting,” ungkapnya menekankan. 

Nyatanya, Nadhira adalah perempuan biasa yang belajar banyak dari pengalaman dan kehidupan. Ia sadar bahwa untuk menjadi sukses mesti bisa apa saja. 

“Aku banyak belajar dari Raffi Ahmad, jangan liat negatifnya tetapi positifnya dia itu adalah seorang multitasking, lihat aja dia bisa ngelakuin apa aja,” akunya.

Hakikatnya kesuksesan tentulah tidak terlepas dari dorongan dan dukungan orang lain. Nadhira sendiri mengaku ada keluarga dan juga sahabat yang selalu memberikan anjuran kepadanya di balik itu semua. Baginya, mereka adalah orang-orang keren  yang selalu tangguh meski hanya dibalik layar.

Terlepas dari itu semua, perempuan yang berkeinginan mengunjungi Negeri Sakura ini memiliki satu impian yang ia  pun tak tahu kapan akan mewujudkannya. “Aku pengen buka Play Group  atau Taman Kanak-Kanak, yang pasti berhubungan dengan anak-anak. Kapanpun itu semoga bisa terwujud,” harapnya.

Berbeda dengan perempuan pada umumnya, Nadhira di usianya yang ke-24 tahun sudah terbilang sukses. Begitupun, Nadhira tetap bersikap rendah hati dan ramah kepada setiap orang. Karena Nadhira percaya kebaikan akan selalu dikenang. 

Bagi konkawan Cerita Medan yang ingin mengenalnya lebih jauh, dapat menghubunginya via Instagram di : Nadhiraumaiya.***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *