Cerita Fiksi : Veteran

  • Whatsapp

Cerita Fiksi : Veteran – Aku ini seorang militer. Dulu, aku bersama teman-temanku bertempur melawan penjajah-penjajah berhidung mancung demi memerdekakan bangsa ini. Tak perduli siapa, tak perduli darimana asalnya, tak perduli apa agamanya, yang penting asal dia merah putih, berarti rekan dalam perang.

Cerita Fiksi : Veteran

Read More

Enam puluh delapan telah berlalu sejak masa itu, kini aku hanya bisa duduk dikursi goyangku, sambil menikmati kemerdekaanku sendiri. Malam itu, aku mencoba menghibur diri, dengan jalan-jalan ke alun-alun kota dengan sepeda ontelku. Seketika dayunganku terhenti pada sebuah keramaian, dimana aku melihat para seniman-seniman dan para budayawan-budayawan sedang berceloteh tentang kemerdekaan dengan berani dan berapi-api lewat puisi.

Rasa penasaran menjelma seketika menjadi pedoman kemana hati dan kakiku akan melangkah. Kusinggahi keramaian itu, lalu aku duduk dan membakar rokok kretek kegemaranku, sembari mencoba mendengar sedikit dari celotehan mereka tentang kemerdekaan yang dulunya kami perjuangkan.

“KITA BELUM MERDEKA!!” Tersentak aku kaget mendengarnya, seorang pemuda dengan berang meneriakkan kata yang tidak aku mengerti maksudnya.

“KITA MASIH DIJAJAH!!” Semakin jelas kudengar kemarahan itu, dan aku semakin bingung dengan semua yang baru saja kudengar

“APANYA YANG MERDEKA?!!” Aku gemetar !!!. Perasaanku benar-benar tidak karuan saat itu. Aku gemetar melihat api yang membara di setiap mata orang-orang dikeramaian itu. Mereka terus menghujami kemerdekaan yang dulu kami rebut, dengan kritik-kritik lantam. Meludahi kemerdekaan yang kami perjuangkan, dengan darah! dengan nyawa! dengan meninggalkan keluarga! dengan menikmati keterpaksaan memegang ikrar dan amanat rekan-rekan merah putihku, yang diambang kematian menitipkan keluarganya kepadaku, sementara darah terus mengucur deras dari belasan liang peluru didadanya, yang dengan sadis terus memaksanya agar secepat mungkin menjelma menjadi bangkai dan bergumul dengan dosa diakhirat!!

Aku gemetar .. segera aku menjauh dari keramaian itu, duduk selonjoran di trotoar jalan, seperti bunga layu yang dihimpit oleh tunas bangsa. Aku gemetar bukan karena ketakutanku, aku gemetar menahan air mataku, air mata yang akhirnya jatuh membanjiri wajah tua ku. Sebagai prajurit aku malu menangis, tapi untuk pertama kalinya aku merasa kalah dalam hidupku.

Seketika itu aku dikejutkan oleh suara hangat yang menyapaku, suara dari salah satu mereka dikeramaian itu.

“Kakek, kenapa menangis?” Tanya pemuda itu menyadarkan aku untuk segera menyeka air mataku, karena aku seorang prajurit, aku di desain untuk kebal terhadap segala jenis rasa sakit.

“Tidak apa-apa nak” Jawabku singkat.

“Lalu kenapa kakek menangis? Kakek lagi sedih ya?”

“Iya nak”

“Apa yang membuat kakek sedih? Barangkali saya bisa bantu”

“Aku ini dulunya seorang militer” Kataku membuatnya sedikit terkejut.

“Militer?”

“Iya, aku adalah salah satu dari beberapa yang selamat dimasa itu, dimasa dimana membunuh tidak lagi berdosa. Dimasa dimana kebencian menjadi kekuatan untuk melawan, dimana ketakutan menjadi keberanian yang paling berani untuk berbuat. Namun aku sedih, aku malu.. karena ternyata perjuangan ku dan rekan-rekan yang telah gugur hanyalah sia-sia, melihat generasi-generasi muda yang dulu menjadi alasan kami berjuang kini malah mencemo’oh perjuangan kami. Apa menurutmu kita ini belum merdeka?”

“Tentu saja sudah kek, kita sudah bebas berbicara”

“Lalu kenapa teman-temanmu berkata demikian?!” bentakku tak bisa menahan amarahku. “kemerdekaan seperti apa yang mereka inginkan?!”

“Kakek, mereka tidak mengkritik kemerdekaan yang kakek dan rekan-rekan perjuangkan, yang mereka kritik adalah system pemerintaha yang salah”

“Kalau begitu kenapa mereka menyinggung kemerdekaan?! Mereka tidak kenal betapa mengerikannya perang itu ! mungkin kakek mereka dulu hanya sembunyi dibalik tembok rumah, atau mungkin sembunyi dibalik kedok anjing-anjing Belanda! Kalau mereka mencintai bangsa ini, berbuatlah! Jangan hanya bicara! Karena Indonesia ini butuh perbuatan, bukan sekedar kritik sastra seperti yang teman-temanmu lakukan”

“Sabar ya kek, oh iya, sebentar lagi giliran saya membacakan puisi, kakek mau coba dengar?”

“Kalau harus menyinggung kemerdekaan lagi, lebih baik tidak usah”

“Mari kek, kita ke tengah alun-alun” katanya dengan senyum yang hangat.

Lalu anak muda itu menuntunku kembali ke tengah alun-alun kota itu, dipersilahkannya aku duduk, kemudian dia berdiri di tengah-tengah alun-alun kota yang sepertinya menjadi panggung bagi setiap orang yang ingin bicara. Bisa kulihat anak itu cukup dikenal oleh orang-orang disekitar ini, atau mungkin cukup di gilai oleh para gadis-gadis disini yang dengan histeris meneriaki namanya. Dengan penuh persiapan dia mengangkat tangan kanannya keatas dan dengan lantang membacakan puisinya.

“Akulah militer.

Akulah militer yang kalian katakan penculik pejuang-pejuang tulisan

Akulah militer.

Akulah militer yang kalian katakan menembak mati para pers yang berbicara tentang kebenaran

Akulah militer.

Akulah militer yang menembak mati para Jendral !

Akulah militer.

Yang kalian lupakan, yang telah bertempur untuk memerdekakan Indonesia, hingga kini kau bisa duduk santai menyeruput kopi panasmu, tanpa harus cemas datangnya manusia-manusia mancung yang dulu menjajah tanah ini. Akulah militer !”

Aku terdiam mendengar puisi anak ini. Bisa kudengar gemuruh tepuk tangan yang mengiringi turunnya anak muda itu dari panggung puisinya, kemudian mendekatiku.

“ Terima kasih ya kakek, sudah membantu memerdekakan bangsa ini, sampaikan terima kasih kami kepada rekan-rekan kakek yang sudah gugur, kalian adalah manusia-manusia pemberani yang telah membela bangsa ini, merdeka!”  

Malam itu untuk kedua kalinya aku menangis, namun tangis kali ini terasa begitu lega, begitu puas, seperti menjawab semua kegelisahan yang pernah ada, karena sesungguhnya orang-orang seperti aku dan rekan-rekanku hanya ingin sedikit dihargai dan dianggap ada oleh generasi tunas bangsa kami.

Aku segera pulang, aku mengayuh sepeda ontelku dengan gagah, tubuh tua ku tak mampu menghalangi busung dadaku. Sesampainya dirumah, malam itu, kembali ku pakai seragam kebesaranku, tapi bukan untuk perang, karena kutau perang telah lama usai, tapi untuk berlutut dalam kegelapan malam, dan berbagi kebahagiaan dengan rekan-rekan seperjuanganku, melalui Tuhan. Melalui kekuatan sebuah doa.

Selesai

@dollyishak

Dolly Ishak - Cerita Fiksi

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *