Siap Hadapi AFTA 2015 Bersama Let’s Talk

  • Whatsapp

Di Indonesia pendidikan merupakan hal yang masih butuh ditingkatkan kualitas dan pemerataannya. Ditambah dengan fenomena kurikulum yang acap kali mengalami perubahan. Tidak sedikit pelaku pendidikan mengeluh akan perubahan tersebut. Selain itu, banyak orang tua yang mengeluhkan bahwa anak mereka, khususnya usia Sekolah Dasar (SD) membawa buku pelajaran yang sangat banyak, berbeda dengan siswa di negara lain. Fenomena lainnya dimana pemerintahan mengharuskan pendidikan bagi anak yakni, minimal hingga tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Akan tetapi, tetap saja masih mengalami kejanggalan.

Bagaimana dengan Asean Free Trade Area (AFTA) 2015, apakah Indonesia siap menghadapinya? Pertanyaan ini acap kali terdengar semenjak pemberitaan beberapa hari yang lalu. AFTA 2015 merupakan merupakan wujud dari kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta menciptakan pasar regional bagi 500 juta penduduknya.

Read More

Siap Hadapi AFTA 2015 Bersama Let’s Talk

Hal ini menjadi peluang besar bagi Indonesia, khususnya masyarakat Kota Medan. “Medan merupakan daerah potensial, sebab kota ini memiliki potensi seni budaya dan juga sumber daya yang bisa diberdayakan. Contohnya dari segi pariwisata,” ungkap Ibu Debby, selaku Pembina Yayasan Bunda Situ Banun (YBSB). Beliau juga menambahkan bahwa Kota Medan yang merupakan multicultural menjadikan kota ini sebagai peluang bisnis yang potensial, jika masyarakatnya mampu mengelola dan cepat tanggap akan potensi kunjungan turis ke kota ini. 

Siap Hadapi AFTA 2015 Bersama Let’s Talk

Oleh karena itu, beliau menyatakan bahwa langkah awal dari kesiapan kita menghadapi AFTA 2015 ini yakni, menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa bisnis. “Siap tidak siap, kita harus siap menguasai bahasa Inggris mulai dari sekarang, karena AFTA 2015 menuntut akan hal itu. Kalau tidak, yah kita akan gagal menghadapi ini,” ungkap Ibu Debby kembali. Beliau yang menyadari hal ini, tergerak membuat program Let’s Talk dan diterapkan pertama kali di Yayasan Bunda Situ Banun (YBSB). 

Program Let’s Talk merupakan program pendidikan di lingkungan sekolah, dimana para siswa dan para guru diajak untuk membiasakan diri menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa interaksi di lingkungan sekolah. Let’s Talk hadir dengan metode yang berbeda, sebab siswa ataupun guru diberi training dimana mereka belajar bahasa Inggris secara mudah dan menyenangkan. Sesuai dengan motonya yakni, “English is easy and fun.” 

Iman Fairuza Rozhan, selaku Project Manager Let’s Talk juga mengungkapkan bahwa program ini dirancang dengan menggunakan metode Accelerated Learning yakni, metode percepatan. “Dengan menerapkan belajar bahasa Inggris dengan cara yang menyenangkan. Diharapkan anak-anak murid ataupun guru, lebih mudah menyerap informasi yang kami berikan. Sebab tahap awal yang kami lakukan adalah pendekatan bahwa bahasa Inggris itu tidak sulit dan semua orang bisa melakukannya,” tambah iIman.

Adapun visi dari program Let’s Talk ini yakni, agar generasi muda bangsa bisa mendapatkan kesempatan yang sama di pasar global. Kenapa harus let’s Talk? Karena metodenya inovatif, dimana menggunakan semua panca indra manusia yakn, audio, visual dan kinestetik. “Jadi para siswa nantinya akan belajar sambil bermain. Bisa melalui video, atau bermain puzzle, atau tebak gambar, dan sejenisnya,” jelas Ibu Debby. Maka dari itu, metode ini yang membuat para siswa lebih fun sehingga mereka lebih mudah menyerap pelajaran yang diberikan.

Dalam diskusinya, Ibu Debby juga memaparkan bahwa program ini akan di uji coba lima tahun pertama di Yayasan Bunda Situ Banun (YBSB). “Tidak menuntup kemungkinan program ini akan diperluas. Setelah lima tahun nanti, kita akan mengadakan evaluasi kembali agar program ini bisa lebih baik jika diterpakan di sekolah lainnya,” tambah Ibu Debby.

Beliau juga berharap program ini tidak hanya diterpakan di wilayah Rantau Parapat saja, melainkan meluas hingga ke penjuru Sumatera Utara. Baginya masyarakat Sumatera Utara, khususnya Kota Medan, masih jauh tertinggal dengan kota lainnya. Maka dari itu, Ibu Debby bersama tim Djalaludin Pane Foundation (DPF) optimis dan terus berusaha menularkan pendidikan berbahasa Inggris dengan mudah, melalui program Let’s Talk.

Masih beranggapan bahasa Inggris itu sulit? Sekolahnya ingin mendapatkan program ini? Atau ingin menjadi voulenteer dalam program ini? Yuk! temukan jawabannya di Let’s Talk. Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi ke nomor +62 61 822 2119. Enjoy Using English, Because It’s Fun and Easy.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *