IBX5A49C9BC313D6 Reza Pahlevi Penutur Bahasa Esperanto – Cerita Medan

Reza Pahlevi Penutur Bahasa Esperanto

Bahasa Esperanto, Bahasa Buatan Mudah Dipelajari – Bahasa negara mana? Bahasa Spanyol ya? Pertanyaan itulah yang pertama kali muncul saat Reza Pahlevi menuturkan bahasa Esperanto. Jangan tanya negara mana atau dikawasan mana bahasa ini digunakan, bahasa Esperanto adalah bahasa artifisial atau bahasa buatan. 

Nah, pencipta bahasa ini adalah seorang Polandia bernama Dr. Ludwig Lazarus Zamenhof (1851-1917), dokter asal Warsawa, Polandia, pada tahun 1887. Pada masa mudanya di Warsawa, Polandia, Zamenhof tinggal dilingkungan yang multietnis dan itu artinya banyak bahasa yang digunakan dilingkungannya. Akibatnya sering terjadi pertikaian antara etnis karena komunikasi yang kurang efektif. Akhirnya Zamenhof memutuskan untuk  menciptakan sebuah bahasa yang mudah dipelajari. Tujuannya untuk menghentikan pertikaian yang terjadi karena masalah bahasa dan membuat satu bahasa netral, bahasa yang tidak dimiliki oleh negara atau etnis tertentu tapi milik semua orang, untuk menjadi bahasa internasional pada nantinya.

Bahasa Esperanto sebagai bahasa artifisial, tentu saja tidak muncul dari dinamika sebuah bangsa dan budaya tertentu. Bahasa Esperanto bukan merupakan bahasa ibu siapapun di dunia ini, maka bahasa tersebut dianggap milik yang setara bagi semua orang, tapi pembelajaran bahasa Esperanto akan lebih mudah jika pembelajar menguasai dengan baik bahasa Inggris, Jerman, Prancis dan karena kosakata bahasa Esperanto ada sedikit kemiripan dengan kosakata bahasa-bahasa tersebut. 

Bahasa Esperanto ini dianggap jauh lebih mudah dipelajari dari pada bahasa Inggris, tata bahasanya pun sangat mudah. Ada dua juta penutur bahasa esperanto di seluruh dunia dan terus berkembang. Bahkan bahasa ini dianggap bahasa gaul dunia. Tertarik? Ternyata di Medan terdapat komunitas pengguna bahasa ini.

Reza Pahlevi Penutur Bahasa Esperanto

“Sudah dua tahun lebih komunitas ini berdiri, namanya Aurora Mofado, dua kali sebulan kita rutin berkumpul untuk belajar bersama. Aurora Mofado berdiri dibawah Indonezio Esperanto Asocio, perkumpulan pengguna bahasa Esperanto di Indonesia,” Kata Reza Pahlevi, yang saat ini menjabat sebagai ketua Divisi Edukasi di Indonezio Esperanto Asocio.

Reza Pahlevi atau yang biasa disapa Reza mengaku belajar bahasa ini sejak tahun 2010, berawal dari kebiasaannya surffing internet Reza menemukan artikel yang mengenalkannya bahasa Esperanto. Tertarik dengan bahasa ini akhirnya dia mulai mempelajarinya dari internet dengan teman-temannya yang dia kenal melalui Internet.

“Bahasanya mudah dipelajari, mulai belajar itu dengan cara chatting via skype ataupun facebook, teman-teman yang ngajarin ada yang dari luar negeri ataupun orang Indonesia. Jadi selain belajar Esperanto bisa nambah teman juga,” katanya.

Reza sendiri diundang untuk menghadiri kongres Bahasa Esperanto di Tokyo, Jepang, mewakili Indonezio Esperanto Asocio pada tanggal 29 Mei lalu. 

Prestasi Sederhana Dari Hobi Berbahasa

‘Kegigihan selalu membuahkan hasil baik’ hal inilah yang bisa kita pelajari dari seorang Reza Pahlevi. Bukan, bukan Reza Pahlevi aktor film Serigala Terakhir yang kita bicarakan saat ini. Reza Pahlevi yang ini adalah seorang mahasiswa Ilmu Komunkasi FISIP USU semester empat, yang aktif mengajarkan bahasa Esperanto, bahasa pemersatu dunia yang kini dianggap sebagai bahasa gaul dunia.

Reza Pahlevi pada 29 Mei 2014 lalu diundang dan dibiayai oleh komunitas bahasa Esperanto di Tokyo dan untuk menghadiri kongres bahasa Esperanto sebagai pembicara. Tentunya ini bukan sekedar keberuntungan, perlu usaha yang besar dan  ketekunan untuk punya kredibilitas yang mencukupi sebagai pembicara mewakili Indonezio Esperanto Asocio (organisasi Esperantis Indonesia).

Pemuda yang punya hobi berbahasa ini mengaku belajar bahasa Esperanto dari teman dunia mayanya, dia dengan tekun mempelajari bahasa artifisial ciptaan Dr. LL Zamenhof ini sejak tahun 2010. Setelah merasa cukup mumupuni dalam bertutur bahasa Esperanto akhirnya Reza ikut aktif didalam organisasi Indonezio Esperanto Asocio yang pada akhirnya ia ditunjuk sebagai ketua divisi Edukasi dan mengetuai komunitas bahasa Esperanto diwilayah Medan Aurora Mofado.

“Banyak punya teman karena belajar bahasa Esperanto dan yang mengasyikannya lagi saya ditunjuk untuk mewakili Esperantis Indonesia untuk menghadiri kongres bahasa Esperanto di Jepang,” katanya.

Selain berbagi ilmu dikomunitas penutur bahasa esperanto, Reza juga giat mengajarkan bahasa ini kepada anak-anak dipanti asuhan. Dibawah naungan organisasi Pemuda Peduli Panti, Reza mencoba mengenalkan bahasa ini kepada anak-anak dipanti asuhan, selain ia juga mengajarkan bahasa Inggris. Reza berpendapat generasi muda Indonesia harus bisa berkomunikasi dengan masyrakat luar negeri, untuk itu dia aktif terus mengenalkan bahasa Esperanto yang dia anggap sebagai bahasa yang netral, karena tidak dilatarbelakangi budaya bangsa manapun. Bahasa ini pada akhirnya memang diharapkan bisa menjadi bahasa pemersatu dunia, menggantikan bahasa Inggris. [ In Team Publisher]

KOMENTAR

BACA JUGA