Cerpen : Poppy Namaku

  • Whatsapp

Cerpen Poppy Namaku dibuat Dolly Ishak Anak Medan yang penuh rasa romantisme menuliskan cerpen ini dengan gaya bahasa yang diharapkan baik bagi pembaca sekalian.

Cerpen Poppy
Ilustrasi

Aku,

Read More

Aku dan diamku merajai hari-hariku.

Aku dan riangku mengantri di ruang tersudut di dalamku,

Di sebuah sudut yang berhiaskan sebuah lentera merah,

Yang menggantung tak genah.

Aku seolah di sebuah kota tanpa surya.

Dingin duniawi menusuk tiap ruas riangku,

Menyelimuti kegelisahanku dengan selimut tanda tanya.

Labirinku menyesatkanku

Membuat aku tersesat di dalam fikiranku sendiri.

Aku merasa seperti bintang tanpa panas.

Kesendirian meracuniku, seolah menjelma menjadi heroin pribadiku

Membuat aku sepi akan keramaian,

Membuat aku sakau akan kesendirian.

Aku dan ledakan amarahku,

Amarahku meledakkanku.

Membuat aku remuk dalam segenap keutuhan ragaku.

Aku ingin berteriak, tetapi teriakkanku ditelan oleh derasnya pilu.

Entah kapan gerimis ini berhenti . .

Entah kapan Malam ini berlalu . .

Entah kapan sepi ini kalah . .

**

Kembali aku menutup buku harian biru-muda ku, setelah aku puas mengotorinya dengan masalahku. Beberapa waktu belakangan ini, aku menjadikannya sebagai pengganti sepasang telinga untuk mendengar keluhku yang tak terucap. Buku harian biru-muda yang kudapat dari ayah setahun lalu di hari ulang tahunku yang ke- tujuh belas.

Dulu, aku adalah gadis kecil yang manis, yang suka membuat orang-orang disekitarku tertawa. Gadis kecil yang selalu diperebutkan oleh orang-orang untuk diajak bermain berkeliling taman yang penuh dengan bunga-bunga indah dan hamparan rumput-rumput yang bergoyang jenaka karena digoda oleh angin. Aku dulu-nya adalah gadis kecil yang manis yang sangat suka bernyanyi, bernyanyi apa saja asal hatiku gembira. Aku juga pandai menari. Tak jarang aku membuat orang-orang bahagia melihat aksiku yang bernyayi sambil menari, membuat rambutku yang panjang tergurai indah mengikuti irama langkahku menari. Aku bukanlah gadis kecil yang cengeng. Aku tidak pernah menangis kalau permenku direbut oleh anak lain. Aku senang berbagi dengan siapapun, aku senang bermain dengan siapapun, dan aku senang membuat siapapun tertawa. Begitulah aku dulu, sebelum aku beranjak menjadi Poppy remaja. Ya, Poppy adalah nama yang kudapat dari ayahku. Kata ayah, ibu meninggal dunia ketika melahirkan aku, maka dari itu ayah memberiku nama yang sama dengan nama ibuku, Poppy.

Suatu ketika aku mulai kehilangan diriku sendiri. Aku mulai tak mengenal siapa aku. Aku mulai kehilangan riangku, aku tidak lagi lincah seperti dulu, aku tidak lagi bernyanyi dan menari memamerkan rambut indahku yang se-irama dengan kaki-kaki mungilku. Bahkan, orang-orang yang dulu gemar mengajakku bermain-pun telah pergi, mereka pergi untuk berburu mencari gadis-gadis kecil lain yang manis, lucu dan suka bernyayi. Aku tidak marah kepada mereka. Aku bahkan mulai tak peduli kepada mereka yang meninggalkanku. Aku juga tidak cemburu kepada gadis-gadis kecil baru yang mereka temukan untuk diajak bermain di taman-taman penuh bunga dan rumput-rumput jenaka. Aku juga tidak peduli lagi ketika aku tidak lagi bisa membuat orang-orang disekitarku tertawa seperti ketika aku masih menjadi gadis kecil yang mereka harapkan. Namun, tak jarang sesekali aku ingin bernyanyi, hanya bernyayi tanpa tarian, hanya bernyanyi sekedar untuk menemani diriku sendiri agar tak terlalu sepi. Tapi, entah kenapa aku seperti lupa bagaimana cara-ku dulu bernyayi, aku benar-benar lupa.

Keseharianku hanya menemani ruang kosong kamarku. Aku tak lagi mengenal sekelilingku. Hanya beberapa tumpukan buku yang sering menemaniku. Setiap malam aku selalu membaca satu buah cerpen untuk mengantarku tidur.  Hanya satu cerpen setiap malamnya, karena aku tidak ingin kehabisan cerpen untuk kubaca. 

**

Saat aku menatap keluar jendela mungil di kamarku, bisa kulihat bentangan-bentangan tanah lapang bekas sawah padi yang baru usai di panen. Tanah-tanah botak itu terlihat begitu lembab, begitu sejuk, membuat aku begitu ingin tahu bagaimana rasanya ketika telapak kakiku menari-nari di atasnya. Namun, seketika itu lamunanku tentang tarian di atas tanah lembab itu terusik dengan suara ketukan pintu. Aku melihat jam dinding di kamarku, pukul 1.00 siang. Aku melihat keluar lagi, langit sedang ber-awan, terang saja siang terasa sejuk. Lalu ketukan pintu itu kembali berbunyi, mengusik pertanyaan yang baru saja kujawab sendiri.

“ Non, sudah jamnya makan siang “ Sapa seorang wanita tua yang sudah aku kenali. 

Seperti biasa, tanpa harus aku persilahkan masuk, wanita tua itu akan masuk dengan sendirinya. Wanita tua yang beberapa waktu belakangan ini menemani kesepianku. Sepertinya dia dibayar cukup mahal oleh ayahku yang sepertinya terlalu sibuk mencari dunia-dunia baru untuk di-jajahnya demi menambah pundi-pundi rupiahnya.

“ Letakkan saja di meja bi, nanti kalau lapar aku makan “ Jawabku kepada wanita tua yang akrab kupanggil dengan sebutan Bibi.

“ Non , Non Poppy jangan murung terus, bibi jadi ikut sedih melihatnya “ Balasnya sambil mengelus-elus punggungku. Tak kuperdulikan omongannya. Mataku tetap lurus ke-arah luar jendela, memandangi alam raya yang sepertinya terlalu luas untuk sekedar dipandangi.

“ Non Poppy, bibi suapin ya, biar selesai makan bisa minum obat, harus teratur loh minum obatnya “

“ Aku bosan minum obat bi. Obatnya terlalu banyak dan ukurannya besar-besar sekali, tenggorokkanku sering sakit setiap kali menelannya “

“ Aduh non Poppy, jangan ngomong seperti itu “

“ Sudahlah bi. Tidak perlu cemas begitu. Aku memang sudah didesain Tuhan seperti ini, jadi tidak ada yang perlu diubah “ 

Mendengar perkataanku tadi, bibi hanya menunduk. Seperti tidak menemukan kesalahan dari kalimat yang baru saja ku ucapkan. 

Sementara itu, kunikmati  kediaman yang tercipta diantara kami sambil memandang keluar, ke alam raya tempat dimana tanah-tanah lembab begitu menggoda untuk dipijak. Aku melihat anak-anak mulai menghiasi tanah lapang itu. Mulai berteriak-teriak girang bercampur gelegak tawa sambil menaikkan layang-layangnya. Membuatku iri. Aku iri karena dulu aku juga seperi mereka, berteriak-teriak girang bercampur dengan gelegak tawa, sambil berlari-lari melawan angin untuk menerbangkan layang-layangku.

Kediaman masih terjalin saat itu, dan aku masih menikmatinya. Saat angin mulai bertiup, tiupan-nya begitu landai seperti garis pantai yang memisahkan daratan dengan lautan lepas, tempat dimana segala jenis kebebasan mengapung diatasnya. Semakin lama kurasakan, semakin mendung raut wajahku kala itu.

Angin menerpa wajahku, membuat gorden-gorden jendela kamarku bergerak melawan tiupannya, membuat rumput-rumput bergoyang manja, membuat layang-layang semakin mudah untuk terbang, angin juga mengacak-acak rambut bibi-ku yang sudah mulai memutih sempurna karena dimakan oleh kekuatan sebuah masa. Tapi tidak dengan rambutku, rambutku tidak bergerak sedikitpun, tidak sedikitpun. Aku memegang erat kepalaku dengan kedua tanganku, terasa begitu nyata kulit kepala di telapak tanganku, membuat air mataku kembali menetes, lagi, lagi, dan lagi.

Aku perempuan yang tidak berambut. Aku perempuan yang harus kehilangan mahkota indahku karena sebuah nasib yang sesungguhnya tidak pernah aku inginkan sebelumnya. Aku adalah Poppy, gadis remaja tanpa rambut.

Kurasakan tangan tua bibi mengelus ramah punggungku. Aku paham betul dia ingin menghiburku, tapi aku juga mengerti, kalau dia sendiri juga bingung harus melakukan apa untuk menghiburku.

“ Non . . “ Katanya memecah keheningan yang sempat terjadi diantara kami.

“ Tidak apa bi, aku sudah berlapang-dada menerima semua ini “ Potongku berusaha tegar.

Seketika wanita tua itu memelukku begitu erat. Aku membalas pelukannya, entah sejak kapan aku mulai mencintai wanita tua ini, wanita tua yang dibayar oleh ayahku untuk menjagaku setiap hari, seperti seorang ibu yang menjaga anakknya.

“ Non Poppy harus kuat ya  . . “

Ku seka air mata yang mulai membanjiri wajah tua-nya, ku tatap mata-nya lekat-lekat, tak kutemui sedikitpun keraguan dalam pandangnya, wanita tua ini benar-benar jujur dalam katanya. Aku mengetahuinya dengan pasti, kalau mata tidak pernah bisa berbohong.

“ Bibi, aku sudah bisa menerima semua ini, aku sudah belajar menikmati setiap rasa sakit yang datang tiba-tiba, aku juga juga sudah siap kalau-kalau harus menjalani chemotherapy lagi. Aku hanya bercanda kok tentang tenggorokanku yang sakit karena menelan obat-obat itu, bibi tenang saja ya. Hanya saja, kalau boleh, aku ingin bibi jangan pergi,  hidupku sudah sampai disini bi, aku tidak akan bergaul dengan mereka yang disana, aku tidak akan dikejar-kejar pria karena aku botak, apalagi menikah. Lagi pula, aku tidak mau memulai sesuatu yang tidak bisa aku akhiri. Sejauh ini, aku hanya butuh teman ngobrol bi, aku hanya butuh sepasang telinga untuk mendengar keluhku, aku mau bibi selalu disini “

“Ia Non Poppy, bibi janji, bibi akan selalu disini menemani non Poppy “ Jawabnya mulai ter-isak.

“ Oh iya bi, suatu saat nanti, sebelum semua ini berakhir, aku ingin sesuatu bi “

“ Apa itu non? “

“ Aku ingin berlari-lari dilapangan itu bi, itu saja “

Mendengar permintaanku itu, bibi langsung memelukku semakin erat, kaos oblongku seketika basah karena air matanya. Segala jenis doa dia ucapkan saat itu, segala jenis penghiburan dia katakan saat itu, dan segala jenis perumpamaan dia hadirkan saat itu juga. Aku hanya menatap lurus keluar jendela kamarku, menikmati angin yang menerpa wajahku, menerpa rambut tua bibi yang memutih, aku semakin siap dengan segala yang akan tiba.

**

Sejak saat itu, aku berusaha menjalani hidupku yang tersisa. Aku Poppy, perempuan remaja dengan kanker otak. Aku tidak marah dengan sesuatu yang tinggal didalamku yang semakin lama semakin menggerogotiku. Aku tidak menyalahkan kanker, aku juga tidak menganggapnya sebagai musuh. Karena aku percaya, kanker sama kesepiannya denganku. Ketika Tuhan menggariskan aku dan kanker untuk menjadi satu, maka aku tidak akan mengeluh karenanya, tapi bukan berarti aku menyerah, aku tetap akan berusaha tertawa kembali sampai kanker menghabisiku. Sampai suatu hari nanti, sampai sepi pudar, sampai gerimis berhenti, sampai malam berlalu, aku akan tetap berusaha tersenyum, setidaknya untuk menghibur bibiku yang mulai menggoreskan arti dalam catatanku. Karena semua ini bukan tentang bagaimana ujungnya, tetapi tentang bagaimana kita menjalani ujung tersebut.

Selesai. Cerpen : Poppy Namaku

@DollyIshak

Foto: Ketika masih putih abu-abu

*Untuk kalian, saudara-saudaraku dengan pita kanker masing-masing, dimanapun kalian berada.
Tuhan beserta kalian, senantiasa.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *