Cerpen : Kacamata SMA

  • Whatsapp

Cerpen : Kacamata SMA dibuat oleh Dolly Ishak Anak Medan yang menyajikan bagaimana bentuk dari cerita-cerita fiksi hasil karya imajinasi sendiri.

Kacamata
Kacamata


Read More


Kacamata SMA

Botol pertama nyaris habis terteguk saat itu, saat dimana pagi belum usai sepenuhnya, meski aktifitas pagi kota mulai mereda. Di sebuah gubuk kecil di belakang sekolah yang dijuluki mereka sebagai gubuk tawa. 

“ Ini baru namanya hidup bah! Kalau begini setiap hari, bisa panjang umurku, seperti yang dibilang si Anwar itu, hidup seribu tahun lamanya! “ Suara khas batak Togap meramaikan gubuk tawa saat itu.

“ Tapi kalau harus hidup seribu tahun lamanya, aku gak tertarik Gap “ Sambung Paul yang memang sudah sedari tadi menemani Togap minum bersama Desi dan Tina yang juga merupakan bagian dari geng mereka.

“ Bah! Kenapa pula?! “ Tanya Togap penuh heran.

“ Muak juga kalau seribu tahun lihat wajahmu terus menerus! “ Jawab Paul penuh canda

Seketika seisi gubuk itu tertawa riuh, seolah benar-benar memberikan alasan mengapa gubuk tersebut mendapat sebutan gubuk tawa.

Mereka adalah lima sekawan yang sudah berteman dekat selama tiga tahun belakangan ini. Mereka adalah lima orang yang selalu menentang apa saja yang berani menyita kebersamaan mereka. Tidak ada satu hari-pun mereka lalui tanpa bersama, ber-lima, melakukan apa saja yang mereka suka, dan melawan apa saja yang tidak mereka suka.

Botol pertama habis sudah tanpa sisa, menghadirkan bius pertama bagi mereka, terutama Togap yang memang minum paling banyak saat itu. Seketika itu muncul-lah orang terakhir dari geng mereka, Raphael. Sosok yang menjadi leader di geng tersebut. Dengan wajah lusuh dan lingkar mata yang hitam khas-nya, Raphael langsung melemparkan tasnya kedalam gubuk tawa itu, lalu membakar rokoknya dan menghembuskannya ke atas tanpa bicara sedikitpun, hingga mengundang tawa bagi teman-temannya yang baru saja memanen tawa beberapa menit yang lalu.

“ Kenapa wajahmu kusut begitu? “ Tanya Paul yang sudah membaca jelas raut wajah temannya itu.

“ Tidak ada apa-apa “ Jawab Raphael secukupnya.

“ Aku tau pasti sesuatu yang salah sedang terjadi, dan kau tau pasti apa alasannya “ Sambung Paul.

“ Sudah berapa lama kita bolos? “ Tanya Raphael yang akhirnya mulai menunjukkan arti kediamannya saat itu.

“ Palingan baru tiga bulan lah “ Jawab Paul singkat.

“ Kenapa? Taku kena SPO ya? Takut dimarahi maminya ya? “ Ledek Tina yang langsung mengadirkan kembali suasana tawa yang sempat hilang semenjak kedatangan Raphael tadi.

“ Enggak kok, aku Cuma bosan aja terus-terusan hidup seperti ini, nongkrong, bolos, ngerokok, minum, narkoba, ketawa-ketawa gak jelas “ Jawab Raphael sambil mematikan rokok yang belum habis setengah dihisapnya. Dan kembali memadamkan riuh tawa di gubuk kebanggaan mereka itu.

“ Kesambet setan apa kau hari ini? “ Tanya Togap dengan nada sempoyongan seperti menggambarkan seberapa mabuk dia saat itu.

“ Entahlah, aku hanya bosan, itu saja “ Jawab Raphael sambil membaringkan tubuhnya menghadap ke langit, dia menjadikan kedua telapak tangannta yang disatukan sebagai bantalan kepalanya. Gubuk itu sengaja mereka desain sedikit terbuka sesuai permintaan Raphael, alasannya sederhana, karena dia senang melihat langit.

“ Sudah jangan jadi diam-diaman seperti ini, lebih baik kita senang-senang aja “ Ujar Desi memecah keheningan itu

**

Raphael segera terlelap dari lamunannya memandangi langit. Dia tidak perduli sedikitpun dengan suasana di sekelilingnya. Cukup lama dia tertidur, sampai sengatan panas matahari menyilaukan kelopak matanya yang tertutup. Raphael yang terusik segera meraih sadarnya, dan membaca sekitar. Ke-empat temannya sudah tergeletak tak berdaya, beberapa botol minuman sudah kosong berserakan, dua buah jarum suntik bekas pakai menjadi pelengkap alasan ketidak berdayaan rekan-rekannya saat itu, dia hanya diam dan melihat ke langit yang berawan, entah kenapa dia tidak tertarik untuk ikut menikmati sajian yang tersedia seperti biasanya, dia segera berdiri dan melangkah menjauh, dia melirik jam di tangannya, pukul 02.00 siang dan perutnya sudah keroncongan, dalam fikirannya, dia hanya ingin makan saat itu.

**

Raphael duduk di sebuah warung kecil di pinggiran jalan. Seperti biasa, nasi putih dengan lauk ayam goreng dan es teh manis dingin menjadi menu hariannya. Dia menyantap hidangan di depannya dengan sangat lahap tanpa memperdulikan sekitarnya, sampai seorang nenek pengemis tua menghampirinya, dia hanya merogoh lembaran di saku seragam sekolahnya dan memberikannya tanpa raut wajah yang berubah sedikitpun.

Selesai makan, dia berniat untuk kembali ke gubuk tawa yang sudah menjadi rumah sesungguhnya bagi dia. Tak lupa dia membeli beberapa bungkus rokok untuk teman-temannya yang ada disana. Di tengah perjalanan, dia kembali bertemu dengan nenek tua tersebut, nenek itu berjalan dengan sangat renta, seolah mengikuti setiap irama detik waktu yang dijalaninya. Seketika seorang perempuan seusianya menghampiri nenek itu, dilihatnya dengan jelas perempuan itu memberikan beberapa lembar uang dan sepotong roti kepada nenek tua itu, perempuan dengan seragam SMA, perempuan yang sempat menarik perhatiannya setelah beberapa waktu belakangan ini tidak ada yang bisa melakukannya.

**

Raphael kembali tiba di gubuk itu dan mendapati tidak ada yang berubah semenjak dia tinggalkan makan siang tadi. Dia segera meninggalkan beberapa bungkus rokok dan kembali pergi dengan niat untuk mencari angin segar. Langkahnya terhenti pada sebuah pohon besar yang ada di taman kota yang kebetulan tak jauh dari tempat dimana mereka selalu menghabiskan waktunya.

Dia segera duduk menyandarkan tubuhnya, dan membakar rokoknya. Seketika dia terkejut melihat nenek tua yang entah sejak kapan sudah berada disampingnya. Nenek tua itu menyodorkan sesuatu kepadanya, sepotong roti.

“ Buat saya? “ Tanya Raphael dengan tidak bisa menunjukkan kekagetannya.

Nenek tua itu hanya mengangguk tanpa bersuara

“ Tapi nek, sepertinya nenek lebih membutuhkan ini daripada saya “ Tolak Raphael dengan halus.

Namun nenek itu hanya menggeleng, dan membantu Raphael untuk menggenggam roti tersebut, kemudian nenek itu pergi berlalu, Raphael hanya bisa terpaku bingung menghadapi situasi yang benar-benar tidak dimengertinya.

“ Aku tidak mengerti, aku merasa roti ini bukan hanya sekedar pesan lapar. Ada hal lain yang membuat aku bahagia mendapatkan roti ini. Orang tua susah seperti nenek itu saja masih mau berbagi. Sementara aku hanya membuang-buang waktuku, aku hanya membuang waktuku untuk semua kepalsuan dunia ini. Aku sudah setua ini-pun, tak ada sesuatu hal pun yang bisa aku hasilkan. AKu benar-benar tidak tau darimana harus memulainya, darimana harus mulai memperbaiki hidupku yang sudah hancur “ Celoteh Raphael sambil menatap lekat roti yang ada di genggamannya, perasaannya sangat kacau saat itu.

“ Kenapa tidak memulainya dari saat ini saja? “ Suara Tanya seorang perempuan mengejutkan Raphael kalau ternyata dia sudah terlalu banyak bicara sendiri kepada sepotong roti.

“ Kamu bukankah . . “ Tanya Raphael sambil mencoba mengingat kapan terakhir kali bertemu dengan gadis itu.

“Kalau kamu memang ingin berubah, jangan takut, dan jangan melihat ke belakang. Melihatlah lurus kea rah niat baikmu itu. Jangan takut untuk memulai kembali sesuatu yang kamu rasa sudah terlalu hancur, jangankan dari Nol, dari minus sekalipun, tetaplah jalani “ Ujar gadis itu memotong perkataan Raphael yang hanya bisa terdiam memandangi gadis tersebut.

“ Kamu siapa ? “ Tanya Raphael yang mencoba mengontrol kembali dirinya yang sempat ternganga melihat gadis di depan matanya yang tidak dikenalnya, tau-tau saja memberinya nasehat.

“ Aku Vanny, teman satu sekolahmu, makanya rajin sekolah dong, agar kamu bisa kenali teman-teman satu sekolahmu “ Jawab gadis itu dengan tawa yang renyah, menghadirkan suasana nyaman bagi Raphael.

“ Aku begini karena aku bingung harus kemana, aku rasa talentaku hanya untuk hidup urakan seperti ini “ Keluh Raphael kepadanya.

“ Aku tau, sesungguhnya kamu bukanlah orang yang jahat, kamu hanya terlalu lama terjebak dalam kepalsuan dunia ini , tidak ada kata terlambat Raphael, percayalah “ 

“ Kenapa kau begitu bekerja keras untuk memperbaiki hidupku yang hancur? “ Tanya Raphael.

“ Waktu akan menjawabnya “ Jawab gadis itu ringan sambil memberikan senyum yang ringan

“ Waktu? Aku tidak mengerti apa maksudmu? “

“ Sudah sore, aku harus pulang “ Kata gadis itu sambil berdiri memperbaiki tasnya, sebagai tanda untuk mengalihkan pertanyaan Raphael.

“ Aku antar ya? “ Tawar Raphael kepada gadis itu

“ Tidak usah, rumah kita sepertinya beda arah “

“ Tidak masalah, aku bersedia kok “ 

“ Tidak usah, kamu disini saja, lagi pula rumahku jauh, aku pamit ya “ Kata Gadis itu sambil tersenyum, kemudian bergerak lincah untuk menjauh dari Raphael.

“ Hei! “ Teriak Raphael membuat gadis itu kembali menoleh kebelakang “ Terima kasih “ Sambung Raphael sambil memberi senyum kepada gadis itu, yang kemudia dibalas oleh senyum yang diharapkan Raphael, sebelum gadis itu benar-benar berlalu.

**

Raphael melangkah dengan ringan kembali ke gubuk tawa-nya, senyum-senyum kecil menghiasi wajahnya sore itu.

“ Woi, senyum-senyum sendiri kau, kayak orang jatuh cinta aja “ Ledek Togap yang kembali mengundang tawa di gubuk itu.

“ Nih minum, tawar Tina sambil memberikan sebotol alkohol kepada Raphael “

Raphael hanya menggeleng pertanda dia menolak penawaran itu

“ Kenapa? Udah tobat? “ Ledek Tina menambah rius tawa sore itu

“ Kalian sadar gak? Kita udah kelas tiga SMA, kita udah sama dari sejak masa MOS dulu, kita benar-benar udah melaui segalanya bersama, berlima. “ Celetuk Raphael yang dengan seketika menghadirkan kembali suasana hening di gubuk itu.

“ Kenapa jadi melankolis gini kau? “ Tanya Togap dengan nada yang mulai me-lirih, seperti terkenang kembali semua memory-memory indah yang pernah mereka lalui berlima.

“ Udah terlalu banyak hari-hari yang kita lewati bersama teman, kita benar-benar sudah melaui tiga tahun ini dengan penuh keangkuhan kita, dengan gelegak tawa dan air mata. Kita pernah gebukin kakak kelas kita, kita pernah ngintip di toilet cewek, kita main judi di kelas, kita kerjain guru-guru kita, kita malak, kita bolos, kita manuk-mabuk, kita narkobaan, aku rasa sampai kapanpun aku tidak akan bisa melupakan semua kenangan itu “ Celoteh Raphael sambil terus menatap langit kegemarannya, langit yang penuh dengan awan.

“ Diam kau Raphael, kau jangan kau buat aku nangis, gak suka aku cengeng-cengeng’an gini “ Seru Togap yang mulai ter-isak karena terpancing suasana yang membangkitkan haru-nya mengenang semua perjalanan petualangan mereka berlima.

“ Waktu kita hampir habis teman. SMA kita selesai! , putih abu-abu kita akan kita coret-coret sebagai tanda kalau kita pernah hidup di masa SMA! OSIS bahkan sudah sibuk mempersiapkan perpisahan kita! Sebentar lagi kita akan berpisah, kenapa kalian tidak juga mengerti?! , bagaimana kalau kita tidak lulus?! Jangan cengeng seperti itu Togap! “ Seru Raphael yang mulai terpancing emosi menghadapi kejenuhannya menghadapi kesehariannya yang statis.

“ Darimana? Darimana kita memperbaiki segalanya? “ Tanya Paul lirih

“ Jangankan dari Nol Paul, dari minus sekalipun ayo kita tempuh! Bukankah kita selalu menghadapinya bersama?! “

“ Percuma, guru-guru sudah terlanjur benci kepada kita “ Jawab Tina

“ Guru juga manusia, mereka punya hati, mereka juga pasti ingin murid-muridnya berhasil, mereka pasti mau memberi kita kesempatan asalkan kita mau jujur, dan siap menerima hukuman atas kelakuaan kita selama ini “ Jawab Raphael mempertegas niatnya untuk berubah.

Seketika semua hanya menunduk diam kecuali Raphael.

“ Tunggu apa lagi? Ayo kita jalanin tantangan baru ini, bukankah kita berlima? “ Sambung Raphael yang akhirnya diikuti oleh tawa yang rius pertanda setuju dari teman-temannya.

**

Keesokan harinya di sekolah, Mereka mendapat hukuman yang sangat berat dari sekolahnya. Namun, mereka tetap melaui hukuman demi hukuman itu dengan tawa, mereka tidak sedikitpun merasa terbebani dengan semua hukuman itu, mereka sudah menyadari begitu banyak hal tentang hidup, bahwa sesungguhnya tidak ada yang benar-benar bisa menjadi seorang pahlawan kalau dia belum pernah menjadi seorang pecundang, sebab satu-satunya musuh terbesar dalam hidup ini adalah, diri kita sendiri.

Ketika sedang beristirahat dari hukuman mereka yang begitu berat, Raphael teringat akan satu hal

“ Kalian kenal gak sama yang namanya Vanny? “ Tanya Raphael tiba-tiba kepada temannya.

“ Vanny? “ Tanya Desi menyakinkan

“ Iya, Kenal? “ Tanya Raphael semakin antusias.

“ Setahu aku sih, di sekolah ini Cuma satu orang yang namanya Vanny, anaknya putih, rambutnya ikal-ikal gitu “ Jawab Desi sambil meraba-raba kembali nama yang dimaksud Raphael.

“ Iya, yang itu! “ Seru Raphael yakin.

“ Tapi setahuku anak itu sdah meninggal tiga bulan lalu karena sakit, kenapa Tanya dia? “ Jawaban sekaligus pertanyaan Desi itu membuat dunia Raphael seperti berhenti seketika. Dia sangat yakin semalam itu bukanlah mimpi, dia sangat yakin kalau dia benar-benar berbicara pada gadis itu, dia sangat yakin dia menatap lekat mata gadis itu, dia sangat yakin dengan senyuman itu, dia sangat menghafal semua kejadian hari itu.

“ Kenapa? Kau nyesal pernah menolak cintanya? “ Celetuk Togap mengundang tawa di antara mereka, kecuali Raphael.

“ Tolak? Maksudnya? “ Tanya Raphael bingung.

“ Yaelah goblok, itu anak kan yang kemaren ngirimin kau surat cinta, yang kit abaca bareng-bareng di gubuk, yang kita ketawain itu loh “ Jawab Togap menambahkan.

Raphael kembali terdiam, dia ingat benar surat itu, dia ingat benar menertawai semua kalimat-kalimat di dalamnya.

Raphael tidak mengerti dengan perasaannya saat itu, dia benar-benar merasa terlambat mengenal Vanny, gadis yang telah membuatnya jatuh cinta, gadis yang membuatnya jatuh cinta setelah cinta itu benar-benar tidak lagi bisa diraihnya. Dalam kediamannya dia hanya merenung, semua jenis kata Tanya menghantui isi kepalanya.

“ Udah yok lanjut kerja lagi, biar cepat selesai hukumannya “ celetuk Paul mengajak teman-temannya untuk bangkit.

Raphael yang ikut bangkit masih terjebak dalam dunia tanyanya, seketika itu angin bertiup landai membelai rambutnya, dia segera melihat kebelakang, namun tidak ada sesuatu apapun ditemuinya, namun dia tersenyum, dia percaya dengan apa yang dia rasakan, itu Vanny. Dia hanya menyapanya dalam hati, ‘Kenapa setelah kau pergi aku baru bisa mengenalmu? Dan kau datang kembali dari rumahmu yang jauh itu hanya untuk meluruskan kembali hidupku yang sudah teramat hancur, Terima kasih Vanny, kuharap ada dunia dimana kita bisa bertemu lagi, dan berbincang lagi, aku mendoakanmu dari sini semoga kau tenang disana, aku menyayangimu dengan sangat’

Selesai

@dollyishak

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *