Rumah Kardus & Hujan Gelembung

  • Whatsapp

Rumah Kardus & Hujan Gelembung – Matahari tidak selalu menghadirkan keluh bagi setiap orang, terutama kepada Dhea. Seorang gadis kecil yang bersahabat dengan alam-nya. Matahari adalah sahabat terbaiknya. Bagi Dhea, seorang gadis kecil berambut panjang, dengan mata bulat indah berwarna hitam itu, matahari adalah satu-satunya hal yang paling dia takutkan bila menjauh dari pandangannya. Tak jarang dia kecewa dengan awan yang menutupinya, atau malam yang mengalahkannya. 

Tidak banyak dimiliki Dhea dalam hidupnya. Terlepas dari pesoalan kepemilikan matahari yang hakekatnya adalah milik semesta, Dhea hanya memiliki sebuah keluarga yang sederhana, hanya ada ibu yang mengajarinya tentang kekuatan, serta Budi, kakak laki-laki yang selalu menceritakannya dongeng-dongeng tentang istana, putri, dan peri. Tak ada ayah dalam hidupnya, tak sempat dia mengenal figur itu. Terakhir kali kabar yang didengarnya dari ibu, ayahnya sedang berkelana mencari kehidupan baru dan tidak tahu pasti kapan akan berpulang kepada mereka, untuk kembali berkumpul dan menceritakan kisah petualangannya selama ini.

Read More

Rumah Kardus & Hujan Gelembung

Keluarga sederhana Dhea tinggal dalam sebuah rumah kardus. Ibu-nya bekerja sebagai pemungut barang-barang bekas. Memang tak banyak yang bisa dilakukan oleh ibu untuk menghidupi keluarganya. Sementara itu, kakaknya hanyalah seorang pengamen puisi jalanan, yang membaca puisi di rumah-rumah makan, atau terkadang tak jarang dia nekat untuk membaca puisi di dalam bus-bus kota. Bagi kakaknya, mengamen lewat puisi bukan menjadi mata pencahariannya. Namun susahnya hidup membuatnya tak mampu menolak recehan-recehan yang diberikan kepadanya setiap kali membacakan sebuah puisi. Memang tak banyak yang didapatnya, sekedar untuk membantu ibunya untuk menghidupi keluarga mereka yang sangat jauh dari kata sederhana itu. Terutama untuk adiknya Dhea yang masih sangat kecil. Untuk mengisi perut kecilnya, agar tetap bisa mendengarkan dongeng-dongeng kebahagiaan yang sebenarnya entah dimana keberadaannya, Budi tidak pernah tau, yang dia ketahui cuma-lah mata bulat Dhea yang indah, yang begitu antusias mendengarkan dongeng-dongengnya setiap malam. Sesaat sebelum tidur, Budi tak pernah lupa mengingatkan adiknya untuk berdoa, tak pernah pula doa itu berubah sampai saat ini, doa seorang gadis kecil yang tinggal dalam sebuah rumah kardus, dan bersahabat dekat dengan matahari, doa yang sederhana,

‘Tuhan, terima kasih untuk hari ini, 

Semoga hujan tidak turun malam ini,

Semoga yang turun hujan gelembung saja,

Terima kasih Tuhan, Amin’

**

“ Ibu, apakah malam ini hujan akan turun? ”  Celetuk Dhea memecah keheningan siang itu.

Ibunya hanya diam sambil tetap fokus dengan botol-botol bekas yang ada dihadapannya. Siang itu matahari memang sedang tidak ingin menunjukkan kuasanya.

“ Dhea harap, hujannya hujan gelembung boleh gak bu? , soalnya kalau hujan gelembung, rumah kita pasti gak hancur, iya kan bu? “

Ibunya hanya sejenak melihat Dhea sambil menggoreskan sedikit senyum melihat kepolosan Dhea yang bermimpi begitu jauh semenjak terlalu banyak mendengarkan dongeng-dongeng keajaiban dari kakaknya. Kemudian kembali kepada botol-botol bekas yang ada di hadapannya.

“ Ibu, aku lapar ” Dhea mulai mengeluh dengan kondisi perut mungil-nya yang memang sejak pagi tak kunjung diberi pengertian oleh pemiliknya.

“ Sabar dong Dhea, sebentar lagi kakakmu juga pulang, sebaiknya kamu tidur saja dulu. Nanti, kalau sudah ada makanan akan ibu bangunkan ” Jawab ibu coba meyakinkan Dhea.

“ Iya bu ” Jawab Dhea yakin.

Dhea kemudian membaringkan tubuhnya dipangkuan ibunya yang masih sibuk mengurus botol-botol bekas yang menjadi sumber butir-butir harapan mereka untuk tetap bertahan hidup.

“ Ibu, apa hujan gelembung itu benar-benar ada? ” Tanya Dhea ketika berbaring di pangkuan ibunya.

“ Ada Dhea ” Jawab Ibu bohong, sekedar tak ingin menyudahi mimpi manis putrinya itu.

“ Kalau begitu, kenapa dia tidak mampir ke rumah kita bu? ”

“ Dia sangat sibuk Dhea, dia harus berkeliling dunia ” Jawab ibu mencoba meyakinkan putrinya, sambil mengelus-elus rambut Dhea.

“ Tapi dia akan datang kan bu? ” Tambah Dhea lagi mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Sementara ibunya hanya bisa mengangguk kecil karena tak lagi sanggup mengeluarkan kesaksian palsu kepada Dhea.

“ Ibu janji? ” 

“ Ayo, sebelum tidur berdoa dulu ” Potong ibu mencoba mengalihkan pembicaraan mereka tentang dongeng-dongeng impian Dhea. Sementara Dhea menutup matanya dan mengucap doa sederhananya,

‘Tuhan, terima kasih untuk hari ini, 

Semoga hujan tidak turun malam ini,

Semoga yang turun hujan gelembung saja,

Terima kasih Tuhan, Amin’

Tak butuh lama bagi Dhea untuk terlelap. Tubuhnya memang sangat lemas saat itu, entah karena perutnya yang belum terisi sejak pagi, atau karena sahabatnya matahari tak ingin bermain dengan kaki kecilnya saat itu, tidak ada yang tahu pasti.

Sementara itu, ditengah kemegahan kota, Budi duduk di bawah rindangnya gersang pohon, beristirahat sejenak berbicara dalam sajak, sambil menuliskan sebuah dongeng baru untuk adiknya malam nanti, Tentang sebuah dunia dimana kebahagiaan itu begitu sederhana.

**

Siang itu menjadi siang yang suntuk bagi Rachel. Selain harus bergelut dengan materi kuliahnya yang setumpuk, dia masih harus berkerumun dengan kemacetan alam raya kotanya. Rachel merupakan gadis kuliahan semester lanjut yang harus bolak-balik menunda wisudanya karena terlalu sibuk dengan kegiatan tulis-menulisnya yang belakangan ini semakin menggila. Cita-citanya untuk menjadi novelis terkenal setara Dewi Dee Lestari menjadi bintang yang harus digapainya, dengan susah payah tentunya. Baginya, dalam menulis, idolanya Dee itu selalu memiliki sudut pandang baru dalam menuliskan sebuah permasalahan yang sesungguhnya lebih realita. Membuatnya belajar untuk melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh hati telanjang.

Dengan tanktop hitam dilapisi oleh kemeja kota-kotak merah lengan panjang tanpa dikancing ditambah dengan jeans robek alamiahnya, Rachel berjalan menelusuri jalanan kota untuk menghilangkan suntuknya. Dia tidak menggunakan sepatu siang itu, hanya sedal jepit karet yang memamerkan pinggiran telapak kaki dan tumitnya yang membayang serupa merah muda yang merona. 

Kelelahan yang menghampirinya memaksanya untuk duduk di sebuah warung kecil yang menyediakan minuman dingin. Dia masih berfikir keras tentang kemana dia ingin meliburkan fikirannya, dia melihat ke sekeliling, daerah yang kumuh, beberapa tempat sudah seperti tempat penampungan sampah kardus, botol, besi, dan sebagainya. Namun matanya lebih tertarik memperhatikan satu hal yang nyaris tak bila dilihatnya dengan hati telanjang, seorang ibu yang sedang duduk memilah-milah botol, sambil memangku putrinya yang terlelap, dengan latar belakang rumah kardus.

**

Ibu masih menyortir botol-botolnya dengan sabar, sambil tetap menjaga kenyamanan putrinya yang sedang menumpang lelap di pangkuannya. Seketika itu seorang pemuda tanggung yang kerap dikenal dengan Bejo menghampiri rumah kardus itu dengan langkah yang sudah menyerupai jelas semua titik yang ada pada arah mata angin.

“ iuran “ Katanya singkat.

“ iuran apalagi? Kami membayar toh tetap saja pamong-pamong itu mengusir kami “

Seperti tidak perduli pemuda itu hanya menjulurkan tangan kotornya yang bau alkohol dan dosa. Ibu hanya bisa memakluminya, pikirnya, bernegosiasi dengan orang seperti Bejo bukanlah ide yang baik. Beberapa lembar uang ribuan diserahkannya ke tangan kotor itu, beberapa lembar ribuan yang didapatnya dari hasil seharin memulung di tengah kota.

Pemandangan itu sedari tadi menarik perhatian Rachel yang memandang dari kejauhan, dari warung minuman dingin yang disinggahinya, lebih tepatnya. Tanpa harus mendengar dialog yang terjadi, Rachel sudah bisa menerka apa yang terjadi disana, tentang Ibu, pemuda mabuk itu, dan lembaran rupiah itu.

Sementara itu, di tempat lain, Budi hampir selesai menulis dongeng baru untuk adiknya. Dia harus cepat, karena jam makan siang hampir tiba.

**

“ Permisi ibu “ Sapa Rachel mengagetkan ibu yang sudah hampir masuk terlalu jauh ke dalam dunianya.

“ Iya nak? , apa ada yang bisa ibu bantu? “ Balas ibu penuh koreksi.

“ Tidak ada bu, saya kebetulan saja lewat sekitar sini “ Jawab Rachel tenang.

“ Tidak baik anak gadis jalan sendirian di daerah ini, banyak orang jahat di sini “

“ Ibu sendiri sudah lama tinggal di sini? “ Tanya Rachel yang tidak melepaskan matanya dari rumah kardus yang menjadi latar belakang keluarga sederhana ini. Sementara itu, ibu hanya melihatnya kembali penuh koreksi, membuat Rachel sadar kalau dia sudah terlalu jauh berbicara.

“ Maaf ibu, saya tidak bermaksud untuk . . “

“ Tidak apa-apa, ya, kami sudah cukup lama tinggal di sini “ Potong ibu karena melihat raut bersalah di wajah gadis yang sepertinya orang baik itu.

“ Jadi, bagaimana bila hujan turun bu ? “ 

“ Aku sendiri selalu mempertanyakan itu setiap saat, Tapi bagaimana mungkin aku berdoa kepada Tuhanku tentang keselamatan rumah kami dari hujan? , sementara aku sendiri membangun rumah diatas tanah yang sesungguhnya bukan milik kami “ 

Pertanyaan sekaligus jawaban yang diucapkan oleh ibu hanya membuat Rachel tenggelam dalam kebisuannya, dia hanya menggigit getir bibirnya dengan tatapan yang menerawang jauh entah kemana. 

“ Tentang semua yang terjadi dalam hidup kita memiliki arti bu, ibu saya pernah berkata begitu “ Lirih suara Rachel memecah keheningan yang sempat tercipta.

“ Kadang aku pernah bertanya kepada hatiku, tentang berapa kali aku harus bersedih dalam hidupku? Kau tau apa jawabannya? “ Rachel hanya menggeleng “ Hatiku menjawab, sebagaimana kau mampu saja ”.

“ Tuhan pasti punya rencana ibu, percayalah “ Tambah Rachel mencoba menenangkan perasaan ibu yang sepertinya tidak sengaja terpancing dalam sebuah kabut persoalan yang sudah lama didiamkannya.

“ Apa kau tak melihat di sekelilingmu? , tempat ini sudah dipenuhi oleh rumah-rumah mewah dan gedung-gedung tinggi. Bahkan rumah ibadah-pun sudah menjelma serupa istana yang luar biasa megahnya. Itulah yang ada di sekeliling kami, kenapa kami bisa luput dengan kerdil sendiri di tengah kemegahan panggung dunia ini? , kami yang merasa dilupakan? , atau Tuhan yang melupakan kami? “  Seperti mendapat telinga untuk mendengar keluhnya, ibu seolah terkena mantra oleh bius mata gadis yang baru saja dikenalnya, sekedar untuk bertukar fikiran meski secara tidak langsung.

“ Maaf ibu, saya berbicara terlalu jauh “

“ Tidak apa-apa nak, justru ibu sangat berterima kasih dengan kamu, meski sekedar telinga, tapi kamu sudah menjadi pendengar yang baik “ Jawab ibu mencoba menghibur.

Mendengar perbincangan antara ibu dengan Rachel membuat tidur Dhea sedikit terusik, dengan sambil mengucek-ngucek matanya, Dhea berusaha meraih kesadaran untuk memperjelas pandangannya.

“ Hai adik kecil “ Sapa Rachel ramah kepada Dhea, gadis kecil yang terlihat begitu lucu dengan wajah setengah mengantuknya.

Dhea yang sadar dengan orang yang baru saja menegurnya merasa kikuk karena tidak mengenali siapa kakak perempuan yang ada di hadapannya itu. Dengan gerak malu-malu dia segera bersembunyi dibalik perlindungan bahu ibunya. Melihat tingkahnya itu, Rachel hanya tersenyum, begitu juga dengan ibu, sudah terlalu lama ibu tidak tersenyum.

Rachel melirik arloji di tangannya, segera dia kaget dan menepuk keningnya sendiri seperti menunjukkan ekspresi penuh penyesalan. Dia melupakan salah satu janjinya yang sudah terlambat lebih dari tiga puluh menit.

“ Maaf ibu, saya jadi keasikan ngobrol sampai lupa waktu. Kalau begitu saya permisi dulu ya bu, mari adik kecil “ sapa Rachel sekali lagi penuh ramah sambil meminta izin pulang.

Rachel segera berangkat meninggalkan keluarga sederhana itu dengan langkah yang tidak menunjukkan ke-tergesa-gesahan. Ibu merangkul Dhea yang juga menatap punggung gadis itu yang semakin lama semakin hilang.

“ Ibu itu siapa? “ Tanya Dhea.

“ Orang baik “ Jawab ibu singkat sambil mencium kening putrinya, lalu kembali masuk ke dunianya.

Sementara itu Budi bergegas dengan langkah tercepat yang dia miliki. Dengan menggenggam sebuah bungkusan plastik berwarna hitam, tergores sedikit senyum di wajahnya, perihal lauk yang dibawanya adalah lauk kesukaan ibunya.

**

“ Ibu aku sudah pulang “ Sapa Budi menghadirkan raut gembira di wajah Dhea, karena dia tau, jam makan siang adalah saat dimana kakaknya Budi pulang dari kegiatannya diluar sana.

“ Hore, kakak sudah pulang “ Sambut Dhea sambil memeluk erat kakak laki-laki kesayangannya itu.

“ Ayo kita makan sama-sama “ Ajak Budi yang dijawab dengan anggukan manis adik perempuannya itu.

Budi segera membantu ibunya membereskan botol-botol bekas yang sedari tadi menjadi kegiatan ibunya itu. Seperti biasa, ibu mengambilkan air minum serta air kobokan untuk cuci tangan mereka. Maklum, bagi mereka sendok bukanlah kebutuhan yang sesuai dengan pendapatan mereka.

Tidak banyak yang dibawa Budi saat itu, hanya dua bungkus nasi untuk bertiga dengan lauk rendang tempe dan sambal hati ayam kesukaan ibunya. Mereka tak lupa berdoa sebelum makan, mereka tak pernah lupa bersyukur, meski mereka selalu lupa untuk meminta.

“ Kakak, tadi ada orang yang datang kesini “ Celetuk Dhea ketika acara makan bersama mereka usai.

“ Siapa? “ 

“ Gak tau, kata ibu orang baik “ Jawab Dhea.

“ Orang baik? “ Tanya Budi dengan mata yang menuju ke-arah ibunya.

“ Ibu mau menjual botol-botol ini dulu “ Jawab ibu seperti sengaja untuk tidak membahas tentang siapa orang baik itu.

Budi tinggal dalam hanyut muka bingung, sementara adiknya Dhea, berlari mengejar ibunya yang sudah berangkat terlebih dahulu dengan membawa karung besar penuh dengan botol-botol plastik bekas.

**

Budi duduk di bawah pohon asem yang rindang. Perut kenyangnya membuatnya menjadi ingin sejenak bersantai menikmati angin yang gersang. Dia tidak melakukan apa-apa, dia hanya melamun, melamunkan nasib yang semakin lama semakin mendekati kemenangan atas dirinya. Bareng lima belas menit dia menyantaikan dirinya, seketika itu terdenga olehnya riuh suara dari arah yang sangat dikenalinya. Dengan segera dia berlari, berlari menerjang apa saja yang merintang, berlari sekuat tenaganya, berlari menuju tempat yang dikenalinya, rumah.

Sementara itu, Ibu dan Dhea sedang menghitung lembaran-lembaran ribuan yang baru saja didapatkan hasil dari penukaran satu karung besar penuh botol bekas yang sudah di-sortir.

**

Budi telah sampai dari pelariannya. Pelariannya kali ini bukan berlari untuk menghindari masalah, tapi pelarian yang berlari untuk menghadapi masalah. Terhampar sudah di hadapannya hasil pelariannya itu. Tenggorokannya terasa keluh, bibirnya kering, nafasnya ter-engah-engah, lututnya bersatu dengan tanah, telapak tangannya menggenggam erat rumput disekitarnya, air matanya keluar dengan deras, seakan tidak percaya, sekali lagi dilihatnya apa yang ada dihadapannya, namun hasilnya tetaplah sama, rumahnya telah rata dengan tanah. Penggusuran.

Seketika dia marah pada Tuhannya,

“ Tuhanku, aku tidak marah bila semua ini atas kehendakmu. Aku tidak pernah marah bila semua ini bagian dari cobaanmu kepada kesetiaanku. Tapi sampai kapan kau menghendakiku?! , dan sampai kapan kau mencobaiku?! , aku selalu setia Tuhan !! aku setia !! . Kesetiaan seperti apa yang kau minta? , aku tak pernah mengeluh sebelumnya, aku tidak pernah kecewa dengan nasibku, nasib yang bahkan tidak aku pilih!, nasib yang telah kau anugerahkan kepadaku!! , Apa kau tak melihat kelemahan kami? , apa kau tak mendengar jeritan kami ? Mampirlah sejenak Tuhan . . Mampirlah sejenak . .” 

Seperti mengerti telah berbicara terlalu jauh kepada Tuhannya, Budi hanya tertunduk malu. Dia merasa dirinya begitu kotor. Dia merasa bersalah telah melimpahkan kegeramannya kepada rumput yang nyaris mati digenggamannya. Dia benar-benar kecewa dengan Tuhannya saat itu.

“ Sudahlah Budi, nanti kita bisa bangun lagi kardus-kardus itu, seperti kita pernah membangun kembali puing-puing keluarga kita yang sempat hancur dengan angkuhnya “ Sapa ibunya sambil menepuk pelan belakang pundaknya, membuatnya terkejut mengetahui ibunya sudah berada di belakangnya.

Budi hanya diam saat itu. Tenggorokannya masih terasa begitu keluh, bibir keringnya semakin merapat, hatinya masih terlalu kecewa dengan Tuhannya.

“ Ibu kita tidur dimana? “ Tanya Dhea bingung

“ Sini nak, tidur di pangkuan ibu saja “ Kata ibu coba menghibur.

“ Lalu kalau hujan bagaimana bu? “ Tanya Dhea lagi.

“ Malam ini tidak akan hujan nak, malam ini hujan gelembung yang akan segera tiba, tenanglah “ Bohong ibu 

coba menenangkan.

Ibu tentu tahu benar apa yang sedang terjadi, dia tau benar tentang sulitnya keadaan yang sedang dialami oleh keluarganya saat ini, ketakutan bukan tidak bisa menyentuhnya kala itu, hanya saja dalam hatinya ibu bersikeras dengan perasaannya, dia tidak boleh melemah, dia tidak boleh menunjukkan kesedihannya, air mata seketika di-haramkannya untuk jatuh, terlebih di depan kedua anaknya, terutama, Dhea.

“ Ibu ! apa yang terjadi ?! “ Tanya Rachel kaget bercampur cemas mengetahui keadaan yang ada di hadapan matanya. Rachel memang sengaja kembali ke tempat itu untuk sedikit berbincang lagi dengan ibu juga Dhea, namun tujuannya kali itu menemui satu ujian yang sulit, dia harus menghadapi kenyataan yang sesungguhnya.

“ Tidak ada apa-apa nak, hanya keadaan sedang mengalahkan kami “ Jawab ibu tenang, setelah mengetahui kedatangan Rachel yang selalu tiba-tiba. “ Sudahlah Budi, terkadang, dalam mencapai sebuah arti, kita perlu tau dulu, apa itu kepalsuan “ Tambah ibu yang tak menyerah untuk menguatkan putranya, Budi.

“ Nasib sudah mengalahkan kita bu “ Balas Budi lirih

“ Budi, Tuhan tidak akan membiarkan umatnya dikalahkan oleh nasib “

“ Tuhan sudah lama meninggalkan tempat ini bu, Tuhan tidak pernah berpihak kepada kita yang kalah! “ Tegas Budi.

“ Budi . . ibu tau pasti, kalau kamu bukan orang seperti ini, sudahlah nak “ Bujuk ibu.

“ Kita tidak punya pilihan bu, kita tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih “

“ Pilihan selalu ada “ Tiba-tiba Rachel yang sedari tadi hanya diam, menambahi perbincangan antara ibu dan Budi.

“ Tau apa kau soal pilihan?! , kau yang memiliki segalanya tau apa soal pilihan?! , tau apa kau tentang orang-orang seperti kami?! , yang tak pernah punya pilihan! “ Emosi Budi kembali terpancing mendengar orang baru yang tidak dikenalinya mencoba mendikte-nya.

“ Sebab, aku pernah baca disebuah buku, bahwa terkadang, pilihan terbaik itu adalah, menerima “ Jawab Rachel tanpa rasa takut, dengan membalas tatapan Budi yang semakin lama akhirnya semakin melemah.

Mendengar jawaban Rachel, seketika marahnya luntur, dia merasa malu pada dirinya, pada ibunya, terlebih kepada Tuhannya. Kembali terninang semua perjalanan yang telah dilaluinya, kembali terniang semua koleksi dongeng-dongeng yang pernah diceritakannnya kepada Dhea adiknya.

Dengan sisa-sisa tenaga-nya yang sudah nyaris habis ditelan emosi, Budi berdiri menatap langit, burung gereja kecil seketika terbang diatasnya saat itu, terbang lunglai, kemudian bertengger disebuah ranting pohon, tidak ada rumah bagi burung itu, dia hanya menumpangkan lelahnya pada panggung dunia yang disediakan Tuhannya kepada dia, Budi merasa malu kepada burung gereja kecil itu, Angin bertiup seperti menepuk-nepuk bahunya untuk memberi semangat baru menggantikan semangat lamanya yang terbakar amarah kekecewaan. Keping demi keping reruntuhan rumah kardusnya mulai digenggam olehnya, setiap puing-puing komponen istana dongengnya disusun kembali sebisanya, sesederhanya yang dia bisa, seperti menyusun dongeng sederhana untuk adiknya, Dhea. 

Budi menyusun keping-keping yang selalu jatuh kembali ke tanah, Budi memang tidak lagi marah saat itu, tapi bukan berarti air matanya tidak keluar, air mata itu terus keluar tak henti-hentinya. Dhea, gadis kecil bermata bundar yang bersahabat dengan matahari itu menghampiri kakaknya, mengambil kepingan kardus yang berbeda, dan menyusunnya agar bisa berdiri seperti sediakala. Melihatnya Budi tersenyum, kemudian mengacak-acak rambut adiknya itu . Ibu juga tak mau kalah dalam episode mengharukan itu, dia juga membantu kedua anaknya untuk membangun kembali kehidupan mereka. Sementara itu, Rachel melihat keangkuhan keluarga ini dalam menghadapi cobaan hidup. Keluarga ini seperti tidak bisa disentuh oleh keputus-asaan.

Seperti tak mau kalah, Rachel juga membantu keluarga itu untuk membangun kembali rumah kardus mereka. Sambil bercanda gurau mereka berbagi tugas, seperti tidak memperdulikan keberadaan status Rachel, bagi mereka Rachel seketika menjadi keluarga, dan Rachel menerima keadaan itu.

“ Ibu, walaupun saya tidak benar-benar merasakan apa yang ibu dan keluarga rasakan, Saya ingin ibu yang kuat ya. Tuhan itu nyata ibu, Dia punya telinga untuk mendengar keluh kita, Dia punya pundak untuk menyandarkan letih kita. Seperti yang ibu bilang, ada kalanya dalam mencapai sebuah arti, kita perlu tau dulu, apa itu kepalsuan “

Mendengar perkataan Rachel, gadis remaja yang baru saja dikenalnya tadi siang itu membuat ibu seperti melihat Dhea versi dewasanya, Lekat-lekat ibu memeluk gadis itu, entah sejak kapan ikatan yang begitu kuat terjalin diantara mereka, diantara ibu dan Rachel.

“ Ibu, aku tidak mau berdoa hujan gelembung lagi “ Celetuk Dhea tiba-tiba

“ Loh, kenapa Dhea? “ Tanya ibu bingung melihat antusias putrinya tentang hujan gelembung bisa sirna hari itu

“ kasihan hujan gelembungnya harus keliling dunia bu, hujan yang biasa aja juga gak apa-apa kok, kan tadi kakak ini bilang pilihan terbaik itu menerima “ Jawab Dhea.

Seketika suasana bersatu dalam gelegak tawa. Kepolosan hati Dhea dalam meminta kepada Tuhannya, tentang kepolosan hati Dhea yang menerima keadaan. Hujan memang tidak turun menghancurkan rumah kardus mereka, Hujan gelembung juga memang tidak turun seperti yang diharapkan Dhea. Namun, kebahagiaan mereka saat itu sudah seperti tarian kebebasan di negeri dongeng yang biasa diceritakan Budi, negeri dongeng milik Dhea dimana tawa begitu mudah di dapat, dimana bahagia begitu sederhana untuk diraih, seperti buih-buih sabun yang terbang ke udara dalam rupa gelembung-gelembung kecil, yang menemani tarian-tarian peri di negeri dongeng Dhea. Hujan gelembung itu hadir dalam rupa gelegak-gelegak tawa sore itu. Tentang sebuah keluarga sederhana yang tinggal dalam sebuah rumah kardus, yang berdoa tentang hujan kebahagiaan, hujan gelembung. Dan Dhea tetap bersahabat dengan matahari-nya.

@dollyishak

Selesai. Cerita Fiksi : Rumah Kardus & Hujan Gelembung

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *