Sergai Raih Nilai UN Terendah, Simalungun Tertinggi

  • Whatsapp

Berdasarkan jumlah nilai ujian nasional (UN) SMP sederajat Sumatera Utara 2015, tercatat Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) memperoleh nilai terendah, sedangkan Simalungun meraih nilai tertinggi.

Sergai Raih Nilai UN Terendah, Simalungun Tertinggi

“Kabupaten Sergai  memperoleh  nilai terendah UN 181,91, sementara Simalungun meraih nilai total nilai tertinggi 340,27 dibanding kabupaten dan kota lainnya,” kata Koordinator Penyelenggara UN Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Provinsi Sumut August Sinaga, Jumat (12/6).

Read More

Secara keseluruhan rekapitulasi nilai hasil UN yang dikeluarkan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang Kemendikbud), dua daerah lainnya yang memiliki nilai total terendah yakni Humbang Hasundutan 188,97 disusul Samosir 203,94. Sedangkan dua daerah lainnya yang memiliki nilai total tertinggi yakni Labuhanbatu 328,87 dan Padanglawas Utara 326.

Dalam rincian hasil nilai UN tertinggi untuk masing-masing mata pelajaran yang di UN-kan di tiga daerah dengan mata pelajaran bahasa Indonesia diraih Pakpak Brarat 84.52, Simalungun 83.93 dan Padangsidempuan 83,73. Sedangkan terendah Batubara 57,55, Sergai 59,66 dan Nias 63,24.

Untuk mata pelajaran Bahasa Inggris Simalungun 88,94, Medan 86,08 dan Pematang siantar 85,67. Nilai ternedah diraih Sergai 42,30, Humbang Hasundutan  43,80 dan Batubara 44,13.

Sementara mata pelajaran matematika nilai UN tertinggi dirperoleh Padanglawas 86,77, Padanglawas Utara 86,56 dan Silalungun 84,55. Untuk nilai terendah Humbang Hasundutan 38,18, Sergai 38,61 dan Batubara 39,14. 

Untuk mata pelajaran IPA nilai tertinggi Simalungun 82,85, Langkat 82,00 dan Pakpak Bharat 80,45. Sedangkan terendah Sergai 41,34, Batubara 43,96 dan Tapanuli Utara 43,83.

Bahasa Indonesia Terendah

Berdasarkan hasil rekapitulasi hasil UN terhadap nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan nilai terendah dibandingkan dengan nilai mata pelajaran lainnya, yakni 2,0 disusul matematika 2,5, IPA 5,0 dan Bahasa Inggris 6,0.

Menyikapi hal itu Guru besar Universitas Negeri Medan Prof Syaiful Sagala mengaku prihatin. Menurutnya hal itu terjadi selain akibat semakin hilangnya budaya membaca di kalangan siswa juga anggapan remeh siswa terhadap pentingnya mata pelajaran Bahasa Indonesia.

“Selama ini orang menganggap bahwa pelajaran Bahasa Indonesia itu mudah jika dibandingkan dengan mata pelajaran lain yang diujikan.  Padahal pengalaman membuktikan dari beberapa kali pelaksanaan UN, justru nilai Bahasa Indonesia yang paling rendah, baik secara nasional maupun di Sumut sendiri,” katanya.

Menurut Wakil Ketua Dewan Pendidikan Sumut ini, bahasa Indonesia penuh dengan logika berfikir, teori dan hafalan. Sementara siswa sangat kurang membaca. Hal ini berbeda dengan kenyataan selama ini siswa lebih banyak diajarkan untuk berfikir praktis.

“Bahkan guru juga lebih banyak menerapkan sistem pembelajaran satu arah bukan seperti yang diharapkan yakni dua arah. Selain itu murid di kelas juga kurang dirangsang untuk lebih komunikatif,” katanya.

Untuk itu guru Bahasa Indonesia perlu mencari sebuah strategi dalam mengajar agar siswa senang dan tertarik menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

“Mestinya, siswa mempelajari bahasa Indonesia sama ketertarikannya dengan bahasa lainnya, bukan malah sepele dengan bahasa Indonesia yang banyak penggunaan peristilahan yang tidak muncul dalam bahasa sehari-hari,” kata Syaiful Sagala.

Syaiful menilai budaya baca siswa yang rendah itu disebabkan pembiasaan membaca yang kurang baik di sekolah maupun di rumah. Untuk itu kuncinya adalah banyak membaca.***(CM03/Ucup)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *