Sajak Untuk Sebuah Nama (Cak Munir)

  • Whatsapp

Sajak Untuk Sebuah Nama (Cak Munir) – Cerita Puisi yang ditulis oleh Penyair Medan bernama Febry Pramasta Said merupakan seorang deklamator yang penuh dengan karya seni tinggi dalam membacakan puisi.

Sajak Untuk Sebuah Nama Cak Munir
Foto: satunegeri.com


Read More


“Sajak Untuk Sebuah Nama (Cak Munir)”

Belum usai pagi engkau sudah pergi

kami masih terbenam mimpi mimpi

tak sempat antarkan kau menuju dermaga baka.

Sempat bertanya kepada angin:”Secepat ini kau pergi tinggalkan misteri dalam bathin kami?”

Belum lagi usai perjuangan,

belum lagi habis kesaksian,

kau tinggalkan kami dengan beraneka tanya dalam benak.

Keberanian mu telah merobohkan gardu istana

membuat riuh suasana dalam diri penguasa

kecemasan yang datang dari meja kekuasaan

menikam keadilan dengan alasan kedamaian.

Apalah arti sebuah kedamaian, bila kebenaran hanya menjadi buih buih ombak di tengah samudera?

apalah arti sebuah kesaksian, bila mulut tak sempat bicara seusai hujan peluru berpesta di jalan raya?

apalah arti hukum dan hak azazi, jika hanya menjadi permainan segelintir orang?

Ya !

kami bertanya tanya,

pada gelap negeri dan bathin kami sendiri

mengapa kebenaran dan keadilan hanya menjadi teriakan teriakan bisu di gardu istana?

sedang kini kami masih bergerilya

mencari kebenaran yang terkubur tanpa nisan

sedang kini kami masih bernyanyi dengan nada sumbang

di samping makam keadilan.

Jaman apa yang kita bangun kini,

jika hukum hanya menjadi bendera bendera pajangan

jika siapa saja boleh membeli hukum tanpa kebenaran

dan jika siapa saja bisa menjadi Tuhan bagi hukum itu sendiri.

Hukum dan hak azazi harus nya berlantaikan kebenaran dan akal sehat,

Hukum dan hak azazi harus nya berhakikat pada keadilan.

Kini…

kini kami sudah terbangun

dan bergegas untuk berdiri pada barisan depan

menjadi tombak untuk membunuh kepalsuan 

menggali makam misteri mu

agar sejarah mencatat

bahwa dulu ada kebenaran yang sangat di takuti oleh penguasa.

Demokrasi apa yang di bangun dalam negeri ini?

Kini kami telah membentuk sebuah barisan tanpa nama

saling merangkul dan bersuara satu:

“Hanya pada nya yang ingkar demokrasi, ingkar keadilan, kutukan kami mengibiri nya setiap saat !”

@PramastaSaid

Febry Pramasta Said

*Puisi ini teruntuk mu sesosok pahlawan yang jasad nya enggan di kubur di TMP (Munir Said Thalib, 08 Desember 1965 – 07 September 2004) Beliau meninggal di dalam pesawat Garuda dari Jakarta menuju Amsterdam. Banyak pihak yang mengatakan bahwa Munir sengaja di racun di dalam pesawat, tetapi pembelaan dari segala kewenangan penguasa menyatakan iti tidak benar.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah berjanji untuk membentuk tim khusus untuk mengungkap misteri kematian Munir tetapi hingga saat ini misteri kematian nya belum terungkap secara pasti. Dan misteri akan selama nya menjadi mister, dan kebenaran sejati nya tak pernah ada. 

Salam perjuangan! Sajak Untuk Sebuah Nama (Cak Munir)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *