Apa Itu Cerita Fiksi

  • Whatsapp

Fiksi adalah sebuah narasi yang sebagian atau seluruhnya berkaitan dengan peristiwa yang tidak terjadi dalam kehidupan nyata, atau melainkan hanya diciptakan oleh seseorang berdasarkan imajinasinya. Pengertian fiksi dalam hal ini adalah cerita rekaan atau cerita khayalan. Karya fiksi biasanya berbentuk cerita, untuk menyampaikan poin, perspektif pengarang, atau hanya sekedar untuk menghibur. Baik itu berbentuk tontonan, pendengaran ataupun tulisan. 

Apa Itu Cerita Fiksi
Apa Itu Cerita Fiksi

Walaupun ada sebagian karya fiksi yang berdasarkan pada kisah nyata (base on true story), namun ketika karya tersebut telah dirangkai dan dibumbui dengan imajinasi pengarang, maka karangan tersebut tidak lagi disebut sebagai sejarah atau sebuah fakta, melainkan berganti menjadi fiksi. Sebaliknya, ketika fiksi telah berdasarkan fakta secara keseluruhan, maka karya tersebutn tidak lagi berbentuk fiksi, melainkan sebuah sejarah. Kebenaran fiksi adalah kebenaran yang sesuai dengan keyakinan pengarang. Kebenaran yang diyakini “keabsahannya” sesuai dengan pandangannya terhadap masalah hidup dan kehidupan. Sejarah akan tetap berbentuk sejarah, jika nama, tempat, dan tanggal tidak berubah sedikitpun dari kenyataan yang ada. Namun jika ada yang berubah sedikit saja, maka itu adalah karya fiksi. 

Read More

Pengertian Fiksi Menurut Para Ahli :

1. Nurgiyantoro (2007: 2 – 3), fiksi dapat diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia.

2. Aceng Hasani (2005: 21), fiksi adalah karangan yang di dalamnya terdapat unsur khayal atau imajinasi pengarang.

3. Altenbernd  dan Lewis ( 1966 : 14 ), fiksi dapat diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasi hubungan – hubungan antar manusia. Pengarang mengemukakan hal itu berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan. Namun, hal itu dilakukan secara selektif dan dibentuk sesuai dengan tujuannya yang sekaligus memasukan unsur hubungan dan dengan penerangan terhadap pengalaman kehidupan manusia.

4. Abrams, (1981 : 51),  fiksi adalah karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran sejarah. Dengan demikian menyaran pada suatu karya yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan.

5. Sudjiman (1984:17), menyebut fiksi dengan istilah cerita rekaan juga memaparkan mengenai pengertian fiksi, yaitu kisahan yang mempunyai tokoh, lakuan, dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi, dalam ragam prosa. Dalam hal ini, Sudjiman menjelaskan bahwa karangan fiksi merupakan hasil imajinasi seorang pengarang yang didalamnya mengandung unsur-unsur seperti tokoh, alur, dan lainnya. Unsur-unsur tersebut saling berkesinambungan agar terjadinya sebuah cerita.

Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut fiksi, teks naratif, atau wacana naratif. Dunia kesastraan mengenal prosa (Inggris : prose) sebagai salah satu genre sastra. Istilah prosa fiksi cukup disebut karya fiksi, biasa juga diistilahkan dengan prosa cerita, prosa narasi, narasi atau cerita berplot. Jadi pengertian prosa fiksi ialah kisah atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita . rumusan yang dipaparkan itu ialah rumusan dalam artian konvensional karena sebuah prosa fiksi seringkali justru anti cerita dan tidak berplot.

Sebagai sebuah karya imajinatif, fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan diri sendiri, sesama, lingkungan, dan interaksi dengan Tuhan. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan yang kemudian diungkapkannya kembali melalui sarana fiksi sesuai dengan pandangannya. Meskipun fiksi sebagai cerita rekaan atau khayalan, tetapi di dalamnya dibalut dengan suatu keadaan yang dapat dikatakan nyata. Karangan fiksi berusaha menghidupkan perasaan atau menggugah emosi pembacanya. Itulah sebabnya, tulisan ini lebih dipengaruhi oleh subjektifitas pengarangnya. 

Fiksi dibuat dengan berlandaskan rasa kesadaran dan tanggung jawab pengarang dari segi kreativitas sebagai karya seni. Oleh karena itu, sebagai sebuah cerita, fiksi tidak hanya memiliki tujuan untuk memberikan hiburan tetapi juga memiliki tujuan estetik. Sebuah karya fiksi mempunyai unsur pembangun karya fiksi tersebut, diantaranya unsur intrinsik, ekstrinsik, cerita dan wacana.

Fiksi awalnya menyaran pada prosa naratif, yang dalam hal ini adalah novel dan cerpen. Novel sebagai sebuah karya fiksi menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif yang dibangun melalui berbagi unsur intrinsiknya seperti : plot, tokoh, latar, sudut pandang. Kesemuanya ini bersifat imajinatif, yang dibuat mirip dengan dunia nyata lengkap dengan peristiwa-peristiwa dan latar aktualnya sehingga tampak seperti sungguh ada dan terjadi.

Sebenarnya fiksi ilmiah bermula, jauh sebelum golongan barat mengetahuinya. Fiksi muncul pada abad ke-13, melalui karya fiksi ilmiah berjudul  “Ar Risalah Al Kamiliyyah fil Siera An Nabawiyyah” oleh Ibnu Al Nafis yang. Novel tersebut juga dikenal sebagai Risalah Ibn Fadil Natiq yang kemudian diterjemahkan menjadi Theologus Autodidactus.

Ibnu Al Nafis merupakan seorang polymath islam. Nama lengkapnya Ala’uddin Abul Hassan Ali bin Abi Hazm Al Quraish Al Dimashqi. Selain dikenal sebagai ahli anatomi, ahli hukum, hafiz, sarjana hadis, filsuf Islam, novelis, psikolog , ilmuwan,  astronom, dan sejarawan. Beliau juga dikenal sebagai dokter pertama yang menggambarkan sirkulasi paru-paru dan dianggap sebagai bapak fisiologi sirkulasi. Beliau merupakan orang pertama yang diketahui telah mendokumentasikan sirkuit paru-paru secara besar-besaran. Karya-karyanya tak tercatat sampai akhirnya ditemukan di Berlin pada tahun 1924.

Karyanya Ar Risalah Al Kamiliyyah fil Siera An Nabawiyyah atau Theologus Autodidactus ini merupakan contoh awal dari sebuah cerita fiksi ilmiah yang berkaitan dengan berbagai unsur science fiction  seperti generasi spontan, futurologi, akhir dunia, hari kiamat, hari kebangkitan, dan akhirat. Ibn Nafis menjelaskan akan kejadian ini menggunakan pengetahuan ilmiah biologi, kosmologi astronomi dan geologi yang dikenal di zamannya. Tujuan utama dari karya fiksi ilmiah beliau adalah untuk menjelaskan ajaran agama Islam dalam hal sains dan filsafat. Dimana pada masa itu, budaya Arab jauh lebih maju dari Eropa bagian Barat.

Pertengahan abad ke-18, barulah science fiction atau fiksi ilmiah muncul ke permukaan. Ketika itu belum dikenal definisi fiksi secara universal layaknya saat ini. Melainkan hanya sebuah genre fiksi yang berhubungan dengan inovasi khayalan dalam ilmu pengetahuan atau teknologi. Biasanya berbentuk dalam manajemen futuristik, yang kesemuanya dibingkai dalam ide-ide sastra.

Barulah setelah itu, makna fiksi berkembang jauh lebih pesat hingga abad ke – 21. Evolusi fiksi yang terjadi secara berangsur-angsur, membuktikan kalau ternyata fiksi banyak membawa pengaruh terhadap perkembangan dunia serta mendapat dukungan besar dari masyarakat. 

Baca Juga : Cara Menulis Cerita Fiksi

Kumpulan Cerita Fiksi

Demikian artikel tentang Apa Itu Cerita Fiksi. Semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca setia Ceritamedan.com.***(CM01/HS)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *