LAPK: Trans Mebidang Solusi Tepat Transportasi Sumatera Utara

  • Whatsapp

LAPK: Trans Mebidang Solusi Tepat Transportasi Sumatera Utara – Medan sebagai ibu kota provinsi Sumatera Utara dan kota satelitnya seperti Deli Serdang dan Binjai, pantas rasanya mengakomodasi transportasi Trans Mebidang bernama Bus Rapid Transportation (BRT). 

Sebagai suatu kota yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan, pusat perkantoran, serta pusat bisnis dan perdagangan tentu tidaklah mengherankan Medan mulai penuh sesak seperti saat ini. 

Read More

Setelah Jakarta dan Bandung, Medan layak disebut tingkat kemacetannya yang sangat parah. Indikator semakin parahnya tingkat kemacetan di Medan adalah menurunnya kecepatan kendaraan dalam kota, Menurut studi kemacetan di Medan menimbulkan kerugian yang mencapai Rp5,2 triliun. Biaya kemacetan ini mencakup biaya pemakaian bahan bakar yang lebih tinggi, biaya kerusakan lingkungan yang muncul akibat penggunaan bahan bakar yang meningkat dan yang terbesar adalah kerugian karena hilangnya nilai waktu, dan lain sebagainya.

Kemacetan yang semakin parah belakangan ini merupakan kulminasi permasalahan kependudukan yang dihadapi Medan dan sekitarnya. Selain jumlah penduduk yang terus meningkat melebihi kapasitas wilayah, faktor lain yang juga berkontribusi pada kemacetan di Medan sekitarnhya adalah semakin meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi. 

Pemilihan kendaraan pribadi sebagai alternatif berkendara merupakan konsekuensi dari dua hal, yang pertama adalah kapasitas transportasi umum yang belum memadai  dan yang kedua adalah biaya yang dikeluarkan dengan menggunakan kendaraan pribadi lebih kecil daripada menggunakan transportasi umum. Masih kurangnya kapasitas sarana transportasi umum di Medan dapat dilihat dari penggunaan sepeda motor, becak bermotor, dan kenderaaan pribadi (mobil).

Bus Rapid Transit (BRT) yang terus digagas merupakan solusi mengatasi kemacetan yang sangat tepat untuk karakteristik kota metropolitan seperti Medan dan kota satelitnya. BRT adalah jenis moda transportasi ini dapat mengangkut penumpang dengan kapasitas yang besar dan waktu tempuh perjalanan yang singkat. Justru sangat disesalkan mengapa program BRT tidak dibangun dari tahun-tahun sebelumnya. Begitupun, walaupun dapat dikatakan sedikit terlambat, upaya ini masih sangat patut untuk diapresiasi.

Permasalahan lain yang juga harus dipertimbangkan untuk mengurangi kemacetan adalah bagaimana mengubah kebiasaan masyarakat yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi menjadi memilih transportasi umum. Upaya untuk mengubah pola pikir ini tentunya tidak mudah dan membutuhkan waktu yang tidak singkat, namun harus dimulai dari sekarang hingga tiba saatnya BRT telah siap maka warga Medan dan kota satelitnya itu juga telah siap sebagai konsumen transportasi umum. Suatu sistem transportasi umum yang baik harus memenuhi tiga kriteria yaitu efisien waktu, efisien bahan bakar dan ramah lingkungan, dan ramah penumpang. 

Karena itu sangat disesalkan penolakan terhadap Trans Mebidang. Kota Medan yang modern memerlukan BRT sebagai sebuah fasilitas wajib. BRT itu bukan hanya solusi bagi konsumen, tapi juga solusi bagi persoalan energi, polusi, kemacetan, dan tata kota. 

Pun demikian, Pemprov Sumut dan pemerintah daerah lain selaku regulator sebaiknya mengajak para operator angkutan umum tradisional untuk duduk bersama mencari solusi.

Pemerintah dan swasta harus duduk bersama untuk mencari solusi. Salah satu solusinya mungkin adalah dengan pergeseran lintasan. Atau dilihat juga apakah ada kemungkinan para pengusaha ini dapat ambil bagian dalam proyek ini.

Farid Wajdi
Farid Wajdi – Direktur LAPK

Medan, 13 Mei 2014

Farid Wajdi, Direktur Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen (LAPK)

Baca Juga :
Angkot Medan
Transportasi Medan

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *