Cerita Fiksi : Truth or Dare

  • Whatsapp

Cerita Fiksi : Truth or Dare – Siang itu matahari tampil dengan angkuhnya memerangi gelap dan memancarkan terik sinar terbaik yang dimilikinya. Angin yang bertiup kencang pun seolah menunjukkan kesetiaanya pada sang pusat tata surya itu dengan meniupkan angin kencang yang berhawa gersang. Dinoek memacu sepeda motor tua-nya dengan optimis, kalau motor tua-nya bisa seketika menjelma menjadi motor sport bertenaga seratus ekor kuda, hingga dia tak perlu terpanggang lama dalam terik alam raya kotanya.

Cerita Fiksi : Truth or Dare

Read More

Dinoek merupakan pria luntang-lantung yang tidak memiliki pekerjaan setelah tamat dari masa SMA. Kemampuan otaknya yang terbatas memaksa dia untuk bisa menerima kalau takdirnya tidak bisa seperti anak tamatan SMA pada umumnya, menjadi mahasiswa. Untuk itu, Dinoek cenderung mengisi hari-harinya dengan hal-hal yang bisa dijangkaunya,teater.

Teater adalah satu-satunya yang bisa dimengerti olehnya, pengetahuan singkat tentang teater itu sendiri dia dapatkan dari grup teater yang diikutinya dulu dimasa SMA, Dinoek merupakan ketua grup teater disekolahnya. Berbekal pengetahuan singkat dan tidak begitu bermanfaat, Dinoek yang tidak memiliki kesibukan yang berarti memilih untuk mengabdikan dirinya sementara waktu sebagai pengajar untuk para junior-juniornya, mulai dari perayaan nasionalisme, acara independen sekolah, sampai ke acara kerohanian yang diadakan sekolahnya. Ya, hari itu Dinoek sedang menempuh terik matahari yang seperti ingin meledakkan supernova-nya untuk mengajar teater, untuk Natal.

“Dua hari lagi kalian nampil, jangan bercanda terus! Yang serius latihannya!” Bentak Dinoek yang seperti matahari yang segera meledak menjadi supernova. Sepertinya faktor pertarungan sengitnya dengan sang matahari dijalanan tadi malah menjadikannya sepanas matahari dilatihan kali itu.

“Udah pada jagoan?! Gak mau belajar lagi?!” tambahnya lagi membuat seisi kelas saat itu berubah menjadi satu spesies yang baru, batu. Suara Dinoek yang menggelegar disiang itu hanya memberi efek negatif bagi murid-murid teaternya, yaitu menunduk.

“Kita istirahat sepuluh menit, setelah itu jangan ada yang bermain-main lagi, kalau ada yang ingin ditanyakan silahkan temui aku diluar” Tandas Dinoek dengan nada yang dingin, sembari menghilang keluar kelas, meninggalkan suasana mencekam seperti sedang syuting film horor.

Dinoek yang sedang duduk menghisap rokok, menghembuskan asap-asap rokoknya dengan berantakan seperti menggambarkan suasana hatinya saat itu, seketika itulah salah seorang dari muridnya Caroline menghampirinya.

“Kak..” sapanya penuh ragu.

“Ada apa?” Jawab Dinoek tanpa mengalihkan perhatiannya dari pohon besar yang ada dihadapannya.

“Maaf, kami selalu membuat kakak marah”

“Gak semua maaf bisa mengobati luka”

“Lalu kami harus bagaimana?”

Dinoek tidak menjawab pertanyaan itu, dia tetap asik menghisap rokoknya sambil terus mamandang lurus kearah pohon besar yang ada dihadapannya.

“Kak..” 

“Ada apa lagi?”

“Kenapa kakak mau menolong kami untuk memeriahkan Natal kami, bukankah kakak tidak percaya Tuhan?”

Dinoek seketika membeku mendengar pertanyaan itu, memang benar, Dinoek dikenal selalu menjawab segalanya dengan logika yang akurat, tak sedikit orang menganugerahinya gelar atheis karena sifatnya yang cenderung menolak untuk mengakui keberadaan Tuhan.

“Aku percaya pada Tuhan” katanya singkat.

“Lalu ..?

“Hanya saja aku tidak percaya kalau Tuhan itu adil” jawab Dinoek sambil menghisap detik penghabisan umur rokoknya, kemudian menginjak puntungan itu hingga bara pada rokok itu mendingin seperti hatinya yang sudah terlalu jauh dari Tuhannya, dan dia menyadari benar akan hal itu.

“Sudah sepuluh menit, ayo latihan lagi” sambung Dinoek sambil bergerak menuju ruang kelas

“Sebenarnya kakak orang baik”

Langkah Dinoek seketika berhenti sejenak, seumur hidup, inilah kali pertama ada orang yang mengatakan hal itu kepadanya.

“Aku Cuma penjahat yang kebetulan mengajarkan kebenaran tentang Tuhan lewat teater, tidak lebih, dan tidak perlu dilebih-lebihkan” Balas Dinoek tanpa menoleh kebelakang sedikitpun, kemudian berlalu, menuju keruang kelas tentunya.

Sesampainya diruang kelas, Dinoek tidak segera memulai latihannya, dia hanya diam menerawang jauh, memaknai kata demi kata yang baru saja terucap dalam percakapan tadi, percakapan yang tidak pernah dia duga sebelumnya, menenggelamkannya dalam hiruk-pikuk keseniannya sendiri.

Suasana kelas semakin mencekam kala itu, mendapati Dinoek, pengajar teater mereka hanya diam, termangu, dengan tatapan yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Sementara itu dalam hatinya Dinoek ingin sekali bertanya, sudah berapa lama aku tidak berdoa ?.

“Hari ini kita tidak usah latihan dulu, nanti fisik kalian drop” tiba-tiba Dinoek nyeletuk membuat seisi ruangan yang tadinya menunduk, kembali menatap kearahnya.

“Apa yang bisa kita lakukan untuk mencairkan suasana panas ini?” Tanya Dinoek lagi

“Games” Jawab salah satu dari muridnya.

“Main apa?”

“Bagaimana kalau kita main truth or dare?” Caroline menambahkan.

“Deal” tegas Dinoek.

Permainan itu pun bergulir, rahasia demi rahasia terungkap. Membuat tawa yang ceriah yang dihadiahkan oleh sang korban yang ditunjuk oleh penguasa saat itu, sang botol. Tak jarang Dinoek terpaksa untuk membongkar aib-aibnya karena tak kuasa dengan perintah sang botol, permainan yang membuat segala sesuatunya terasa aneh.

Ketika kesepakatan untuk melakukan putaran botol terakhir, sang botol menunjuk kepada salah satu dari murid laki-lakinya, Guntur.

“Truth or dare?” Tanya Dinoek.

“Boleh gak kak, aku curhat aja?, aku lagi ada fikiran”

Dinoek selaku penguasa penuh ruangan itu dengan tegas memberi sebuah keputusan,

“Boleh”

“Gini kak, aku sayang sekali dengan ibu ku, setiap hari aku selalu memijit kakinya yang lelah, membantu setiap pekerjaannya, mendengar keluhannya, tapi entah kenapa, setiap kali ayah dan ibuku bertengkar, aku selalu menjadi satu-satunya yang dijadikan pelampiasan ibuku. Mulai dari omelan, sampai main pukul, kakak dan adikku gak pernah mendapat perlakuan seperti itu”.

Dinoek yang mendengarnya sangat bingung harus memberi masukan apa, tapi seketika itu mulutnya seperti bergerak sendiri tanpa disusunnya terlebih dahulu.

“Itu artinya, ibumu sudah menganggap kamu dewasa, sudah menganggap kelak kamulah yang akan menjadi tulang punggung keluargamu apabila ayahmu kelak tiada.” 

“gitu ya kak?”

Dinoek hanya mengangguk sambil tersenyum hangat, sore itu cuaca seperti ingin hujan, maka Dinoek segera membubarkan kelas teaternya, namun menjelang malam, hujan tak kunjung turun. Langit seperti sedang resah kala itu. Menjelang tidur, Dinoek membuka jendela kamarnya melihat langit, tak ada bintang dilangit berawan gelap itu, dalam hati dia berkata, harusnya malam ini hujan.

Hari terakhir latihan pun tiba, Dinoek segera bersiap-siap sejak bangun tidur, mencoba sesegera mungkin membereskan pekerjaannya agar bisa lebih awal tiba disekolah dan menunggu dikantin sambil menunggu bel pulang sekolah berbunyi, hingga dia tak lagi perlu bertarung dengan matahari. Ditengah kesibukannya, dia terusik dengan ponselnya yang berdering pertanda sebuah sms masuk, pesan dibuka,

“Kak, hari ini gak bisa latihan, orang tua Guntur meninggal dunia. Kami sebentar lagi melayat kerumahnya, kakak datang ya”

Tak lagi sempat dia membaca siapa pengirimnya, Dinoek segera membalas,

“Ayah atau Ibu?”

“Ayah kak”

Seketika segala persendiannya terasa lemas, terasa ngilu, mengingat apa yang baru saja dia ucapkan semalam.

Secepat kilat dia bergegas kerumah Guntur muridnya, menemui muridnya sedang menangis tanpa suara dipojok belakang ruangan, keramaian orang-orang dirumah itu tak sedikitpun mengusik kesedihannya. Dengan ragu Dinoek menghampirinya, dengan penuh rasa bersalah dia menyentuh bahunya.

“Sabar ya, aku tau pasti ini sangat berat, tapi kalau ada yang lebih bermakna dari kata sabar yang bisa kuberikan saat ini, pasti akan kuberikan”.

“Iya kak, makasi ya atas nasehat kakak semalam, aku janji akan jadi pengganti ayah.” Jawabnya dengan suara parau sembari segera memeluknya.

Dinoek tenggelam dalam kegelisahannya, tak lagi difikirkannya penampilan besok, segala jenis pertanyaan muncul dikepalanya, terniang seutas kalimat yang sejak kecil pernah didengarnya, Perkataan adalah doa. Pertanyaan demi pertanyaan semakin muncul dalam kepalanya, dalam hati dia berkata, Aku telah mendoakan ayahnya mati, sudah terlalu lama aku tak ber-doa, dan aku mendoakan ayahnya mati, tapi kenapa? Kenapa Tuhan mengabulkannya?. Dia tak mendapatkan jawaban apapun, logikanya tak berjalan kala itu, yang bisa dilakukannya saat itu adalah, mengumpulkan setiap kalimat andai, dan andai. Andai permainan itu tidak terjadi semalam.

Hari penampilan tiba. Tak satupun dari grup teater itu bersemangat, terutama Dinoek. Perayaan Natal kala itu semakin membuatnya marah, membuatnya ingin berteriak sekeras-kerasnya, Bagaimana mungkin kalian bisa tersenyum?! Berfoto-foto! Memakai kostum-kostum mewah! Bernyayi riang! Sementara salah satu dari bagian sekolah ini, bagian kami, sedang berduka! Namun teriakan itu tak keluar, terpendam dan terkunci dalam raut wajahnya. Saat itulah semua mata tertuju pada sosok yang berdiri diambang pintu, Guntur. Seperti namanya, dia mengagetkan kami semua, dengan senyum yang sudah pasti penghiburan untuk siri sendiri dia berkata,

“Ayo kita getarkan panggung itu”

Sebuah kaliamat khas yang biasa dikeluarkan Dinoek disetiap detik-detik sebelum pementasan teater mereka dimulai.

Dalam hati Dinoek kembali menyapa Tuhannya, Terima kasih karena kau mengerti.

Teater hari itu berjalan sukses, mengantar mereka pulang dengan senyum. Sementara malamnya Dinoek kembali termenung menatap jendela kamarnya, dan seketika itu hujan turun, deras.

Selesai

@dollyishak

Dolly Ishak

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *