Perajin Lidi di Medan

  • Whatsapp

Banyak yang tidak menyangka, jika limbah dari nipah, seperti lidinya, tidak akan memberi manfaat. Sebab nipah muda biasanya hanya daunnya saja nilai jual, dengan mengekspornya.

Sedangkan lidinya, umumnya dibakar begitu saja. Tapi itu tidak terjadi di tangan Sakti Putra Nasution bersama istrinya, Naimah Saraan. Lidi nipah ini memiliki nilai ekonomis dengan mengolahnya menjadi beragam produk sapu kasur dan juga souvenir.

Read More

Namun dalam proses pembuatannya juga melalui sejumlah tahapan, agar produk yang dihasilkan berkualitas dan memiliki standar yang sama.

Awal memulai usaha ini tutur Sakti disebabkan rasa bosan dengan rutinitasnya sebagai seorang pegawai. Hingga suatu waktu, tiga tahun yang lalu, dia menyaksikan seorang pengusaha bernama Bambang di televisi beragam produk olahan yang bisa dihasilkan dari lidi.

Sakti menyebutkan, pengusaha tersebut memang tidak dekat, di Purba Lingga, Jawa Barat. Demi mengetahui seperti apa proses pembuatannya, tanpa berpikir panjang dia pun langsung berangkat.

“Saya berangkat ke sana, padahal saya sama sekali tidak tahu di mana itu Purbalingga. Kemudian saya menemui kepada desanya, dan mengantar saya ke tempat pak Bambang itu,” urainya.

Setelah bertemu, Sakti pun berbincang dengan pengusaha lidinya. Setelah itu, dia juga membeli buatan Bambang hingga mencapai 2/3 truk senilai Rp 18 juta saat itu.

Produk ini kemudian dipasarkan di Medan.”Kebetulan saya tidak tahu seperti apa prospek sapu ini di Medan, ternyata ada. Setelah itu. saya tidak ambil lagi dari Jawa, saya coba olah sendiri,” ujarnya.

Dengan berdagang sapu, ayah tiga orang anak ini, pun semakin banyak kenal perajin sapu. Seorang di antaranya ada di Tanah Seribu, Binjai. Dia pun datang ke tempat tersebut dan membedah sapu yang dipasarkannya tersebut.

Dengan kegigihannya untuk belajar dan selalu mencoba, akhirnya dia bisa membuat sapu kasur, di samping juga sapu lidi dari daun kelapa. Bahkan saat itu, hasilnya pun belum sebagus sekarang.

Awalnya tambahnya Sakti, saat memulai produksi mereka masih menggunakan pita kain. Produknya lumayan bagus, namun sempat terkendala pemasaran karena dia tidak tahu akan hendak kemana memasarkan sapu buatannya.

Kemudian sapu ini dipasarkan dengan berkeliling. Bahkan Sakti tidak ragu-ragu memberikannya secara gratis sebagai bagian dari promosi.

“Saat itu masih belum sempurna, banyak habis promosi dan sapunya saya dikasi begitu saja. Artinya, iklan paling murah dari mulut ke mulut. Kalau ada yang tertarik pasti datang,” katanya optimis.

Dengan kesabaran, produksi yang awalnya hanya 100 kg per pekannya, kini mengalami peningkatan berlipat-lipat.”Pertama kali buat 100 kg bahan baku untuk sepekan. Setiap lima 5 Kg bahan baku bisa menghasilkan 35 buah sapu kasur, tergantung lidinya juga,” ujarnya sembari tersenyum.

Untuk pemasaranya masih di pasar lokal saja. “Sebelumnya sudah pernah ke Surabaya. Batam, Pekanbaru dan Aceh, tapi sekarang kita untuk memenuhi permintaan pasar lokal saja tidak mampu,”ujarnya. (dia)

Usaha : Perajin Lidi
Perajin : Sakti Putra Nasution dan istri Naimah Saraan.
Alamat, Jalan Kapten Muslim Gang Rapi, Medan
No telp: 081260536633

Demikianlah sedikit cerita tentang Perajin Lidi di Medan, semoga bisa menjadi informasi yang berhagar bagi Anda para pebisnis ataupun yang belum terjun dalam dunia bisnis terbukakan fikirannya untuk menggeluti bisnis.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *