Let’s Dance!

  • Whatsapp

Menari bukanlah hal baru dalam kehidupan manusia. Sebenarnya setiap suku dan bangsa di dunia memiliki kebiasaan menari. Menari merupakan bagian penting dari cara ekspresi diri, upacara adat atau agama, serta kesehatan di sebagian besar budaya sepanjang sejarah. Sebagai contoh, ahli pengobatan dari suku asli Amerika menggunakan tarian sebagai bagian ritual penyembuhan mereka. Selanjutnya, penggunaan tari dalam sistem pengobatan konvensional Barat mulai diperkenalkan oleh Marian Chace pada 1942. Dia diminta bekerja di St. Elizabeth’s Hospital di Washington, D.C. setelah para dokter melihat manfaat terapi pada pasien yang mengikuti kelas tarinya. 

Let’s Dance!

Bukti ilmiah 

Beberapa studi yang meneliti manfaat menari bagi tubuh menemukan hal-hal menakjubkan. Selain mampu mengurangi stress, menari juga bermanfaat bagi penderita penyakit kronis dan kanker. Hasil studi tersebut menyatakan kalau terapi menari membantu memperbaiki postur tubuh, meningkatkan rasa percaya diri, mengurangi stres, kecemasan dan depresi, perasaan terisolasi, rasa sakit kronis, badan tegang, serta meningkatkan kemampuan komunikasi dan perasaan sehat secara umum. 

Dengan menari, tubuh akan mengeluarkan zat neurotransmitter yang dikenal dengan endorphin, di otak. Zat ini akan membuat Anda merasa lebih baik. Gerakan tubuh secara kesuluruhan juga menguatkan fungsi sistem tubuh seperti peredaran darah, pernapasan, tulang dan sistem otot. 

Jika latihan fisik teratur akan membantu  metabolisme glukosa, kesehatan kardiovaskular, serta mengontrol berat badan, begitu juga dengan menari.Menari juga mampu mencegah kepikunan. Otak menurut dokter spesialis syaraf Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Abdulbar Hamid, jika tak digunakan syarafnya akan hilang. Pada usia 60 tahun, 25 persen dari 140 miliar syaraf hilang. “Istilah dalam sistem neurologi (ilmu syaraf), use it or loose it,” katanya.

Otak Harus Dilatih

Otak kalau sudah rusak, tak bisa diperbaiki. “Obat juga tidak seratus persen memperbaiki otak. Kalau tidak diminum, akan terjadi kemunduran,” ujarnya. Karenanya,  otak harus dilatih agar bisa bertahan lebih lama dari kepikunan.

Latihan mempertahankan memori dengan menari ini sudah dicoba oleh dokter Abdulbar dan terapisnya. “Tentu dengan langkah-langkah dan gerak khusus sesuai usia mereka,” terang dokter yang juga Ketua Persatuan Dokter Emergensi Indonesia.

Terapi menari didasarkan pada keyakinan bahwa pikiran dan badan bekerja sama. Dengan menari, orang-orang diyakini bisa mengenali dan mengekpresikan emosi terdalam mereka, dan membawa perasaan tersebut ke permukaan. Beberapa orang mengklaim kalau hal ini bisa menciptakan rasa pembaharuan diri, kesatuan, serta kesempurnaan.(anggraini)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *