Cerita Fiksi Cinta : Time & Distance

  • Whatsapp

Cerita Fiksi Cinta : Time & Distance dibuat untuk Anda penggemar Cerpen Cerita Cinta hasil karya Anak Medan Dolly Ishak.

Read More

Time & Distance

Gelap hampir merenggut sepenuhnya pandangan Daniel saat itu. Suara detik jam terasa begitu jelas terdengar di telinganya. Tidak ada lagi suara yang beraktifitas selain detik jam yang seperti tidak ingin kompromi di ruangan itu. Daniel masih berusaha meraih sadarnya yang masih terlalu samar-samar. Tubuhnya terasa begitu lemah, bahkan terlalu lemah untuk membuka kelopak matanya yang sudah terpejam hampir enam belas jam.

Sapuan halus di keningnya segera menyampaikan dia pada kesadaran. Masih samar, namun dia tahu persis keberadaan orang yang berdiri di sisinya yang sedang terbaring lemah.

“ Kamu sudah siuman? “ Sapa pria tua itu memecah kegelapan yang sedari tadi sangat ingin dikalahkannya.

“ Sudah berapa lama saya terbaring? “ Tanya Daniel setelah mengetahui dengan pasti relief wajah orang yang sedang berdiri di sebelahnya.

“ Kurang lebih enam belas jam, kondisi kamu sempat menurun drastis ketika harus mengeluarkan banyak darah “ Jawab pria tua itu menenangkan.

“ Aku harus segera pulang, seseorang sedang menunggu “ Ungkap Daniel yang nyaris roboh ketika berusaha untuk bangkit dari tempatnya berbaring.

“ Beristirahatlah sesaat lagi, kondisimu masih terlalu lemah, tidak perlu memaksakan diri. Sesuai perjanjian kita, semua biaya operasi hingga pasca operasi ditanggung oleh pihak kami. Uang yang kamu butuhkan sudah kami transfer ke rekening yang kamu ajukan. “ Sanggah pria tua itu yang berusaha menahan kepergian Daniel.

Pria tua itu adalah seorang yang kaya raya yang sebenarnya baru seminggu terakhir ini bertemu dengan Daniel melalui dunia internet. Postingan Daniel tentang niatnya menjual ginjalnya mendapat respon positif dari pria tua tersebut. Meski telah ditanya berulang kali oleh pria tua tersebut tentang alasan dia ingin menjual ginjalnya, Daniel tak pernah mengatakan alasannya.

“ Operasinya berjalan dengan sangat baik “ Kata pria tua itu sambil duduk dan mengupas sebuah apel kemudian menyuapkannya kepada Daniel.

“ Bagaimana dengan kondisi putra bapak? “ Tanya Daniel setelah menelan habis potongan apel kecil itu dengan kerja keras.

“ Keadaannya cukup baik, dia sangat berterima kasih kepada kamu, karena telah menyelamatkan hidupnya “

“ Dia tidak seharusnya berterima kasih kepada saya, karena saya disini bukan sebagai pendonor, tetapi penjual, saya hanya butuh uang itu, tidak lebih, dan tidak perlu dilebih-lebihkan “

“ Ha..ha..ha.. Ya, tapi tidak ada salahnya juga kan kalau kami berterima kasih? Kamu harus banyak istirahat, untuk menunda kerusakan ginjalmu yang satu lagi. Agar tidak terlalu cepat masuk ke fase cuci darah “ Saran pria tua itu dengan nada yang tidak jelas antara saran atau sebuah perintah.

“ Sore ini saya akan keluar dari rumah sakit, seseorang sedang menunggu saya disana “

“ Boleh saya tau siapa seseorang itu, dan apa alasan kamu menjual ginjal kamu? “ Tanya pria tua itu mencoba menyelidik alasan pemuda itu yang barangkali untuk terakhir kalinya.

Daniel hanya diam menanggapi pertanyaan itu. Bagi dia, hubungannya dengan keluarga kaya raya itu akan segera berakhir. Ini hanya bisnis, kalimat itu terus diucapkannya dalam hati untuk sebisa mungkin tetap menjaga tembok kaca yang sedari awal dibangunnya dari hari pertama dia bertemu dengan keluarga ini.

“ Ya sudah kalau kamu masih belum ingin menjawabnya. Segala administrasi sudah saya selesaikan, uang yang kamu butuhkan sudah saya kirim, sengaja saya lebihkan sedikit untu biaya obat kamu setelah meninggalkan rumah sakit ini “

Kemudian pria tua itu mengenakan kembali jas-nya kemudian menuju pintu keluar,

“ Saya melakukannya untuk membeli kembali dunia saya “ Tiba-tiba Daniel bersuara, membuat langkah pria tua itu berhenti sejenak. Pria itu hanya tersenyum ke arah Daniel, kemudian meneruskan langkahnya keluar ruangan itu.

Daniel menatap dalam langit-langit ruangan itu, putih, kemudian dia menjelajahkan matanya keseluruh ruangan, matanya tertuju pada sebuah keranjang penuh buah, dalam hatinya dia bertanya, apakah aku harus memakan buah yang dimakan oleh Hawa dan Adam untuk mengetahui benar atau salahnya yang aku lakukan ini?

**

Hari itu adalah hari keberuntungan bagi Reva, bunga-bunga sedang mekar di taman kota kesayangannya. Taman yang kerap kali digunakannya sebagai tempatnya diam dan menenggelamkan dirinya dalam novel-novel konspirasi kegemarannya. Taman itu pula-lah yang mengenalkannya pada sosok Daniel. Seorang maniak buku yang memiliki sedikit persamaan dengan Reva. Bagi Reva, Daniel adalah sosok Daniel yang tergila-gila dengan alien itu merupakan konspirasi yang nyata dalam hidupnya. Tak jarang Reva sengaja mematahkan teori-teori ke-alienan yang diutarakan oleh Daniel, sekedar untuk mendapatkan kesenangannya ber-adu argumentasi dengan pria yang sudah dipacarainya selama Tujuh tahun belakangan ini.

Tidak seperti biasanya, hari itu Reva pergi ke taman itu tanpa membawa novelnya. Dia hanya duduk di bangku taman kegemarannya sambil menatap jauh kearah layang-layang yang sedang terbang tenang seperti sudah bersahabat begitu lama dengan angin. Layang-layang itu berwarna biru, sewarna dengan warna baju bocah yang mengendalikannya dengan benang, seperti sedang menentukan nasib layang-layang itu akankah berumur panjang untuk petualangan berikutnya, atau berakhir kepada angin yang mengkhianatinya.

“ Apa aku terlambat? “ Suara Tanya Daniel memecah keasikan Reva sore itu.

“ Sebenarnya iya, tapi kau diselamatkan oleh layang-layang itu “ Jawab Reva kembali menatap layang-layang biru itu, tergores sedikit senyum di bibir tipisnya.

Daniel segera duduk di sebelah Reva yang masih terlalu asik memperhatikan layang-layang biru itu, dia juga memandang layang-layang biru itu, berdua mereka duduk menikmati layang-layang biru itu, tanpa komunikasi, hanya suara deru angin dan tawa bocah-bocah kecil yang riang. Bahagia begitu sederhana bagi mereka, cukup hanya duduk bersama menikmati layang-layang biru di langit biru, setidaknya begitu selama lima menit mereka menyatukan pandangan.

“ Tetaplah disini “ Ujar Daniel memecah kebuntuan mereka tanpa menoleh ke arah Reva.

“ Seandainya aku bisa “ Jawab Reva tegas.

“ Aku memohon dengan sangat “

“ Kau tahu benar tentang semua ini, ini tidak akan lama, dua tahun, aku berjanji “ Balas Reva yang kini mengalihkan pandangannya ke arah Daniel.

“ Kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi dalam satu menit ke depan, terlebih dua tahun. Itu jelas bukanlah waktu yang singkat “ Sanggah Daniel dengan membalas tatapan mata Reva.

Reva membuang wajahnya kembali ke layang-layang biru itu kemudian diam. Reva tau benar ini tidak mudah, bukan hanya bagi Daniel, melainkan juga pada dirinya. Namun, tak bisa dipungkiri kalau dia benar-benar membutuhkan beasiswa itu. Empat tahun belakangan ini dia sudah terlalu sibuk mengejar nilai di kampusnya demi mendapat beasiswa S2 di Amerika. Tentu bukan perihal mudah bagi Reva untu membiarkannya terbuang begitu saja.

“ Aku tidak punya pilihan “ Jawab Reva kemudian

“ Aku bersedia membiayai S2-mu di Medan “ 

“ Jangan memaksakan diri, lagi pula itu bukan jalan yang baik “ Kata Reva tegas, kemudian segera beranjak pergi, meninggalkan Daniel dalam kediamannya. 

Sia-sia sudah yang dilakukannya. Meski sudah melakukan hal yang membuatnya begitu dekat dengan kematian, dia masih juga belum melakukan hal yang berguna. Saat itu dia benar-benar ingin memakan buah yang sama dengan yang dimakan Hawa dan Adam, bukan untuk menjadi Maha seperti Tuhan, tapi hanya sekedar ingin tahu kebenaran dari setiap hal yang telah dia korbankan, untuk sesuatu yang dia beri nama, rasa.

**

Malam itu adalah malam terakhir Reva di Medan. Dia hanya duduk menghadap jendela kamarnya, tak ada lagi yang harus dia lakukan, semangatnya yang berapi-api membuat segala urusan keberangkatannya selesai lebih awal. Tidak ada bulan saat itu, awan menyembunyikannya dibalik gumpalan-gumpalan hitamnya, hujan.

Sementara itu, Daniel masih duduk di taman itu. Kaki seperti terpaku hingga tak bisa digerakkan. Hingga sebuah dering ponsel menggangu aktifitas diamnya.

“ Ada hal yang harus aku jelaskan “ Bunyi seorang perempuan dari seberang sana begitu tombol terima ditekan.

“ Kau tak tahu apa yang sudah kuperjuangkan agar bisa menahanmu disini, menahan duniaku “ Jawab Daniel lirih

“ Semua akan baik-baik saja, aku pasti akan kembali “ Bujuk Reva coba menenangkan suasana

“ Kau hanya boleh berangkat kesana kalau kau sudah menyerahkan keperawananmu “ Kata Daniel terdengar seperti ultimatum bagi Reva

“ Aku akan menyerahkannya, tapi nanti, setelah kita menikah “

“ Kalau begitu, kau boleh pergi setelah kita menikah “ Tegas Daniel

“ Jangan seperti anak kecil “

“ kenapa? Apa selama tujuh tahun aku pernah meminta sesuatu padamu? “

“ Bukan begitu, aku hanya ingin melakukannya dihari yang spesial nantinya, dengan orang yang spesial pula “

“ Apa aku tidak spesial di matamu? Apa kau tidak percaya padaku? Atau sejak awal kau sudah tau kalau kita tidak akan menikah? “ 

“ Kau mulai belajar menjadi egois “

“ Aku menunggumu di taman, tapi hanya untuk dua pilihan, kau pergi setelah kuperawani, atau kita menundanya namun kau tetap berada disini “

Segera Daniel menutup jaringan teleponnya. Dia kembali diam, dia merasa telah bodoh melibatkan perempuan dalam sebuah pilihan, terlebih tentang hubungan biologis yang tidak pernah dia fikirkan sebelumnya. 

Sementara itu di kamarnya, Reva hanya bisa menikmati air matanya yang mulai jatuh. Dia benar-benar telah jatuh dalam sebuah kebingungan, namun malam itu dia memutuskan untuk tetap pergi, jauh.

Daniel masih terduduk, gelap sudah benar-benar duduk di puncak kejayaannya, layang-layang biru sudah sejak tadi berhenti meninggalkannya, berganti dengan lampu-lampu taman yang remang, seperti semakin menekankan arti sebuah sepi. Hujan mulai turun perlahan, dia tidak bergerak, semakin lama hujan semakin deras menguyur tanah yang menyambutnya dengan aromanya. Daniel hanya membiarkan tubuhnya dilanda air mata langit itu, setidaknya bagi Daniel, hujan membuatnya tersamar dari tangisnya, karena air mata yanag diseka oleh hujan.

**

Terik menyilaukan kelopak mata Daniel, siang nyaris sempurna saat itu. Dia segera terperanjak bangun dari bangku taman, semalam suntuk dia tertidur disana. Dia sangat terkejut menyadari sebuah selimut biru muda yang menyelimutinya, segera terlinta sebuah nama, Reva. Dengan secepat kilat dia berusaha bangkit melawan kondisi tubuhnya yang masih terlalu lemas usai operasi tempo hari, sampai akhirnya dia menemukan sebuah kotak berwarna sama dengan selimut itu, kotak yang bertuliskan, dear Alien.

Segera dia membuka kotak itu, dan hanya menemui sebuah pemutar MP3 dan sebuah kertas kecil yang bertuliskan, maaf. Ketakutan melanda jiwanya saat itu, antara ingin memutar MP3 itu atau tidak, sekali lagi dia sangat berharap buah pengetahuan yang ada di taman Eden itu benar-benar ada. Dengan menjudikan segala perasaannya, dia memilih untuk memutar satu-satunya file yang ada di MP3 itu, sebuah lagu lama yang sangat dikenalnya, sebuah lagu yang mewakili segalanya, segala yang dirasakan oleh Reva; 

Leaving on a jet plane.

All my bags are packed

I’m ready to go

I’m standin’ here outside your door

I hate to wake you up to say goodbye

But the dawn is breaking

It’s early morn

The taxi’s waitin’

He’s blowin’his horn

Already I’m so lonesome

I could die

There’s so many times, I’ve let you down

So many times I’ve played around

I tell you know, they don’t mean a thing

Every place I go, I’ll think of you

Every song I sing, I’ll sing for you

When I come back, I’ll bring your wedding ring

So kiss me and smile for me

Tell me that you’ll wait for me

Hold me like you’ll never let me go

Cause I’m leaving on a jet plane

I don’t know when I’ll be back again

Oh Babe, I hate to go 

Now the time has come to leave you

One more times

Let me kiss you

Then close your eyes

I’ll be on my way

Dream about the days to come

When I wont have to leave alone

About the times, I wont to say

Seluruh kata-kata dalam lagu yang terputar itu terus terniang di kepalanya, kelopak matanya tak lagi mampu menahan air mata yang begitu perkasa, membuat air mata itu mengalir deras tanpa diseka oleh hujan. Dia tidak lagi membutuhkan buah taman Eden itu, yang sangat dia butuhkan saat itu adalah, mesin waktu.

**

Setahun telah berlalu setelah kejadian itu. Komunikasi yang terputus mempermudah segalanya. Bukan untuk melupakan, tetapi untuk belajar menerimanya. Daniel baru saja membuka mata siang itu, semalam suntuk dia duduk di bangku taman bersama lagu yang sangat digemarinya setahun belakangan ini untuk menemani bulan. Dia sangat terburu-buru saat itu, perkara sebuah janji kepada seorang pria tua yang tahun lalu ditemuinya. Daniel yang sekarang berprofesi sebagai wedding organizer mendapat tawaran dari kenalan lamanya untuk menyusun acara pernikahan putranya yang memiliki ginjal yang sama dengannya.

Suara bel rumahnya berbunyi saat itu, dengan setengah menggerutu dia berusaha membagi otaknya untuk memakai baju sambil berjalan menuju pintu rumahnya yang sepertinya kedatangan tamu penting karena telah tiga kali menekan bel. Seketika pintu terbuka, seketika itulah dia terdiam, seorang yang sempat menjadi dunianya dulu tengah berdiri di hadapannya, Reva.

Keheningan diantara mereka tidak terulang saat itu, karena Reva yang dengan segera memeluk erat Daniel yang sempat terdiam, namun akhirnya membalas pelukan itu, pelukan yang tidak hangat seperti biasanya, dingin.

Reva tak henti-hentinya menangis di pelukan Daniel, air matanya mulai membasahi kaos oblong yang baru saja digunakannya.

“ Aku minta maaf “ Kata Reva penuh ter-isak

“ Akulah yang seharusnya minta maaf “ Balas Daniel yang merasa segalanya akan berakhir bahagia.

“ Tidak, aku telah mendosaimu “

“ Aku sungguh tak mengerti kemana arah pembicaraan ini “ Balas Daniel yang mulai bingung

“ Aku hamil “ Pernyataan Reva membuat waktu terasa berhenti, berjalan lebih lambat dari biasanya, sangat lambat hingga Daniel bisa menikmati setiap jarum kenyataan yang menusuknya, lagi.

“ Ini tidak lucu “ Tegas Daniel mencoba menekan emosinya

“ Aku tidak mengerti, semua terjadi begitu saja. Aku sangat menyesal, aku benar-benar menyesal “ Tambah Reva dengan tangis yang semakin menjadi.

“ Lalu aku harus melakukan apa? “ Tanya Daniel dengan nada tangis yang masih ditutupinya dengan naluri lelakinya.

“ Aku ingin bersamamu, aku tidak mencintainya, aku tidak mau menikah dengannya “ 

“ Maaf, andai aku bisa “ tegas Daniel

“ Kenapa? Apa kau tak lagi mencintaiku seperti dulu? “

“ Tentu aku masih mencintaimu, justru itulah aku tidak bisa memenuhi permintaanmu “

“ Tapi.. kenapa? “

“ Karena kau telah menemukan waktu spesial itu, dan juga menemukan pria spesial itu “

Jawaban Daniel sangat mengguncang perasaan Reva, dia benar-benar tidak menyangka susunan kalimat itu akan keluar dari mulutnya, susunan yang menjadi kelanjutan dari perbincangan mereka setahun lalu.

“ Pergilah ke altar bahagia itu, karena sesungguhnya di situlah kebahagiaanmu, bukan di dalam ku. Aku sangat menyesal hanya bisa berkorban terlalu sedikit untukmu. Namun, bukan berarti kau bisa pergi dan datang ke dalam hidupku sesukamu, maaf “

Tangis Reva menjadi kala itu, dengan segera dia berlari meninggalkan tempat itu, entah berlari mengejar hidupnya, entah pula lari dari kenyataan hidupnya. Seketika punggung itu menghilang di balik kelokan, tangis Daniel pun segera tiba, namun dia tidak ingin terlarut, segera disekanya air mata itu, dia tak lagi membutuhkan hujan untuk melakukannya, karena dia telah lama berhenti bermimpi, hingga dia mengerti arti menerima, yang sesungguhnya.

**

Daniel baru saja tiba di tempat yang sudah dijanjikan oleh kliennya itu. Dengan segera kedatangannya disambut hangat oleh pria tua yang sudah datang lebih awal itu. Segala jenis konsep terbaik yang di milikinya segera diutarakannya kepada pria tua itu. Wajah kagum tergambar jelas di wajah pria tua itu ketika mendengar konsep acara pernikahan putra tunggalnya yang dirancang oleh Daniel. Dengan segera pria tua itu memberikan model kartu undangan pernikahan putranya kepada Daniel, membuat wajah mendungnya lantas tiba. Kartu itu bertuliskan sebuah nama yang sangat jelas setiap hurufnya, ANTON JAYA KESUMA & REVALINA CLAUDIA.

“ Ada masalah? “ Tanya pria tua itu yang sepertinya dapat membaca wajah mendung Daniel.

“ Tidak ada, apakah ini putra anda yang tahun lalu menerima ginjal saya? “

“ Ya, benar. Bukankah seharusnya kamu sudah tau akan hal itu? “

“ Saya hanya memastikan, karena kami memiliki ginjal yang sama, saya ingin bapak menerima niat baik saya untuk membiayai pernikahan ini, saya harap bapak tidak menolak “

“ Tapi, saya tidak mengharapkan itu “

“ Tolong pak, saya hanya ingin mengembalikan perbuatan saya, saya akan lebih rela bila ginjal itu masuk kategori donor, saya mohon dengan sangat “

“ Kalau begitu baiklah, tapi saya hanya mengizinkan pernikahan yang sederhana saja, tak perlu mewah “

“ Baik pa, terima kasih atas kerja samanya “ Balas Daniel yang sepertinya ingin sesegera mungkin mengakhiri percakapan itu.

Daniel segera berlari menuju bank tempat dia menanbung, tempat dimana uang hasil penjualan ginjalnya itu tersimpan, uang dalam jumlah yang besar, yang sama sekali belum disentuhnya. Dia tidak memikirkan hal lain lagi, dia tidak perduli dengan pekerjaannya, dia hanya ingin melakukan hal yang benar untuk Reva, setidaknya untuk terakhir kalinya.

**

Daniel tidak menghadiri pesta pernikahan itu. Dia duduk menghabiskan waktunya dibangku taman kegemarannya dan Reva. Dia terus mengulang-ulang lagu di MP3 itu. Bocah-bocah mulai berdatangan ketika sore nyaris tiba, mereka berlari menaikkan layang-layang mereka. Si layangan biru kembali hadir menghiasi birunya langit, membuatnya seperti bersatu dengan langit, Daniel tahu pasti, itu bukanlah layan-layang biru yang dulu dinikmatinya bersama Reva setahun lalu, namun dia tidak perduli, dia tetap menikmatinya. Saat itu bunga-bunga mulai menjadi layu, angin bertiup begitu kencang dan dingin. Daniel sudah mulai merasakan nyeri pada bagian bawah perutnya, dia tahu rasa sakit itu hanyalah awal, namun dia tidak ingin mengakhirinya dengan sia-sia, dia tahu pasti sisa umurnya, terlebih sisa umur pria spesial yang dipilih Reva. Dia menegadah keatas langit, terniang di kepalanya tentang dongeng yang mengatakan bahwa di sanalah surga berada. Lalu dia mengeluarkan sebuah surat yang sebulan lalu diurusnya namun tak kunjung ditanda-tanganinya, namun hari ini dia mendapat jawaban kenapa dulu hatinya menyarankan dia untuk mengurus surat itu, segera dia menandatanganinya.

“ Surga tidak memiliki kejutan apapun bagiku, karena semua kejutan sudah kuhabiskan didunia ini “ Katanya kepada angin yang bertiup menerpa wajahnya, kemudia dia mengeluarkan kotak obat yang memang dikonsumsinya perkara memiliki ginjal tunggal, lalu menegak semuanya hingga habis. Nafasnya seketika mencekik, mulutnya berhamburan buih, matanya melotot menahan sakit, otot-otot tubuhnya seketika menegang, dan akhirnya dia menemui ajalnya, dia bunuh diri, dan deras angin membuat benang layang-layang biru itu, putus, seperti dirinya.

**

Keluarga besar Daniel, Pak tua itu, serta Reva hadir di acara pemakamannya. Acara pemakaman yang berlangsung sehari setelah hari pernikahan Reva. Tangis Reva menjadi sejadi-jadinya, dia telah mengetahui segalanya, dia telah mengetahui apa yang seharusnya sudah dia ketahui di malam terakhir mereka bertemu, dia sangat menyesal tidak mempertanyakan wajah pucat Daniel malam itu, dia menyesal harus mengetahuinya setelah Daniel tidak lagi ada, dia menyesal mengeluarkan kata spesial itu. Dia menggenggam erat surat yang ditinggalkan Daniel, sebuah surat kuasa ahli waris yang telah resmi ditinggalkannya, demi kelangsungan hidupnya bersama laki-laki yang mendapat predikat spesial darinya.

“Dengan ini, saya yang bernama Daniel Capela dengan resmi menyatakan, apabila saya meninggal dunia, saya akan mendonorkan ginjal saya kepada saudara Anto Jaya Kesuma.”

@dollyishak


Dolly Ishak

Selesai. Cerita Fiksi Cinta : Time & Distance

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *