Tanda Terkena Penyakit Narsis

  • Whatsapp

Narsis itu manusiawi. Meski seseorang akan
bertingah mengagumi dirinya seolah tanpa cela. Hampir setiap orang memiliki sikap narsis walaupun
tidak dominan. Sikap ini sering diidentifikasikan sebagai cara pandang
terhadap diri sendiri yang berlebihan.

Read More

Kata “narsis” sendiri dipercaya berasal dari cerita di Yunani. Konon,
seorang pria tampan bernama Narcissus harus menjalani hukuman karena
putus asa dari nimfa Echo. Dia ditakdirkan untuk jatuh cinta pada
bayangannya di sebuah kolam air. Akhirnya, seiring berjalannya waktu,
dia pun makin terpesona melihat dirinya dan berubahlah menjadi sebuah
bunga. Oleh karena itu, orang yang kemudian terlalu membanggakan dirinya
kerap mendapat sebutan narsis.

Tanda Terkena Penyakit Narsis

Apakah Anda termasuk orang narsis? Sebelum menjawabnya, perhatikan
ciri narsisme berikut ini dan bandingkan dengan kepribadian Anda:

1. Orang narsis tidak bisa mengatur rasa malu dengan cara yang sehat.
Sehingga, dia terlalu cuek dengan perbuatannya sekalipun dipandang
sebagai sesuatu yang memalukan oleh banyak orang.

2. Orang narsis merasa dirinya lebih sempurna dari orang lain. Jadi,
kerap menyalahkan orang lain dan menganggap diri sendiri paling benar
adalah sesuatu yang biasa bagi orang narsis.

3. Sikap arogan biasanya ditunjukkan orang narsis untuk menaikkan
pamor atau eksistensinya. Sekalipun, itu mesti dilakukan dengan
merendahkan orang lain.

4. Untuk menggapai tingkat superior di antara orang lain, orang
narsis cenderung menunjukkan sikap membenci pada orang-orang yang
dianggap akan merebut kedudukannya.

5. Orang narsis sangat suka dipuji. Kalau dia memiliki jabatan tertentu di kantor atau instansi, dia cenderung “gila hormat”.

6. Terakhir, orang narsis suka mengeksploitasi orang lain tanpa
memperhatikan kondisi maupun perasaan orang itu. Apalagi dengan orang
yang dianggap pesaingnya, dia tidak segan bermain curang.

Namun, narsis itu jangan dipandang selalu negatif.

Secara ekstrim, dunia ini sebenarnya terbagi menjadi
dua sisi, yaitu sisi negatif dan sisi positif. Berlaku dalam segala
hal. Termasuk juga dalam perilaku manusia yang disebut narsis. Ada
narsis negatif dan ada juga narsis yang positif.

A.Definisi narsis secara umum (konotasi negatif)


1.Spencer A Rathus dan Jeffrey S Nevid dalam bukunya, Abnormal Psychology (2000):

“Orang yang narcissistic atau narsistik memandang dirinya dengan cara
yang berlebihan. Mereka senang sekali menyombongkan dirinya dan berharap
orang lain memberikan pujian.

2. Rathus dan Nevid (2000) dalam bukunya, Abnormal Psychology :

Orang yang narsistik memandang dirinya dengan cara yang berlebihan,
senang sekali menyombongkan dirinya dan berharap orang lain memberikan
pujian (Kompas, Jumat, 01 April 2005).

3. Papu (2002) yang mengutip DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders – Fourth Edition)

“Orang yang narsistik akan mengalami gangguan kepribadian, gangguan
kepribadian yang dimaksud adalah gangguan kepribadian narsisistik atau
narcissistic personality disorder. Gangguan kepribadian ini ditandai
dengan ciri-ciri berupa perasaan superior bahwa dirinya adalah paling
penting, paling mampu, paling unik, sangat eksesif untuk dikagumi dan
disanjung, kurang memiliki empathy, angkuh dan selalu merasa bahwa
dirinya layak untuk diperlakukan berbeda dengan orang lain.”

(Sumber: http://www.duniapsikologi.com/narsis-pengertian-definisi-dan-asal-mulanya/)

 B.Unsur-unsur narsis

Dari definisi-definisi di atas bisa disimpulkan adanya beberapa unsur narsis:

-Memandang dirinya secara berlebihan (paling penting,paling mampu,paling unik dan paling lainnya)

-Senang menyombongkan diri

-Mengharap adanya pujian dari orang lain

 C.Definisi narsis secara umum (konotasi positif)

Dari hasil pengamatan penulis, tidak semua narsis itu negatif. Sebab
ada juga yang tergolong narsis positif, yaitu “Berusaha menunjukkan
dirinya memiliki kelebihan dari orang lainnya dengan tujuan demi
kepentingan promosi, persaingan sehat ataupun memotivasi orang lain”. 

Memang terkesan sombong, namun sebenarnya tidak sombong. Terkesan
mengharapkan pujian dari orang lain, padahal tidak demikian maksudnya.

a.Contoh narsis untuk kepentingan promosi

Seorang pengusaha yang selalu berpakaian rapi,unik,tentu berharap
agar menjadi perhatian orang lain. Bukan untuk memuji dirinya tetapi
dengan tujuan supaya orang tahu siapa dirinya. Dan kemudian orang akan
berkomentar “Oh, dia pemilik Resto C’Bezt”, “Oh,dia pemilik Lembaga
Pendidikan Komputer INDODATA”, dan lain-lain.

b.Narsis untuk kepentingan persaingan yang sehat

Dalam hal ini adalah persaingan pribadi. Biasanya di kalangan artis.
Tiap artis berlomba untuk menjadi lain daripada yang lain, terutama dari
caranya berpakaian, dari caranya bercanda, dari caranya bicara,dari
model rambutnya, dari model bajunya dan lain-lain. Misalnya, Gogon
terkenal karena punya model rambut yang lucu, Tessy yang selalu
berpakaian wanita dan lain-lain.

c.Narsis dalam rangka memotivasi orang lain

Yaitu selalu berusaha tampil lain daripada yang lain, baik melalui
tulisan maupun ucapan. Misalnya, penulis (Hariyanto Imadha), selalu
membuat artikel-artikel yang bersifat lain daripada yang lain di
berbagai blog. Bersifat mencari perhatian orang lain. Hasilnya, ada
beberapa orang yang meminta penulis menjadi pembicara di radio, ada
beberapa mahasiswi yang minta petunjuk cara belajar yang efektif dan
lain-lain. Bahkan hasil inovasinya berupa kanopi motor yang bersifat
narsis, membuat hasil inovasinya dimuat di tabloid Peluang Usaha No.18
Tahun 2011, mendapat Award dari Yayasan Citra Profesi Indonesia,23 Juli
2011 dan ditayangkan dalam acara Sang Kreator, Trans7, 14 April 2012.

Kesimpulan

Narsis dalam arti positif atau berkonotasi positif juga punya
ciri-ciri memandang dirinya lebih dari yang lainnya,terkesan
menyombongkan diri dan mengharapkan pujian dari orang lain. Namun
semuanya dengan tujuan yang positif, yaitu demi kepentingan promosi,
persaingan sehat, memotivasi orang lain dan tujuan-tujuan positif
lainnya.

Dengan demikian, apakah sebuah perilaku narsis itu positif atau
negatif, juga harus dilihat dari “tujuannya”. Tidak berhenti pada
tingkah laku atau perilakunya saja. Kalau tujuannya negatif, maka
termasuk narsis negatif. Kalau tujuannya positif, maka termasuk narsis
positif. Sejauh narsis tidak merugikan diri sendiri atau orang lain,
narsis boleh-boleh saja.

Sangat disayangkan bahwa semua buku-buku psikologi hanya melihat
narsis dari segi negatifnya saja, tanpa melihat tujuan-tujuannya. Semoga artikel Tanda Terkena Penyakit Narsis dapat membantu Anda dalam menjawab hal tentang narsis.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *