Cerita Fiksi : Merdeka!

  • Whatsapp

Cerita Fiksi : Merdeka! – Aku ini seorang penggali kubur. Ya benar, aku ini memang orang miskin. Istriku yang dulu aku nikahi, pergi dengan laki-laki lain yang lebih mapan daripada aku, situkang gali kubur ini. Dia pergi dengan seorang penarik becak. Disebuah gubuk reot yang kerap kali ku amin-i sebagai rumah, menjadi kediamanku bersama anak semata wayang hasil buah cinta kami dulu tinggal. Nama anakku Merdeka, kuharap kelak, dia bisa memerdekakan kehidupan bangsa.

Siang itu, aku sedang duduk termangu diatas kursi rotanku yang seolah tak pernah jenuh menopang semua lamunanku menatap nasib yang kian lama kian mengalahkanku. Seketika lamunanku tersentak mendengar ketukan pintu yang kudapati kedatangan anakku Merdeka.

Read More

“As salaam alaikum bapak.” tegurnya seraya menghampiriku sambil mencium punggung tanganku.

“Wa alaikum salaam.”

“Pak..” katanya dengan nada ragu, dengan duduk dibawah sejajar dengan lututku, tak lupa dia memijat-mijat lembut paha kiriku, mencoba sedikit mengurangi letih bapaknya yang begitu perkasa.

“Ya, anakku?”

“Begini pak, sebentar lagi aku ujian nasional pak, tapi uang SPP-ku belum dibayar, kalau uang SPP-ku ndak dibayar, aku ndak bisa ikut ujian pak, Lah kalau aku ndak ikut ujian, aku ndak bisa naik kelas, gimana toh pak?”

Aku tersentak bingung, aku tak tau harus mengatakan apa kepada anakku Merdeka. Segera kuangkat dia berdiri sejajar dengan bahuku, mencoba berbagi sedikit kekuatan yang tersisa dalam diriku.

“Pergilah keluar nak, ketanah lapang disana. Bercengkeramalah dengan alam, lalu naikkan layanganmu 

Setinggi-tingginya. Dan apabila layanganmu putus, disitu kau akan tau kalau harapanmu itu harus abadi, tidak seperti layanganmu.”

Terlihat keraguan dimatanya, namun tak putus aku menyakinkan Merdeka anakku, seolah memberinya keyakinan lewat remasan hangat dibahunya, agar dia percaya kepada bapaknya, walau hanya kepercayaan yang saat ini bisa kuberikan kepadanya.

“Baik pak” katanya seraya kembali menyium punggung tanganku dan segera berlalu.

Sementara aku hanya bisa menatapi punggungnya yang kian lama kian memudar ditelah cahaya yang memudarkannya diambang pintu.

Kembali aku terduduk dikursi goyangku, aku benar-benar bingung. Apa yang harus kulakukan? Kemana lagi aku harus mengadu? Oh ya! Aku ingat, Tuhan adalah tempat aku mengadu.

“Ya Tuhan, sebentar lagi anakku Merdeka akan menghadapi ujian nasional, tetapi aku belum sanggup untuk membayar uang SPP-nya, kalau uang SPP-nya ndak dibayar, anakku ndak bisa ikut ujian Tuhan, kalau dia ndak ikut ujian, anakku bisa tinggal kelas Tuhan, tolonglah aku Tuhan, berilah aku sedikit dari rezekimu.”

Tak lama setelah doa kupanjatkan, lamunanku kembali terkejut oleh suara ketukan yang kuyakini berasal dari pintu reotku sendiri. Segera kudatangi pintu tersebut, dan kutemui seorang pemuda yang tidak terlalu tua, dengan pakaian serba hitam, rambut disisir kebelakang, dengan lingkar mata yang sangat hitam.

“Permisi pak.” Sapa pria itu penuh getar.

“Iya, nak. Ada yang bisa saya bantu?”

“Begini pak, tadi pagi orang tua saya meninggal dunia.”

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” 

“Saya minta tolong jasa bapak, untuk menyiapkan makam orang tua saya” katanya dengan tangis yang semakin tak bisa dibendung, seperti ingin meledak bersama amarahnya kepada mahkluk yang telah mengakhiri hidup orang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya.

“Baik nak, baik. Akan segera bapak siapkan, kamu yang tabah ya, sebab semua yang datang, pasti akan beranjak pergi.” Kataku mencoba mengiburnya, walau aku tau itu tak lagi berguna saat ini.

“Terima kasih pak, ini uang persiapan makamnya saya bayar duluan, terima kasih sebelumnya pak, saya permisi dulu.”

Kemudian pemuda itu berlalu, dan kembali kulihat punggung yang kian lama kian memudar untuk kedua kalinya pada hari ini.

Aku kembali duduk dikursi goyangku, menatapi amplop yang sudah kupastikan berisikan lembaran-lembaran yang bisa kugunakan untuk membayar uang SPP Merdeka anakku. Namun tak bisa kugambarkan perasaanku kala itu. Tubuhku terasa bergetar, tenggorokanku terasa keluh, ntah kenapa aku mendadak ingin berang, tak tau kepada siapa?, tak tau atas dasar apa?, hingga akhirnya kudapati alasan dari semua ini, Tuhan.

“Tuhanku, inikah jawaban atas doaku?. Apakah rezekiku hanya dari orang-orang mati? Apa setiap butiran nasi yang kumakan harus berasal dari duka orang-orang?!. Aku hanya ingin anakku sekolah Tuhan !! aku aku hanya ingin dia sekolah!! Agar dia tidak hina seperti bapaknya yang berteman dengan kematian dan cacing!!. Apa sekolah hanya untuk orang-orang kaya? Apa orang miskin seperti kami tidak boleh sekolah? apa anakku akan tetap hidup didalam belenggu kasta sebuah seragam?! Putih-merah! Putih-biru! 

Putih-abu-abu! Atau apalah itu !!. Kuberi anakku nama Merdeka, karena itu bahasa Indonesia, karena Merdeka adalah kata yang membebaskan bangsa ini daripada mereka yang serakah!!. Tapi kenapa Indonesia sendiri tidak menolongku dari kebutaan akan pendidikan ini? Dan kenapa ketika aku berteriak seperti ini orang-orang masih bisa mendengar dentingan jarum yang jatuh ?! Dan kenapa kau diam saja Tuhan ?!! Bicaralah !! Beritahu aku cara meminta nasi tanpa harus mendoakan mereka mati !! bicaralah..bicaralah..”

Tiba-tiba aku tersentak kaget untuk kesekian kalinya hari ini, kudapati tangan mungil anakku sedang menepuk-nepuk pundakku, membuat aku tersadar untuk segera menyeka air mataku yang sudah tumbah terlalu banyak.

“Sudah toh pak, ndak usah dipikirin, ntar bapak sakit. Sekolah juga belum tentu bisa kerja toh pak. banyak kok sarjana-sarjana pengangguran diluar sana.”

“Merdeka anakku, untuk itulah bapak ingin menyekolahkanmu, agar kau bisa memerdekakan kecerdasan bangsa.”

“Oalah pak..pak. Bapak itu kok semangat sekali? Wong Indonesia sendiri tidak ingin memerdekakan kemiskinan toh pak. Lebih baik aku bekerja, untuk memerdekakan hati bapak. Aku itu seneng, kalau bapak itu bangga sama aku.” Celetuknya dengan senyum polosnya. Namun aku paham betul senyuman itu, bukan senyum penghiburan semata, melainkan senyum penuh harap, yang telah kuyakini kalau harapan tak boleh putus, dan belajar tak selalu dimeja sekolah. Lalu kembali kuajak dia berdiri sejajar dengan bahuku, kupeluk erat anak semata wayangku yang sangat kubanggakan itu.

“Bapak bangga sama kamu nak, bapak yakin perjuangan kita ndak akan sia-sia. Mungkin memang bukan untuk kita, tetapi untuk masa-masa sesudah kita. Masa-masa dimana, pendidikan itu sudah merdeka.”


Selesai.
@dollyishak

Cerita Fiksi : Merdeka - @dollyishak

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *