Fasilitasi Publikasi Karya Cerita Fiksi dan Non Fiksi

  • Whatsapp

Fasilitasi Publikasi Karya Cerita Fiksi dan Non Fiksi – Apa yang terbersit ketika kita berbicara tentang “penulis”?  Sudah pasti ada cerita, karya, dan publikasi. Sebuah cerita yang dituliskan dalam media apapun, maka kita menyebutnya sebuah karya. Dan kalau sebuah karya tidak dipublikasi maka hal itu belum bisa dikatakan sebagai informasi. Nah, pesan ini yang ingin disampaikan oleh Kementrian Pariwisata dan Perekonomian Kreatif kepada para anak muda kota Medan.

Melalui acara yang bertajuk Fasilitasi Publikasi Karya Cerita Fiksi dan Non Fiksi,” mereka ingin menyampaikan kepada para teman komunitas di kota Medan bahwa menulis bisa menjadi industri ekonomi kreatif yang sangat pontensial untuk digarap.

Read More

Fasilitasi Publikasi Karya Cerita Fiksi dan Non Fiksi

Acara yang dihadiri oleh 8 (delapan) komunitas kota Medan dan dibuka oleh Ibu Poppy Savitri, selaku Sekretaris Direktoriat Jendral Ekonomi EKMDI, menyampaikan bahwa saat ini Indonesia sedang menggalakkan “Gerakan Indonesia Menulis”. Beliau mengakui kalau industri ini merupakan sektor kreatif yang marak dilakukan marak di Indonesia. “Contohnya seperti Raditya Dika, Muamar Emka, Rudy Gunawan, Mochtar Lubis, dan lain sebagainya,” tambah beliau.

Local Movement Programe yaitu Ekonomi Kreatif ini, terbentuk pada tahun 2009. Akan tetapi baru diresmikan pada tahun 2011. Ekonomi Kreatif dibentuk sebab saat ini industri dunia, khususnya Indonesia sudah berada pada masa era kreatif. Oleh sebab itu Kementrian Pariwisata dan Perekonomian Kreatif membuat program ini sebagai bentuk fasilitator bagi pengusaha lokal agar lebih kreatif dalam melakukan publikasi produknya.

Mengapa ekonomi kreatif? Ibu Poppy Savitri mengatakan bahwa dengan program ini diharapkan bisa menuntaskan kemiskinan, memperluas lapangan pekerjaan, dan melestarikan sumber daya alam yang telah kita miliki dari sejak dahulu. Beliau juga menyampaikan bahwa Ekonomi Kreatif bisa berkembang jika akarnya dijaga, yaitu kebudayaan.

Pernyataan ini didukung oleh para dua narasumber di acara tersebut, yang berpendapat bahwa menulis itu harus alami, apa adanya, dan yang pasti informatif. Dimana mengedepankan budaya lokal sebagai informasi yang dipaparkan dalam hasil karya tulisan. 

Berikut pendapat mereka :

Moammar Emka

Moammar Emka
Moammar Emka

“Dalam menulis itu harus jujur, sesuai apa yang kamu kuasai dan usahakan tulisan kamu mengangkat informasi atau kisah budaya di suatu daerah. Bebas kamu mau menulisnya dengan gaya seperti apa. Dalam publikasi karya, pastikan kamu memilih penerbit yang sudah ternama. Selain itu, pintar-pintarlah melihat potensi pasar seperti media sosial dan teman-teman di lingkungan sosial kamu, temukan apa yang menjadi “hits” pembahasan saat ini. Dan yang terakhir gunakan Marketing Nebeng, dengan memilih beberapa orang yang memiliki akun besar. Suruh mereka untuk melakukan promosi karya kamu secara berbarengan. Inilah cara kreatif yang bisa kamu lakukan melalui media soisal tanpa harus mengeluarkan budget untuk publikasi dan promosi,” tutur Muamar Emka, seorang penulis buku Jakarta Undercover.

Rudi Gunawan

Rudi Gunawan
Rudi Gunawan

“Menulis itu rumit, tapi tidak sulit. Tidak perlu menunggu waktu untuk mood, sebab kreatifitas itu yang dibutuhkan adalah intensitas. Kalau kamu sudah komit melakukannya, maka menulis itu menjadi lebih mudah. Mulailah dengan menulis kegiatan sehari-hari, menginformasikan sesuatu yang terjadi disekitar, ataupun membuat catatan rutin yang bisa menambah informasi. Sebab penulis yang baik adalah pencatat yang baik. Dan usahakan tulisan yang kamu hasilkan lebih pada informasi dan edukasi, agar hal-hal yang merupakan kebiasaan lokal bisa terpublish. Ya tujuannya untuk mengangkat budaya lokal kamu juga,” papar F. X. Rudy Gunawan, seorang penulis buku Bangsal 13.

Acara yang sudah dilakukan tiga kali setiap tahunnya ini, bermula pada tahun 2012, hingga kini. Pada tahun 2014 ini dilakukan di 5 (lima) kota, dan Medan adalah kota keempat yang dikunjungi.  Sebelumnya telah dilaksanakan di kota Samarinda, Penggulu, Palembang, dan kota selanjutnya yaitu Kupang. “Tema yang diusung sama di setiap kota, hanya narasumbernya  saja yang berbeda,” ungkap Reza Rahmana Kaloka, selaku Kepala Seksi Tulisan Fiksi.

Ibu Anna Sunarti, selaku Kepala Sekertaris Direktorat Pengembangan Tulis Fiksi dan Non Fiksi menginformasikan juga kalau di tahun ini Kementrian Pariwisata dan Perekonomian Kreatif akan menyelenggarakan kompetisi karya tulis tingkat nasional, yang mana hadiah utamanya adalah wisata ke Beijing. Selain itu, pemenang utama juga akan diundang menjadi salah satu narasumber di acara Book Fair yang akan diadakan di Jakarta nantinya. Tenggat waktu pengiriman karya tulis hingga Agustus 2014. Informasi lebih lanjut kamu bisa searching di http://nulisbuku.com 

Yuk! Tunggu apalagi kawan-kawan.. Buktikan kamu sebagai perwakilan anak Medan yang kreatif yang bisa menyentuh pasar nasional.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *