Mulailah Menjadi Stalker Media Sosial Yang Sehat

  • Whatsapp


Foto : digitaltrends.com

Buku adalah jendela dunia. Kini pribahasa popular dikalangan pendidikan lambat laun berubah menjadi “gadget adalah jendela dunia”. Zaman globalisasi merubah pribahasa tersebut di dalam kehidupan metropolitan.  Sebagai kaum yang mau tidak mau wajib mengikuti perkembangan zaman yang sangat signifikan, kita dituntut menjadi kaum yang mewajibkan stalking.

Stalking adalah kata yang digunakan dalam menunjuk pada suatu perhatian yang tidak diharapkan dari seseorang atau mungkin sekelompok orang terhadap orang lain. Stalking bukanlah tugas yang tidak mudah apalagi stalking di dalam social media. Stalking social media bisa diartikan sebagai aktivitas memantau atau mematai-matai akun orang lain tanpa sepengetahuan pemilik akun yang bersangkutan. Stalking dipicu oleh rasa keingintahuan yang tinggi.  Rasa ingin tahu adalah suatu emosi yang berkaitan dengan perilaku ingin tahu seperti eksplorasi, investigasi dan belajar.

Banyak anak muda di era globalisasi ini memanfaatkan stalking dari berbagai sisi yaitu positif dan negatif. Dalam sisi positif stalking media sosial seperti objek wisata diberbagai dunia, kuliner modern ataupun tradisional, ataupun trend busana masa kini menjadi pengetahuan umum yang dapat diakses dimana saja dan kapan saja hanya dengan menggunakan ponsel pribadi. Hal tersebut membuat seseorang menaikkan kualitas diri menjadi lebih baik serta berkualitas tinggi dalam hal pengetahuan umum.

Tidak hanya anak remaja yang menggunakan  sisi posif stalking, namun juga orang tua yang juga mampu mengikuti perkembahan globalisasi. Seperti kita tahu, akun media sosial tidak hanya menjadi tempat anggar jago seseorang namun juga menjadi tempat edukasi. Contohnya, pemberitaan nasional ataupun internasional dengan mudah dan cepat kita dapatkan hanya dengan merefresh timeline akun media social pribadi. Pengguna media sosial dengan cepat update postingan mereka agar tidak dikatakan ’ketinggalan’ dan memberikan dampak edukasi kepada pembacanya.

Namun banyak juga orang menyalahgunakan sosial media dalam hal yang tidak baik. Contohnya mengunduh postingan tidak senonoh sehingga pembaca di bawah umur secara tidak langsung diberikan edukasi negatif dari pengguna yang tidak bertanggungjawab. Tidak hanya itu, akun social media juga menjadi dampak buruk jika tidak digunakan sebaik mungkin. Banyak remaja yang terpengaruh dengan social media tidak bertanggungjawab terutama remaja tanggung yang masih mencari jati diri dan mencoba hal yang baru. Gaya hidup yang salah seperti cara berpakaian, gaya pacaran yang tidak layak ataupun dunia yang tidak semestinya menjadi acuan remaja tanggung khususnya di Negara yang menganut budaya ketimuran.

Menjadi stalker media sosial juga meningkatkan kriminalitas. Lucu memang namun siapa yang tahu jika diluar sana banyak di bawah umur yang menyalahgunakan hobi stalkingnya ke pergaulan bebas dan tidak dalam pengawasan orang tua.

Di era globalisasi ini, ada baiknya orang tua juga memiliki akun media sosial seperti Path, Twitter, Instagram, Blog, Facebook, Ask.fm, Snapchat dan akun media lainnya. Bukan menjadi ajang ‘sok ngetrend’ namun itu menjadi pemantauan orang tua terhadap anak yang sedang mengikuti zaman khususnya remaja tanggung. Jangan sampai semua terkontaminasi dengan posting hoax dan menjadi bodoh. 

Semua orang dituntut menjadi stalker sejati di zaman globalisasi ini. Namun bukan berarti membodohi diri sendiri dengan menstalking sesuatu yang tidak penting. Bukan malah menjadi pribadi yang memilik pengetahuan luas, tetapi menjadi pribadi yang termakan postingan yang kurang mendidik. Selamat ditinggal zaman kalau mau terikut zaman dengan media sosial namun tidak digunakan dengan sebaik-baiknya. 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *