Quo Vadis Pariwisata Medan?

  • Whatsapp

Quo Vadis Pariwisata Medan? – Sebuah kota dengan lanskap yang
menyerupai Indonesia adalah kota Medan. Dengan bermacam-macam budaya, suku, dan
agama dapat dikatakan bahwa kota Medan adalah manifestasi sesungguhnya
Indonesia. Medan dengan segala kelebihannya dalam bidang objek wisata dan
budaya harus mampu memanfaatkan hal tersebut untuk pemasukan daerah. Namun,
apakah program ‘Visit Medan Years 2013’
sudah berjalan dengan maksimal?

Read More

Apa yang sebenarnya terjadi dengan
Indonesia khususnya Medan dalam mengelola pariwisata. Dalam rilis dari World Economic Forum beberapa waktu yang
lalu, Indonesia berada di peringkat 70 pada tingkat dunia dan 12 pada tingkat
Asia Tenggara. Dari hal tersebutlah mungkin terlihat kekurang seriusan
pemerintah dalam mengelola objek wisata secara maksimal untuk meningkatkan
pendapatannya.

Quo Vadis Pariwisata Medan - Drs. Safrin, MSi - Praktisi Pemasaran Dosen FISIP USU
Drs. Safrin, MSi – Praktisi Pemasaran Dosen FISIP USU

Dalam pandangan kacamata saya,
Indonesia mengalami kekalahan dalam bidang infrastruktur yang kurang memadai,
keamanan yang kurang terjamin, dan lingkungan pariwisata yang kurang
kebersihannya. Satu hal lagi Indonesia dan kota Medan khususnya belum tepat
memilih sasaran mana, yang seperti apa, dan bagaimana kebiasaan konsumen dalam
kacamata pemasaran.

Sesuai dengan teori pemasaran
yaitu STP (Segmented, Targeted, and
Positioning
)

Segmentasi atau segmented menurut, Rhenald Khasali (2000)
adalah suatu
strategi untuk memahami struktur pasar dan menyasar pasar. Jika dilihat dari segmented, belum terlihat apakah
pariwisata di Medan dikhususkan untuk anak muda, eksekutif muda, ataupun orang
yang lebih tua. Itu merupakan langkah yang kurang tepat dikarenakan konsumen
merupakan mahluk abstrak yang jika tidak diklasifikasikan Ada baiknya kita
mencontoh, misalnya Singapura dengan Marina Bay dan festival musik Zouk. Kawasan Marina Bay yang penuh
dengan tempat-tempat perbelanjaan, klab-klab malam, dan kawasan hang-out merupakan tempat favorit anak
muda. Hal tersebut juga juga didukung oleh pemerintah Singapura yang
mengakomodir sebuah perhelatan musik festival
musik anak muda seperti rock, jazz,
dan techno. Singapura membidik pasar
anak muda yang hobi travelling dan
hobi musik yang sangat potensial untuk pemasukannya. Pada saat berbicara dengan
Medan, Segmentasi pariwisatanya harus terlihat dan terkonsep secara jelas.
Apakah itu untuk orang tua, orang tua dari umur berapa ke berapa dan juga harus
diperhitungkan faktor demografis dan psikografis. Apakah pemerintah membidik
pasar anak muda harus jelas ciri-cirinya mulai dari umur, pendidikan,
kebiasaan, pendapatan, tempat tinggal, dan faktor demogrfis juga psikografis.
Setelah itu pemerintah haruslah membuat sebuah perencanaan program pariwisata
yang mampu menarik minat anak muda tersebut, misalnya pemerintah bisa bekerja
sama dengan tim opera batak  untuk
menampilkan opera batak sekaligus menggabungkannya dengan acara festival musik anak muda, terlihat
semacam remodernisasi suatu kebudayaan yang saling menguntungkan kedua belah
pihak.


Targeting
adalah
penyeleksian satu atau beberapa segmen pasar yang akan menjadi fokus  kegiatan-kegiatan pemasaran (Rhenald Kasali,
2000).  Jadi ketika misalnya pemerintah
telah memilih segmentasi anak muda, kespesifikan dari pasar haruslah
diutamakan. Segmentasi dari anak muda harus lebih dikecilkan atau dipersempit
lagi. Anak muda yang seperti apa yang ditargetkan? Apakah anak muda tersebut
memiliki kebiasaan yang khas. Misalnya anak muda yang berumur 20 tahunan yang
mempunyai kesukaan dalam bidang teknologi. Pemerintah dapat mengedepankan
program pariwisata yang beorientasi dalam kegiatan teknologi, misalnya mengenal
pembangkit tenaga listrik ataupun membuat laboratorium teknologi mini di tepian
Danau Toba. Namun, anak muda yang memiliki minat tersebut hanyalah beberapa
persen dan oleh karena itu diharuskan pemerintah memilih target konsumen yang
memang potensial. Ada empat pemilihan kriteria (Clancy dan Shulman, 1991),
responsif, potensi penjualan, pertumbuhan memadai, dan jangkauan media.
Responsif berarti pasar yang kita tuju akan memberikan sebuah tanggapan atau
respon balik terhadap produk dan program pemasaran. Misalnya jika targetnya adalah
anak muda penyuka hiburan malam dan festival musik, apakah setelah pemerintah
mengeluarkan atau membuat acara dan program yang berorientasi dalam hal
tersebut jumlah pengunjung akan meningkat ? itulah yang harus benar-benar detil
diperhatikan. Potensi penjualan adalah salah satu alasan kenapa sebuah produk
atau program dijalankan. Apakah target konsumen ini memilki nilai potensi
tinggi untuk mengunjungi objek wisata yang terdapat di Medan? Potensi
penjualan  dilihat dari nilai beli
dan  minat konsumen terhadap produk atau
program pariwisata tersebut Pertumbuhan memadai dilihat berdasarkan
perkembangan konsumen setelah program pariwisata diterapkan. Apakah memang
objek wisata dan program wisata memang menarik anak muda dari target konsumen
yang telah dibidik ?  Jangkauan media
adalah faktor terakhir dalam menentukan target konsumen. Media seperti apa yang
dibutuhkan untuk mengenalkan  dan
mempromosikan program pariwisata dan objek wisata di Medan.


Positioning adalah bukan sesuatu
hal yand Anda lakukan tehadap produk, tetapi sesuatu yang Anda lakukan terhadap
otak calon konsumen (Ries & Trout, 1986). Positioning bukanlah strategi pemasaran, tetapi strategi komunikasi
untuk menempatkan pengetahuan konsumen tentang produk di otak sang konsumen.
Yang harus ditekankan adalah bagaimana pemerintah mampu mengonsep sedemikian
rupa program pariwisata bagaimana calon pelanggan menyimpan informasi itu di
dalam otaknya. Ada berbagai macam metode yang dapat kita gunakan, salah satunya
adalah metode positioning berdasarkan
perbedaan dan keunikan produk. Pemerintah harus sekali lagi mengonsep sesuatu
yang unik dan berbeda dari pariwisata yang lain. Kita memiliki banyak keunikan
salah satunya adalah budaya dan objek wisata yang menarik.Kita tekankan saja
sebuah opera kolosal budaya Batak dengan musik klasik ataupun techno yang diadakan di tengah Danau
Toba. Positioning yang kita dapatkan
adalah konsumen yang kita bidik akan menganggap Indonesia merupakan suatu
negara yang memiliki budaya dan objek wisata yang menarik, juga sekaligus mampu
mengkombinasikan hal tersebut dengan namanya modernitas.

Pariwisata adalah salah satu
sumber pemasukan dan devisa negara yang besar. Sampai saat ini pariwisata
Indonesia sudah cukup bagus dan baik untuk pemasukan daerah. Tetapi, kalau memang
pariwisata Indonesia khususnya Medan bisa dibuat lebih baik dan dikelola secara
profesional, bukan tidak mungkin kita bisa mandiri tanpa adanya campur tangan
dana asing untuk membantu pemerintahan. Mulailah buat sebuah perubahan untuk
kepentingan bersama dan industri pariwisata setidaknya bisa menyelamatkan kita
dari krisis.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *