Senyum Kecil Anak Sungai Deli di Taman Budaya

  • Whatsapp

Drama musikal yang bertema “Senyum Kecil” digelar di Taman Budaya, Jalan Perintis Kemerdekaan Medan, pada 1-2 Desember 2015. Drama ini, dimainkan oleh 40 bocah yang sebelumnya telah dilatih. Selama tiga bulan, anak-anak berlatar belakang dari orang tua tak mampu ini, disiapkan mental serta keterampilannya.

Senyum Kecil Anak Sungai Deli di Taman Budaya
Senyum Kecil Anak Sungai Deli di Taman Budaya

Acara ini, digelar bertujuan untuk mengumpulkan dana agar pembangunan pendopo belajar di Jalan Badur, Kecamatan Medan Maimun yang saat ini sedang terhenti bisa rampung. Serta, beasiswa untuk empat orang anak pinggiran Sungai Deli.

Selain itu, drama musikal ini juga bertujuan untuk menguatkan mental dan psikologis anak-anak itu. Selain itu, tujuan khusus pagelaran ini ingin mengemukakan permasalahan-permasalahan yang telah dihadapi masyarakat Badur selama ini yang tak dialami orang banyak.

Pagelaran ini juga didukung dari berbagai komunitas di Medan, dan juga telah menghabiskan dana sekitar Rp10 juta untuk segala persiapan termasuk pencetakan 2500 tiket penonton.

Seperti diketahui, masyarakat Kampung Badur yang dihuni lebih dari 60 kepala keluarga ini, memiliki pola hidup yang sangat berbeda dan jauh menyimpang dari kehidupan layak.

Daerah pinggiran sungai yang kerab terkena dampak banjir, serta minimnya media sebagai sumber informasi, membuat masyarakat setempat sedikit tertinggal dari masyarakat kota pada umumnya. Hal inilah yang ingin dirubah oleh Lukman dan teman-teman relawannya. Meski kini perubahan itu mulai terlihat, tetapi itu belum cukup.

Ketua Produksi Drama Musikal Senyum Kecil, sekaligus relawan Lukman Hakim Siagian mengatakan, pihaknya menggelar acara tersebut bertujuan khusus untuk merubah pola hidup masyarakat yang selama ini dianggap menyimpang. Selain itu, pihaknya juga ingin mengangkat permasalahan sungai yang kini mulai tidak diperhatikan.

“Kita mengangkat tentang kondisi kehidupan mereka sehari-hari. Lebih mengangkat tentang kesenjangan sosial yang terjadi kepada mereka. Dan ada juga pesan-pesan moral yang akan disampaikan nantinya. Misalnya, jangan buang sampah ke sungai. Kita harus menghargai lingkungan, dengan begitu kita juga akan dihargai lingkungan. Mari menjaga lingkungan,” terang Lukman.

Untuk merubah itu, sangat dibutuhkan uluran tangan dari segala pihak, tak cukup sendirian. Karenanya, Lukman bekerja tidak sendirian. Ia dibantu oleh relawan anak dan lingkungan yang diberi nama Komunitas Peduli Anak dan Sungai Deli (KOPASUDE).

Selama setahun lebih, Lukman telah berusaha mencari dana, agar dapat disumbangkan ke Kampung Badur agar harapannya bisa segera terealisasi.

Dalam pagelarannya, Lukman memilih 40 anak yang bermain sesuai peran masing-masing. Hal ini tidaklah mudah mengajarkannya, karena sangat berbeda dengan orang dewasa.

Lukman memilih anak-anak, karena anak di sana merupakan generasi penerus yang sangat rentan akan anacaman sosial. Karenannya, Lukman ingin mengajarkan kepada anak-anak agar lebih percaya diri. Serta tidak mudah untuk patah semangat. Ini bagian dari pembangunan mental anak-anak.

“Sangat sulit, perbedaannya anak-anak belum mempunyai konsentrasi dalam melakukan segala hal. Maka dari itu ini adalah sangat sulit, kalau pagelaran ini berhasil maka itu satu kebanggaan dalam diri kita relawan. Dan ini juga bagian dari pembangunan mental anak-anak. Supaya bisa menjadi pribadi yang baik,” kata Lukman.

Perubahan kini mulai dirasakan. Tak seperti pada pertama kali memasuki daerah kumuh itu, Lukman dan para relawan kini mulai bisa bersantai saat memberikan materi pelajaran kepada masyarakat setempat, baik dewasa maupun anak-anak.

“Alhamdulilah ada perubahan ke yang baik. Anak-anak mulai rajin ke mesjid, mulai menjaga sopan santun, lebih menjaga lingkungan, dan sudah bisa tampil di depan umum untuk menampilkan kreatifitas mereka. Ini adalah sebuah perubahan yang baik menurut saya,” aku Lukman.

Selama setahun lebih bergelut di dunia relawan untuk anak dan sungai, Lukman menemukan banyak permasalahan sosial di Badur khususnya. Ada puluhan perusahaan besar yang berdiri di bantaran sungai, dan pipa limbahnya menghadap langsung ke arah sungai.

Dalam hal kerusakan lingkungan, masyarakat selalu menjadi sasaran empuk untuk disalahkan lantaran mereka hidup di pinggiran sungai. Nah, inilah yang menjadi permasalahan utama, dan akan diangkat melalui narasi drama musik nantinya.

“Masalah yang paling besar adalah masyarakat pinggiran Sungai Deli selalu disalahkan terhadap kerusakannya, pada kenyataannya kita ketahui sendiri, beberapa perusahaan berdiri tegak di pinggiran Sungai Deli tidak pernah disalahkan. Ini adalah kesalahan, makanya kita luruskan di dalam ide cerita ini. Kita sebagai masyarakat mau kerjasama dalam menjaga kelestarian sungai. Akar permasalahannya adalah, kenapa mereka harus hidup dipinggiran Sungai Deli,” tegasnya.

Menurutnya, masalah sosial lain yang ia temukan adalah mahalnya harga tanah, minimnya lapangan pekerjaan dan jaminan sosial yang menyebabkan munculnya masyarakat pinggiran sungai seperti di Badur. Karena itu, diharapkan semua pihak, termasuk pemerintah agar dapat meluangkan waktu sejenak untuk memikirkan solusi yang permasalahannya kini kita tanggung bersama.

“Karena mereka tidak punya tempat, tidak punya pekerjaan, tidak punya jaminan sosial. Makanya ada masyarakat pinggiran Sungai Deli. Ini yang kita harus cari sama-sama solusinya. Kalau KOPASUDE adalah pemerintah, maka kita akan bicarakan kepada masyarakat, apa solusi terbaik untuk masyarakat agar masyarakat tidak tinggal dipinggiran sungai. KOPASUDE hanya sebagai fasilitator,” ucapnya.

Diketahui, acara berlangsung dari tanggal 1-2 Desember 2015 itu berlangsung dari pukul 16.00-21.30WIB. Dua sesi acara yakni 16.00WIB dan 20.00WIB. Untuk tiket tidak ditetapkan harga. Pembelian bisa pada saat berlangsungnya acara di Taman Budaya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *