Mesjid Raya Medan, Kokoh Menatap Zaman

  • Whatsapp

Mesjid Raya Medan atau yang dikenal dengan nama lengkap Mesjid Al -Mashun Medan terletak di jantung Kota Medan tepatnya di Jalan Sisingamangaraja. Mesjid ini menjadi salah satu bangunan bersejarah dan menjadi kebanggaan Kota Medan sejak seabad terakhir hingga kini. Mesjid ini juga menjadi kebanggaan komunitas umat Muslim di Medan yang juga banyak populasinya. Mesjid Raya Medan ini juga menjadi salah satu simbol atau pun landmark Kota Medan yang khas.

Mesjid Raya Medan (Google.com)

Perlu diketahui bahwa meskipun mesjid ini sudah berusia lebih dari seabad, bangunan ini tetap berdiri kokoh menatap zaman yang saat ini sudah memasuki era modern peradaban manusia. Bangunan mesjid ini sangat besar, dan memiliki berbagai ornamen khas Barat, Melayu, hingga Tiong Hoa. Mesjid Raya Medan ini seakan mampu merepresentasikan bagaimana dulunya kemakmuran warga Medan pada masa Kesultanan Deli. Di samping Istana Maimun yang juga merupakan simbol Kota Medan sekaligus istana Kesultanan Deli di Medan, Mesjid Raya Medan terkenal keberadaannya di seluruh Indonesia, bahkan di mancanegara. Mesjid ini juga sudah menjadi kebanggaan umat Islam di Medan, Sumut, bahkan di seluruh Indonesia.

Read More

Sejarah Singkat Mesjid Raya Medan

Mesjid Raya Medan mulai dibangun bulan Agustus tahun 1906 pada masa pemerintahan Sultan Ma’mum Al Rasyid Perkasa Alam, Sultan Deli ke-9 yang berkuasa antara tahun 1873- 1924. Bangunan ini mulai dibangun di atas 18.000 meter persegi sehingga mampu menampung lebih dari 1.500 jamaah. Batu marmer yang digunakan untuk pembanguan mesjid ini didatangkan langsung dari Italia dan Jerman. Selain itu ornamen khas Cina terdapat di kaca patri yang digunakan, yang juga didatangkan langsung dari Cina. Lampu gantung yang menghiasi langit mesjid ini juga berasal dari Prancis.

Awalnya, arsitektur kenamaan Belanda yang bernama Van Erp, yang juga berjasa dalam pembangunan Istana Maimun, ditugaskan dalam pembangunan mesjid ini. Namun pemerintah Hindia Belanda kala itu sudah menugaskannya untuk melakukan berbagai renovasi pada Candi Borobudur, sehingga tugas tersebut dialihkan kepada JA Tingdeman. Mesjid Raya Medan dibangun dengan berbagai keunikan seperti yang terdapat pada gaya arsitekturnya, bentuk kubah, bentuk menara, pilar utama, hingga ornamen-ornamen kaligrafi yang terdapat di dalam bangunan secara keseluruhan. Arsitek JA Tingdeman merancangnya dengan gaya arsitektur ala Timur Tengah, India, Cina, hingga Eropa abad ke-18.

Pembangunan Mesjid Raya Medan akhirnya rampung pada bulan September 1909, tepatnya 3 tahun setelah pembangunan dimulai, bertepatan dengan perayaan Sholat Jumat. Karena bertepatan dengan hari Jumat, maka mesjid ini segera digunakan untuk berjamaah Jumat. Keseluruhan biaya pembangunannya menghabiskan dana sekitar satu juta Gulden (mata uang Hindia Belanda kala itu). Pembangunan yang megah pada mesjid ini menurut sang Sultan memang disengaja karena lebih baik baginya membangun rumah Tuhan lebih indah daripada bangunan istana miliknya.

Pendanaan mesjid ini dibiayai oleh Sultan Ma’mum sendiri. Ada juga kabar bahwa konglomerat Medan keturunan Tiong Hoa Tjong A Fie juga ikut menyumbangkan dana untuk pembangunan Mesjid Raya Medan.

Kegiatan Keagamaan di Mesjid Raya Medan

Di bulan Ramadhan seperti sekarang ini, suasana di Mesjid Raya Medan jauh lebih ramai dan indah dibandingkan dengan hari-hari biasa. Kegiatan ibadah di mesjid ini tidak hanya dilakukan pada siang hari, melainkan juga pada malam hari hingga menjelang waktu sahur. Siang hari di sepanjang bulan Ramadhan jamaah biasanya melakukan kegiatan muzakarah, diskusi mengenai hukum sya’ri Islam, ceramah Ramadhan, dan berbagai kegiatan pengajian Islam lainnya.

Pada malam hari kegiatan yang biasa dilakukan oleh jamaah berupa shalat Tarawih dan Tadarrus Al-Qur’an sampai larut malam. Bahkan kegiatan yang dilakukan bisa hingga dini hari saat sahur tiba. Selain itu juga, untuk menghidupkan suasana yang lebih semarak di sekitar komplek mesjid, panitia juga menyiapkan aneka makanan untuk berbuaka puasa setiap sore hari dengan bahan makanan yang diperoleh dari sumbangan donatur dan masyarakat sekitar mesjid.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *