Cerita Fiksi : Baterai

  • Whatsapp

Cerita Fiksi : Baterai – Suara riuh kegaduhan kelas bergemuruh saat itu, disebuah sekolah SD Negeri yang berdiri disalah satu perumahan nasional, sebuah sekolah dasar yang berdiri tepat dihadapan sebuah tembok yang memisahkan sebuah gereja dan mesjid, seolah mempertontonkan indahnya perbedaan dalam sikap toleransi tanpa harus mengindahkan tembok tipis yang menjadi penghalang kedua bangunan suci tersebut.

Cerita Fiksi : Baterai

Read More

Ditengah kegaduhan itu, Didin, seorang bocah kelas V SD, hanya duduk dibangkunya yang berada dipojok sebelah kanan kelas, sendiri. Kegaduhan kelasnya yang semakin riuh itu tak sedikitpun menarik perhatiannya, dia tetap menggambar dikelasnya yang sedang kehilangan guru entah kemana, menggambar adalah hal yang paling senang dilakukannya selaman beberapa tahun belakangan.

Setahun telah berlalu sejak kepindahan Didin ke sekolah dasar itu, dikarenakan ayahnya dipindah tugaskan. Selama setahun itu pula Didin tak kunjung mendapatkan seorang teman pun. Beberapa orang disekolahnya menganggap Didin bukanlah figur yang menarik untuk didekati, ditambah lagi sikap Didin yang cenderung tertutup dan lebih suka bergaul dengan buku gambar, dan buku astronomi. Ya, Didin bercita-cita untuk menjadi astronot, untuk itulah dia begitu menggilai tata surya, dan memakan bacaan apa saja yang berhubungan dengan tata surya.

Bel tanda istirahat berbunyi, membuat kegaduhan kelas berpindah kelapangan sekolah, karena murid-murid yang dengan segera menghambur keluar kelas. Sementara itu, Didin berjalan loyo ketempat dimana dia biasa menghabiskan waktu istirahatnya, perpustakaan.

Meski tergolong kecil, perpustakaan sekolah itu memiliki cukup banyak pasokan bacaan yang menarik bagi Didin, mulai dari cerita rakyat, IPTEK, sampai Astronomi, buku yang digemarinya. Untuk ukuran perpustakaan sekolah dasar, tentu sudah bisa dipastikan hanya Didin-lah pelanggan tetap diruangan kecil itu. Tak jarang Didin meminjam buku-buku yang ada disana karena waktu istirahat yang sangat pendek. Ditengah kesibukannya membaca, akhirnya untuk pertama kali, ada yang mengusiknya saat itu, guru mata pelajaran IPA mereka, ibu Saripah.

“Bisa ibu ganggu sebentar Didin?” Tanya ibu Saripah dengan lembut, ibu Saripah memang guru yang sangat ke-ibuan dimata Didin. Tanpa menjawab Didin segera menutup buku yang sedang dibacanya, dengan wajah takut kalau-kalau dia telah melakukan kesalahan yang besar.

“Bulan depan ada perlombaan IPA tingkat kecamatan, dan para guru sudah merapatkan wakil sekolah kita, dan kamu yang terpilih, ibu kepala sekolah juga setuju.” Tembaknya langsung.

Didin yang mendengarnya sangat terkejut, terang saja dia terkejut. Disekolah itu ruang kelas V dibagi menjadi dua kelas, dan Didin adalah penghuni kelas B. Dikelas Didin hanya menduduki peringkat ke-dua, dengan kata lain, sebenarnya ada dua orang yang menduduki peringkat pertama dikelasnya masing-masing.

“Kenapa saya bu?” Tanya Didin merasa tak siap.

“Karena melihat pengalaman tahun lalu, kenapa kita kalah adalah karena minimnya pengetahuan umum yang dimiliki oleh wakil sekolah ini, sementara pengetahuan umum menjadi salah satu yang diujikan dalam perlombaan itu Didin, dan kami para guru melihat potensi itu ada pada diri kamu, kamu mau ya”

“yaudah bu” Jawab Didin setengah terpaksa.

Semenjak hari itu, keseharian Didin menjadi berubah 180 derajat. Dia tidak lagi memiliki waktu untuk menggambar, bahkan untuk belajar pun dia tidak lagi di kelas regular, melainkan diperpustakaan. Saat itu perpustakaan seolah disulap untuk menjadi ruang pribadinya. Tumpukan-tumpukan model soal, bahan-bahan rangkaian listrik, serta tabung reaksi dan segala macam peralatan kimia sederhanya seketika menjadi penghias meja belajarnya.

“Bagaimana persiapan kamu nak?” Tegur kepala sekolahnya, membuat Didin terkejut.

“Saya gugup bu”

“Tidak perlu gugup, harusnya kamu bangga menjadi wakil sekolah kita”

“Kenapa saya harus bangga bu?”

“Karena kamu sudah membantu sekolah ini untuk ikut berkompetisi Didin”

“Berarti saya sudah jadi anak yang baik?” Tanya Didin polos.

“Tentu saja Didin, kita sebagai manusia harus saling membantu” Jawab ibu kepala sekolahnya sembari mengelus-elus rambut Didin, sementara itu Didin hanya menunduk, berfikir, dalam hatinya dia bertanya-tanya, Apa semudah itu untuk menjadi orang baik?.

Hari perlombaan pun tiba. Didin berangkat menuju lokasi perlombaan dengan menenteng koper yang berisi segala jenis peralatannya untuk mengikuti lomba itu. Dia didampingi oleh ibu kepala sekolah dan ibu Saripah. Selama perjalanan menuju ketempat perlombaan, Didin tak henti-hentinya menggenggam koper peralatannya, sambil terus menghitung jumlah tiang listrik yang dilewatinya, tiang listrik yang terlihat dari kaca belakang sebelah kanan mobil yang dinaikinya, mobil ibu kepala sekolah.

Sesampainya dilokasi lomba, untuk pertama kalinya Didin terusik oleh keramaian yang tersaji dihadapannya, Ada banyak anak seumuran dia yang didampingi oleh beberapa guru dan orang tua, yang diprediksi Didin sebagai saingannya untuk membantu sekolahnya memenangkan kompetisi tahunan itu. Semakin banyak yang dilihatnya, semakin erat dia menggenggam koper peralatannya.

Pembagian ruang pun berlangsung, seolah sudah menjadi takdirnya, Didin kembali mendapatkan tempat duduk dipojok kanan ruangan. Selama pengarahan berlangsung, Didin tidak sedikitpun menyimak apa yang disampaikan oleh orang yang berdiri didepan kelas selaku pengawas ujian itu, dia terlalu sibuk menimbang-nimbang siapa kelak yang menjadi pesaing terkuatnya diruangan itu.

Tes demi tes berlangsung, dengan mantap Didin bisa mengatasi soal-soal yang disajikan didepannya dengan baik. Hingga sebuah petaka terjadi ketika ujian tentang rangkaian listrik berlangsung. Didin yang sebenarnya merasa kalau tes seperti ini bukan masalah besar baginya, dengan sangat cepat menyelesaikan dua macam rangkaian yang diminta, yaitu rangkaian seri dan rangkaian paralel. Ketika hendak menyusun semua peralatan kimia dan rangkaian listriknya kedalam koper dan hendak meninggalkan ruangan, seketika itu pula dia melihat peserta dimeja sebelahnya dengan muka bingung mengacak-acak kopernya seperti sedang mencari sesuatu.

“Cari apa?” Tanya Didin ramah.

“Aku lupa bawa baterai, rangkaianku gak bisa selesai” Jawabnya penuh sesal

“Ini, pakai baterai ku aja” Tawar Didin seraya memberikan baterainya kepada saingannya itu.

Namun kegiatan itu tertangkap oleh pengawas dan menganggap Didin melakukan kecurangan, sehingga Didin mendapat hukuman penalti nilai, dan diperintahkan untuk sesegera mungkin untuk meninggalkan ruangan.

Ketika pengumuman pengambilan peringkat tiga besar, nama Didin hanya menduduki peringkat ke-empat umum, dan tidak berhak untuk mengikuti putaran kedua di Jakarta. Terlihat kekecewaan hadir dimata kepala sekolahnya, Sementara itu Didin hanya bisa kembali menggenggam erat koper praktiknya hingga telapak tangannya basah. Mereka pulang tanpa banyak bicara selama diperjalanan pulang, yang dilakukan Didin kembali hanya menghitung setiap tiang listrik yang dilaluinya selama perjalanan. Segala jenis pertanyaan muncul seperti ingin meledakkan isi kepalanya, namun hingga malam tiba, tak satu jawaban pun ditemuinya. Namun Didin memahami satu hal dari semua itu, bahwa apa yang baik kita berikan kepada orang lain, belum tentu baik pula yang kita dapatkan, terlebih lagi yang jahat.

Selesai! Cerita Fiksi : Baterai

@dollyishak

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *