IBX5A49C9BC313D6 Farid Wajdi Luncurkan Buku Menyambung Lidah Konsumen - Cerita Medan

Farid Wajdi Luncurkan Buku Menyambung Lidah Konsumen

Direktur Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen (LAPK) Dr. Farid Wajdi, SH, M.Hum mengkritisi berbagai persoalan pelayanan publik melalui buku berjudul ‘Menyambung Lidah Konsumen‘. “Buku setebal 168 lembar ini merupakan kumpulan tulisan yang berusahamerekam berbagai pelayanan publik yang saat ini, telah roboh diterjang badaikekuasaan trio-pejabat, yakni eksekutif, legislatif dan yudikatif,” ungkapnya kepada Cerita Medan, hari ini. 

Buku Menyambung Lidah Konsumen
Farid Wajdi penulis buku: “Menyambung Lidah Konsumen” menyerahkan buku kepada anggota DPD RI Asal Sumut Parlindungan Purba, Jumat (24/7/2015). Buku yang berusaha merekam berbagai pelayanan publik yang saat ini, telah roboh diterjang badai kekuasaan trio-pejabat, yakni eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Dalam buku itu, Farid mencoba menyuarakan kegelisahan para pedagang tradisional yang harus bersaing dengan pasar modern. “Tulisan dalam bukuini merupakan upaya memengaruhi kebijakan publik untuk ikut serta menyuarakansuara yang termarginalkan selama ini. Suara yang diharapkan mampu merekatkan suara warga menjadi opini publik,” papar mantan Dekan Fakultas Hukum UMSU berusia 45 tahun itu. Menurut FaridWajdi, buku “Menyambung Lidah Konsumen”adalah kegenitan untuk melintasi waktu guna mengisi ruang peradaban agar prosesadvokasi tidak hanya mengandalkan

perkataan. Beliau menamabahkan bahwa peradabanbutuh ditulis. Buku ini sebenarnya tak lebih dari sekadar menyuarakan suarakonsumen akibat tidak munculnya pemimpin dan kepemimpinan yang peduli denganrealitas.

Buku Menyambung Lidah Konsumen berusaha menggelitik lewatpercikan pemikiran yang dituliskan. Memungut suara konsumen baik dalam bentukkritikan maupun gagasan-gagasan mereka ke pengambil kebijakan melalui mediamassa. Ada 4 bab uraian dalam buku yakni berisi Main Hakim Sendiri, KepemimpinandanKorupsi, Jagalah Akal Sehatmu, Menggugat Mal administrasi dan Menagih Hak Konsumen. 

Dalam pidato peluncuran buku Farid Wajdi mengutip JamilAzzani: “jika kamu ingin tahu dunia, maka membacalah. Tetapi jika kamu ingin dunia tahu kamu, maka menulislah”. 

Akademisi yang selama ini getol menyuarakan hak konsumen atas pelayanan publik ini menjelaskan, tersumbatnya komunikasi antara masyarakat dengan pemerintahan yang terjadi selama ini membuat persoalan-persoalan sepele berubah menjadi persoalanbesar. Beberapa di antaranyaseperti kritiknya mengenai cara memproteksi pasar tradisional ditengah menjamurnya pusat perbelanjaan modern. Soal eksistensi pasar tradisional di halaman 94, Farid Wajdi memaparkan, pasar tradisional di Indonesia memiliki karakter khas yang takkan mampudigantikan pasar modern, sehingga tetap eksis hingga kini. Pasar tradisionalmemilik keunggulan yang tak dimiliki pasar modern sekalipun. Peluncuran buku tersebutberlangsung dengan sangat sederhana dengan dihadiri kalangan pedagang pasar tradisional yang tergabung pada Persatuan Pedagang Pasar Tradisonal (P3T) Sumatera Utara,Anggota DPD RI Asal Sumut Parlindungan Purba, tokoh masyarakat dan kalangan seniman.Peluncuran buku juga dibarengi dengan pencanangan gerakan Ayo Belanja ke Pasar Tradisional oleh Parlindungan Purba.

KOMENTAR

BACA JUGA