Cerita Fiksi : Air Mata

  • Whatsapp

Cerita Fiksi : Air Mata – Kehidupan masa SD saya tidak menyenangkan sama sekali, tidak banyak yang ingin berteman dengan kutu buku seperti saya. Maka, kebanyakan hari-hari saya dilalui dengan bermain karet gelang bersama anak-anak perempuan lainnya, bukan karena saya banci, tetapi karena semua permainan laki-laki tidak ada yang bisa saya kuasai karena fisik yang lemah. Ya, Tuhan memang adil, ditengah ketampanan yang saya miliki Dia memberi saya kekurangan di fisik, saya mudah lelah. Namun bukan berarti saya tidak memiliki teman laki-laki, ada juga beberapa dari teman sekolah saya yang mau bergaul dengan saya, tentunya saya nurut-nurut saja apa kata mereka, kalau tidak saya bisa dihajar.

Cerita Fiksi Air Mata

Read More

Kejadian bermula ketika disuatu siang menjelang sore, saya bersama teman saya Winata berkeinginan untuk bermain video game di suatu tempat yang tak jauh dari rumah saya, tetapi cukup jauh dari rumah Winata. Ditengah kondisi lapar dan terik matahari yang melanda perjalanan kami, perjalanan itu pun terasa seperti perjalanan ke barat untuk mencari kitab suci, dimana kami harus melewati banyak rintangan dari siluman-siluman jahat yang ingin merebut ketampanan saya. Kengerian perjalanan itu terasa begitu menusuk kalbu, menyayat hati, membuat hati kami gerimis yang dihiasi oleh gemuruh petir-petir yang menambah kelamnya kenyataan yang kami terima, tempat video gamenya tutup.

Dengan semangat yang sudah luntur seperti kain hitam yang direndam pemutih, kami memutuskan untuk pulang lagi ke timur, barangkali kitab sucinya sudah pindah kesana. Seperti biasa saya yang saat itu dijuluki manusia udang karena jalan saya yang bungkuk, berjalan lesu dan sepanjang jalan hanya menatap ke bawah. Seketika melewati sebuah komplek perumahan, saya dan Winata seperti mendengar suatu teriakan yang tidak asing ditelinga kami. Namun, ketika kami sama-sama melihat kebelakang mencoba memastikan apa yang kami dengar, kami tidak menemukan apa-apa, dan kami kembali berjalan tertunduk seperti sepasang laki-laki yang tidak bisa move-on, tetapi optimis karena hidup harus go-on.

Sekali lagi langkah kami terhenti dan serentak melihat kebelakang seperti sebuah koreografi yang sudah ditentukan ,tidak salah lagi, teriakan itu adalah nama saya. Dengan lebih cermat kami mencari dari mana teriakan itu berasal.

“itu!” seru Winata sembari menunjuk ke suatu arah dengan tujuan mempermudah saya menemukan arah yang sudah dia temukan. Dan saya mendapati Andine, teman sekelas saya yang selalu juara 1 sedang melambaikan tangan kanannya yang memegang sebuah buku. Dengan langkah seperti ninja kami pun menghampirinya berharap dia punya sirup kurnia yang bisa menyelamatkan kegersangan kami setelah menempuh perjalanan berat mengambil kitab suci. Namun ,ketika kami mendekat, muncullah dari belakangnya Avril, teman sekelas saya juga yang rangkingnya gak pernah beranjak dari posisi 4 dan berusaha merebut buku dari tangan Andine.

“Ada apa?” sapa Winata yang semakin heran melihat mereka saling berebut buku berwarna biru itu.

“Ini ,ambil!.” seru Andine sembari menyodorkan buku biru itu dengan susah payah karena Avril terlihat begitu gigih untuk merebutnya. Namun, inilah kelebihan Winata yang mahir dalam mencuri jambu air, dengan sangat mudah dia berhasil merebut buku biru itu dan segera menarik tangan saya untuk ikut lari bersama dia, karena Avril yang dari tadi bergulat dengan Andine kini mulai mengejar kami dengan tatapan yang lebih sadis dari tatapan siluman kelabang di film Journey to the west. Tetapi, sekali lagi, inilah kelebihan Winata sang maling jambu air, larinya benar-benar cepat, mungkin bila lomba lari dengan Siluman babi dia bisa menang telak. Setelah merasa Avril sudah tak lagi mengejar kami, dengan nafas ngos-ngosan kami duduk selonjoran ditepi jalan sambil mulai membuka isi dari buku biru ini, dengan jantungan kami membukanya, berharap inilah kitab suci yang kami cari ke barat tadi.

Halaman 1

Sejak pertama kali bertemu dengan Dean, ada yang lain dihatiku . . .

Saya berhenti membaca, lalu melihat cover buku biru ini, tertulis nama pemiliknya ‘Avril’. Saya dan Winata pun saling bertatapan, menunjukkan muka bego yang sadar kalau kami salah merebut buku biru yang kami duga adalah kitab suci yang ada di barat. Dengan merasa bersalah kami kembali ketempat dimana kami bertemu dengan Andine dan Avril lalu Winata mengembalikan buku biru itu. 

“Pasti sudah kalian baca kan?!.” Bentak Avril.

“Belum.” Jawabku sok keren.

“bohong!.” Bentaknya lagi.

“Iya, sudah.”Jawab ku ringan

“Jadi udah tau kau isinya ?!.” Bentaknya lagi, dalam hati aku bertanya, apa ini anak gak diajarin orang tuanya nya ya? cara berbicara ama pejuang kitab suci yang baru pulang dari barat. Saya hanya diam, lalu Avril berlari masuk kerumah yang setelah aku tau ternyata itu rumahnya. Melihat Saya dan Winata yang berdiri terpaku seperti mengharapkan kurnia itu benar-benar ada, Andine mempersilahkan kami masuk kerumah-yang bukan-rumahnya. Rumah Avril, cewek yang baru saja saya baca buku hariannya, tentang saya.

“Jadi gimana vril?.” Tanya Andine yang memecah keheningan rumah mungil itu.

“Apanya yang gimana?,Tanya dia lah.” Jawab Avril dari balik kamar karena masih merasa malu untuk bertemu dengan pejuang kitab suci yang telah membaca kitab sucinya.

“Gimana ?” Tanya Andine ke arah saya, membuat saya bingung harus menjawab apa atau harus melakukan apa. Saya hanya menaikkan bahu, tidak jelas menandakan masa bodoh, tidak tau, atau terserah. Dan bodohnya, dengan sok cool, dengan sok paham, sok dewasa, saya malah bertanya,

“Jadi kita jadian?”

“Gimana vril? Mau ?” Tanya Andine.

“Mau lah” jawab Avril singkat.

Setelah jawaban itu saya bersama Winata yang sedari tadi hanya diam memutuskan untuk berhenti mencari kitab suci yang sesungguhnya dan kembali menjadi bocah ingusan yang doyan main video game, dan hari itu saya adalah bocah ingusan yang sudah punya pacar, bocah kelas V SD sudah punya pacar! Sudah punya pacar bocah kelas V SD! Kelas V SD sudah punya pacar, bocah!. Sepanjang perjalanan pulang saya tidak bisa sedikitpun melepaskan isi kepala saya dari kejadian yang baru saja saya alami.

Hari pertama masuk sekolah setelah kejadian itu pun datang, dan rasa aneh benar-benar terjadi, ntah kenapa untuk pertama kalinya saya merasa malas untuk pergi kesekolah. Dan yang lebih parahnya lagi resiko ketampanan saya membuat segala hal yang terjadi tentang saya akan menyebar begitu cepat sampai keseluruh belahan dunia. Mendengar kabar itu, maka banyaklah wanita-wanita yang menangis meraung-raung di ujung lembah seperti serigala yang melonglong menunjukkan kesedihannya.

Tentang semua yang sudah terjadi ini mulai membuat saya terbiasa menghadapi hari, walaupun sebenarnya aku tidak juga mengerti apa tujuan dari semua ini, sampai suatu ketika Avril mengadakan acara ngumpul-ngumpul di rumahnya karena kebetulan kedua orang tuanya sedang pergi keluar rumah, tidak tau kemana, mungkin mencoba peruntungan dengan mencari kitab suci ke barat. Ketika saya sampai dirumahnya, awalnya hanya ada saya, Winata , Avril, serta Andine. Perlahan tetapi pasti, satu per satu teman-teman sekelas kami pun datang meramaikan acara yang sebenarnya saya juga gak tau itu acara apa. Dia duduk disamping saya dan yang sangat menyebalkan adalah ketika teman-teman bersorak-sorai seperti komplotan cheers yang menjijikkan yang sedang kegirangan melihat orang ganteng duduk menghadiri acara mereka. 

Saya ingat ketika itu dia hendak menyiapkan minuman dan dia bertanya pada saya.

“mau minum apa?”

“kopi pahit” jawab saya singkat, dan menghasilkan muka heran di raut wajahnya membuat saya bertanya-tanya, dan setelah saya menulis kembali cerita ini baru saya sadari kalau kopi pahit bukan minuman bocah kelas V SD yang wajar. Tentu saja saya berbeda, itu makanya saya diutus untuk mencari kitab suci. Dan, masuklah kita ke adegan yang paling menjijikkan yang pernah saya alami ketika dia menyuguhkan satu ruangan dengan es teh, tibalah giliran dia menyuguhkan kopi pahit itu kepada saya dan Andine yang super resek itu berkata,

“cium lah” dan semua kembali menjelma menjadi sekelompok cheers yang menijijikkan.

Dan yang lebih tololnya, ntah kenapa aku harus menuruti bisikan Winata yang menyuruh saya untuk menciumnya, atau mungkin emang saya nya juga mau kali ya?

Dan, eng-ing-eng, saya mencium pipi kirinya, kemudian dia membalas mencium pipi kanan saya. Rasanya aneh, saat itu saya merasa masa kecil saya hancur berkeping-keping, saya ingin berlari ke hutan dan berteriak TIDAAAAAAAAAKKKKKKKK!!!!, tapi saya urungkan karena hutan jauh dari tempat itu. Saya benar-benar malu sekali pada saat itu dan hanya diam sampai acara selesai dan saya segera ingin pulang dengan gaya sok cool namun dibatalkan karena diperjalanan pulang saya dihadang oleh musuh berbuyutan saya Anjing. Dengan pura-pura mencari barang yang ketinggalan saya melewati rumahnya lagi dan memutar untuk menghindari kepungan musuh abadi saya itu, dan terpaksa menempuh perjalanan yang lebih jauh dari pada seharusnya. Aku benci Anjing.

Setelah kejadian itu kami jadi duduk sebangku di les sore yang diadakan oleh sekolah dan petaka terjadi pada hari itu. Ketika sekelompok laki-laki bermulut emak-emak mulai nyerocos kayak lubang pantat platipus ketika sedang les dimata pelajaran IPA. Mereka membeberkan kepada guru pembimbing tentang pacaran kami, bahkan sampai ke ciuman itu. Saya yang masih bocah kelas V SD tentu saja ketakutan kalau sampai orang tua saya tau. Seluruh kelas ricuh saling berteriak menyoraki kami dan meyakinkan guru kalau itu semua benar. Saya hanya diam tak ada pembelaan, dan ketika Avril juga kena ledekan dari seisi kelas, saya juga hanya bisa diam tanpa bisa melindungi dia, kemudian, saya menangis. Air mata mengalir deras karena ketakutan, ingus meler-meler, nafas terisak-isak, dan seluruh kelas semakin meledeki saya cengeng. Untungnya pada saat itu ibu guru berhasil meredam suasana dan menertibkan kelas, namun saya masih belum bisa berhenti menangis sampai les berakhir.

Ketika les berakhir, Avril mendatangi saya dang berkata,

“Kita putus, karena kamu cengeng!”

Untuk pertama kalinya saya merasakan sakit yang tidak berdarah, bukan karena saya diputuskan, tetapi karena dia yang seharusnya menguatkan saya, malah memutuskan saya karena saya cengeng. Saya tidak bisa berkata apa-apa karena setelah dia berkata seperti itu, dia segera berlalu, dan saya hanya bisa menatapi punggungnya yang kian lama kian memudar dikalahkan oleh jarak yang kian lama kian menjauh.

Beberapa hari setelah kejadian itu, semua mulai kembali normal, dan seperti biasa saya seorang diri di sekolah, tidak ada teman, Cuma buku-buku di perpustakaan sekolah yang menemani saya selama jam istirahat, karena kebetulan dari kecil saya memang senang membaca, tata surya adalah ilmu yang menarik bagi saya pada saat itu, membuat saya bercita-cita menjadi seorang astronot. Hari itu Valentine, sebenarnya saya tidak begitu mengerti apa itu hari valentine, hanya yang saya tau dari televisi kalau hari itu adalah hari dimana, orang pacaran itu merayakan sesuatu yang ntah apalah itu.

Seisi sekolah sibuk membicarakan hal itu, membuat kupingku terasa lebih panas dari pada bintang biru, dari pada membahas hal yang tidak penting itu, saya lebih tertarik membahas kenapa para ilmuan bisa memprediksi suhu dari panasnya inti matahari. Ketika pelajaran terakhir selesai bel tanpa kegiatan sekolah pun berbunyi, saya segera mencoba membereskan tas saya, dan saya heran melihat Avril yang tiba-tiba berlari sekencang-kencangnya seperti kesetanan, padahal menurut saya dia setannya. Ketika hendak kembali membereskan buku-buku yang berserakan di meja saya dan hendak memasukkannya kedalam tas, saya terkejut melihat sesuatu yang asing ada didalam tas saya. Sebuah kotak musik. Dan di kotaknya tertulis,

From : Avril

To     : Dean

Saya segera memasukkan lagi benda itu kedalam tas dan bergegas kembali kerumah. Dikamar saya dengan kemarok bolak-balik membuka tutup kotak musik tersebut, karena jujur, itu adalah hadiah pertama yang saya dapatkan dari orang yang bukan keluarga saya, dan hadiah itu diberikan pada hari Valentine. Pertanyaan yang muncul dalam benak saya adalah , ‘kenapa dia melakukan ini?’. Saya yang seperti terhipnotis memecahkan celengan ayam saya dan memungut uang-uang yang berserakan dari dalamnya, saya segera ganti baju dan bergegas kerumah Winata, kemudian menceritakan semua yang terjadi. Maka kami memutuskan untuk membalas kado pemberiannya dan pergi ke Gramedia.

Sesampainya di Gramedia, saya langsung menuju ke bagian pernak-pernik di pojok kiri lantai 1, dan setelah cukup lama bergelut tentang hadiah apa yang akan saya berikan, akhirnya pilihan saya jatuh kepada sebuah buku harian berwarna biru, mengingat buku harian berwarna biru lah yang dulunya menjadi benang merah dari semua kejadian ini. Setelah membayarnya ke kasir, saya mengajak Winata untuk makan siang yang agak mewah di salah satu restoran fast food. Ternyata ini buka ide yang baik karena akhirnya biayanya meledak dan sebagai bocah kelas V SD, tentunya saya tidak memiliki uang yang banyak, maka jadilah uang yang tersisa Rp,2000 -, dan perlu pembaca ketahui kalau ongkos angkutan umum 1 orang dari restoran fast food itu ke komplek perumahan kami adalah Rp,1500 -, maka itu berarti uang kami minus Rp – 1000 -,. Kejadian itu memaksa kami menjelma menjadi pejantan tangguh yang maskulin. Ketika angkutan umum yang kami naiki mulai mendekati area komplek kami, kami minta menepi dan membayar ongkos, kemudian lari terbirit-birit. Sangat maskulin.

Tibalah giliran memberikan kado tersebut kepada Avril, ini adalah adegan yang paling cool yang pernah saya lakukan, saya mendatanginya , menatap matanya , kemudian memberikan kadonya, setelah itu berlalu seperti Ultraman yang membelakangi musuhnya dulu sebelum musuhnya meledak. Sejak kejadian itu , semua seperti kembali normal, kami kembali berteman dan melupakan kejadian bodoh yang pernah terjadi diantara kami sebelumnya.

Hari kenaikan kelas pun tiba, hari ini aku tidak lagi bocah kelas V SD, tapi bocah kelas VI SD, hahahaha. Selama semester 1 di kelas VI, tidak ada yang spesial. Aku duduk sendiri di bangku paling pojok kelas, belajar dan belajar, ketika istirahat, seperti biasa aku hanya duduk di perpustakaan menambah pengetahuan ku tentang tata surya agar aku bisa jadi astronot. Aku sangat ingin menjadi astronot, bagiku menjadi astronot itu sangat menarik, kita bisa melihat dunia dari sisi yang berbeda. Kesendirian yang aku alami selama masa kecilku membuat aku menjadi lebih dewasa dari pada seharusnya, membuatku mulai menyukai hal-hal yang disukai orang dewasa, mulai dari selera film,musik, serta bacaan.

Ketika memasuki semester 2, wali kelas kami melakukan rotasi bangku, dan sialnya, aku ditempatkan 1 bangku dengan Avril. Ini jelas tekanan batin, sekali lagi aku bertanya dimana kak Seto? Selamatkan aku kak Seto! , ini pembunuhan karater!. Tapi apalah daya ku , aku hanya bocah tampan yang tidak bisa berbuat apa-apa. Hari-hari pun saya lalui dengan sebangku bersama Avril, awalnya kami hanya saling diam-diaman sampai akhirnya dia mulai baik lagi pada saya dan seperti ingin merajut kembali benang-benang cinta (Uuueegg). Sejujurnya sampai saat ini, saya sama sekali tidak pernah benar-benar mencintainya, namun saya juga tidak bisa memberikan alasan yang logis tentang kenapa semua ini bisa terjadi. Ntah apa maksud dan tujuan dari dia melakukan semua hal yang membuat saya kembali dekat dengan dia, bukan munafik, tapi sesungguhnya saya hanya ingin semua kembali normal, tidak harus menjalin hubungan lagi, cukup berteman, karena saya juga tidak merasa kehilangan ketika dia memutuskan saya karena saya cengeng.

Tibalah saat dimana dia benar-benar membuat saya bertanya-tanya dengan segala jenis perhatian yang dia berikan kepada saya. Dan saya pun mulai kembali memberinya perhatian dan mencapai fase nakal sebagai laki-laki. Dan ntah memang tujuan dia mempermainkan saya atau apa, ditengah hubungan kami yang sudah kembali dekat, tiba-tiba dia memberikan sepucuk surat kepada saya melalui Cristian, preman sekolahan, cowok maco dengan rambut model Spy. Tentu saya berfikir itu adalah surat cinta, dan saya membacanya bersama Cristian,

To : Dolly

Maaf ya Dean,

Aku tidak mencintaimu , aku mencintai orang lain

Aku mencintai Cristian.

Maaf ya , aku gak suka cowok yang cengeng kayak kamu.

Selesai membaca surat yang sebenarnya lebih panjang dari itu, Cristian pun berkata,

“Sorry ya bro, dia sukanya sama aku” Sambil menepuk bahu saya, kemudian pergi berlalu meninggalkan aku sendiri di halaman belakang sekolah.

Sejak kejadian itu aku berfikir kalau mungkin benar saya tidak mencintainya, tetapi setidaknya, dia telah berhasil membuat saya merasa sakit. Mungkin benar aku Cuma bocah cengeng dan tidak punya teman, dan mungkin dia juga benar, kalau laki-laki itu tidak boleh menangis, atau dia memberi tahu saya kalau laki-laki itu harus badboy. Pengalaman ini lah yang mengajarkan saya untuk mulai menulis puisi, karena kertas dan pena adalah teman yang paling setia dan tidak penah mengeluh. Karena terkadang, dalam mencapai sebuah arti, kita perlu tahu dulu, apa itu kepalsuan. Malam itu, untuk pertama kalinya aku mengeluarkan air mata ketika aku sedang melamun, dikamarku, sendirian.

@DollyIshak


Dolly Ishak - Cerita Fiksi Medan


Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *