Cerita Fiksi : Distance

  • Whatsapp

Cerita Fiksi : Distance – Gelap masih menyelimuti langit, gerimis yang baru saja berhenti meninggalkan kesegaran pada rumput-rumput kota yang kerontang, angin menyeruak masuk melalui selah-selah dedauan, hawa dingin yang dibawanya membangunkan para ayam pejantan untuk segera berteriak dengan sombongnya menyongsong matahari pagi yang sepertinya akan sedikit terlambat datangnya.

Cerita Fiksi Distance

Read More

Theo baru saja menutup notebook-nya, setelah sepanjang malam dia bekerja menyelesaikan cerpennya yang menumpuk dikejar deadline. Fikirannya yang baru saja dilanda setumpuk kata untuk disusun menjadi sebuah plot cerita, kini harus kembali menerima cobaan terberat yang pernah ditemuinya selama dua puluh tahun dia hidup, mandi pagi.

Dingin subuh hari setelah habis gerimis ditambah dingin air yang mengguyur tubuhnya kala itu semakin menyederhanakan arti neraka yang sesungguhnya bagi Theo. Kekasihnya Vera, hari itu akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri. Tempat lokasi ujian yang tergolong jauh dari kediaman Vera, membuat Theo merasa bertanggung jawab untuk mengantarnya lebih pagi agar tidak terlambat karena harus bertarung dengan jalanan yang panjang. Untuk itulah Theo memilih terjaga sepanjang malam sembari menyelesaikan hutang-hutang cerpennya agar tidak terlambat dan kembali mengecewakan wanita yang sudah dipacarinya selama tiga tahun belakangan ini.

Dengan tampilan kemeja kotak-kotak khas-nya, dipadu dengan jeans biru butek dia menunggu Vera kekasihnya ditempat yang sudah disepakati mereka sebelumnya. Tak lupa dia membawa dua helm dan dua buah jaket agar keduanya tak beku menembus pagi yang dingin yang baru saja dilanda gerimis panjang. Lantunan irama dari we believe-nya Good Charlotte menemani penantiannya agar tidak terlarut dalam kantuk, karena sebentar lagi dia harus memikul tugas berkendara dengan sepeda motor tua-nya dalam perjalanan yang cukup jauh.

Seperti biasa, tak kurang dari lima belas menit Vera kekasihnya muncul. Senyum sumringah langsung terpancar menghiasi wajah kekasihnya itu, sementara Theo hanya menggeleng melihat kelakuan kekasihnya yang selalu terlambat lima belas menit dari waktu yang sudah disepakati setiap kali mereka ingin bertemu. Setelah memberikan helm dan jaket kepada kekasihnya, Theo pun segera memacu sepeda motor tua-nya. Tak lupa terlebih dahulu dia memastikan kalau kekasihnya sudah duduk dengan benar dibelakang punggungnya.

Suasana ramai bercampur riuh memenuhi tempat tujuan mereka. Tepat lima belas menit sebelum ujian dimulai mereka bersatu dengan keramaian itu. Dengan cekatan Theo segera menggenggam tangan kekasihnya menuju ruangan yang tertera diselembar kertas yang merupakan nomor peserta ujian Vera. Tidak butuh waktu lama bagi Theo untuk menemukan lokasi tujuan yang diminta.

Setelah menemukan meja yang ditentukan, Theo mempersilahkan Vera untuk duduk. Sementara itu, dengan cueknya Theo berjongkok disebelah kursi tempat Vera duduk, tanpa memperdulikan sekeliling yang mulai memperhatikan tingkah konyolnya.

“Jangan gugup” Nasehat Theo memecah lamunan Vera yang terlihat sangat gugup.

“Bukankah wajar bila aku gugup?”

“Kalau itu sebuah kewajaran, apakah aku berguna selama ini mengantar dan menjemputmu selama kau les?”

Bunyi bel pertanda ujian akan segera dimulai membuat pertanyaan Theo tak bisa mendapat jawaban. Theo harus segera meninggalkan ruangan dan menunggu diluar.

“Ingat Vera, sekecil apapun sinar yang berkedip dilangit malam, itu tetaplah bintang. Sekecil apapun harapan yang kau temui nantinya, itu tetaplah sebuah harapan. Dan setiap harapan pasti memiliki sebuah ujung.”

Sambil mengedipkan sebelah matanya Theo meninggalkan Vera diruangan itu, kedipan matanya seperti kedipan bintang kecil bagi Vera, menanggapi tingkah lucu kekasihnya itu, Vera hanya tersenyum, namun semangatnya terbakar seperti panasnya bintang yang segera meledak menjadi Supernova.

Setelah hampir dua jam lamanya Theo menunggu, cuaca panas matahari yang sedang merambat naik itu mulai merangsang dahaganya yang naluriah. Seketika itu pula matanya terusik dengan kedatangan seorang bapak tua yang mendorong gerobaknya yang berisi es dawet. Dengan duduk disebuah bangku papan yang sudah disediakan oleh bapak tua tersebut, Theo memesan satu gelas es dawet untuk mengisi kekosongan waktunya. Rasa manis es dawet itu memancing semua kenangan manis yang sudah terlalu banyak dilaluinya bersama Vera selama tiga tahun belakangan ini. Wanita itu mengajarinya banyak kesederhanaan, terutama mengajarkan dia tentang betapa sederhananya bahagia itu.

Bertepatan dengan habisnya serupan terakhir digelasnya, seketika lapangan parkir itu menjelma serupa lautan manusia pertanda ujian telah berakhir. Segera dia membayar es dawetnya dan secepat mungkin melesat mencari Vera ditengah kerumunan manusia itu. Ditemuinya Vera sudah menunggu tepat disebelah sepeda motor tua-nya dengan muka cemberut.

“Lama sekali?” Gerutu Vera tanpa menyunggingkan senyum sedikitpun.

“Aku hanya terlambat tidak kurang dari dua menit, dan kau sudah menggerutu”.

Segeralah Theo memacu sepeda motor tua-nya untuk mencari warung makan yang terjangkau dengan kantongnya. Acara makan siang mereka saat itu tidak begitu istimewa, seperti biasa, hanya ada mie ayam + bakso, es teh, dan obrolan sederhana.

“Bagaimana ujianmu tadi?” Celetuk Theo yang ingin mengoreksi hasil ujian yang baru saja ditempuh oleh Vera.

“Sepertinya cukup baik”

“Kau tidak pernah mengatakan kepadaku sebelumnya tentang jurusan fakultas yang kau pilih”

“Aku ini bukan gadis yang cerdas, maka dari itu aku tidak berani mengambil pilihan yang berat-berat, yang penting bisa masuk keperguruan tinggi negeri saja, itu sudah cukup membantu keadaan keluargaku, karena uang kuliahnya yang jauh lebih murah ketimbang universitas swasta.”

“Lalu fakultas apa yang menjadi pilihan itu” Sambung Theo antusias.

“Hubungan Internasional”

Raut mendung seketika mewarnai wajah Theo. Dia tahu persis kalau jurusan pillihan Vera adalah jurusan yang tidak dia harapkan. Karena Hubungan Internasional sudah tentu tidak menjadi favorit dikotanya, di Medan lebih tepatnya.

“Apa kau sudah tahu kalau jurusan itu tidak ada di Medan?”

“Ya, aku tau betul. Aku menempatkan pilihan kepada UNRI. Tapi tak perlu kau khawatir begitu, pilihan pertamaku sudah pasti di Medan. Aku memilih jurusan Teknik Sipil sebagai pilihan utamanya, Hubungan Internasional bagiku hanyalah sebuah cadangan.”

“Kita sudah sepakat sebelumya” Potong Theo tanpa mengalihkan perhatiannya dari hidangan didepannya. Sekedar mengingatkan Vera tentang sebuah kesepakatan yang dulu pernah mereka pegang.

Theo memang egois. Dia menginginkan Vera seutuhnya, bukan seutuhnya secara biologis melainkan keutuhan waktu yang dimiliki Vera. Selama ber-bulan-bulan dia mendampingi Vera kesana-kemari untuk mengikuti les ini dan itu. Theo bahkan tidak menggangu sedikitpun waktu belajar Vera, mengantar dan menjemput Vera les bimbingan. Semua itu dilakukan Theo agar Vera berhasil meraih hasil yang maksimal dan tidak perlu kuliah jauh-jauh keluar kota. Theo adalah manusia yang sangat tertutup, bahkan kepada Vera pun, dia terlalu sedikit bicara. Tak jarang setiap kali mereka berkencan, Theo lebih suka menjadi pendengar yang baik, mendengarkan semua keluh kesah Vera. Ke-egoisan Theo membuatnya begitu takut kehilangan Vera yang sudah seperti alkohol yang mencanduinya, dia benar-benar tidak siap kalau harus kehilangan Vera dari matanya. Untuk itulah Theo memberikan sebuah pilihan yang berwujud sebuah pernyataan, bahwa kalau harus melakukan hubungan jarak jauh, dia lebih memilih untuk mengakhirinya. Dan sejauh ini, selama dua puluh dua tahun dia hidup, Theo tidak pernah menjilat ludahnya sendiri.

“Sudah hampir sore, kita harus segera pulang.” Celetuk Theo memecah kesunyian yang sempat tercipta diselah waktu mereka berdebat tadi sambil mematikan rokok yang sedari tadi dinikmatinya seusai makan siang.

Malam itu, seperti biasa Theo duduk diambang pintu rumahnya, namun kali ini tidak ada cerpen yang ditulisnya. Dia hanya diam merenungkan sesuatu yang tidak ada. Dia hanya diam sambil menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan berantakan. Hatinya seperti sedang mendiskusikan sesuatu. Dia benar-benar tidak siap kehilangan Vera seutuhnya. Malam itu, bibirnya terasa lengket karena terlalu lama merapat. Alam seperti mengerti dengan kegelisahannya. Tidak ada cerpen malam itu, hanya seutas coretan dibagian belakang catatan kecilnya,

Semesta meniupkan rasa kepadaku

Angin membisikkan kata serupa lirih

Burung-burung gereja tak lagi berkicau

Aku menyambut malam.

**

Hari itupun akhirnya tiba. Untuk pertama kalinya Theo tidak bisa mendampingi Vera saat melihat papan pengumuman kelulusan, perihal dia harus menyerahkan cerpen-cerpennya secara langsung ke redaksi karena sekalian ingin mengambil honor yang tak seberapa dari redaksi. Dengan secepat mungkin dia berusaha menyelesaikan semua kesibukannya hari itu. Selesai menerima honor yang lebih tepatnya disebut biaya ganti rugi internet, Theo sengaja mampir kesebuah toko souvenir dengan maksud ingin memberikan sesuatu kepada Vera, kekasihnya.

Setelah bertarung dengan bandrol-bandrol harga yang kurang bersahabat, akhirnya pilihan Theo jatuh kepada sebuah gantungan kunci bertuliskan Together. Setelah merasa souvenir itu cukup layak dan harganya bersahabat, Theo segera membayarnya dan mengirim sebuah pesan singkat kepada Vera, 

Kita ketemu ditempat biasa, sekarang.

Ditempat yang sudah ditentukan itu, seperti biasa Theo menunggu dengan memasang earphone dan memutar satu dari sekian lagu yang ada diplaylistnya, kali ini Stand By Me milik Oasis menemaninya menunggu keterlambatan yang sudah diprediksinya sebelumnya, tak kurang dari lima belas menit.

Kemunculan Vera dengan wajah bekunya membuat Theo bertanya-tanya.

“Aku lulus” Itulah kalimat pertama yang diucapkan Vera ketika mereka bertemu.

“Oh ya ?? Keren ! “ Kegirangan melanda perasaan Theo kala itu, rasa bangga dan rasa puas bercampur menjadi satu, melihat usahanya selama ini untuk mendukung kekasihnya tidaklah sia-sia.

“Aku lulus di UNRI” Sambung Vera yang dengan seketika membekukan suasana.

Theo benar-benar tidak mengerti perasaannya saat itu. Disatu sisi, dia begitu bahagia melihat kelulusan Vera, begitu bahagia sampai dia ingin memeluk Vera dengan sekuat tenaganya. Namun, disatu sisi, dia terlalu kecewa menerima kenyataan yang ditakutinya, Vera akan menjauh dari matanya.

“Sekarang terserah kamu, bagaimana ujungnya”

Theo hanya diam, dia seperti kehilangan akal sehatnya.

“Kalau aku suruh kau memilih, apakah kau memilih aku? Atau kau tetap memilih pendidikanmu?”

“Maaf” Jawaban itu sudah cukup untuk Theo, dia bisa menerima semua kenyataan ini, hanya saja dia tidak bisa mengerti kenapa semua ini bisa terjadi.

“Aku tidak ingin kita berakhir, meski kelak kau harus jauh dari kedua mataku”

Sudah barang tentu pernyataan Theo mengejutkan Vera, Sebab Vera kenal betul siapa kekasihnya itu, Theo bukanlah tipikal orang yang mau menjilat ludahnya sendiri.

Sementara itu gantungan kunci itu masih tersimpan di saku Theo, entah apa gerangan yang membuatnya tidak memberikan hadiah kecil itu. Namun satu hal yang diketahuinya saat itu adalah, empat tahun lamanya, akan hadir pria lain dikota sana yang mungkin saja lebih mapan, lebih perduli dan tidak egois seperti dirinya. Tetapi Theo memilih untuk sombong dalam menghadapi cobaan itu.

**

Tiga bulan belakangan setelah kepergian Vera ke kota perantauan membuat Theo semakin larut dalam kesendiriannya. Beberapa tuntutan kesenian seolah berlomba ingin meledak memecahkan isi kepalanya. Ya, semua itu terpaksa dilakukannya demi menambah sedikit penghasilan selain dari tabungannya. Theo memang bukan orang yang mematok harga dalam setiap karyanya, tetapi Theo tidak pernah menolak bila disuatu ujung pekerjaannya dia diberi amplop yang berisi beberapa lembar rupiah.

Theo meminimkan segala jenis pengeluaran, dia berniat pergi diam-diam ke kota perantauan Vera untuk memberinya kejutan. Recehan demi recehan tidak pernah dia abaikan, yang ada dibayangannya hanyalah satu, pergi merayakan malam Natal bersama Vera, kekasihnya. Sebab pernah didengar dari Lukas temannya, kalau bagi perempuan itu, pergi bersama seorang pria dimalam Natal itu jauh lebih berkesan daripada melewati hari ulang tahunnya.

Dengan segenap persiapan yang se-ada-nya, Theo berangkat menuju sebuah loket bus untuk mengambil perjalanan Medan-Pekanbaru. Setelah dihitung-hitung, uang yang dimilikinya hanya cukup untuk ongkos pulang pergi, satu bungkus rokok, dan sebotol air mineral ukuran sedang. Keraguan tak muncul dalam benaknya kala itu, dia tidak didesain untuk rasa takut. Perjalanan seperti apapun akan dilakukannya, lagi pula dalam benaknya dia berfikir, toh, perjalanannya hanya dua belas jam. Maka jadilah dia berangkat, mengejar bahagianya yang sederhana, dengan cara yang sederhana pula.

Selama perjalanan, Theo tak sedikitpun bisa memejamkan mata. Dia terus berhayal betapa bahagianya Vera nantinya melihat usahanya ini. Disetiap pemberhentian dirumah makan, Theo mengasingkan dirinya dari rumah makan agar tidak melemah. Dia hanya menegak air mineralnya, dan membakar rokoknya. Beruntung bus yang dinaikinya membekali setiap penumpang dengan snack, bagi Theo, itu sudah cukup.

Setiba di Riau, hari masih terlalu siang. Theo memilih untuk tidur sejenak diterminal bus untuk menunggu sore tiba, agar momentnya tepat untuk pergi keacara malam Natal.

Menjelang sore, Theo terbangun. Dia melirik jam ditangannya, terhitung sudah dua jam dia tertidur. Dengan tangkas dia segera melangkahkan kakinya menuju kost yang menjadi kediaman Vera. Alamat kost Vera sudah pernah didapatkan Theo sebelumnya ketika Vera baru saja memulai aktifitas barunya, dikota barunya itu. 

Letak kost Vera yang tidak jauh dari wilayah kampus sangat memudahkan Theo untuk mencapainya. Dengan penuh persiapan, Theo bergegas untuk memberi kejutan lewat ketukan pintu. Namun, langkahnya terhenti, mendapati sebuah sepeda motor yang terparkir didepan kost yang dia rasa dia tidak mungkin salah alamat. Seorang pria muda seusianya duduk diatas sepeda motor yang terparkir itu. Dandanannya seperti akan pergi merayakan malam Natal.

Akhirnya keluarlah jawaban dari semua pemandangan yang bertanya-tanya itu. Vera muncul keluar dari kost-nya dengan balutan gaun pendek. Lelaki itu terlihat tersenyum sambil mengatakan sesuatu kepadanya, entah apa yang dikatakannya saat itu Theo tak bisa mendengarnya, tapi Theo bisa melihat dengan jelas, Vera menanggapinya dengan senyum. Senyum yang sama ketika pertama kali mereka berkencan.

Theo membiarkan mereka pergi. Dia lebih memilih berdiam diri diujung gang kecil itu. Dia tidak ingin merusak malam Natal wanita itu, dia tidak ingin merusak kebahagiaan Vera, kekasihnya.

Theo terduduk selonjoran di gang kecil itu. Orang-orang memperhatikannya, dia tidak perduli. Dia merasa hancur dalam keutuhan raganya. Kini Vera tidak hanya jauh dari matanya, melainkan sudah jauh dari hatinya, terlalu jauh sehingga memaksanya untuk menerima kekalahan yang diberikan nasib kepadanya. Dia mengeluarkan catatan kecil yang selalu dibawa-bawanya setiap saat, kembali dibacanya setiap kenangan yang ditulisnya dalam rupa puisi itu, semakin dibacanya, semakin larut dia dalam kesedihan.

Malam sudah semakin meninggi, gang itu sudah menjelma menjadi gua yang panjang seperti lorong waktu yang berawal oleh pertanyaan tanpa diakhiri oleh jawaban. Dirogonya saku kanannya, tempat dimana gantungan kunci yang beberapa bulan lalu dibelinya dari hasil menulis cerpen. Diletakkannya tepat dibawah pintu kost Vera, bersamaan dengan sepucuk tulisan,

Kumengerti tentangmu

Tentang bahagiamu didalam-nya

Rasamu telah pergi meninggalkan luka, dan menuai bahagia baru

Bukan sifatku menyerah, kau tahu betul akan hal itu

Namun bila benar bahagiamu berarti melepaskanmu, maka jadilah

Aku tak marah padamu, aku hanya menyesali diriku yang hanya bisa berbagi cinta lewat sajak,

Sementara aku tak bisa menyelamatkan cintaku sendiri

Aku tidak akan melupakanmu, apalagi mencari penggantimu

Tapi bukan berarti aku mengharapkan kau untuk kembali

Hari ini, kau mengajariku satu hal yang lebih sederhana lagi,

Kalau bersama itu jauh lebih baik dari selamanya.

Malam itu juga, Theo kembali menempuh perjalanan pulang. Dia tidak menyalahkan Vera, tidak ada yang bisa disalahkan. Cinta memang rumit. Memahami cinta jauh lebih sulit dari sekedar menuliskan sajak cinta. Theo tidak ingin egois, dia berlapang dada menerima segala yang terjadi. Dalam perjalanan pulang itu, dia tertidur, seutas senyum tergaris dibibirnya yang kering. Dia bermimpi, sedang berlari, entah kemana, tapi yang pasti dia berlari bukan untuk menghindar, tetapi berlari untuk mengejar sesuatu.

**

Sore itu Theo duduk diambang pintunya, seketika itu seekor burung gereja mendekatinya seperti ingin mengamatinya. Theo yang melihat burung gereja itu hanya tersenyum seraya berkata penuh canda.

“Hei burung gereja, bisakah kau terbang ke kota itu, lalu sampaikan kangenku padanya?”

Tak lama setelah candaan itu, burung kecil itupun terbang liar mengepak sayapnya dengan arogan. Sementara itu malam mulai hadir. Malam itu purnama sedang merah. Theo membakar batangan terakhir rokoknya, menariknya dalam dan menghempaskan asapnya. Celotehnya dalam hati , Malam ini Purnama sedang merah, apa kau tak ingin pulang untuk menikmatinya bersamaku? Bahuku terasa dingin merindukan sandaranmu, aroma malam menjelma serupa harum rambutmu, malam sepi ini merindukan celotehan-celotehanmu tentang masa putih abu-abu kita, apa kau tau? Dalam membencimu, aku tak pernah sungguh-sungguh.

Kilauan matahari menyilaukan mata Theo, dia tertidur sepanjang malam diambang pintu rumahnya. Kantuknya diusik oleh kicauan burung disekitarnya. Ketika kesadaran menguasainya, dia melihat seekor burung gereja sedang bermain didepannya. Theo hanya tersenyum melihatnya, tak perduli burung itu benar-benar terbang kesana atau tidak, tapi pagi itu, Theo benar-benar ingin mandi pagi. Ketika itu pula sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.

Apa kabar?

Dia tidak membalas pesan itu, dia tau betul siapa pengirimnya, dan dia hanya tersenyum sambil menegadah ke langit, Terima kasih burung kecil.

Selesai! Cerita Fiksi : Distance

@dollyishak

Dolly Ishak

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *