Cerita Fiksi : Purnama Merah

  • Whatsapp

Cerita Fiksi Purnama Merah dibuat untuk Anda penggemar Cerpen Cerita Fiksi Purnama Merah hasil karya Anak Medan Dolly Ishak.

Tuhan..

Read More

Lagi-lagi kau datangkan malam

Kesempurnaan-Mu adalah malam

Kuasa-Mu adalah malam

Tetapi malam menguasaiku

Membuatku selalu berharap agar pagi datang terlambat

Terima kasih Tuhan, karena Kau menciptakan malam.

**

Hari hampir gelap saat itu. Ayam-ayam mulai kehilangan pandangannya, desir angin mulai bertiup beku menggambarkan kegelapan yang sebentar lagi akan hadir menghiasi sebuah perkampungan kecil di pinggiran kota. Di sebuah tempat dimana segala sesuatunya begitu lumrah untuk diperjuangkan, selama itu berbuahkan rupiah.

“ Dasar tidak berguna!  , jangan kira aku gak capek ngurusin kau ya! , kau jaga rumah ini baik-baik! , jangan keluyuran aja! , nanti kalau kau hilang, aku juga yang repot, ngerti ?! “  

Suara deras Lena saat itu nyaris membuat anak laki-laki di depannya mati ketakutan. Lena merupakan seorang janda muda yang terkenal di kampungnya. Konon kabarnya, dia berasal dari kota yang cukup jauh, perkara diusir oleh kedua orang tuanya karena hamil, dan tidak tahu pasti siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Sudah cukup lama Lena menetap di perkampungan kumuh ini, semenjak perut datarnya yang mulai membengkak, hingga kini anak tak berdosa yang disebut-sebutnya sebagai anak haram itu lahir, dan tumbuh sebagaimana mestinya, walau tak selalu sempurna.

Gabriel hanya terdiam memeluk boneka beruangnya yang terlihat sangat using itu. Boneka beruang yang selalu disapanya akrab dengan panggilan ‘Ber’ itu merupakan teman satu-satunya yang selalu menjadi temannya untuk bicara melewati kesepiannya. Gabriel merupakan seorang penderita autis. Tidak banyak yang ingin berteman dengannya, tapi setidaknya, Ber, boneka beruang usang-nya itu, tidak pernah meninggalkannya, atau lebih tepatnya, Gabriel-lah tidak pernah meninggalkannya.

Lena sedang merias wajahnya saat itu. Malam segera tiba, pekerjaannya menanti disana, ditempat para bedebah-bedebah berhidung belang bisa dengan bebas membodohinya dengan rupiah-rupiahnya. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Lena, dia hanya perlu memejamkan mata, serta pura-pura mendesah ketika para tua-tua itu bergerilya menjelajahi setiap jengkal indah pada tubuhnya.

“ Ma..mama..ma..mau per..pergi la..lagi ya? “ Tanya Gabriel dengan nada yang terbata-bata.

“ Bukan urusan kamu “ Jawab Lena ketus setelah sempat berhenti merias wajahnya karena pertanyaan Gabriel, putranya.

“ Ma..mama disini aja ya, te..temenin Gabriel bo..bobok, so..soalnya, Gabriel se..sering takut ka..kalau bobok sendiri.. “

Kembali Lena berhenti merias wajahnya, belum pernah sebelumnya putranya itu meminta sesuatu kepadanya

“ Alah, kamu ini kok manja sekali? Mama itu mau kerja cari uang untuk mengisi perutmu itu “

“ Gak ada u..uang juga gak apa-apa kok ma.. ga ma..makan juga gak apa-apa kok, yang penting, ma..mama temenin Gabriel bo..bobok “

Lena terdiam sejenak memandangi wajah autis anaknya itu, matanya, melihat mata putranya, Lena tidak sedikitpun menemukan kebohongan dalam diri Gabriel

“ Kamu tidur saja duluan, besok mama belikan mainan baru “ Jawab Lena seraya beranjak mengambil tasnya, kemudian pergi berlalu meninggalkan Gabriel sendiri di rumah, seperti biasa, disetiap malamnya.

Gabriel hanya diam menatapi ibunya yang kembali pergi meninggalkannya seorang diri di rumah mengarungi malam, dia hanya melihat punggung ibunya yang semakin lama semakin tak tampak.

“ Ga..Gabriel, sayang ma..mama “ Ucapnya kemudian, setelah Lena sudah terlalu jauh untuk mendengar ucapannya itu. Kemudian dia segera kembali ke dunianya, berdua bersama sahabatnya, Ber.

**

Malam itu terasa begitu berbeda bagi Lena. Dia tidak lagi merayu setiap mereka yang lewat. Bahkan beberapa diantara langganannya dia tolak dengan alasan sakit. Dia hanya duduk disebuah bangku taman kota yang dihiasi cahaya redup lampu taman yang seperti semakin enggan untuk benderang. Dia terus menegak alkohol ditangannya, berharap bisa sedikit membius kegelisahan dalam dirinya. Fikirannya terlalu jauh menerawang entah kemana. Perkataan Gabriel tadi seperti tidak berhenti bergema di kepalanya, segala jenis keresahan berkecamuk di dadanya. Dia menegadah ke atas, didapatinya langit sedang polos saat itu, tidak ada bintang, hanya purnama yang sedang memerah malam itu. 

“ Are you okay? “ Sapa Bella seketika membuyarkan kediaman Lena malam itu. Dia tidak menjawab, hanya kembali menegak botol minumannya.

“ Hey, what’s wrong with you? “ Sambung Bella yang mendapati kediaman Lena. “ Apa kau tak jualan malam ini? “ Sambung Bella yang merupakan teman se-profesi Lena.

Lena tidak sedikitpun mengeluarkan kata, dia hanya diam dan terus menerus menegak alkohol yang ada di tangannya.

“ Kalau kau fikir alkohol itu lebih berguna dari telinga dan pundakku, kau boleh menghabiskannya “ Celetuk Bella seperti menantang kediaman Lena.

“ Aku hanya bingung “ Jawab Lena seketika mulai bersuara.

“ What makes you confused baby? “ Tanya Bella heran.

“ Pernahkah terlintas dalam fikiranmu tentang semua ini? “

“ Tentang semua ini? “ Tanya Bella semakin heran tentang kemana arah tujuan pembicaraan ini.

“ Tentang sampai kapan kita hidup seperti ini “ Jawab Lena tegas.

Bella hanya tersenyum sejenak setelah akhirnya mengetahui dengan pasti kemana rah pembicaraan itu.

“ Kau tidak perlu memikirkan tentang kapan semua ini berakhir Lena “ Jawab Bella ringan.

Mendengar jawaban Bella, Emosi Lena seketika terpancing. Seolah seperti bom waktu yang sudah menumpuk terlalu lama dan seketika meledak.

“ Kita memang sama-sama pelacur ! kita memang sama-sama bekerja demi uang ! kita memang sama-sama manusia yang kotor di mata Tuhan ! , tetapi bukan berarti kita menghadapi satu persoalan hidup yang sama ! I have a son ! do you understand me ?! I have a son ! “ Bentak Lena yang terlanjur terbakar oleh kegelisahannya.

“ Kita tidak perlu memikirkan kapan semua ini berakhir Lena, Percayalah, kau akan menemukan sendiri nantinya. Karena, guru terbaik adalah pribadimu sendiri, walau siapapun kau, apapun agamamu, dan apapun pekerjaanmu. Percayalah, tidak ada manusia yang jahat sepenuhnya, begitu pula sebaliknya. Sebab, semua ini bukan tentang bagaimana ujungnya, tetapi tentang bagaimana kita menjalani ujung tersebut “  Balas Bella sembari mengambil alkohol di tangan Lena, meneguknya, lalu mengembalikannya kepada Lena, kemudian pergi berlalu, meninggalkan Lena dengan sejuta pertanyaan yang menerpa dirinya.

Lena hendak menegak lagi alkohol di tangannya, namun alkohol itu telah mengering, mengering tanpa bisa membius kegelisahan yang ingin dimusnahkannya malam itu. Dia mulai meracau, seperti berbicara kepada entah siapa yang ada di dalam dirinya.

“ Hahahaha . . Uang memang selalu bisa membeli kebahagiaan.

Aku melacur untuk dapat uang , tapi kenapa aku tak bahagia ?

Hahahahaha . .

Hahahahahahaha..hahahahahaa..hahahaha…ARRRRRGGGHHHKKKK !!!!

AKU BAHAGIA !!!!! AKU BAHAGIA !!! AKU BAHAGIAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!

HAHAHAHAHA…. Hah..ha..ha…

Aku bahagia..aku tidak bahagia..aku bahagia..aku tidak bahagia..

Aku bahagia..aku tidak bahagia..aku bahagia..aku tidak bahagia..

Aku bahagia..aku tidak bahagia..aku bahagia..aku tidak bahagia..

Aku bahagia..aku tidak bahagia..aku bahagia..aku tidak bahagia..

Aku bahagia..aku tidak bahagia..aku bahagia..aku tidak bahagia..

ARRRRRRRRGGGGGGGGGGGHHHHKKKK !!!

Semua akan baik-baik saja

Tidaaaaakk!!! Semua tidak akan baik-baik saja

Aku berdosa . . Tuhan akan menghukum ku  . .

Tidaaak !! Tuhan yang membuatku begini, Tuhan tidak menolongku

Dari perzinahan itu, iya Tuhan memang menginginkan ini ..

Ha..ha..ha..ha..ha..

Tapi kenapa Tuhan ingin aku jadi pelacur ? kenapa? . .

Kenapa ?? kha..kha..ha..ha..ha..

ARRRRGGGHHHKKKKK !!!!

Kenapa tak kau bunuh saja aku Tuhan ???!!! hahahahaha !!

Enggak ! enggak, aku harus tetap hidup. .

Aku gak boleh mati  . . 

Gabbie . . aku harus bertahan hidup untuk Gabbie . .

Pergi . . . pergi . . . “

Lena terduduk lesu setelah teriakan-teriakan itu, dia bertarung terlalu jauh kepada dirinya yang satu lagi, dirinya yang selama ini mengekangnya dalam kebencian, dendam, dan kemarahan kepada Tuhannya.

“ Minumlah “ Suara seorang pria seketika membuat lena terperanjat karena terkejut.

“  Jangan pernah kau ragu kepada Tuhan, ataupun meragukan apa yang Tuhan berikan kepadamu, meskipun hanya sebuah keyankinan  “ Sambung pria itu dengan tatapan lurus kedepan.

Dengan ragu, Lena menerima botol minuman yang berisi air mineral itu. Dicermatinya pria itu lekat-lekat, analisisnya berhenti ketika mendapati pria itu membawa sebuah tongkat.

“  Maaf apa anda buta? “ Tanya Lena ragu.

“ Ya, aku buta sejak lahir “ Jawab pria buta itu tanpa rasa tersinggung sedikitpun.

“  Lalu bagaimana kau tahu kalau aku sedang gelisah? “ Tanya Lena menyelidik.

“  Hahaha.. Aku ini buta, bukan tuli. Kau dari tadi berteriak-teriak memecah kesunyian malam  “

“  Ma..maaf  “ Balas Lena penuh rasa bersalah.

“  Tak perlu meminta maaf, terkadang malam memang perlu dibarengi dengan teriakan-teriakan agar bulan tidak kesepian  “

“  Apa kau kesepian?  “ Tanya Lena lagi.

“  Kau bercanda? Kau –lah yang kesepian ditengah keramaian hidupmu. Kau terlalu sibuk mencari sesuatu yang sesungguhnya akan datang dengan sendirinya kepadamu. Ikuti kata hatimu nona, dia ingin membicarakan sesuatu kepadamu. Bertemanlah dengan dirimu sendiri, seperti aku yang berteman denga gelap seumur hidupku. Malam dan gelap mengajari aku untuk jujur dalam menggoreskan warna. Pulanglah segera, sebentar lagi fajar akan segera tiba. Barangkali, seseorang sedang menunggumu disana  “

“ Terima kasih tuan “ jawab Lena yang kemudian hanya disambut dengan anggukan kecil dari seorang pria buta yang ada di hadapannya.

Lena mempercepat langkah mungilnya agar sesegera mungkin tiba di rumahnya. Dalam fikirannya hanya ada satu nama, Gabriel. Dia benar-benar ingin memperbaiki segalanya, segalanya yang bisa dia perbaiki.

**

Sementara itu di rumah, Gabriel kecil masih terjaga untuk menunggu kepulangan ibunya. Dengan berbaring di sebelah Ber, boneka beruangnya, Gabriel berceloteh tentang apa saja yang ada di fikirannya.

“  Ber.. Ka..kamu udah ngantuk ya? , ya..yaudah ka..kamu bobok a..aja duluan, Gabriel ma..mau nungguin ma..mama dulu “ Kata Gabriel berbicara kepada bonekanya, seolah bonekanya benar-benar mengerti apa yang dia katakan.

“  Ber.. kira-kira, ma..mama.. sayang gak ya sa..sama Gabriel? “ Celetuk Gabriel kemudian, sebelum mata kecilnya mulai menutup nyenyak mengalahkan ambisinya untuk tetap terjaga menunggu kepulangan ibunya.

**

Lena baru saja sampai ketika pagi nyaris sempurna menerangi langit. Dengan perlahan dia membuka pintu dan melihat putranya Gabriel sedang tertidur pulas di ruangan tamu rumah mereka yang kecil. Dilihatnya putranya memeluk erat boneka beruangnya, seketika dia terduduk di ambang pintu rumahnya, mendadak air matanya mengucur deras sederas derasnya.

“  Tuhan . .

Kenapa begitu panjang permainan percobaan yang kau Mainkan dalam kehidupanku ?

Mengapa kau hadirkan kan dia untuk ikut menanggung Kesalahan yang ku perbuat ?

Jangan biarkan dia ikut merasakannya Tuhan..

Jangan..

Apa kau tak melihatnya Tuhan ?

Dia tidak punya teman, Dia bicara kepada boneka beruangnya Setiap hari.

Dia tidak akan sekolah

Dia tidak akan membohongi orang tuanya

Dia tidak akan membohongi gurunya

Dia tidak akan mengerjakan PR

Dia tidak akan mencium seorang gadis , Apalagi menikah !

Dia akan kehilangan semuanya,

Dia tidak akan menikmati kenakalan anak seusianya

Dia tidak akan mengenal dosa seperti manusia pada Umumnya !!

….

Apa kau tak melihatnya Tuhan ?

Dia begitu kesepian.

Dia termangu setiap hari,

Dia tidak bisa melawan atas nasib yang dimilikinya, 

Karena dia tidak pernah punya kesempatan untuk memilih Nasib !

Apa kau tak mendengar tawanya yang begitu lepas?

Apa kau tak mendengar tangisnya yang begitu nyata ?

Kudengar dari mereka kau menyembuhkan segala penyakit

Bahkan kudengar dari mereka kau menghidupkan orang mati!

Lalu kenapa kau begitu angkuh untuk menyembuhkan Autisnya ?!

Listen to me God !! Listen ! Listen .. Please.. “

Lena menangis sejadi-jadinya kepada Tuhannya, segala rasa bersalah, marah, kecewa bahkan permohonan ampun terucap dari bibirnya yang mulai meragu.

“  Ma..mama ke..kenapa nangis?  “  Tanya Gabriel tiba-tiba yang terbangun karena mendengar tangis isak ibunya.

Lena yang mengetahui hal itu sesegera mungkin menyeka air matanya.

“  Mama tidak menangis Gabriel, mama Cuma lagi sakit  “ Jawab Lena bohong kepada putranya.

“ Tuh kan, gara-gara ma..mau ngasi ma..makan Gabriel, ma..mama jadi sakit, Gabriel gak mau makan lagi ka..kalau mama sakit “  Kata Gabriel penuh rasa bersalah.

“ Tidak Gabriel, bukan gara-gara Gabriel kok “ Jawab Lena mencoba menenangkan Gabriel, tanpa memperdulikan perasaannya yang sedang kacau.

“ Ga..Gabriel sedih, ka..kalau liat ma..mama nangis “ 

“ Iya Gabriel, mama janji tidak akan nangis lagi “ Kata Lena sambil memeluk erat putranya, agar putranya tidak dapat melihat air matanya yang semakin lama semakin deras saja untuk keluar.

“ Ma..mama jangan pergi-pergi lagi ya .. “ Pinta Gabriel dalam pelukan ibunya,

“ Iya Gabriel, mama janji “ 

“ Ma..mama . . “

“ Iya Gabriel? “

“ Ga..Gabriel ngantuk . . “ Rengek Gabriel seketika.

“ Sini nak, tidur di pangkuan ibu mama saja “ Kata Lena sambil membaringkan kepala Gabriel di pangkuannya.

Saat itu adalah kali pertama dia menemani pria lain tidur, bukan untuk rupiah, tetapi untuk sekedar mengelus-elus kepala putranya, sambil bercerita tentanf dongeng kancil yang mencuri ketimun. Dia tidak lagi gelisah tentang hidupnya. Sebisa mungkin dia menjalani apa yang tersaji di hadapannya, apa yang disedikana Tuhan kepadanya. Hari demi hari Lena terus menjadi pendengar yang baik bagi putranya, tak jarang dia ikut terjun dalam dunia pribadinya, dunia dimana boneka beruangnya hidup dan bisa berbicara. Lena tidak lagi menjajahkan tubuhnya kepada pria-pria itu. Kemiskinan tetap melanda perekonomiannya kala itu, namun kekayaan baru saja ditemuinya, bahwa keluarga, adalah harta yang sebenar-benarnya.

@dollyishak

Selesai, Cerita Fiksi : Purnama Merah

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *