Guru Bimbingan Konseling Bukan ‘Satpam’ Siswa di Sekolah

  • Whatsapp

Kecenderungan yang terjadi selama ini terhadap penafsiran guru bimbingan konseling (BK) selalu melayani para siswa yang bermasalah. Kedepan peranan guru BK akan berubah dan mengedepankan peningkatkan professionalitas konselor di sekolahnya.

“Memang betul, guru BK itu hanya sebagai satpam bagi siswa dan terkesan hanya mengurusi siswanya yang bermasalah,” kata Dra Rivolan Priyanti, Ph MPd mewakili Kadisdik Kota Medan pada Seminar Internasional Profesionalisme Konselor di Sekolah yang diadakan Himpunan Mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling FKIP UMSU di aula kampus Jalan Muktar Basri Medan, Senin (11/5).

Read More

Teks Foto: Narasumber Rivolan Priyanti mewakili Kadisdik Kota Medan memberikan paparan dihadapan ratusan guru Bimbingan Konseling (BK) dan mahasiswa prodi BK FKIP UMSU pada Seminar Internasional di kampus UMSU, Senin (11/5).

Kegiatan seminar yang dirangkai dengan Gebyar Calon Konselor Sahabat Siswa itu dibuka Rektor UMSU Dr Agussani MAP menampilkan narasumber lainnya seperti, Dr Shahiza Hasan dari Malaysia, Guru Besar Unimed Prof Dr Rosmala Dewi MPd, Kons yang juga dosen BK di FKIP UMSU dan Drs Amir Husin Pangaribuan MPd, Kons salah seorang guru MAN 1 Medan.

Rivolan menjelaskan, guru BK selama ini hanya bertugas mengatasi siswa terlambat, siswa bermasalah, piket, uang sekolah dan sebagainya. Padahal, peran guru BK itu meliputi 4 bidang antara lain, mengurus pribadi, sosial, karir dan belajar agar menghasilkan lulusanm siswa yang mempunyai kompetensi siswa utuh.

Dalam amanat UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa guru BK harus mempertinggi pemahamannya atas landasan bimbingan konseling, mengefektifkan sistem manajemen, sistem penyelenggaraan dan meningkatkan akuntabilitas kinerja bimbingan konseling.

Kedepan tambahnya, guru BK harus berbasis pada pengembangan kompetensi utuh dan melakukan perubahan. Konseling dan guru BK akan menjadi mitra Dinas Pendidikan Kota terutama dalam menyusun program pendidikan sekaligus pembenahan guru BK di Medan.

     

Sedangkan Guru Besar Unimed Prof Rosmala Dewi menjelaskan, konseling memiliki arti pelayanan bantuan oleh tenaga professional kepada seorang  atau sekelompok individu untuk pengembangan kehidupan efektif sehari-hari.

Penanganan kehidupan efektif sehari-hari terganggu dengan fokus pribadi mandiri yang mampu mengendalikan diri melalui penyelenggaraan berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung dalam proses pembelajaran.

Salah seorang guru BK Amir Husin Pangaribuan mengakui bahwa guru BK tidak memiliki kualifikasi menjadi guru pendamping di sekolah, tidak memiliki kemampuan dalam pemberian layanan yakni menunggu terjadinya masalah, guru BK hanya menakut-nakuti peserta didik, ruang BK menjadi tempat arena “gosip’ para guru dan kinerja guru BK sama sekali tak ada.

Sementara itu, Dekan FKIP UMSU Elfrianto Nasution SPd, MPd mendukung kegiatan seminar dan gebyar konselor ini dilaksanakan Himpunan Mahasiswa Jurusan BK dan memberikan apresiasi atas program yang sudah dilakukan, sehingga kegiatan ini bermanfaat dan memiliki nilai positif.

Apalagi, kegiatan ini diikuti para guru BK di sekolah di Kota Medan dan mahasiswa BK sendiri, maka FKIP berharap agar kegiatan ini menjadi agenda rutin setiap tahunnya. Melalui tema, “Membentuk Guru BK yang Profesional dan Bermartabat”, diharapkan akan dihasilkkan guru BK yang berkualitas, berkualifikasi dan berdedikasi tinggi.

Bagi FKIP UMSU, program studi Bimbingan Konseling (BK) ini sudah menjadi prodi yang peminatnya setiap tahun akademiknya selalu meningkat baik dari jumlah mahasiswa yang dihasilkan maupun mahasiswa yang diterima di prodi ini setiap tahunnya.***(CM03Ucup)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *