Komunitas Film Indonesia Gelombang Baru Dunia Perfilman

  • Whatsapp

Komunitas Film Indonesia Gelombang Baru Dunia Perfilman yang membawa dampak kesuksesan baik dalam pencapaian ketrampilan, pengetahuan, kreasi sampai nilai ekonomis.

Komunitas pada umumnya berkiprah mulai dari kelompok kecil yang bersifat lokal dan kecil untuk hal yang besar dan luas. Komunitas Film sekalipun dilakukan oleh kelompok kecil bersifat lokal dan murah, namun sebenarnya ini merupakan embrio dari sebuah gelombang baru perfilman nasional.

Read More

Agar Komunitas Film berkembang efektif maka diperlukan usaha bersifat; jangka panjang; terencana, terbuka, demoktratis, luas berkaitan, anggota yang aktif, bermanfaat dan berkembang.

Sedangkan fungsi penting komunitas bagi masyarakat luas adalah berdampak pada berbagai nilai positif secara harmonis dan alamiah, antara lain tumbuhnya sikap tanggungjawab, kesadaran pada tata perencanaan, hidup yang bergaya, pemberdayaan diri, tangguh menghadapi keterbatasan, membuka pekerjaan, kesempatan dalam meraih tujuan sosial ekonomi dan budaya.

Tujuan utama komunitas sangat beragam tapi pada umumnya disadari atau tidak, komunitas memiliki tujuan meningkatkan kualitas hidup. “Seperti pada Komunitas Film, sudah banyak hasil dan manfaat dari keberadaannya. Antara lain pada pertemuan kita saat ini,” ungkap Embi C. Noer, pengurus Badan Perfilman Indonesia (BPI) dalam workshop sosialisasi Apresiasi Film Indonesia (AFI) di Studio XXI Hermes Place Jalan Mongonsidi Medan, Sabtu (23/8).

Komunitas Film Gelombang Baru Perfilman Indonesia

PBKFI Menjadi Tradisi Baru Komunitas Film

Dalam intern BPI sedang dirancang agar tahun 2015, bertepatan dengan peringatan Hari Film Nasional (HFN 30 Maret), dapat terselenggara Pertemuan Besar Komunitas Film Indonesia (PBKFI) yang pertama. Selanjutnya akan menjadi tradisi Komunitas Film, mengadakan PBKFI bersamaan waktunya dengan peringatan HFN.

“Saat ini Komunitas Film tumbuh di hampir seluruh daerah di tanah air, baik kota besar ataupun kota kecil dan terpencil. Adanya berbagai kegiatan Komunitas Film tingkat provinsi dan nasional menjadikan eksistensi Komunitas Film semakin terasah. Ada komunitas yang seumur jagung tetapi ada juga yang terus hidup dan berkembang.”

Terkait antara Komunitas Film Indonesia dan tujuannya, tentunya akan mengacu pada tujuan yang tertuang dalam undang-undang perfilman dan AD/ART BPI, yaitu :

  • Terbinanya akhlak mulia
  • Terwujudnya kecerdasan kehidupan bangsa
  • Terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa
  • Meningkatkan harkat dan martabat bangsa
  • Berkembangnya dan lestarinya nilai budaya bangsa
  • Dikenalnya budaya bangsa oleh dunia internasional
  • Meningkatnya kesejahteraan masyarakat
  • Berkembangnya film berbasis budaya bangsa yang hidup dan berkelanjutan
  • Menuju perfilman Indonesia yang cerdas merdeka, berdaulat, bermartabat, terampil
  • Mampu tampil dengan kreatifitas yang bernilai tinggi di layar dunia.

Seluruh butir tujuan akan menjadi dasar pembicaraan dalam PBKFI dan kemudian menghasilkan Rancangan Kegiatan Komunitas Film Indonesia (RKKF). Dengan berbekal RKKF itulah seluruh Komunitas Film Indonesia melakukan kegiatan komunitasnya. Dengan adanya RKKF pula, Komunitas Film Indonesia yang umumnya melakukan berbagai kiprahnya dimulai dari kelompok kecil yang bersifat lokal dan kecil untuk hal yang besar dan luas serta dilakukan oleh kelompok kecil bersifat lokal dan murah kemudian menjadi Gelombang Baru Budaya Perfilman Indonesia.

Embi C, Noer dan Wahyu Blahe

Geliat Film Indie Sumatera Utara

Medan pernah memproduksi 22 film bioskop/cerita + film dokumenter (1953-1983) serta ikut dalam FFI, diantaranya TURANG (Bachtar Siagian, 1957) dalam FFI 1960 (4 Piala Citra untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Pemeran Pembantu Terbaik, Tata Artistik Terbaik).

Daniel Irawan

“Setulus Hatimu, Butet dan Batas Impian dalam Film 1975, dan Buaya Deli dalam FFI 1979 merupakan prestasi yang telah diraih kota Medan, Sumatera Utara,” ungkap Daniel Irawan selaku pemerhati Film di Medan.

Selain itu, lanjut Daniel, produksi Film Bioskop terakhir sebelum mati suri adalah Musang Berjanggut (Pietrajay Burnama, 1983).

Setelah tahun 2000, maka Komunitas Film Indie Sumut mulai bermunculan. Dua film bioskop produksi Sumut diatas tahun 2000 adalah Tapi Bukan Aku (Anthony Pictures, Irwan Siregar, 2008) dan Luntang-Lantung (MMA Pictures, Fajar Nugros, 2014)

Daftar Komunitas Film Indie di Medan dan Sumatera Utara

Agung Film Maker, Kendy Pro, Manu Project Pro, Mata Sapi Films, Opique Pictures, Kompaz Pro, Dharma Teta, Aron Arts, Intermedia Project, Mataniari Projects, Red Point, BMS, Semesta Films, SFD, CZ, Media Identitas, Lantai 2 Art, AFIndi, OnEto Films, Cakrawala Biru, Sruang, Fokus UMSU, Magacine, Sol Documentary, Bambu Runcing, Tree Angle, Ten Films, KoPi Medan, Dewan Kesenian Labuhanbatu, Payung Animasi, Cresscine & Braspati (Karo). Komunitas Film Indie terdata di bawah KOFI Sumut (Komunitas Film Sumatera Utara).

Sementara pola aktifitas dan jumlah serta penyebaran Komunitas Film Indie lebih banyak bergerak dibidang produksi, dengan kecenderungan Fiksi lebih mendominasi, kemudian Dokumenter memiliki peringat menengah, lalu produksi film animasi yang bisa dibilang masih sedikit.

Foto : Daniel Irawan
medanlook.blogspot.com

Daniel Irawan mengatakan, Film Indie daerah sebagai home industry yang berkembang sangat pesat beberapa tahun belakangan. Mempunyai standar perilisan home video. Kebanyakan dirilis dalam bentuk VCD dengan harga yang terjangkau. “Tentunya penjualan tinggi dan minum kasus-kasus pembajakan, karena harga yang relatif murah, ungkapnya.

Kendala Komunitas Film Indie Medan dan Sumatera Utara

Minimnya ruang apresiasi menjadi faktor yang menjadi kendala bagi kebanyakan Komunitas Film Indie. Pemutaran non komersil/komersil untuk film indie meningkat selama 2 tahun terakhir tapi rata-rata belum rutin, dan tidak selalu disertai dengan acara diskusi resmi.

“Kebanyakan komunitas bergerak di bidang produksi, bukan pemutaran film dan narasumber serta kurator film juga terbatas. Rata-rata diadakan hanya di kafe/aula universitas, belum ada screening room yang memadai.”

Daniel Irawan juga menjelaskan, mekanisme pemutaran terutama kegiatan roadshow masih terkendala di kesanggupan kontribusi. Pencapaian jumlah audiens masih sangat terbatas. Niat mengapresiasi karya komunitas lain untuk pembelajaran masih sangat kurang. Kecenderungan mainstream. Sebagian besar komunitas tidak aktif menggunakan social media untuk interaksi ke luar.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *