Cerita Seni : Peduli Tanah, Air

  • Whatsapp

Sabtu, 25 Januari 2014, di sekretariat
Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sumatera Utara, diadakan sebuah pentas seni
bertajuk, Suara Dari Alam: Peduli Tanah, Air. Sebuah pentas yang
diselenggarakan sebagai sebuah bentuk apresiasi seni Walhi Sumut dan beberapa
komunitas terhadap lingkungan, sekaligus juga sebagai ajang perkenalan kantor
sekretariat Walhi Sumut yang baru.

Read More

Cerita Seni : Peduli Tanah, Air

Acara yang dimulai pukul 4 sore itu,
menampilkan banyak sekali seniman-seniman muda kota Medan, mulai dari musik,
puisi, teater dan grafiiti. Dibuka dengan penampilan Ade Lambey, mantan
presiden Kelompok Pemusik Jalanan Bandung, membawakan lagu-lagu Ebiet G. Ade
dan Iwan Fals. Penampilan Ade, cukup membuat penonton terhenyak denga karakter
vokal yang materinya serupa dengan Iwan Fals.

Band reggae yang cukup populer di Medan,
Coconut Head, juga menyempatkan diri untuk menyuguhkan penampilan di sela
jadwal mereka yang cukup rapat. Coconut Head mampu menghipnotis penonton dan
mengajak untuk mengikuti alunan musik yang mereka mainkan.

“Sudah sejak 2006, kami ingin sekali
ikut serta dalam acara Walhi. Dan syukurlah saat ini akhirnya kesampaian,” ujar
vokalis Coconut Head.

Pembacaan puisi dari teman-teman
komunitas, juga cukup membuat penonton terpana. Dengan gaya teatrikal dan
iringan musik yang syahdu, para pembaca puisi memaksa penonton untuk larut
dalam pesan-pesan tersirat dan tersurat dalam puisi mereka.

Reenactors, sebuah komunitas pereka
sejarah, juga ikut serta memberikan sebuah reka adegan. Menceritakan para
pejuang yang pulang dari perang sambil memekikkan salam “Merdeka!”, yang
tiba-tiba diserang oleh musuh. Mereka berusaha menyelamatkan bendera Sang Saka
Merah Putih agar tidak menyentuh tanah.

“Kami mengartikan tema acara, Peduli
Tanah, Air sebagai Peduli Tanah Air. Karena cinta tanah air juga sama
pentingnya dengan mencintai lingkungan,” ujar Didi dari Reenactors.

Dalam acara ini, komunitas Me&Art
dan Sotardok melakukan live painting di salah satu tembok di sekretariat Walhi.
Me&Art yang sudah terkenal sebagai salah satu komunitas graffiti menggambar
seekor badak dan tulisan WALHI dengan gaya Wild Style. Sedang Sotardok, yang
berkolaborasi dengan Me&Art, menggambar sebuah tangan yang memberikan
pohon, dengan maksud agar kita juga bisa memberikan pohon sebagai sumber
kehidupan kepada generasi setelah kita.

Acara ini ditutup denga penampilan dari
Medan Blues All-Star dari Medan Blues Community. Mereka menjadi penutup yang
cukup mengaggumkan. Dengan melodi-melodi blues dan suara harmonika dari sang
vokalis, Beng Handoko, penonton seolah terlihat sangat menikmati. Medan Blues
All-Star menutup keseluruhan acara yang dipandu oleh Rizky Zakaria dari Mutiara
FM dan Tri Utari dari teater “O” dengan lagu Still Got The Blues yang populer
dan diciptakan oleh Gary Moore.

Sekian!

@dwihastomo

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *