Ridwan Batubara, Jejaka Medan yang Multitalenta

  • Whatsapp

Ridwan Batubara, yang akrab di sapa Bara, adalah jejaka kelahiran Medan, 30 Januari 1993. Anak Medan yang satu ini, selain berprofesi sebagai penyiar di salah satu radio di Medan, berkiprah di dunia model, ia juga pernah juara nasional taekwondo 2 kali dan juara daerah 3 kali, juara 3 Duta Bahasa 2013, juara 1 Duta Asuransi Nasional 2013, dan Duta Mahasiswa Agen Rebecca KBN sebagai the best fotogenik.

Ridwan Batubara

Read More

Menurut Bara, ia terlahir dari orangtua yang terlalu kaku. “Aku coba cari cara kek mana untuk membahagiakan orang tuaku. Di saat aku juara Duta Mahasiswa di nasional kemarin, juara nasional taekwondo  dua kali, no expression (orangtua-red). Di rumah itu ya santai aja, biasa aja kayak nggak ada kejadian apa-apa. Sementara temanku juara daerah aja orang tuanya udah hebohnya setengah mati,” ujar Bara.

“Aku belum nemu titik dimana orang tuaku itu betul-betul ekspresif dan  bilang aku bangga kali sama kau. Dipeluk sambil dicium. Nah, aku betul-betul belum dapatin momen itu. Itulah yang mau aku cari,” sambungnya.

Saat ditanya siapa tokoh yang paling menginspirasi hidupnya, Bara menjawab belum ada. Ia hanya mengikuti kemauan diri sendiri. Tidak ada tokoh yang spesifik, namun ia mengaku sangat mengagumi Anis Baswedan dan ingin seperti Anis Baswedan. “Aku pengen aja kayak dia, sumpah. Makanya aku harus fokus dulu ke akademisi. Aku aja bodoh, kek mana aku mencoba yang lain. Pokoknya pinterin dulu lah diri.  Makanya aku fokus dulu kuliah,” jelasnya. 

Ingin jadi negarawan, terjun ke dunia politik, itu tujuan utamanya. Ia ingin memberi sesuatu untuk Negara ini.  “Karena kalo aku jadi orang biasa-biasa aja, aku nggak bisa ngasih sesuatu untuk Negara ini. Bisa ngasih sesuatu, Cuma nggak berimbas banyak, dan itu kan nggak gampang. Modal sosial dari ekonomiku yang nggak mumpuni, mana mungkin aku bisa terjun langsung ke dunia politik, dan disamping itu lah aku pengen kerja di dunia broadcast. Tapi bukan broadcast entertainment. Broadcast news, itu lah jembatan untuk tujuan ke sana. Jadi tamat kuliah ini, niatnya kalau nggak metro ya TV One,” ucap Bara optimis.

Pernah jadi ketua Trans Mania, membuatnya percaya diri untuk melangkah lebih maju menuju dunia broadcast. Meski mengambil jurusan politik, namun ia punya tekad yang besar menuju dunia broadcast. 

Bagi seorang Bara, “Me Time” adalah rumah. “Kalau ‘me time’ aku lebih suka di rumah, baca.” Ia mengaku terlalu lemah dalam studi, karena terlalu banyak tertinggal pelajaran. “ Kemarin aku setahun nggak fokus-fokus, ke radio lah, atau ke mana-mana nggak pernah belajar, dan sekarang, kawan-kawan aku udah sibuk diskusi, udah mau nentuin judul, aku masih terlena. Anak politik itu, nggak bisa maju kalau nggak banyak baca buku,” ujarnya. Bara mengaku, di saat hari libur atau waktu senggang, ia lebih menyukai berada di dalam rumah dan membaca buku. 

“Kita tahu, banyak anak muda Medan yang lebih suka hang-out, lebih suka ngabis-ngabisin duit ke mana-mana, dan aku lebih suka kalau ngelakuin itu memang atas penghasilan sendiri. Nggak nyusahin orang tua lagi. Gitu lebih buat orang salut,” kata Bara di akhir sesi wawancara dengan Cerita Medan. (CM01/Hindah Sumaiyah)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *