Cerita Fiksi : Cengeng

  • Whatsapp

Cerita Fiksi : Cengeng – Semenjak kejadian saya alami semasa SD (baca cerita fiksi – Air mata), membuat masa SMP saya lebih menyenangkan, menggambar dan menulis puisi. Ya, setidak-tidaknya tidak banyak berubah dalam diriku, kecuali berubahnya kata ‘saya’ menjadi ‘aku’. 

Cerita Fiksi : Cengeng

Read More

Yup, aku tidak lagi laki-laki cengeng yang bisa diolok-olok lagi, aku sekarang kasar, perokok, minum, dan mulai nonton video-video nakal. Semua kulakukan semata-mata karena aku bosan terinjak oleh sekitarku, aku ingin keberadaanku diakui, dan aku ingin menjadi badboy, dan dengan kekuatan bulan aku akan menghukum wanita-wanita yang menyakiti pria cengeng berikutnya.

Aku menemukan teman baru yang sama denganku, Jonathan namanya. Kami berdua bersatu karena sebuah gambar, benar, kami sama-sama suka menggambar, hanya saja jonathan tidak suka menulis puisi. Kami selalu melakukan hal-hal aneh, Pernah suatu ketika pada pelajaran Bahasa Indonesia, Jonathan yang baru saya mengerti bagaimana cara menggambar sisik naga dengan kemarok menawarkan jasa gambarnya kepada saya.

“Dean, kau mau kubuat tato naga?”

“Boleh, tapi paha ya” Perlu diketahui kenapa saya ingin di paha, bukan karena setelah kejadian masa SD saya membuat saya menjadi belok, melainkan karena pada saat itu saya sedang sibuk menyalin catatan yang ada di papan tulis.

“yaudah, tapi nanti kalau ibu itu datang, kasi kode ya”

“iya” jawabku singkat.

Maka mulailah dia masuk kekolong meja, dan mulai menggambar dipaha saya dengan spidol, kalau diperkirakan kira-kira posisinya itu lebih tepatnya dia jongkok di kolong meja menghadap ke selangkangan saya. Saya yang sudah terlalu konsen menyalin menyalin catatan yang ada di papan tulis tidak menyadari ibu guru yang sudah mulai mendekat kearah kami dengan mata kearah kolong meja, mengetahui sesuatu yag tidak beres sedang terjadi.

“jo” kataku berbisik sambil menggoyangkan paha kananku yang sedang dijadikannya kanvas gambar naganya.

“jangan goyang” balasnya sambil membenarkan posisi kakiku agar kembali ke posisi semula. Namun itulah kode terakhir yang bisa kuberikan karena ibu guru sudah berdiri tepat dihadapan saya, menatap saya dengan tatapan yang seram seperti tatapan seekor singa di musim kawin. BRAAAAAAKKKKK !!!!! suara meja yang dihantam ibu guru dengan telapak tangannya ternyata mengejutkan jonathan yang sedang berada di bawah kolong meja, karena terkejut Jonathan tersentak ingin berdiri, namun dia lupa kalau dia sedang berada di kolong meja dan BRUUUUUUUUKKKK !!!!! suara meja yang dihantam oleh kepala jonathan hingga meja terangkat cukup tinggi.

“NGAPAIN KAU PEGANG-PEGANG PAHA SI DEAN ITU ?! HOMO KALIAN YA ?!!

Jadilah sejadi-jadinya seisi kelas meledak tertawa, dan sejak saat itu, orang menganggapku Homo. Hari-hari ku lalui tanpa hadirnya mahkluk bernama perempuan bersama sahabat baruku itu. Pernah suatu ketika bertepatan dengan hari ulang tahun ku, Jonathan memberikanku sebuah kado yang sangat berarti untukku , dia memberikan ku sebuah komik buatannya sendiri, komik yang bercerita tentang pertarungan robot yang dikendalikan oleh manusia didalamnnya, kebetulan pada saat itu aku sedang demam-demannya dengan Gundam juga Full Metal Panic. Dia mendesain komik itu sendiri dengan gambar tangannya tanpa media computer sedikitpun, dimana pada cerita di komiknya itu aku adalah tokoh jagoan yang bertarung menggunakan robot andalan saya untuk menumpas kejahatan. 

Aku sangat senang dengan model gambar yang dia gunakan, benar-benar bergaya Full Metal Panic, hanya saja yang membuat ku kurang suka adalah tulisan tangannya, cukup membingungkan. Aku pernah mengikuti praktikum biologi tentang mikroba, dan kami di fasilitasi dengan mikroskop, aku iseng dan mengambil sebuah tusuk gigi, kemudian mencongkel-congkel gigi gerahamku sendiri, lalu meletakkan tusuk gigi itu ke meja preparat mikroskop kemudian meneropongnya dari lensa mikroskop tersebut, dan aku melihat banyak kuman-kuman melalui lensa mikroskop itu, tulisan Jonatan seperti itu.

Keseharian yang sering dilakukan Jonathan yang sangat merepotkan adalah, minta tolong dibuatin puisi cinta untuk nembak cewek. Sahabatku yang satu ini adalah pejuang cinta sejati, yang menjadi problema utamanya adalah, setiap kali dia mengirimkan puisi cinta yang saya buatkan kepada targetnya, dia selalu diterima. 

Kadang aku jadi berfikir, apakah cewek semudah itu untuk di bodoh-bodohi dengan sebuah sajak tentang anggur dan rembulan? Padahal, perlu pembaca ketahui kalau sesungguhnya puisi-puisi yang saya berikan kepada dia itu kebanyakan saya tulis ketika aku berada dikamar mandi, terutama ketika BAB. Dengan kata lain, refrensi terbesar aku ketika menulis cinta adalah tahi. Tak jarang setiap kali aku selesai BAB dan hendak menyiram kotoran tersebut, aku tak lupa memberi nama terlebih dahulu kepada setiap kotoran-kotoranku, sebagai tanda terima kasihku atas inspirasi yang diberikannya kepadaku secara Cuma-Cuma.

Aku jadi teringat ketika pertama kali kami belajar merokok. Hari itu, hari Minggu. Kami patungan untuk membeli sebungkus rokok mild dan sebuah korek api gas, lalu kami berdua pergi kesuatu tempat dipinggiran sebuah ladang. 

Pada saat itu, kami saling melempar korek api gas satu sama lain, pertanda masih terlalu takut untuk memulai terlebih dulu. Sampai pada akhirnya, aku mantan pejuang kitab suci yang beberapa waktu lalu baru pulang dari barat, seorang pejuang kitab suci yang tampan, yang dikejar-kejar wanita, yang membuat wanita melolonglong kesepian di penghujung lembah, yang maskulin dan cool, yang akhirnya memulai untuk memulai ritual merokok tersebut. Rasa pertama yang ku rasakan ketika pertama kali merokok adalah, ‘aku seorang keren’. 

Yup, alasan pertama kali kami belajar merokok pada saat itu adalah biar terlihat keren, tidak kurang, boleh lebih. Begitu batang rokok pertama kami habis, dengan metode merokok yang salah kami pun saling bertatapan dan kembali saling melempar 14 batang rokok yang tersisa untuk di bawa pulang, sampai akhirnya kami memutuskan untuk mengubur rokok tersebut untuk dipersembahkan kepada dewa bumi. 

Sepanjang perjalan pulang kami keringat dingin, takut ada yang melihat kami, lalu menculik kami dan meminta uang tebusan kepada orang tua kami masing-masing. Maka, sebelum itu semua terjadi, kami sengaja membeli permen mint agar nafas kami tidak bau rokok, lalu mengambil daun jambu kelutuk dan mengosok-gosokkannya ke jari-jari bekas kami memegang rokok tadi, agar jari kami juga hilang dari aroma rokok. Setidaknya ketika si penculik itu menculik kami, dan meminta uang tebusan kepada orang tua kami dan orang tua kami menebusnya, mereka tidak akan mencium aroma rokok dari tubuh kami, sehingga kami akan di kasihani karena baru di culik, bukan di marahi karena merokok.

Setelah begitu banyak kegilaan-kegilaan yang kami lakukan berdua, kami sudah menganggap satu sama lain sebagai partner in crime, keren kan? Jelas dong, aku kan memang keren. Tibalah saat-saat kenaikan kelas, petaka terjadi lagi pada saat itu, karena ternyata persahabatan yang kami lakukan adalah salah, kami terlalu sibuk bermain, menggambar, dan melakukan hal-hal gila, kami lupa untuk saling mendukung dalam pelajaran. Jonathan tidak naik kelas, dan aku hanya bisa menatapi keadaan yang mengalahkan kami, aku tidak tau harus senang karena aku naik kelas, atau harus sedih karena aku naik kelas tapi terpisah dari dia. Yang bisa kulakukan hanyalah memberi semangat-semangat palsu yang aku yakin tidak berguna karena tidak bisa mengubah keadaan yang sudah terjadi. 

Pengalaman itu menjadi sebuah pukulan bagi kami untuk lebih berkualitas dalam bersahabat dan tidak hanya bermain dan menggambar. Jonathan laki-laki yang jantan, dia tidak berniat pindah sekolah dan memilih tetap disekolah itu menahan rasa malu kepada teman-teman yang lain yang akan segera duduk di bangku kelas II SMP, dia melakukannya semata-mata hanya untuk bisa tetap bersama denganku. Terlintas sebuah pertanyaan di benakku, ‘Apakah aku akan melakukan hal yang sama dengan dia, apabila aku berada di posisinya?’ , aku tidak bisa menjawabnya. 

Yang kulakukan hanyalah tetap menggambar bersama dia, karena yang ku rasa, hanya itulah yang dibutuhkannya, karena aku tau benar, siapa sahabatku. Dia tidak menangis menghadapi masalah sebesar itu, membuatku malu pernah menangis hanya karena ketahuan guru pacaran di usia dini, dengan perempuan yang tak pernah aku cintai. Aku harus sekuat dia, dan aku tidak mau lagi jadi anak laki-laki yang cengeng, aku bersumpah.

Sekian! Cerita Fiksi : Cengeng!

@dollyishak


Dolly Ishak

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *