Cerita Fiksi : Move On

  • Whatsapp

Cerita Fiksi : Move On – Kini aku masuk SMA, kini aku bukan lagi bocah yang menggunakan seragam ber-celana pendek biru, kini aku Dean yang menggunakan seragam putih abu-abu bercelana panjang. Aku mendaftar disalah satu sekolah Negeri dikota Medan. Aku mulai menemukan teman-teman baru disekolah baruku, dan perlahan aku mulai bisa melupakan rasa sakit yang menimpaku dipenghujung masa SMP-ku dulu ( Baca cerita fiksi First Love ). Setelah kejadian itu aku tak lagi menjadi kutu buku seperti dulu, semasa sekolah yang kulakukan hanyalah bolos, bolos, dan bolos.

Aku masuk ekstrakulikuler paduan suara. Ya, aku mengikuti seleksi paduan suara dan ternyata aku beruntung, karena guru yang menyeleksi memiliki sedikit gangguan pada selera musiknya, suara kodok kayak aku bisa menghipnotisnya hingga memberikanku jalan untuk masuk ke tim paduan suara sekolahan yang bertugas mengisi hari-hari upacara penting, dan kompetisi paduan suara antar sekolahan. Ketika mengikuti seleksi paduan suara itu, sejujurnya aku tidak mengenal satu pun manusia di ruangan itu, mungkin bisa dikatakan aku adalah satu-satunya mafia sekolahan yang mengikuti kegiatan seperti itu, karena setelah aku mengamati setiap peserta yang maju kedepan untuk menunjukkan kebolehannya seperti sedang mengikuti test Indonesian Idol, rata-rata adalah anak-anak gereja ataupun anak-anak orang kayak yang memang pada dasarnya sudah kenyang menelan pelajaran dari les vokal.

Read More

Sebenarnya detik-detik sebelum giliran ku dipanggil, aku udah pengen banget pindah planet, gila aja , semua suaranya bergetar-getar kayak vibrator. Ada yang nyanyi sambil megang not balok, ada yang nyanyi dengan suara yang tingginya bukan minta ampun lagi, tapi udah minta maaf. Dan akhirnya tibalah giliran ku, si cowok keren yang ingin mengadu nasibnya didunia tarik suara dengan suara kodoknya. Begitu namaku dipanggil, dan aku berdiri didepan ruangan, tentu saja semua mata peserta lain tertuju padaku, sama halnya ketika peserta lain sedang berdiri di posisiku sebelumnya. Guru itu bertanya tentang lagu yang akan ku bawakan. Dan entah setan dari mana, aku membawakan lagu yang ada di playlist komputerku,  wherever will you go-nya The Calling. Tentu aja ketika aku mengatakan lagu pilihannku itu semua peserta menyoraki, karena dari tadi semua peserta itu kalau gak nyanyi lagu rohani, pasti nyanyi lagu wajib nasional, nah, aku malah lagu komersil.

Maka jadilah aku mengumandangkan lagu itu, sambil menutup mata, dan gak nyangkanya, yang bego bukan cuma gurunya, semua yang diruangan itu juga, Hahahaha… aku dapat tepuk tangan, tapi, aku yakin, mereka tepuk tangan bukan karena suaraku, tapi semata-mata karena ke-tampanan-ku, itu pasti, aku yakin banget. Maka jadilah aku ber-label Dean paduan suara. Dan aku ditempatkan pertama kali di suara Tenor, dan gilanya, begitu siap diseleksi, ternyata hari itu juga kami dibagikan kertas yang berisi materi sebuah lagu untuk dibawakan dalam kompetisi paduan suara tingkat umum, sial.

Selesai mendengarkan pengumuman itu, kami semua orang-orang terpilih untuk mengikuti kompetisi itu dipersilahkan kembali untuk masuk ke kelas kami masing-masing dengan catatan, ketika pulang sekolah nanti, kami harus kembali berkumpul untuk memulai latihan perdana. Dan, kesialanku pada hari itu tidak berhenti sampai disitu saja, begitu aku masuk kembali ke dalam kelas, aku mendapat sebuah kejutan, ujian fisika. 

Ketika ujian berlangsung, seperti biasa, aku serius, fokus, tidak bergerak sama sekali, benar-benar sibuk, padahal yang kulakukan hanya menyalin kembali soal yang tertera di kertas soal ke lembar jawaban. Aku benar-benar sedang tertindas saat itu, dan aku yakin Tuhan akan mendengarkan doa orang-orang yang tertindas. Ketika guru mengatakan waktu ujian telah habis, kami semua pun mengumpulkan lembar jawaban kami ke depan kelas, dan dengan cemas memperhatikan sang guru mengoreksi hasil ujian kami satu per satu dengan senyum antagonis di film-film kartun.

Dan, disinilah semua berawal. Ketika sang predator fisika itu mengumumkan semua hasil ujian dari kami, aku benar-benar seperti disamber gledek. Kami semua dapat nilai nol sampai tiga, tentu saja aku dapat nol. Namun bukan ini yang membuat aku kaget, ada dua orang perempuan yang mendapat nilai sepuluh, oh Tuhan, sepuluh! Benar semua ! ga ada salah ! Dua perempuan itu adalah Dina, dan Pertiwi, mereka duduk sebangku. Dan mataku benar-benar tertuju pada dua orang ini, Dina adalah gadis yang sudah kukenal sebelumnya ketika aku masuk ke kelas ini, karena memang dia sedikit mencolok karena sering duduk didepan dan menjawab setiap pertanyaan yang di ajukan oleh guru, ditambah lagi, ketika pelajaran agama, kami selalu satu ruangan karena kebetulan sama-sama Kristen. Namun, tentang Pertiwi, aku sama sekali tidak pernah mengetahui keberadaan gadis ini, gadis ini kurus, pendek , memakai kerudung, dan terlihat seperti anak blo’on. Ya, anak blo’on yang dapat nilai sepuluh di ujian fisika. Semenjak kejadian itu, aku jadi mulai sering memperhatikan gadis berkerudung ini.

Hari-hari setelah itu pun berlalu, disamping aku masih sibuk melatih vokal kodokku untuk mempersiapkan diri menuju kompetisi paduan suara, tanpa aku sadari, aku jadi lebih sering masuk kesekolah, walaupun dikelas kerjaku hanya bermain judi sama temanku dengan menggunakan game micro-pool dari handphone N-gage nya. Ya, setidaknya kan sekolah. Dan kebetulan hari itu adalah pelajaran olahraga, aku yang nekat untuk bermain sepak bola lagi, rasanya seperti belajar dari awal, namun, lama kelamaan aku mulai mengerti bagaimana caranya bermain sepak bola lagi, walau sampai detik ini tidak juga bisa maksimal seperti dulu. Ketika asik bermain sepak bola, aku yang benar-benar bermain seperti kuda liar, harus menerima kenyataan mendapati letih lebih awal, dan memilih beristirahat dan duduk di sebuah bangku keramik yang memang disediakan sekolah untuk siswa-siswi untuk bercengrama.

Sambil menegak minumanku, aku sesekali mengamati kesekitarku. Memperhatikan setiap kegiatan yang menghiasi lapangan sekolahan di jam olahraga. Tanpa kusadari mataku tertuju kepada Pertiwi, dia benar-benar indah, bukan hanya cantik, dia hampir sama dengan Bulan, sangat lembut, kalem, pinter, dan kalau tertawa dia menutup mulutnya dengan tangannya, padahal senyumnya gak perlu ditutupi juga indah, gak kayak anak cheers yang kalau senyum kayak joker semua.

Aku jadi semakin semangat kesekolah, setiap kali teman-temanku mengajak aku bolos, aku selalu memiliki alasan untuk menolaknya, walau apapun yang di janjikannya. Aku semakin menggilai gadis ini, aku tidak perduli, meski dia tidak popular, meski dada dan bokongnya rata, meski dia pendek, meski dia pesek, meski dia beda agama, aku tidak perduli, meski banyak yang lebih baik dari dia yang menawarkan rasa padaku di sekolahan, aku tidak perduli, aku hanya mau dia, tapi masalahnya, aku gak tau cara mendapatkannya. Yup, inilah kelemahanku, selain goblok soal fisika, aku agak goblok dalam memulai sebuah percakapan dengan seorang gadis, aku gak mungkin kirim dia surat seperti masa SMP, karena kami sekelas. Aku terus memutar otakku, menggunakan setiap space di otakku untuk dekat dengan dia, sampai akhirnya aku menemukan ide yang sangat cemerlang yang pernah ku temui dari sebuah tempat di dalam otakku. Skandal.

Maka, aku pun memanfaatkan sisi ke-premanan-ku dalam mencapai ambisiku untuk mendapatkannya. Ketika istirahat berjalan, aku meminta salah seorang teman perempuan dikelaskku untuk memanggil Dina, teman sebangkunya Pertiwi, dan aku pun menceritakan skandal yang aku desain dan memintanya agar ketika pulang sekolah nanti, dia segera mengasingkan Pertiwi agar aku bisa memberi ultimatum kepada teman-teman sekelasku nantinya.

Benar saja, ketika bel pulang sekolah berbunyi, Dina dengan segera mengajak Pertiwi untuk pulang. Maka aku pun mulai beraksi, ketika seisi kelas masih riuh, aku menutup pintu kelas dan mengutus salah seorang temanku untuk memastikan tidak ada satupun yang boleh keluar ruangan, tentu saja kecuali Dina dan Pertiwi. Dan aku pun segera mengeluarkan suara yang lantang seperti kepala sekolah yang sedang memimpin upacara bendera.

“BESOK AKU DATANG TERLAMBAT, JANGAN ADA YANG DUDUK DISEBELAH PERTIWI !” kata ku singkat, membuat muka linglung seolah tak mengerti. Setelah memastikan semuanya setuju aku pun membubarkan kelas dengan senyum sumringah untuk menghadapi hari esok. Perlu pembaca ketahui kalau kelasku pada saat itu tidak memiliki denah kelas yang tetap, dengan kata lain, hukum bangku disana adalah hokum rimba, dimana siapa yang cepat, dia yang dapat. Dengan kondisi jumlah bangku berbanding lurus dengan jumlah siswa, ini membuat kemungkinan ku untuk bisa duduk sebangku dengannya menjadi 100 %.

Hari yang ditunggu pun tiba, seperti biasa aku berangkat dari rumah pukul 06.30 WIB, sementara kami baru bel masuk pukul 07.30 WIB, agar skandal keterlambatanku berhasil, aku nongkrong dikantin dan menikmati gorengan menunggu bel masuk berbunyi. Seketika bel masuk berbunyi aku pun jalan dengan santai menuju kelasku, dan ketika langkahku mulai mendekati pintu kelasku, aku pun mengelap bibirku yang berminyak karena gorengan hingga kering pucat, lalu mengetuk pintu dengan akting terburu-buru, seolah baru berlari sejauh mata memandang. Ketika itu pelajaran yang sedang berlangsung adalah PPKN.

“Permisi buk” sapaku sambil mengetuk pintu dengan muka penuh keterlambatan

“Ya, silahkan masuk, lain kali jangan terlambat” kata sang guru yag sok tahu itu. Aku pun segera melakukan aktingku, berpura-pura celingak-celinguk melihat bangku yang tersedia, sampai akhirnya aku melihat bangku disebelah Pertiwi.

“Wah, parah nih. Lain kali buat denah kelas dong. Susunan bangku jadi gak jelas gini” kata ku dengan nada kesal, tentu saja seisi kelas tahu aku sedang ber-akting, kecuali Pertiwi tentunya. Dengan sok berat hati, aku pun duduk disebelah Pertiwi, padahal dalam hati, senang banget, sangkin senangnya, pengen banget teriak ‘AKU INI GANTEEEEENGGG!!!’. 

Dan parahnya, aku gak bisa duduk normal, aku grogi. Siaaaaaaalllllll. Aku malah duduk nyamping gak berani melihat wajahnya, dan petaka pun muncul lagi saat itu. Guru PPKN kami meminta untuk segera mengumpulkan PR LKS yang minggu lalu di berikannya, sialan, aku belum kelar, namun karena itu pilihan berganda, sepertinya masih cukup kalau mencontek, namun sialnya, satu kelas malah balik ngerjain aku, gak ada yang mau ngasi contekan, tidak satu pun, bahkan mereka semua malah mengatakan ‘liat punya Pertiwi sono’. Tahi, aku hanya bisa menunduk, pasrah untuk mendapat hukuman, dan ketika itu pula, 

“Liat punya Pertiwi aja” kata Pertiwi sambil menyodorkan LKS untuk segera ku salin. Astaga, mau taruh dimana nih muka ganteng? Masa mau PDKT ama cewek malah nyontek PR nya, rasanya pengen banget pindah planet.

“Eh, iya. Makasi” balas ku kikuk, sambil melirik PR nya. Habislah sudah perjuangan cintaku kali ini. Hanya itu yang terninang dikepalaku.

Kesialan ku hari itu gak hanya berakhir sampai di situ, sungguh parah, Pertiwi tahu aku suka sama dia. Ambil nyawaku segera Tuhan!. Semenjak dia tahu aku menyukainya, aku benar-benar sering sekali salah tingkah setiap kali bertemu dengannya. Bahkan, aku sering menghindar setiap kali berpapasan dengannya. Hari-hariku yang semula aku harapkan berbunga-bunga telah tercapai, hanya saja, bunganya bunga bangkai.

Hari-hariku setelah itu semakin runyam, kegelisahan menghampiriku setiap waktu, aku tidak tahu bagaimana cara menghilangkannya, yang aku tahu cuma alasan kenapa semua itu bisa terjadi, Pertiwi. Ingin sekali aku berjuang unttuk mendapatkan kebahagiaan yang dulu direnggut daripada aku. Namun, seketika keberanian itu luntur mendapati iman kami yang berbeda, apakah dia bersedia? Apakah aka nada jalan keluar dari semua ini nantinya ? aku tak juga mendapat jawabannya. Namun, diriku yang satu lagi mengatakan aku harus mencoba, dan jadilah keberanianku menumpuk dan menantang akan hadirnya hari esok.

Hari yang kutunggupun tiba, ketika bel pulang sekolah berbunyi, aku segera menghampirinya dan mencoba memberanikan diri untuk memulai percakapan.

“Hai” Sapaku dengan kikuk tanpa berani menatap matanya.

“Ada apa?” Balasnya

“Eeemm, gini, kamu udah taukan alasan kenapa aku datangin kamu?”

“Enggak” JEDER!! Seketika aku bingung, jelas aja dia gak tau, lagian aku main nyosor aja.

“Gini Pertiwi, aku tau kita gak pernah bertegur sapa sebelumnya, aku tau kita gak pernah ngobrol sebelumnya, dan aku juga tau kita gak pernah berbagi tawa bersama, tapi aku suka kamu, kamu mau tidak jadi pacarku?”

Aku berbicara begitu cepat, aku sudah tidak perduli lagi dengan yang namanya marwah, aku gak perduli lagi dengan rasa takut yang menghantuiku.

“Apa? Aku gak dengar” Balasnya dengan nada yang jelas berdusta.

“Kamu mau tidak jadi pacarku?” Tegas ku lagi setegas tokoh Aragorn di novel karangan Tolkien yang terkenal itu.

“Iya udah, kita coba” Jawabnya.

Senang bukan main menghantuiku seketika itu, aku tidak pernah perduli bagaimana tebalnya tembok yang memisahkan kami, aku tidak takut, dan aku pasti bisa mengalahkannya.

Hari-hariku disekolah mulai berubah kembali, aku semakin sering masuk, kami duduk sebangku, tertawa bersama, bercerita ini dan itu, aku selalu mendapat dukungan dari dia, aku tidak lagi menggambar untuk diriku sendiri, kini aku mulai menggambar untuk orang lain, untuk dia, Pertiwi, pacarku.

Liburan sekolahan tiba, kamipun terpisah oleh jarak karena aku pergi berlibur kerumah sepupuku yang sebenarnya tetap berada di kota Medan. Namun, tentu saja hal itu tidak membuat kami menjadi jauh, kami masih melakukan kontak melalui selular. Kami sengaja menggunakan satu jenis provider yang sama, sengaja kami memilih provider yang bersahabat dengan kantong SMA kami, dan provider XL menjadi pilihan kami.

Seiring dengan berjalannya waktu, petaka kembali mampir dihidupku, sepertinya satu-satunya jodohku didunia ini adalah kesialan, yah, sial emang gak kemana, Ponselku rusak. Kontak diantara kamipun berhenti begitu lama. Membuat hubungan kami terasa begitu jauh walau sama-sama di Medan, dan bodohnya lagi, entah setan mana yang membisikkan kepadaku untuk tak perlu khawatir dan semua akan baik-baik saja.

Hari masuk sekolah pun tiba, dengan kelas baru di IPS dan Pertiwi di IPA, semangat aku bersekolah karena perasaan kangen yang sudah ingin diledakkan. Dilorong sekolah aku melihat Pertiwi sedang ngobrol dengan beberapa temannya, akupun segera menghampirinya dengan senyum cengar-cengir.

“Selamat tahun baru ya” Sapaku sambil mengulurkan tanganku kepadanya.

Namun, yang kudapati adalah Pertiwi, pacarku memalingkan wajahnya dari aku tanpa menyambut uluran tanganku. Tenggorokanku seketika terasa keluh, senyumku perlahan mendatar, dan kakiku seperti terpaku melihat dia dan teman-temannya masuk kedalam kelas meninggalkan aku sendiri. Sementara aku hanya berusaha berjalan menuju kelasku dengan perasaan yang tak bisa kugambarkan, yang jelas rasanya, sakit.

Aku tidak jadi masuk kekelas, aku hanya duduk dikantin sambil mengisap rokokku, aku tak perduli lagi kalau-kalau ada guru yang melihat dan menghukumku, karena bagiku lebih baik ada rasa sakit yang bisa menutupi rasa sakit yang diberikannya beberapa menit yang lalu. Aku benar-benar berharap ada rasa sakit yang bisa menutupinya.

Ketika bel pulang sekolah berbunyi, aku masi dikantin, menunggu sekolahan sepi karena aku masih terlalu malas untuk bertatap muka dengannya. Ketika sekolahan sudah sepi, aku berlajalan menyusuri lorong sekolahan, dan ketika langkahku mulai mendekati kelas Pertiwi, aku mendengar adanya percakapan. Entah dorongan darimana aku memilih untuk sejenak menguping percakapan itu, dan betapa aku terkejut mendapati percakapan itu adalah percakapan antara Pertiwi dan teman-temannya, bisa kudengar dengan jelas betapa teman-temannya terus menerus menjelek-jelekkan aku didepan Pertiwi, mengatai aku brandalan, perokok, tukang bolos sekolahan, tidak punya masa depan, dan yang menyedihkannya adalah, Pertiwi tidak sedikitpun membelaku.

Ketika hendak meninggalkan kegiatan mengupingku, aku tertangkap basah oleh Pertiwi dan teman-temannya, aku hanya menunduk dan berusaha berlalu, namun dia berusaha menghalangiku.

“Kita putus aja ya, kita beda. Agama kita beda”

Tanpa menjawab, aku hanya berlalu dan meninggalkan dia beserta teman-temannya, ternyata doaku terkabul, akhirnya ada rasa sakit baru yang datang setelah kejadian pagi hari itu, ya, kejadian dimana dia mengatakan kami berbeda. Mungkin harusnya aku tidak perlu meminta rasa sakit itu.

Setelah kejadian itu aku mulai jarang masuk kesekolah, aku lebih sering diam. Kami tak pernah lagi berkomunikasi. Dan aku sadar, dengan keterpurukanku saat ini, aku tidak akan menemukan hasil apapun. Pada suatu malam aku termenung dalam kesendirianku dan aku mencoba untuk berbicara kepada Tuhanku.

“Tuhan, jangan lagi kau berikan kepadaku yang berbeda, berikanlah aku yang sama”

Setahun setelah kejadian itu, aku mengisi hari-hariku dengan hal-hal yang lebih menyenangkan, meski aku tak juga bisa move-on dari Pertiwi, aku harus tetap carry-on, sebab life must go on. Kesendirianku selama setahun belakangan memang membuat aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Sampai suatu ketika aku bertemu dengan Jocelyn, seorang wanita yang pendiam dan berhasil menarik perhatianku dari setahun penuh tidurku dalam kesendirian.

Seiring dengan berjalannya waktu, hubungan kami semakin lama semakin dekat. Dia benar-benar telah mengalihkan duniaku sepenuhnya dari Pertiwi. Namun entah karena sial selalu ingin berteman denganku, atau karena Tuhan selalu mengabulkan permintaanku, aku harus menerima kenyataan kalau aku dan Jocelyn mengalami satu persamaan yang begitu nyata, kami satu marga. Dengan kata lain sampai kapanpun kami tidak akan bisa bersatu.

Dalam ketermanguanku aku merenungi berakhirnya hubungan singkatku dengan Jocelyn. Bukan karena berbeda, tetapi karena kami sama, terlalu sama. Membuatku berfikir kalau ternyata ‘lebih mudah mencari satu persamaan dalam sebuah perbedaan, daripada mencari satu perbedaan dalam sebuah persamaan’.

@dollyishak

Dolly Ishak

Sekian! Cerita Fiksi : Move On

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *