Mau Dibawa Kemana Pariwisata Medan?

  • Whatsapp

Pariwisata Medan – Medan merupakan salah satu kota yang memiliki keragaman suku dan budaya sehingga mengahasilkan suatu perpaduan yang menarik antara budaya lokal dan internasional. Keragaman budaya tersebut terlihat dari banyaknya potensi-potensi wisata di kota Medan, baik itu wisata kuliner, wisata keluarga, dan bahkan wisata budaya.

Read More

Mau Dibawa Kemana Pariwisata Medan?

Dari banyaknya potensi besar wisata tersebut Pemerintah Daerah sendiri masih terlihat kurang acuh atau bahkan tidak mengetahui cara mengeksploitasi sumber daya menjadi sumber pendapatan daerah. Pemerintah  Dearah merupakan garda terdepan untuk menjadikan Taman Buaya Asam Kumbang dan Museum Kota China menjadi salah satu pusat pariwisata di Kota Medan yang masih terlupakan.

Taman Buaya Asam Kumbang

Dewasa ini, banyak keluarga di perkotaan sering menghabiskan akhir pekan dan hari libur mereka di mall atau tempat perbelanjaan mewah lainnya. Rasa modern objek cuci mata itu seolah-olah mengalahkan pusat-pusat wisata daerah yang nyata sepi. Ia mulai terlupakan. 

Taman Buaya Asam Kumbang Medan adalah salah satunya yang hingga saat ini tengah bersusah payah mempertahankan keberadaannya. Taman Buaya yang konon merupakan salah satu taman buaya terbesar di dunia ini beralamat di Jalan Bunga raya Kecamatan Medan Selayang No.59, Desa Asam Kumbang. Perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan dari pusat kota Medan, setidaknya menghilang ketika mencapai taman wisata yang pernah mendapatkan penghargaan perintis lingkungan dari pemerintah kota Medan.

Beranda bangunan yang berisi beberapa penghargaan dan senyum hangat Lim Hui Cu menyapa kami tatkala kami hendak memasuki areal wisata. Letaknya yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan dan lingkungan yang masih asri seakan membayar jauhnya perjalanan untuk mencapai taman wisata ini. Sampai sekarang taman buaya yang didirikan oleh Lo Than Muk pada tahun 1959 ini, mempunyai buaya berjenis muara sebanyak 2000 ekor. Berbeda jauh mengingat pada tahun 1998 buaya di taman wisata ini pernah mencapai 3000 ekor. Penyebabnya antara lain kurangnya perhatian dari Pemerintah Kota Medan.

“Dari dulu dukungan pemerintah sangatlah kurang terhadap taman buaya ini. Dukungan pemerintah kota Medan sekadar perawatan taman, pemasangan pagar dan yang terakhir pemberian conblock. Sampai saat ini pun kami tetap berusaha mempertahankan taman buaya ini melalui pemasukan dari tiket, tetapi seperti yang anda lihat sendiri, hal itu tidak dapat menutupi perawatan taman buaya ini, sehingga banyak buaya yang mati. Ya saya harap Pemko Medan semakin memperhatikan kondisi ini,“ ujar Lim Hui Cu sang pemilik. 

Museum Kota China 

Salah satu objek wisata budaya dan sejarah yang memiliki nilai pendidikan yang tinggi adalah  Museum Kota China. Museum yang terletak di Jl. Kota China, Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan ini merupakan salah satu objek wisata yang dapat menjadi alternatif kepada para wisatawan untuk mengisi waktu luangnya. Objek wisata ini pada dahulunya merupakan salah satu tempat eskavasi penggalian arkeologi yang dipimpin langsung oleh Dr. Daniel Perret dari Tim Arkeologi EFEO Prancis.

Pada lokasi eskavasi ini ditemukan berbagai bentuk benda-benda sejarah pada saat masa perdagangan pada masa lalu. Pada dahulu kala, para pedagang dari negeri Tirai Bambu (China-red) melakukan perdagangan di Medan Sumarera Utara melalui Selat Malaka Malaysia. Di tempat eskavasi tersebut ditemukan kerangka kapal para saudagar China, pecahan kapal kuno, dan juga gading kapal. Selain berbagai kerangka kapal, ditemukan juga berbagai macam manik-manik dari jenis kornelian, mutisala (indo-pasifik) yang berasal dari abad ke-12 dan abad ke-14 yang berasal dari India Selatan. Manik-manik tersebut berfungsi sebagai penunjuk tingkat kecanggihan tata teknologi, budaya, dan niaga dari suatu suku.       

Di Kota China tersebut juga ditemukan beberapa batu bersejarah yang diketahui digunakan untuk fondasi pendirian candi dan penentuan wilayah. Batu tersebut merupakan batu-batu cadas (batu gunung) yang berukuran 45 cm untuk batu balok, bentuk balok bulat yang memiliki panjangan sekita 100 cm. Batu-batu itu terletak di museum Kota China dan Tepekong(wilayah pecinan) di daerah Kota China. 

Salah satu yang menarik perhatian para pengunjung adalah Arca Buddha Amitabba yang ditemukan oleh para penduduk pada tahun 1974. Arca ini terbuat dari batu granit putih,  yang mempunyai ukuran tinggi 80 cm, lebar 40 cm, dan tebal 12 cm. Selayaknya arca-arca Buddha di kuil, arca ini pada saat ditemukan sedang menduduki sebuah singgasana dan posisi tangan sedang melakukan meditasi. Posisi ini dinamakan posisi tangan Dhayanamudra yakni berarti posisi tangan bersemedi. Ditempat tersebut ditemukan arca Dewa Wisnu dan arca Dewi Laksmi. Selain berbagai macam arca, kita juga bisa menemukan berbagai macam sisa keramik, tembikar, gerabah, tulang ikan, dan kulit kerang.

Setelah lelah untuk berwisata sejarah, kita bisa menikmati kesejukan suasana museum Kota China yang masih asri dengan berbagai macam isinya, seperti kegiatan masyarakat sekitar, binatang-binatang, dan kita juga bisa belajar membuat keramik ataupun tembikar langsung kepada ahlinya. “Banyak hal yang kita bisa dapatkan disini, baik itu wisata maupun pendidikan sejarah. Keluarga dapat mengajak anak-anaknya untuk tenggelam sejenak kepada sejarah kota Medan yang pada dahulunya merupakan pusat perdagangan dunia,” ujar Indah pengelola  museum Kota China.

Objek wisata di Medan memiliki banyak keunggulan dan bahkan kelebihan daripada objek wisata dari daerah dan bahkan negara lain. Keunggulan tersebut dilihat dari berbagai macam unsur budaya dan kultur suatu suku berakulturasi di kota Medan. Namun, dibalik keunggulan pasti ada kelemahan yaitu kepedulian pemerintah dan infrastruktur. 

Praktisi ahli pemasaran Nasional, Drs. Safrin, MSi

Menurut salah satu praktisi ahli pemjasaran Nasional, Drs. Safrin, MSi, mengatakan bahwa kekurangan kita yang paling vital adalah masalah publikasi ke khalayak ramai, khususnya ke turis lokal dan intenasional. Jika kita mampu memberikan sebuah inovasi dan kreativitas ditunjang dengan publisitas dan pembangunan infrastruktur dari pemerintah, bukan tidak mungkin kita bisa menjadi sebuah daerah yang mandiri dari APBD seperti bali dengan menguatkan sektor pariwisatanya. 

Namun, melihat hal tersebut beliau juga berharap para pemangku jabatan pertama sekali dapat melakukan publikasi untuk meningkatkan pariwisata Medan di nasional bahkan internasional. Banyak  metode yang dapat diterapkan seperti dengan mengadakan acara perkenalan pariwisata dengan para petinggi dunia ataupun mengajak kerjasama para investor. 

“Kita sudah diberikan suatu wilayah yang menakjubkan dengan berbagai keunggulan dibandingkan wilayah lain. Untuk kita harus cepat berinovasi untuk meningkatkan pendapatan daerah kita dengan cara seperti membuat festival musik Danau Toba yang dilakukan di danau dengan mengundang para artis lokal dan berpadu dengan artis dunia. Cara lain mungkin menggunakan sebuah acara internasional untuk mengenalkan kita pada dunia,” tutupnya menyudahi analisis: Mau Dibawa Kemana Pariwisata Medan?

Quo Vadis Pariwisata Medan

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *