Cerita Fiksi : First Love

  • Whatsapp

Cerita Fiksi : First Love – Aku menjalani hari-hari baruku di kelasku (baca cerita fiksi – cengeng ) , tanpa Jonathan, begitu juga sebaliknya. Aku berkenalan dengan Andre, seorang cowok popular disekolahan. Andre memiliki satu kesamaan dengan Jonathan, sama-sama pejuang cinta yang tangguh. Setelah mengetahui aku sering menulis puisi, dia pun mulai meminta tolong kepadaku untuk membuatkannya sebuah puisi cinta untuk menembak cewek idamannya. Aku yang sebenarnya sama sekali belum paham betul apa itu cinta, tentu saja merasa ini pembunuhan karakter mudaku, kemana perginya kak Seto? Tolong aku kak Seto! Toloooooooong !!!

Cerita Fiksi : First Love

Read More

Pergaulanku dengan Andre si cowok popular membuatku berubah dari anak yang doyan nongkrong dikelas, menjadi anak yang doyan nongkrong dikantin. Hari itu, aku bersama Andre sedang duduk dikantin, Aku tidak memesan kopi pada hari itu karena aku tidak mau dianggap freak, tapi setidaknya kesetiaaanku kepada kopi ku tunjukkan dengan memesan cincau dingin. Setidaknya warnanya kan sama-sama hitam. Dikantin mataku tertuju pada seorang cewek, yang setelah aku tau dari Andre dia adalah anak kelas satu yang masuk tahun ini. Ntah kenapa aku suka memperhatikan cewek yang satu ini, kalau berbicara dari segi fisik, selain dia cantik, aku suka rambut hitamnya yang tergurai indah, semakin aku memperhatikan semuanya, aku baru sadar kalau Tuhan itu maha adil, karena aku melihat bokongnya yang seksi itu dihiasi oleh sebuah kekurangan yang cukup mencolok, dada nya rata. Namun, bukan ini sebenarnya yang membuat aku memperhatikan dia, melainkan karena sikapnya yang sangat kalem, berbeda sekali dengan wanita-wanita yang ku temui di sekolahku, yang ketawa-ketawa dengan mulut sangat lebar, menampakkan semua bagian gusinya, sangkin lebarnya mereka tertawa, mungkin seekor beruang bisa hibernasi didalamnya.

Setelah mulai mencari tau tentang dia, akhirnya ku dapati namanya , Bulan. Setelah hari dimana aku bertemu dengannya, aku selalu mencari jalan agar bisa melihatnya. Kebetulan dia berada dikelas unggulan, dan bodohnya sekolah ini, dia malah menempatkan posisi kelas unggulan dekat dengan kamar mandi. Kasihan anak kelas unggulan. Kegiatan rutinku selama jam istirahat yang pada awalnya hanya menggambar dikelas, berubah menjadi nongkrong dikantin, dan setelah mengenalnya menjadi nongkrong di toilet, goblok? Ya, aku memang goblok, tapi setidaknya aku ganteng. Semua itu ku lakukan hanya semata-mata bisa melihatnya dari dekat.

Aku yang semula tidak mengerti kenapa aku seperti ini, selalu memikirkan dia setiap saat, selalu menunggu jam istirahat agar bisa nongkrong di toilet, membuat aku gelisah dan mendatangi sahabatku Jonathan.

“Ha..ha..ha.., Akhirnya jatuh cinta juga kau” Gelegak tawa campur ledekannya membuat wajahku terasa panas, ntah kenapa wajahku bisa panas mendengarnya.

“Masa sih?” Tanya ku heran.

“Kau da pernah sebelumnya suka sama cewek?”

“Belum” jawabku jujur.

“HA..HA..HA..” Tawanya malah membuatku semakin heran, kenapa dia jadi seperti ini?, kondosinya begitu mengenaskan, Apa orang tuanya sudah tau dengan kondisi putranya yang seperti ini ?.

“kenapa malah tertawa?”

“ berarti kau sedang mengalami cinta pertama sob ! siap-siap lah kau gilak, dan akhirnya Kau akan menulis puisi untuk perempuan yang kau cintai, HA..HA..HA..” Tawanya begitu antagonis, seperti tawa om-om gatal yang berhasil menggagahi gadis SMA di film-film bokep.

Aku pulang dengan membawa sejuta pertanyaan, yang tidak bisa ku jawab. Aku benar-benar tidak mengerti, rasa aneh, ketika tidak bertemu ingin bertemu, ketika bertemu, malah bingung, gak tau apa yang harus dilakukan, gak tau bagaimana cara memulainya, dan malam itu aku tidak minum kopi, menggambar, ataupun menulis puisi. Aku hanya tiduran dengan kedua telapak tangan menopang kepalaku, menatapi asbes rumahku, ketika aku mulai ngantuk dan mataku terpejam, aku malah melihat wajahnya, hingga mataku terbuka lagi, terjadi terus setiap kali aku menutup mataku, dan jadilah malam itu aku tidak tidur semalaman, padahal, besoknya aku ada ujian fisika, dengan kondisi guru killer yang selalu menghukum muridnya dengan mencubit tajam setajam silet, dibagian, tetek.

Kesenangan terjadi pada hari itu, karena ternyata selama ini bukan hanya aku yang memperhatikan dia, tetapi dia juga memperhatikan aku, mungkin karena ku manusia aneh yang setiap jam istirahat nongkrong di toilet kali ya?. Mengetahui hal itu, aku memberanikan diri untuk mengiriminya surat cinta, soalnya pada masa itu aku tidak memiliki handphone. Setelah bertarung menyusun kata demi kata, membaca banyak refrensi tentang surat cinta, akhirnya aku berhasil membuat sebuah surat cinta lengkap dengan kata pengantar, daftar isi, serta daftar pustaka. Andre adalah tumbalnya, dialah yang aku utus untuk memberikan surat itu kepadanya. Setelah surat itu diberikan kepadanya pada hari itu, begitu bel pulang sekolah aku langsung lari, menyetop angkutan umum, dan berdiam diri dirumah, meratapi sebuah ketakutan, ‘bagaimana kalau dia tidak menyukaiku?’

Keesokan paginya, aku berangkat kesekolah lebih awal, dengan tujuan tidak bertemu dengannya. Ketika bel Istirahat berbunyi pun, aku kembali kepada rutinitasku yang dulu, berdiam diri dikelas, namun kali ini tidak menggambar, melainkan menunggu bel masuk pertanda istirahat selesai berbunyi. Andre yang sedari tadi tidak Nampak karena gentayangan ntah kemana tiba-tiba masuk kedalam kelas dan memberikanku sebuah surat dengan amplop berwana biru.

“Dari Bulan tuh, udah kayak pak pos aja aku kalian buat” katanya kepadaku seraya kembali gentayangan untuk memecahkan misteri dibalik topeng sikomo. 

Aku sumringah kampungan melihat surat yang ada ditanganku, aku yakin kegantenganku sudah berkurang 10 % karena senyum sumringahku yang lebar dan menampakkan gusi-gusi gigiku seperti senyum anak Cheers. Dengan perlahan aku membuka surat itu, kubaca kata demi kata, terlihat jelas surat itu ditulis dengan sangat hati-hati, begitu rapi, kalimat-kalimatnya begitu lembut, dan yang membuat aku bingung adalah tulisan terakhir pada surat balasan itu,

Aku suka sekali puisi bang, sekali-sekali buatkan aku puisi ya . .

Membaca permintaannya membuatku bingung sendiri, kenapa wanita-wanita ini suka sekali sama puisi, kalau aku lebih suka dikasih duit trus naik sepeda sepanjang tembok raksasa cina.

Semenjak kejadian itu, kami pun selalu melakukan kegiatan surat-menyurat, setiap pagi aku mengirimi dia surat, dan ketika istirahat dia membalas suratku, tentu saja korbannya adalah Andre, tukang pos cinta kami. Alasan kenapa kami melakukan kegiatan itu adalah karena aku yang memang tidak berani bertegur sapa dengan dia, selama disekolah kami hanya saling melihat dari kejauhan, berdiam-diaman, padahal ketika disurat obrolan kami sangat dekat, seperti sudah saling kenal sejak jaman Majapahit.

Dia selalu menempelkan puisi-puisi yang aku kirim ke mading, membuat aku heran dan sampai saat ini aku tidak pernah menanyakan tujuannya melakukan itu.

Suatu ketika, aku meminta Andre untuk mencari tahu nomor handphonenya, dan dengan terang-terangan si Andre goblok malah mendatanginya dan mengatakan kalau aku meminta nomor handphonenya, benar-benar membuatku malu. Setelah nomor handphonenya kudapatkan, aku yang tidak memiliki handphone saat itu, memiliki kegiatan sore yang baru. Ke Wartel. Dengan sengaja tidak jajan disekolah agar punya biaya untuk menelfon nomor handphonenya dari wartel. Tiap sore aku menelfonnya 3 kali, setiap dia menganggkat panggilan dariku, aku hanya diam mendengarnya berkata, hallo. Setiap kali dia mengatakan hallo, aku menutup telefonku, dan kemudian menelfonnya lagi, aku melakukannya hanya untuk mendengar suaranya, tidak lebih, hanya itu.

Sudah hampir setahun kami melakukan kegiatan-kegiatan kami, saling bertukar surat, menulikannya puisi, menelfonnya, saling melihat dari kejauhan. Sampai sebuah petaka menghampiriku, tulang keringku mengalami keretakan parah ketika bermain sepakbola. Kabar tentang peristiwa itu menyebar dengan cepat disekolah, dan Bulan mulai mempertanyakan ketidak hadiranku disekolah dalam beberapa hari, sampai akhirnya Andre menceritakan semua yang terjadi padaku, aku senang kala itu, ketika Andre menjengukku kerumah dan menyampaikan kalau dia menitip salam padaku. Malam sebelum hari operasi yang ditentukan dokter, aku memutuskan untuk memberanikan diri menelfonnya,

“halo,Bulan. Ini aku Dean”

“Iya bang, gimana keadaan abang?” Tanya khawatirnya membuat aku senang.

“Besok aku harus menjalani operasi”

“Apa separah itu?”  Tanyanya mulai ter-isak, ntah dia benar-benar menagis atau tidak pada saat itu.

“Iya”. Jawabku singkat, dan kami saling berdiam diri dalam senggang waktu yang cukup lama untuk sebuah pulsa.

“Aku sayang kau”. Kataku berani, melupakan semua kebancianku selama hampir 1 tahun ini mendekatinya.

“Aku juga” Jawabnya membuat aku ingin segera menjilat trafo terbesar yang bisa kutemui.

“Kau bisa menungguku?” Tanyaku dengan nada se-cool Bruce Willis.

“Aku pasti menunggu abang” Jawabannya memberiku semangat baru, kekuatan baru, aku bahkan merasa lebih kuat. Setelah telefon di tutup, aku berdiam diri dikamar. Aku tidak bisa tidur, disatu sisi aku takut menghadapi hari operasi besok, tetapi disatu sisi, aku kegirangan mengenang percakapan kami.

Hari yang ditentukan pun tiba, beberapa suster menghampiriku. Mereka mengganti pakaianku, melepas celana dalamku, ya Tuhan, ini pelecehan seksual. Dimanakah engkau wahai kak Seto???!!. Aku dipakaikan pakaian serba putih tanpa celana dalam, salah satu dari mereka mencukur bulu kaki ku yang sebelah kiri, katanya agar tidak mengganggu ketika menjalani operasi. Setelah selesai mencukur, mereka kemudian mendorong tempat tidurku, membuat aku sadar ternyata ada roda dibawah tempat tidurku, mereka mendorongku melewati lorong demi lorong, hingga akhirnya aku sampai pada sebuah pintu yang besar berwarna hijau dengan 2 buah jendela kaca yang berbentuk bulat. Kutemui semua anggota keluargaku sudah menunggu didepan pintu itu dengan wajah cemas, aku selalu sedih ketika melihat ibuku menangis. Dia memegang tanganku, mencoba menguatkanku, membuat aku berani menghadapi ini semua agar air matanya tak lagi jatuh karena aku.

Lalu muncul lah dua orang berpakaian serba hijau lengkap dengan penutup kepala dan masket dimulut mereka, lalu dua orang yang berseragam putih yang sedari tadi mendorong ku, menyerahkan aku kepada dua orang yang berseragam serba hijau tersebut, kemudian membawaku masuk kedalam pintu besar itu. Aku hanya berharap semuanya berjalan cepat. Ketika melewati pintu itu, aku melihat lorong yang panjang, yang dimana disepanjang lorong itu ada banyak sekali pintu-pintu, dan aku dimasukkan kedalam salah satu pintu tersebut. Ketika melewati pintu tersebut aku melihat dokter yang aku kenali dan dia menyapaku, aku tidak bisa menjawabnya karena aku sibuk sekali dengan lampu besar diatas kepalaku yang sangat silau. Dan, sesuatu yang terasa dingin menyelimutiku, sampai aku tak sadar apalagi yang terjadi saat itu.

Perlahan-lahan kondisiku mulai membaik, aku menuruti semua perintah dokter agar aku bisa secepat mungkin sembuh dan keluar dari rumah sakit. Banyak sekali orang yang menjengukku saat itu, mulai dari yang aku kenal, sampai yang tidak aku kenal. Teman-teman sekelasku juga datang menjengukku, hanya satu orang yang tidak datang, Bulan. Hari itu adalah hari ulang tahunku, semua orang sedih karena harus mengucapkan selamat ketika aku sedang terbaring tak berdaya, dan hanya satu orang pula yang tidak mengucapkan selamat pada hari itu, Bulan. Tiga hari setelah ulang tahunku, ibuku memberikan ponselnya padaku, katanya ada yang menelfon, ketika itu aku hanya berfikir itu adalah Andre, karena jelas hanya dia yang tahu nomor handphone ibuku. Aku sangat terkejut ketika mengetahui ternyata yang menelfon adalah Bulan, dia mengaku mendapatkan nomor ibuku dari Andre, dia mengucapkan selamat ulang tahun padaku, serta minta maaf karena terlambat. Aku memakluminya saja, dan dia berjanji akan datang menjengukku sore ini.

Mengetahui dia akan datang sore ini, aku segera meminta tolong pada ibuku untuk membantuku menyikat gigi, membersihkan wajahku, serta menyisir rambutku agar kembali ke model awal dengan gaya ala Leonardo Di Caprio. Aku menunggunya sambil mengunyah permen karet agar aku tidak ketiduran, aku tidak mau dia melihat wajahku ketika tidur. Aku masih menunggunya hari itu, meski waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Aku percaya dia akan datang menjengukku, untuk itulah aku menunggu, sampai akhirnya aku hampir terbunuh dalam kebosananku. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti menunggu, kecewa, kesal, harapan, semua bercampur jadi satu rasa, dan dia menikamku dengan rasa itu. Sejak saat itu aku selalu benci kepada orang-orang yang mengingkari janji.

Setelah kejadian itu, aku mulai menghilangkan isi kepalaku dari namanya. Dan mulai bercengkrama dengan setiap orang datang menjengukku, dengan dokter, dengan suster, atau dengan kantong darah yang sampai sekarang masih menjadi pertanyaan bagiku, ‘ apakah yang memiliki darah ini masih hidup?’. 

Satu kejadian yang paling memalukan pernah kualami ketika aku terbaring dengan kaki tergantung dan tangan di sandera oleh selang infus, dan kantong darah, dan kejadian ini selalu membuat aku tersenyum geli karena keberhasilanku saat itu. Sore itu seorang suster mendatangiku dan mengatakan kepadaku kalau ingin membersihkan tubuhku dengan cara membasuhnya dengan menggunakan kain basah. Awalnya aku menganggap biasa saja, dia melakukannya dengan sangat hati-hati, dia melakukannya dengan terus berbicara, mencoba mengajak aku mengobrol. Dan sampailah kita ke scene. 

“Alat kelaminnya dibersihkan juga ya” Tentu saja aku yang masih bocah kelas II SMP mendengarnya seperti di sambar petir terbaik yang dimiliki Zeus, dan aku Cuma – mengangguk. Semula dimana kegiatan membersihkan itu di hiasi dengan obrolan-obrolan, kini kami berdua hanya diam-diaman. Malah, susternya cantik lagi. Tetapi yang pasti, selama proses situ berlangsung, aku tak henti-hentinya ber-imajinasi tentang peperangan, tembak-tembakan, darah, pembunuhan, pokoknya apa saja yang bisa menghadang benda itu berdiri, karena bila berdiri, habislah sudah aku. Dimana kah engkau wahai kak Seto ?!. 

Semakin lama kondisiku semakin membaik, dan tibalah hari dimana aku dinyatakan bebas dari belenggu tempat tidur yang menyiksaku, walau aku masih menggunakan tongkat untuk membantuku berjalan, nuansa Bruce Willis dalam diriku tak terpengaruh sedikitpun, aku masih saja keren. Selama diperjalanan pulang, mata ku sangat bahagia melihat lampu-lampu kota Medan, Aku hanya diam sepanjang perjalanan pulang, aku ingin cepat pulang, aku ingin cepat-cepat kesekolah dan bertemu dengan dia yang berjanji akan menungguku.

Hari dimana aku berangkat kesekolah. Meskipun kedua orang tuaku melarangku, namun aku memanfaatkan kondisiku yang sedang baru sembuh dari sakit untuk membantah, dan hasilnya aku gak kena marah deh. Dengan kaki yang masih diperban aku berangkat kesekolah diantar oleh ayahku, sekolah sempat terkejut dengan kedatanganku yang mereka rasa lebih awal. Disaat aku masih ingin melepaskan kerinduan kepada hari-hari sekolahku, aku malah harus melayani pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru dan teman-temanku. Sebagai calon artis sekeren Bruce Willis, aku harus professional dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengejarku, untuk itulah aku ter-pak-sa menjawabnya. Mataku masih terus bergerilya dimana Bulan, cukup lama sampai akhirnya kami bertatap mata, dan seperti biasa begitu kami bertatap mata, begitu lah kami langsung memalingkan wajah.

Ketika bel pulang sekolah berbunyi, aku tidak langsung pulang, dengan niat ingin memperjelas sesuatu dengan Bulan, ketika aku sedang berjalan, salah satu teman sekelasku, seorang laki-laki yang tinggi, berbadan atletis, berkulit coklat, dan preman sekolahan bernama Willy menghampiriku,

“Sob” sapanya dengan nada seperti tergesa-gesa.

“Eh, ada apa will?”

“Kau suka ya sama Bulan?” Pertanyaannya membuatku hampir pingsan.

“Boleh aku minta nomor handphonenya ama mu?” Astaga, apa gosip tentang kami sudah menyebar luas sampai ke Lebanon? 

“Oh, tentu saja.” Jawabku sambil menyebutkan nomor handphone yang sampai detik ini masih ku ingat.

Setelah mengucapkan terima kasih, dia meninggalkanku dengan sebuah tepukan ringan dibahu yang entah apa maksudnya. Aku terus berjalan kedepan, berjalan, dan berjalan. Sampai akhirnya aku sampai dikeramaian, dan aku melihat Bulan sedang berbincang-bincang dengan Willy. Aku yang penasaran sengaja berdiri didekat mereka, lebih tepatnya menghadap ke punggung mereka, mencoba mendengar sedikit dari perbincangan yang mereka lakukan.

“Bulan, kamu mau gak jadi pacarku?” JEDERRR! Sumpah! Benar-benar JEDERRR! Bukan JEBRET, tetapi the real of JEDERRR!. Aku sangat JEDERRR mendengarnya. Ketika aku merasa aku harus segera pergi, seketika itulah Bulan menoleh kebelakang, menatapku dengan tatapan yang tak bisa ku terjemahkan, ternyata dia sudah menyadari keberadaanku dibelakangannya. Melihat tatapannya, aku hanya menunduk tak tau kenapa harus menunduk.

“Iya bang Will, aku mau.” Kali ini aku tidak ingin melawak. Sakit sekali.

Setelah semua yang kami lakukan selama hampir setahun lebih, surat, puisi, janji, semuanya adalah dongeng. Dan sangat ku mengerti arti tatapannya kepadaku sebelum menjawab pertanyaan Willy tadi, sebuah kata maaf.

Mereka pacaran. Jonathan dan Andre tidak meninggalkanku, mereka tetap saja tidak berubah, menjadi sahabat yang baik, yang ada dalam keadaan suka maupun duka, yang selalu minta dibuatkan surat cinta. Aku menjalani kehidupanku yang baru, mulai melupakan semua yang terjadi, makan mie sop, minum limun, merokok, ketawa-ketawa, semua terjadi setiap hari dan aku menikmatinya, aku tidak melupakan Bulan, aku bahkan masih mencintainya, bahkan rasaku kepadanya tidak berkurang sedikitpun, namun setelah ku fikir-fikir, kematian ada karena adanya kehidupan, begitu juga dengan kekecewaan, yang lahir karena adanya harapan.

Libur telah tiba kala itu, kenaikan kelas dan kami berpisah. Menuju penjelmaan diri dari celana pendek ke celana panjang. Kala itu aku sedang berlibur keluar kota. Disitu aku sudah memiliki handphone, selama berlibur, aku hanya menghabiskan waktu dengan duduk ditepian rawa di pedalaman hutan karet sambil melempari batu-batu kecil ke rawa seperti orang yang 15 menit kemudian ingin bunuh diri, atau duduk bersantai di bawah pohon nangka yang dibawahnya disediakan tempat duduk malas yang bisa membawamu tertidur dan bermimpi. Hari itu, aku memilih duduk di bawah pohon nangka saja, berhubung aku melihat langit yang mendung, dengan analisis yang hebat, aku mengambil kesimpulan berbahaya bila di rawa, lebih baik di bawah pohon nangka, tiduran di kursi malas, barangkali bisa tertidur, bermimpi, lalu hujan , dan akhirnya mimpinya basah. Ketika sedang bermalas-malasan, tiba-tiba handphone ku berdering, aku segera melihat ke screen handphone ku dan tertera sebuah nomor baru yang tidak kukenali sebelumnya,

“hallo” sapa ku dengan tetap menjaga ke-Bruce Willis-an ku.

“bang Dean ya?” Tanya suara itu seakan ingin memastikan nomor tujuannya benar.

“iya, dengan siapa?”

“ ini aku bang, Bulan.” Aku sangat kaget mendengar nama itu lagi, nama yang sudah lama sekali mengisi keseharianku.

“Oh, ada apa ya?” Kata ku sok cuek, padahal sangkin senangnya, aku ingin sekali lari-lari telanjang bulat sambil nari poco-poco.

“Aku sudah putus dengan Willy bang.” Katanya dengan nada yang tak ku mengerti.

“ Oh, hehehe.” Balasku sekena-nya, karena aku tak tau harus member tanggapan apa.

Dan, entah siapa yang memulai aku sendiri juga tak mengerti akhirnya kami malah jadian melalui via telfon itu.

Hari-hariku selama liburan pun tidak lagi dihiasi dengan merenung di tepi rawa pedalaman hutan karet sambil melempar-lempar batu atau duduk malas-malasan di bawah pohon nangka seperti hantu penunggu pohon tersebut, melainkan diteras rumah, SMS-an, telfon-an dan aku sangat menyukai hal itu. Harus ku akui, pada saat itu aku sangat mencintai wanita ini, dia benar-benar memberi warna baru dihidupku, membuat setiap malam menjadi malam minggu, dia selalu berkata tak sabar menungguku kembali ke Medan dan bertemu dengannya.

Liburan belum sepenuhnya berakhir, namun aku sengaja pulang lebih awal, tentu saja dengan niat ingin memenuhi permintaannya untuk secepat mungkin bertemu. Selama perjalanan pulang aku tidak bisa sedikitpun berhenti berfikir, menyusun kata, mencari bahan pembicaraan yang menarik, memilih tempat pertama untuk kencan, kepala ku benar-benar di isi oleh namanya saat itu, hingga akhirnya tak terasa aku sudah sampai di tanah kebanggaanku Medan. 

Begitu sampai di Medan, aku segera menyetop angkutan umum jurusan rumahku, aku ingin segera menemui kedua orang tuaku dan makan masakan ibuku. Aku sengaja duduk di depan di sebelah supir, karena kebetulan aku membawa ransel yang cukup merepotkanku. Duduk didepan membuat ku bisa leluasa memanjakan mataku dengan rasa kangen setelah cukup lama meninggalkan kota ini. Angkutan umum yang kunaiki pun melaju dengan sangat santai, membuat angin yang menerpa wajahku membuat perjalananku terasa begitu nyaman hingga tak terasa semakin dekat dengan sekolahku yang kebetulan untuk mencapai rumahku memang harus melewati sekolah SMP ku. Mataku pun semakin ber-gerilya menatapi arah sekolahanku dan aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak aku lihat. Aku melihat Bulan sedang bercengkrama dengan Willy sambil berpegangan tangan, jantungku terasa sesak sekali saat itu, ingin rasanya aku turun dari angkutan umum yang aku naiki, kemudian menghampiri mereka berdua dengan maksud meminta penjelasan dari semua ini. Namun, aku mengurungkan niat itu, yang kulakukan hanyalah mengiriminya sebuah pesan melalui handphoneku,

‘Aku melihatmu dengan Willy hari ini, kita putus aja. Maaf dan terima kasih.’

Siang itu aku tidak mendapat balasan apapun dari SMS ku kepadanya, dan aku pun mengerti kalau dia benar-benar tidak menginginkanku sepenuhnya, atau mungkin tidak sama sedikitpun, atau lebih tepatnya tidak sama sekali. Hingga hari itu berlalu pun, dia tidak memberiku penjelasan apapun. Aku tidak marah, aku tidak kecewa, aku senang memiliki rasa ini, hanya saja sampai saat ini, aku belum bisa memaafkan mereka yang menikamku dua kali di luka yang sama, luka yang sesungguhnya masih basah. Aku membakar semua kenangan yang tersisa diantara kami, semuanya kubakar hingga semua menghitam dan tak berbentuk lagi, hanya itulah yang bisa kulakukan untuk mengobati marahku saat itu, saat aku masih terlalu kecil untuk merasakan cinta dan penghianatan, dan sejak saat itulah, aku begitu tertarik dengan api.

Sekian! Cerita FIksi : First Love

@dollyishak


Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *