Word Of Mouth Marketing (WOMM) Di Social Media

  • Whatsapp

Word Of Mouth Marketing (WOMM) Di Social Media – Iklan semata di televisi tidak akan menjamin konsumen akan
melakukan transaksi. Ringkasannya bisa disimak di bawah ini.

Read More

Word Of Mouth Marketing (WOMM) Di Social Media

Menurut seoran pakar, Pak Subiakto mengatakan bahwa produsen atau brand perlu
jeli menemukan isu yang pas yang disesuaikan dengan karakteristik
komunitas tempat biasa konsumen berkumpul. Cari dan temukan tokoh-tokoh
kunci pada setiap komunitas untuk dibentuk menjadi influencer bagi produk brand. Influencer yang dipilih tentunya yang sesuai dengan kompetensinya, tidak asal pilih. Bila salah pilih, hasilnya bisa jadi malah akan counter produktif.

Menyambung dari cerita Pak Subiakto, kenyataannya tidak semua brand bermain di ranah social media mengikuti
perilaku WOMM di atas. Kalau eksis di Twitter, kita pasti sudah sering
melihat beberapa netizen yang terlihat terang-terangan ditunjuk oleh brand untuk menjadi buzzer.
Mereka menyampaikan pesan iklan (dengan gaya bahasa mereka
masing-masing), yang akhirnya merujuk pada suatu program kampanye sebuah
brand. Meskipun dibahasakan dengan halus dan dilakukan dengan
cara interaksi dengan netizen lain, tetap saja kita tahu kalau mereka
ini adalah perpanjangan tangan brand di social media.

Saat ini beberapa brand umumnya memilih buzzer hanya berdasarkan follower yang dimiliki oleh netizen. Asal follower-nya
besar dan memang terlihat aktif ngobrol di Twitter, maka netizen itu
jadi pilihan. Kenyataannya, memang banyak dari netizen yang menjadi buzzer ini punya kemampuan interaksi yang baik. Info mereka sering di-retweet dan direspon follower-nya, dan si buzzer pun rajin membalas balik.

Meski bisa dibilang berhasil, sayang pemilihannya jarang melihat kompetensi dan loyalitas buzzer itu sendiri. Kalau jeli memperhatikan, ada loh beberapa buzzer yang menyampaikan pesan berpindah-pindah antara brand yang saling bersaing. Misalnya, si buzzer bulan lalu nge-buzz info tentang klien telekomunikasi A, bulan ini B, padahal ia sendiri malah bukan pengguna keduanya. Bahkan pernah ada buzzer yang
jujur cerita kalau dia sebenarnya bukan pengguna kartu telepon A, tapi
ia tertarik menyebarkan infonya. Agak aneh ya, mempromosikan sebuah
produk yang ia sendiri sebenarnya tidak pakai?

Kenyataannya itu yang saat ini terjadi. Influencer di social media memang suatu hal yang baru. Netizen yang terlibat biasanya pun awam tentang etika periklanan seperti ini. Adalah tugas agency yang
menjembataninya agar mereka pun paham tentang hal ini (meski
ujung-ujungnya kembali ke netizen itu sendiri ya). Sayangnya umumnya
netizen yang menjadi buzzer mau menerima apa saja, sepanjang tidak merusak citra dirinya (meski tidak berarti ia telah menggunakan produk brand itu sebelumnya ya). Akan lebih baik kalau para buzzer yang dipilih pun memang melihat bahwa brand itu punya nilai yang bermanfaat bagi dirinya, sehingga ia mau mengeksplorasi lebih lanjut tentang brand itu dan tidak sekedar jadi corong “jualan” brand.

Contoh yang menarik adalah saat beberapa bulan lalu WRP melalui akun
Twitter-nya, @WRPdiet. WRP mengajak 2 orang netizen perempuan yang saat
itu lagi gemar-gemarnya bersepeda. WRP melihat pula ada niatan dari 2
orang netizen ini untuk melakukan program diet sehat. WRP lalu ikut
membantu memberikan arahan program sambil menyediakan stok susu WRP
selama seminggu. Para netizen ini diminta untuk sebisa mungkin mengikuti
program WRP, dan melaporkan hasilnya via Twitter. Yang terjadi adalah
sebuah cerita perjalanan menarik tentang upaya dua netizen ini bersepeda
rutin dan mengkonsumsi WRP pada waktu yang ditentukan. Hasilnya pun
positif. Di akhir minggu, dua netizen ini melaporkan kalau berat badan
mereka pun turun, karena berhasil mengikuti diet sehat WRP. Suatu
aktivitas nyata, dengan dampak nyata, yang bermanfaat bagi WRP dan
netizen. Kedua belah pihak sama-sama diuntungkan.

Diakui memang, memilih seorang influencer yang sesuai dengan karakteristik brand memang sulit. Kalau ada yang sesuai, ternyata si netizen nggak punya banyak follower di Twitter, misalnya. Mencari netizen yang punya banyak follower itu nggak sulit, meski belum tentu netizen itu punya karakteristik kompetensi yang sesuai dengan program brand.
Atau coba pertimbangkan media lain di luar Twitter. Ada loh netizen
yang tidak populer di Twitter, tapi ia punya suara kuat di milis-milis
komunitas, seperti Agus Hamonangan yang sering mewakili komunitas
Android Indonesia, dan Gun HP yang mewakili komunitas iPhonesia. Mereka
punya “follower”-nya sendiri di dunia maya, yang hampir tidak bersinggungan dengan Twitter.

Social media tidak sesempit dunia Twitter atau Facebook. Tidak melulu netizen yang punya banyak follower, punya karakteristik yang sesuai dengan program brand. Tidak melulu juga netizen yang punya karakteristik kompetensi kuat meski punya sedikit follower di Twitter, tidak punya “follower” di media daring lain. Brand
harus lebih jeli lagi melihat komunitas daring yang akan dituju, dan
melihat pentolannya di komunitas itu. Ajak pentolan komunitas itu untuk
bekerja sama. Niscaya asal satu bahasa, kerja sama antara brand dan netizen pun bisa memberikan keuntungan satu sama lain.

Sumber media-ide.bajingloncat.com

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *